Pengembangan Ekowisata, pariwisata berbasis Masyarakat
avatar

Pembangunan Kepariwisataan di Indonesia

 1.   Sistem Pariwisata Nasional

Industri pariwisata nasional merupakan suatu sistem yang terdiri dari permintaan, penawaran dan lingkungan.

permintaan merupakan sesuatu yang diinginkan oleh wisatawan, sesuatu yang dicari wisatawan atau keinginan wisatawan. Permintaan ini dipengaruhi oleh faktor individual yaitu sosok wisatawan, baik yang menyangkut demografis wisatawan (umur, jenis kelamin, status sosial ekonomi, pendidikan, dan sebagainya), maupun  psiko-grafi, (seperti  sikap, gaya-hidup, motivasi berpergian dan minat wisatawan). Jenis permintaan, keinginan dan sesuatu yang dicari wisatawan ini akan berbeda-beda tergantung dari beberapa faktor diatas. Sebagai contohnya, wisatawan dengan usia muda 14-30 tahun, akan memiliki permintaan yang berbeda dengan wisatawan usia 55 tahun keatas. Wisatawan mancanegara dari Eropa, akan memiliki permintaan yang berbeda dengan wisatawan asal Jepang.

penawaran. Terdiri dari sejumlah faktor, seperti atraksi, akomodasi, transportasi, SDM, kelembagaan, amenitas, dan sebagainya. Berbeda dengan permintaan, penawaran ini berada sepenuhnya dalam jangkauan perumus kebijakan (Misalnya: Departemen pariwisata, Dinas Pariwisata, Pengelola Desa Wisata). Bentuk kebijakan kepariwisataan ini akan ditentukan oleh visi pembangunan pariwisata yang diadopsi oleh suatu negara dan bangsa dengan memperhatikan dinamika sisi permintaan tadi. Misalnya, pengembangan pariwisata di Candi Borobudur, direncanakan dan dibiayai oleh Dinas Pariwisata bekerjasama dengan Departemen Pariwisata dan Masyarakat setempat. Pengembangan berupa: Pusat informasi, parkir, Toilet, Gedung Pertemuan, mushola, homestay, papan penunjuk arah, dan sebagainya. Produk yang telah siap inilah yang ditawarkan kepada calon wisatawan.

Lingkungan Kepariwisataan. Mencakup situasi politik, ekonomi, keamanan  dan sebagainya di negara tujuan wisata yang dapat mempengaruhi sifat interaksi antara permintaan dan penawaran. Pembangunan pariwisata pada hakekatnya merupakan upaya untuk membawa kepariwisataan menuju sistem kepariwisataan yang  dipandang lebih bermanfaat atau lebih baik, melalui proses perencanaan, dengan memperhatikan perubahan yang terjadi. Proses perencanaan tadi dilakukan  dengan merubah faktor permintaan dan penawaran tadi sesuai dengan visi yang menjadi referensi pembangunan suatu negara.

 2.   Hal-Hal Penting Dalam Pembangunan Kepariwisataan

 Di dalam proses pembangunan nasional pada umumnya, serta pembangunan kepariwisataan pada khususnya, hal-hal penting pembangunan selalu akan muncul, baik pada tataran paradigmatik, kebijakan, strategi, maupun program. Hal ini disebabkan karena di dalam proses pembangunan, para perumus kebijakan dan pengambil keputusan akan selalu dihadapkan pada berbagai pilihan. Apa yang dipandang sebagai “lebih baik” atau “lebih bermanfaat” bersifat relatif, dan seringkali bersifat subjektif.

  1. a.   Orientasi Pembangunan Kepariwisataan: Pertumbuhan versus Pemerataan

Di satu sisi sektor pariwisata dipandang sebagai sektor andalan yang akan menjadi penghasil devisa utama, di sisi lain sektor ini juga diharapkan untuk dapat berfungsi sebagai wacana pemerataan melalui perluasan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Kedua misi tadi

     akan menentukan sosok wisatawan yang akan menjadi prioritas utama, dan implikasinya pada strategi promosi, pengembangan produk dan attraksi, pembangunan akomodasi dan prasarana, kebijakan pemanfaatan sumber, impor dan sebagainya.

    Kebijakan pembangunan pariwisata yang berorientasi pada peningkatan perolehan devisa cenderung menempatkan wisatawan nusantara pada posisi sekunder serta memberi prioritas yang tinggi pada wisata-mancanegara yang bersifat wisata massal. Sifat-sifatnya seperti

  1. program perjalananannya distandardisasikan, dikemas secara tegas, dan tidak lentur;
  2. program perjalanannya disusun berdasarkan peniruan massal dari unit-unit yang sama yang mengandalkan skala ekonomi sebagai pendorong utamanya;
  3. program perjalanannya dipasarkan secara massal pada seluruh lapisan masyarakat;
  4. program perjalannya dikonsumsi secara massal dan kurang memperhatikan norma, budaya, masyarakat dan lingkungan setempat di daerah tujuan wisata.

     memang hal ini mempunyai potensi yang lebih besar untuk menghasilkan devisa. Namun karena wisata massal ini cenderung memanfaatkan teknologi canggih yang padat modal serta menggantungkan berbagai inputnya pada komoditi yang diimpor, maka peluang kerja yang ditimbulkan cenderung terbatas, karena sosok pariwisata yang demikian terutama menyerap tenaga kerja professional yang berpendidikan dan berketrampilan tinggi. Obsesi untuk meningkatkan perolehan devisa dan manfaat ekonomi menyebabkan wisata massal tadi berwawasan jangka pendek, karena  mekanisme pembentukan harga di pasar dan proses ekonomi  cenderung kurang memperhatikan pengorbanan sosial yang ditimbulkan pariwisata, seperti sempitnya akses pada peluang kerja.

Apabila industri kepariwisataan ingin berhasil dalam mengemban misinya sebagai wacana pemerataan pendapatan melalui perluasan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, maka pembangunan kepariwisataan harus memberi perhatian pada pariwisata alternatif.  Secara umum pariwisata alternatif ini dapat didefinisikan sebagai:

    Berbagai bentuk pariwisata yang sesuai dengan nilai-nilai alami, sosial dan komunitas dan yang memungkinkan baik wisatawan maupun masyarakat setempat menikmati interaksi yang positif dan bermanfaat dan bertukar pengalaman.”

    Karena sifatnya yang demikian, maka berbagai variant dari pariwisata alternatif ini seperti pariwisata minat khusus dan pariwisata yang berbasis komunitas dan sebagainya, lebih memberi kemungkinan bagi perwujudan misi pariwisata sebagai wacana pemerataan pendapatan dan perluasan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Sifat-sifat spesifik yang menjadi esensi pariwisata yang berbasis komunitas, seperti:

  1. berskala kecil sehingga bersahabat dengan lingkungan, secara ekologis aman, dan tidak menimbulkan banyak dampak negatif seperti yang dihasilkan oleh jenis pariwisata konvensional yang berskala massif;
  2. memiliki peluang lebih mampu mengembangkan obyek-obyek dan atraksi-atraksi wisata berskala kecil dan oleh karena itu dapat dikelola oleh komunitas-komunitas dan pengusaha-pengusaha lokal serta menimbulkan dampak sosial-kultural yang minimal, dan dengan demikian mempunyai peluang yang lebih besar untuk diterima masyarakat;
  3. memberi peluang yang lebih besar bagi partisipasi komunitas lokal untuk melibatkan diri di dalam proses pengambilan keputusan dan di dalam menikmatikeuntungan yang dihasilkan oleh industri pariwisata dan karenanya lebih memberdayakan masyarakat; dan
  4. mendorong keberlanjutan budaya dan membangkitkan penghormatan para wisatawan pada kebudayaan lokal.

Secara formal pengembangan pariwisata yang berbasis komunitas ini merupakan kebijakan resmi pemerintah sebagaimana tersirat dalam prinsip kepariwisataan Indonesia yang dirumuskan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang mencakup prinsip:

  1. Masyarakat sebagai kekuatan dasar;
  2. Pariwisata: dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat; serta
  3. Pariwisata adalah kegiatan seluruh lapisan masyarakat, sedang pemerintah hanya merupakan fasilitator dari kegiatan pariwisata.

Sedangkan realisasi dari prinsip ini tertuang di dalam 7 Program Pokok dalam Kaitannya dengan Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Sektor Pariwisata yang terdiri dari:

  1. Pengembangan Ekowisata;
  2. Desa Wisata;
  3. Pariwisata Inti Rakyat;
  4. Kemitraan;
  5. Pengembangan usaha rakyat kecil & rumah makan;
  6. Pemberdayaan masyarakat sekitar obyek wisata; dan
  7. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan pariwisata.

     Di dalam perspektif jangka pendek, pilihan itu menuntut kesediaan pemerintah yang sulit dilakukan untuk mengkompromikan menurunnya penurunan devisa dari sektor pariwisata untuk memperoleh efek distributif yang lebih besar, namun di dalam jangka panjang perubahan  segmentasi psikografi akan mengarahkan pembangunan pariwisata kearah perwujudan pariwisata alternatif tadi.

  1. b.   Pemanfaatan versus Konservasi dan Pelestarian

 Misi untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai sumber devisa utama sebagai penopang pertumbuhan ekonomi seringkali membawa pemikiran perumus kebijakan pada aspek-aspek kwantitatif pariwisata. Pembangunan pariwisata diartikan sebagai bagaimana memfasilitasi kedatangan wisatawan sebanyak mungkin, dengan lama tinggal selama mungkin dan membelanjakan uangnya sebanyak mungkin. Proyeksi-proyeksi dilakukan untuk mengestimasi efek pengganda pariwisata. Obsesi untuk memfasilitasi datangnya wisatawan ini seringkali melupakan pertimbangan daya-dukung daerah tujuan wisata, yaitu jumlah maksimum wisata yang dapat memanfaatkan kawasan wisata tanpa merubah lingkungan fisik dalam intensitas yang tidak dapat diterima dan tanpa menurunkan kualitas pengalaman wisata dalam intensitas yang tidak dapat diterima, serta tanpa menimbulkan efek negatif pada masyarakat, ekonomi dan budaya di sekitar kawasan wisata di dalam intensitas yang tidak dapat diterima.

 Di sini timbul dilema antara pemanfaatan dan pelestarian obyek dan daya tarik wisata (warisan alam, cagar budaya, dan sebagainya). Pada hakekatnya warisan alam dan cagar budaya hanya dapat mempunyai makna apabila dimanfaatkan melalui interpretasi-interpretasi, dan interpretasi ini dilakukan melalui pengalaman wisatawan yang seringkali dibantu oleh para pemandu wisata.  Akan tetapi di sisi lain pemanfaatan yang melampaui daya-dukung  cenderung berdampak negatif dan karenanya perlu upaya konservasi dan pelestarian. Untuk mengatasi hal ini timbullah konsep pariwisata berkelanjutan.

 Konsep pariwisata yang berkelanjutan ini sebenarnya merupakan derivasi dari konsep sustainable development atau pembangunan yang berkelanjutan yang oleh United Nations Environmental Programme (UNEP) didefinisikan sebagai:

 “. . . pembangunan yang memperbaiki kualitas hidup manusia dalam kisi-kisi daya dukung yang mendukungnya.”

 Dari apa yang dirumuskan oleh UNEP tersebut di atas, World Tourism Organization (WTO) kemudian merumuskan konsep pariwisata yang berkelanjutan tadi sebagai berikut

 “. . . pariwisata yang memuaskan kebutuhan wisatawan dan kawasan wisata pasa saat ini seraya melindungi dan meningkatkan peluang di masa datang. Hal ini diartikan sebagai sesuatu yang mengarah pada manajemen berbagai sumber sedemikian rupa sehingga kebutuhan ekonomi, sosial, estetika dapat terpenuhi seraya mempertahankan integritas kultural, proses ekologi yang esensial, keanekaragaman hayati dan sistem penopang hidup.”

 Pemerintah Indonesia sebenarnya telah meletakkan rambu-rambu menuju terciptanya pariwisata yang berkelanjutan ini, antara lain sebagaimana dirumuskan dalam berbagai perundang-undangan seperti  UU no. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya; UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya: dan UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Adalah menjadi tanggung-jawab mereka yang bergerak di dalam bidang industri wisata yang harus dapat merekonsiliasikan antara pemanfaatan dan penafsiran di satu pihak, dan pelestarian dan konservasi di lain pihak. Namun, lebih dari itu, untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan tadi diperlukan visi yang luas yang mencakup kerangka waktu dan kerangka ruang yang lebih luas dari apa yang biasanya berlaku di dalam perencanaan pembangunan pariwisata yang konvensional. Tidaklah cukup untuk sekedar menerapkan prinsip-prinsip perencanaan pembangunan pariwisata yang konvensional seperti pengaturan tata-ruang, pengelompokan, pengintegrasian antara atraksi dan fasilitas, interdependensi antara atraksi dan fasilitas, interdependensi antara atraksi alam dan atraksi budaya, berbagai cara untuk memperluas akses, elastisitas, diversitas dan komplementaritas, analisis biaya dan manfaat, serta analisis daya dukung, dan lain sebagainya.

Di samping itu, beberapa acuan perlu diikuti, seperti:  (i) Adanya kebijakan kepariwisataan umum yang mencantumkan tujuan pariwisata yang berkelanjutan pada tingkat nasional, regional, maupun lokal; (ii) Parameter-parameter yang digunakan untuk merencanakan, mengembangkan, dan melaksanakan industri pariwisata haruslah terintegrasi dan bersifat lintas sektoral yang mengikutsertakan berbagai departemen, pemerintah dan swasta, para pakar, masyarakat sehingga menjamin kesuksesan; (iii) Di dalam merencanakan proyek-proyek pembangunan kepariwisatan perlu penekanan pada perlindungan aset alam dan budaya dengan mempertimbangkan pemanfaatan sosio-ekonomis yang layak dari lingkungan fisik-alami dan lingkungan buatan serta dampak kegiatan manusia atas dampak tadi; (iv) Perlu ada upaya-upaya agar para wisatawan serta mereka yang terkait dengan industri pariwisata mengikuti etika dan aturan-aturan yang mengatur perilaku yang sehat dan konservatif yang menyangkut alam, budaya, ekonomi, sistim nilai masyarakat, sistem politik, pengelompokan sosial dan kepemimpinan; (v) Distribusi proyek pembangunan pariwisata haruslah mengacu pada nilai-nilai keadilan, yang mendistribusikan secara adil manfaatpariwisata di antara berbagai kelompok dan regional; (vi) Kesadaran masyarakat akan manfaat pariwisata serta bagaimana memitigasikan dampak negatif pariwisata haruslah selalu ditingkatkan; dan (vii) Masyarakat setempat perlu didorong untuk memainkan peranan kepemimpinan dalam pembangunan pariwisata dengan bantuan pemerintah, swasta, lembaga-lembaga keuangan serta universitas.

  1. c.    Peranan Negara dan Peranan Swasta dalam Industri Pariwisata.

 Hal penting lain yang mewarnai pembangunan pariwisata adalah pilihan antara industri pariwisata yang didorong oleh kekuatan-kekuatan pasar dan pembangunan pariwisata yang dipimpin oleh negara. Pilihan di antara kedua kutub tadi akan dipengaruhi oleh paradigma pembangunan yang diadopsi oleh suatu negara, akan tetapi juga tidak lepas dari pengaruh konfigurasi yang melingkupinya, khususnya kecenderungan globalisasi dan liberalisasi yang agaknya menjadi alur pikir yang dominan pada saat ini. Namun agaknya pilihan di antara kedua kutub alternatif peranan negara dan swasta ini tidaklah bersifat statis.

 Meskipun kecenderungan di banyak negara pada umumnya adalah mengacu pada pemikiran konvensional yang menyerahkan pembangunan pariwisata pada mekanisme pasar dan dengan demikian memberi peranan yang lebih besar pada sektor swasta, namun bergeraknya pendulum ke kutub pemberian peranan yang lebih besar pada negara juga dapat dicermati. Dalam hubungan ini Butler menegaskan bahwa “sifat pariwisata dalam batas-batas tertentu menentukan sifat dan pola pertumbuhan suatu negara dan, apabila tidak dikendalikan dan dikuasai, industri pariwisata akan dapat menimbulkan berbagai permasalahan.” Interaksi yang tidak terkendali di dalam mekanisme pasar pada akhirnya akan dapat melampaui batas daya dukung kawasan wisata, dan karenanya akan mengganggu keberlanjutan wisata. Oleh karenanya, banyak pakar yang menganjurkan perlunya kesadaran para pengambil keputusan akan ketidak-sempurnaan pasar dan melalui kebijakan pemerintah ketidak-sempurnaan pasar tadi akan dapat dikoreksi sehingga kecenderungan terjadinya ketidakseimbangan dan timbulnya posisi monopolistik swasta maupun pemerintah dapat dicegah.

 Di samping itu mempercayakan  sepenuhnya industri pariwisata pada interaksi antara pelaku ekonomi di dalam mekanisme pasar mungkin dapat meningkatkan efisiensi, akan tetapi efisiensi di dalam konotasi Pareto optimum dan di samping itu dapat pula memperlebar kesenjangan. Oleh karena itu perlu diciptakan keseimbangan antara kedua sistem tadi. Oleh karena itu di dalam batas-batas tertentu perlu upaya yang oleh Robert Wade diistilahkan sebagai “mengendalikan pasar”.

 Bentuk kebijakan pemerintah dalam industri pariwisata tadi dapat bermacam-macam, mulai dari menetapkan syarat-syarat dan mengarahkan investasi, mengatur akses terhadap tanah, misalnya hanya memperbolehkan sewa-tanah untuk jangka panjang, membangun infrastruktur, mempengaruhi nilai-tukar, dan sebagainya. Keikutsertaan pemerintah dalam orientasi, pengaturan, dan pengawasan industri pariwisata mungkin masih diperlukan di dalam konteks ketidaksempurnan pasar, upaya untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan, maupun pemeratan pendapatan.

  1. d.   Wisman dan Wisnus: Persaingan atau Komplementaritas

Di dalam berbagai ketentuan formal maupun di dalam berbagai fora  pemerintah selalu menegaskan bahwa industri pariwisata diharapkan akan menjadi sumber devisa utama. Implikasi dari kebijakan ini adalah bahwa segmen pasar utama yang menjadi fokus perhatian pemerintah adalah Wisatawan Mancanegara. Kebijakan ini menimbulkan dilemma bagaimana posisi Wisatawan Nusantara vis-àvis Wisatawan Mancanegara. Persoalan ini timbul karena menurut hasil penelitian Myra P. Gunawan Wisatawan Nusantara mempunyai potensi yang cukup besar untuk memberikan kontribusinya pada pembangunan nasional.

 Memang Efek pengganda pengeluaran Wisatawan Mancanegara lebih besar dibandingkan dengan Wisatawan Nusantara, yaitu 2,99 berbanding 1, karena mata rantai transaksi untuk memenuhi kebutuhan Wisatawan Mancanegara lebih panjang dibandingkan Wisatawan Nusantara. Akan tetapi karena jumlah Wisatawan Nusantara jauh lebih banyak, maka kontribusinya terhadap penciptaan peluang kerja tidak dapat diabaikan.  Memang pengeluaran Wisatawan Nusantara ini mungkin lebih sederhana jika dibandingkan dengan pengeluaran Wisatawan Mancanegara, akan tetapi pengeluaran tadi lebih langsung diterima oleh masyarakat penghasil barang konsumsi dan melalui mata rantai yang lebih pendek.

 Memang di antara kedua pilihan tadi ada plus dan minusnya. Komoditi yang dikonsumsi Wisatawan Mancanegara merupakan komditi berteknologi tinggi dan menyentuh kepentingan kelompok atas serta mempunyai kaitan yang panjang, sedangkan komoditi yang dikonsumsi Wisatawan Nusantara merupakan komoditi yang sederhana, akan tetapi lebih terkait dengan pendapatan masyarakat kecil. Karena bulan-bulan puncak kunjungan Wisatawan Mancanegara dan Wisatawan Nusantara tumpang-tindih atau berkoinsidensi, yaitu pada bulan Juni-Juli dan Desember, dan karena distribusi spatial Wisatawan Mancanegara dan Wisatawan Nusantara sama, maka akan terjadi kompetisi pemanfaatan kapasitas fasilitas maupun sarana dan prasarana wisata. Hal ini merupakan isu yang harus dipecahkan oleh perumus kebijakan.

 

Objek Wisata Air Panas Grojokan Sewu
avatar

IMG_1271 IMG_1265

Kabupaten Rejang Lebong (RL) dikenal sebagai wilayah yang banyak terdapat wisata alam se Provinsi Bengkulu yang belum terjamah. Terbukti  di Desa Sumber urif Kecamatan Selupuh Rejang ada Objek Wisata Alam Pemandian Air Panas,  memang sebenarnya Air Panas Alam tersebut sudah lama diketahui oleh masyarakat sekitar bahwa di Desa Sumber Urif tersebut ada Wisata Alam Pemandian Air Panas yang lokasi tersebut dimiliki oleh 3 orang penduduk desa Sumber Urif yang luas lokasinya  lebih kurang 4 hektar, tetapi selama ini tidak tersentu dan belum ada yang siap untuk mengelola objek wisata tersebut.

Berdasarkan  Surat Kepala Desa Sumber Urif (Bapak Yadi Susanto) tanggal     September 2014 Nomor : 09/SB-U/SK/IX/2014,  hal pemberitahuan pengelolaan Pariwisata Air Panas Grojokan Sewu serta pemberitahuan  Struktur organisasi Swadaya masyarakat dalam kepengurusan Wisataa Alam Pemandian Air Panas Grojokan Sewu ditujuhkan kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong, serta tembusannya disampaikan antara lain kepada Bapak Bupati Rejang Lebong.

Semenjak Air Panas dikelola oleh swadaya masyarakat yang diketuai oleh Bapak Musmulyadi, S.Kep dan wakil Ketua Sugeng Irwanto dan beranggotakan berjumlah 20 orang, Air panas yang dinamai oleh warga sekitar dengan Air Panas Grojokan Sewu ini berlokasi tak jauh dari Pos Pantau Bukit Kaba Desa Sumber Urip. Akses jalan untuk menuju lokasi, melalui sebuah persimpangan ke arah perkebunan masih bebatuan krikil dan tanah yang lokasinya  lebih kurang 500 meter, tetapi sudah ada bakal jalan seleber 4 meter yang duluhnya di kerjakan oleh AMD sampai menuju parkiran Motor, dari parkiran motor untuk menuju lokasi Air pemandian  tersebut wisatawan dapat melanjutkan dengan berjalan kaki dengan melewati jembantan bambu yang jaraknya sekitar 20 meter.

IMG_1286

Objek Wisata air Panas

Objek Wisata air Panas

Objek Wisata Alam Pemandian Air Panas Grojokan Sewu  banyak sekali air terjun, air panas, air dingin dan ada juga air yang jernih serta babatuan yang sangat indah yang didukung dengan suasana Alam yang asri dibawah pohon yang rindang sehingga penggunjung yang datang semakin menikmati suasana asri, indah dan alami serta ditambah lagi dengan penduduk sekitar telah bergotong royong membuatkan pancuran dari bambu, sehingga menambah keindahan gemercikan air Panas Grojokan Sewu tersebut menjadi Alami.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Berdasarkan Surat Perintah Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong (Bapak Rusli, MM) Nomor : 936/SPT/KP/2014  telah mengecek lokasi  Objek Wisata Alam Pemandian Air Panas Grojokan Sewu  Desa Sumber urif tanggal 22 september 2014, yang di Komandoi oleh Kabid BUSP (KAHARJO, S.Pd) didampingi oleh (Taslim, S.Sos), (Tamsil), (Joni Eka Putra, S.Sos) serta (Evrizon Suhadi). Dalam pengecekan lokasi tersebut pengelola menyampaikan baik kepada Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong maupun pihak terkait untuk bisa membantu sarana dan prasarana pendukung Objek Wisata Alam Pemandian Air Panas Grojokan Sewu, diantaranya Akses Jalan Hotmik agar pengunjung dapat datang dengan leluasa, Sarana Kolam Pemandian permanen, Lahan parkir yang luas,  auning tempat berjualan serta pasilitas-pasilitas pendukung lainnya, sehingga menjadikan Objek Wisata unggulan dan pada akhirnya nanti akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah di Sektor Pariwisata Rejang Lebong.

Mari kita berobjek wisata di Wisata Alam Pemandian Air Panas Grojokan Sewu di Desa Sumber Urif dan sekaliguas berobjek Wisata alam Bukit Kaba.

PAWAI ADAT
avatar

PAWAI ADAT

PEMBUKAAN PEKAN SENI BUDAYA PAT PETULAI / HARI JADI KOTA CURUP KE – 134 TAHUN 2014

 

Dalam rangka turut memeriahkan Hari Jadi Kota Curup ke-134 tahun 2014 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong ikut andil atau turut memeriahkan Acara Pembukaan Pawai Adat pada hari Rabu tanggal 21 mei 2014 ini, pelaksanaan dimulai ± pukul 08.30 wib. Yang di buka langsung oleh Bapak Bupati Rejang Lebong ( Bpk. H.Suherman, SE. MM ).IMG_20140524_081201

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong yang di motori oleh Kepala Dinasnya langsung ( Bp. H. Rusli,MM ) beserta ibu terlihat serasih dan sangat antusias sekali mengikuti Pawai Adat tersebut. Semangatnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong ini dalam mendukung suksesnya acara pembukaan tersebut terlihat dengan jumlah banyaknya atau rombongan Karyawan / karyawati yang menggunakan pakaian adat dan muslim berbaris dengan teraturnya sesuai dengan pasangan masing-masing.IMG_20140524_081141IMG_20140524_081151

Seperti yang kita ketahui bahwa acara Pekan Seni Budaya Pat Petulai ini atau Hari Jadi Kota Curup ini bukan hal baru yang dilakukan oleh Pemerintah Rejang Lebong, melainkan ini merupakan Agenda Tahunan yang harus dilakukan oleh Pemerintah Rejang Lebong dengan tujuan agar Rejang Lebong bisa lebih bagus dan sukses lagi dari tahun-tahun yang lalu. Sedangkan tujuan pelaksanaan pembukaan Dalam Rangka Hari Jadi Kota Curup ini sendiri dengan mengadakan Pawai Adat yaitu untuk menggembirakan masyarakat Rejang Lebong yang mana di Rejang Lebong ini seperti kita ketahui sangat kurang sekali akan hiburan, jadi dengan adanya pawai adat myasarakat Rejang Lebong dengan semangat mendukung pelaksanaan agenda tahunan pemerintah ini dengan berbondong-bondong datang di area acara hanya ingin menyaksikan kemeriahan akan acara Pembukaan Dalam Rangka Hari Jadi Kota Curup ini / Pawai Adat ini.

Pawai Adat inipun sudah menjadi tradisi atau kebiasaan yang harus dilakukan setiap tahunnya oleh pemerintah Rejang Lebong untuk menyambut atau membuka secara resmi Pekan Seni Budaya Pat Petulai / Hari Jadi Kota Curup ini, agar acara atau pelaksanaan Peken Seni Budaya Pat Petulai ini dapat berjalan dengan sukses dan lancar sampai akhir acara penutupan / acara puncak.

Dengan ini dapat kita lihat dan kita rasakan akan kepedulian Pemerintah kita untuk menjadikan Daerah kita Rejang Lebong menuju Rejang Lebong yang lebih makmur dan sukses seperti daerah-daerah lainnya yang sudah lebih maju dan berkembang. Dengan di awali ucapan Bismillah hirrohman nirrohim Rejang Lebong terkenal dengan Suku Rejang ini di bawah pimpinan Daerah Bapak Bupati Suherman, SE,MM dengan menggelar Pekan Seni Budaya Pat Petulai / Hari Jadi Kota Curup telah dibuka secara resmi semoga dalam pelaksanaan Pekan Seni Budaya Pat Petulai ini semuanya akan berjalan lancer, tertib, aman dan terkendali serta sukses sampai akhir acara atau penutupan.

 

 

Curup, 22 Mei 2014

Penulis : Elmi Hasanah

TECHNIKAL MEETING pagelaran Kecamatan dalam rangka HARI JADI KOTA CURUP KE-134 TAHUN 2014.
avatar

TECHNIKAL MEETING pagelaran Kecamatan dalam rangka

 HARI JADI KOTA CURUP KE-134 TAHUN 2014.

 

Dalam rangka turut memeriahkan Hari Jadi Kota Curup Ke-134 Tahun 2014, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong sangat mandukung dan berpartisipasi sekali demi mendukung suksesnya acara tersebut. Salah satunya PAGELARAN KECAMATAN yang mana setiap kecamatan wajib mengikuti dan mengirim anggota keseniannya baik berupa tari maupun nyanyian agar dapat tampil dalam acara ini.

Terbukti dengan semangatnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong untuk mendukung kemeriahan acara pada Hari jadi Kota Curup, pada hari ini 12 Mei 2014 Bertempat Di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong mengadakan TECHNICAL MEETING yang mana tujuannya agar seluruh peserta Pagelaran dapat menjalankan atau mengetahui technik cara pelaksanaan lomba dengan baik dan teratur.

Adapun panitia-panitia yang terlibat dalam acara ini yaitu :

  1. Ka. DISBUDPAR Kab.RL (Bpk. Drs.H. Rusli,MM) selaku Penanggung Jawab Kegiatan
  2. Kabid PSB (Ibu Hj. Tri Rubiana Sanoel ) Selaku Ketua dalam kegiatan
  3. Bpk. Syahirman,SP selaku Sekretaris Kegiatan
  4. Karnavaria MS,SS Selaku Bendahara Kegiatan
  5. Ibu Hj. Misherieni, S,Sos Selaku Koordinator Lapangan
  6. Teddy Irawan, SKM Selaku MC Kegiatan
  7. Ade Heru Meiviando, SE Selaku Anggota dalam kegiatan
  8. Aan Junaidi Selaku Anggota dalam kegiatanIMG_20140520_001523

Dalam pelaksanaan Technical Meeting ini dibuka dan dipimpin oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Renjang Lebong yang mana diwakilkan oleh Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Periwisata Kabupaten  Rejang Lebong yaitu Bapak Jailani Yamin. Beliau menyampaikan agar seluru peserta hilangkan Ego Sentris, ciptakan keharmonisan dalam satu grup.IMG_20140520_001505

Yang namanya Seni Budaya harus kita pahami karena itu semua mempunyai arti tersendiri, tampilkanla dengan penuh penjiwaan atau penghayatan sesuai dengan cerita atau lagu yang kita bawakan/kita tampilkan. Sebagai orang Rejang Lebong / Suku Rejang seharusnya kita jangan pernah maninggalkan Ciri Khas Daerah kita seperti seni lagu dalam musiknya harus ada suara Kulintangnya.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kebupaten Rejang Lebong menyambut dengan senang hati dan tangan terbuka kepada seluruh peserta Pagelaran  Kecamatan demi turut memeriahkan Hari Jadi Kota Curup Ke-134 Tahun 2014.

Dalam Pelaksanaan Pagelaran Kecamatan inipun mempunyai kriteria peserta yang sudah di tentukan oleh pihak panitia yaitu :

  1. Peserta tampil menurut siapa yang daftar ulang terlebih dahulu
  2. Masing-masing peserta manyerahkan pronolog/narasi kepada panitia
  3. Waktu tampil yang dberikan 20 Menit (5 manit persiapan dan 15 menit tampil )
  4. Jumlah Peserta atau kelompok tidak boleh kurang dari 2 orang
  5. Prolog / narasi paling lambat diserahkan pada tanggal 25 Mei waktu pelaksanaan

Marilah kirta dukung kegiatan Pekan Seni Budaya Pat Petulai atau Hari Jadi Kota Curup Ke-134 Tahun 2014 ini, agar kita dapat menggalih peninggalan leluhur kita supaya tetap berkembang secara turun temurun,sehingga nilai seni yang kita punya tidak akan hilang atau punah, seorang seniman di Rejang Lebong  sangat kurang sekali karena seorang seniman sejati biasanya jarang sekali untuk menampilkan diri, mereka hanya berperan di belakang layar. Pencinta Seni di Rejang Lebong sangat banyak sekali hampir seluruh masyarakat Rejang Lebong cinta atau suka seni, tetapi yang mengerti atau memahami akan arti seni itu sendiri masih sedikit sekali.

Curup, 13 mei 2014

Penulis : Elmi Hasanah

Aku Bertiga
avatar

 

Sambut

Hari Ulang Tahun

Kota Curup Ke 134

Tahun 2014

 

DINAS KEBUDAYAAN  DAN  PARIWISATA  KABUPATEN REJANG LEBONG

Selenggarakan Festival dan Lomba Seni Budaya Bernuansa Rejang Pat Petulai

 

Peringatan Hari Ulang Tahun Kota Curup ke134 Tahun 2014 kali ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong, disamping mengikuti kegiatan dalam rangka pesta Hari Ulang Tahun tersebut juga menyiapkan beberapa festival dan lomba Seni Budaya bernuansa Daerah yang merupakan program rutin tahunan Kabupaten Rejang Lebong, demikian kata Drs. H. Rusli, MM Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong, mengawali sambutannya pada acara Teknical Meeting Pagelaran Seni Budaya dari 15 Kecamatan.Diantara festival dan Lomba yang dimaksud “Pak Rusli” panggilan akrab bapak yang dikenal ramah dan berjiwa tenang ini, adalah Festival Tari Kejei, Lomba Menulis Cerita Rakyat Rejang, Festival Lagu Daerah Rejang Lebong dan Pemilihan Bujang Semulen, selain itu dipagelarkan juga Pagelaran Wayang Kulit, Pagelaran seni Budaya dari 15 Kecamatan dan Pagelaran Etnis Nusantara. Pada sambutan tersebut secara khusus Pak Rusli menekankan, “Saya minta kepada segenap panitia terutama orang orang yang dipercaya sebagai Dewan Juri agar selalu bekerja secara profesional dan memberikan penilaian secara akurat dan obyektif, sehingga peserta lomba yang terpilih benar benar memang pantas untuk menyandang predikat juara. Saya benar benar berharap bagi yang juara nantinya bisa mewakili dan membawa nama baik Kabupaten Rejang Lebong ke tingkat yang lebih bergengsi atau ke tingkat nasional” katanya kepada hadirin. Lebih rinci dijelaskan oleh Kepala Bidang Pesona Seni Budaya  (Kabid PSB) Hajah.

Tri Rubiana Sanuel selaku koordinator pelaksana semua kegiatan dan pada tehnical meeting tersebut ibu hajah yang dikenal selalu ceria ini mendampingi kepala dan menurutnya bahwa pendaftaran peserta baik Festival Lomba maupun Pagelaran akan terus berjalan meskipun sebagian kegiatan sudah ada yang Tehnical Meeting di ruang rapat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong.

Selanjutnya, bentuk Pagelaran Seni Budaya dari 15 Kecamatan  dijelaskan oleh Kabid Prog dan ODTW Hj. Misherieni, S.Sos. MM selaku koordinator Pagelaran bahwa setiap Seni Budaya atau Kesenian yang akan ditampilkan ketika mengawali penampilan harus ada Prolog berupa sinopsis atau narasi. Setiap kecamatan mendapat durasi 20 menit (5 menit untuk waktu persiapan dan 15 menit untuk waktu tampil). Pada kegiatan yang satu ini  juga Pak Rusli berharap agar pagelaran yang ditampilkan oleh 15 kecamatan nanti kiranya dapat mengandung nilai estetis, sehingga setiap yang ditampilkan  selalu ada rhitme(irama) ada harmoni (keserasian),  ada balance (keseimbangan), ada makna (arti) dan ada unity (keterpaduan) sehingga menarik untuk jadi tontonan sekaligus  tuntunan bagi masyarakat. Festival Lomba dan pagelaran tersebut disamping dapat menggali bentuk dan ragam seni budaya Tradisional Rejang Lebong juga bagi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong akan dapat langsung menginventarisir dan mendokumentasikannya dalam upaya untuk melestarikan Seni Budaya yang banyak terdapat di Bumi Pat Petulai, maka kedepan perlu dikembangkan dalam rangka memupuk rasa memiliki serta rasa cinta anak anak, remaja dan para pemuda terhadap keberadaan Seni Budaya tradisional negeri sendiri yang merupakan warisan leluhurnya.

Hadir pula pada acara tersebut Kepala Bidang Pemasaran Jailani Yamin, S.Sos selaku Juri Lomba Cerita Rakyat. Pada kesempatan yang sama bapak yang dikenal sebagai penulis cerita dan penulis skenario sinetron serta pemerhati sosial budaya itu pun berharap, semoga banyak peserta yang mendaftar Lomba Cerita Rakyat, sehingga akan banyak cerita tradisional yang masuk dan akan terdaftar pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong sebagai literatur untuk kemudian dikembangkan ke dalam bentuk tulisan populer yang menarik dan diterbitkan oleh Dinas atau Badan atau pihak pihak lain yang berkompeten dan berminat menerbitkannya, agar nantinya dapat mempermudah masyarakat mengakses buku bacaan tentang Cerita Tradisional yang pada gilirannya akan langsung menumbuhkan minat baca bagi masyarakat itu sendiri dan sekaligus dapat menambah jumlah judul buku di Perpustakaan perpustakaan yang ada di sekolah dari SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi dan tidak menutup kemungkinan untuk mengisi Perpustakaan Kabupaten, Perpustakaan Provinsi dan Perpustakaan Nasional. InsyaAllah. Syarat untuk ikut Lomba Cerita Rakyat dimaksud sangat mudah. Naskah ditulis diatas kertas A4 jarak 1,5 spasi sebanyak 2-5 lembar.  Judul bebas atau disesuaikan dengan judul cerita tradisional yang ada di wilayahnya. Dibuat 2 rangkap dan diserahkan kepada dewan juri satu rangkap. Lomba akan berlangsung pada tanggal 26 Mei 2014 di Gedung Balai Pertemun. Ketika lomba Naskah dibaca dihadapan dewan juri. Durasi 10 menit. Naskah yang terbaik akan mendapat hadiah yang menarik dan Naskahnya akan ditulis ke bentuk Skenario Sinetron untuk kemudian di kembangkan ke bentuk tulisan menjadi sebuah buku. Oleh  karena itu selaku Kabid Pemasaran ia pun menghimbau kepada masyarakat dimanapun berada, silahkan datang dan nonton rangkaian kegiatan Seni dan Budaya serta Bazar Peringatan Hari Ulang Tahun Kota Curup ke 134 Tahun 2014  mulai  tanggal, 21 sampai  tanggal 29 Mei 2014 di pusatkan di Lapangan Setia Negara Kota Curup Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Jangan sampai ketinggalan!.

 

Dirgahayu Kota Curup

Semoga Allah SWT, Tuhan YME Senantiasa Berkahi

Kesehatan dan Kesejahteraan Warganya. Amin…

(bidpemas- j.u.e.y.h & t}

 

 

 

               

RAPAT KOORDINASI DAN PERTEMUAN BULANAN DHARMA WANITA PERSATUAN DAN PKK KABUPATEN REJANG LEBONG
avatar

RAPAT KOORDINASI DAN PERTEMUAN BULANAN DHARMA WANITA PERSATUAN DAN PKK KABUPATEN REJANG LEBONG

Kamis Tanggal 08 Mei 2014

Pukul             : 08.30 Wib

Tempat          : Aula Kantor Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Rejang Lebong.

Acara ini di Pimpin : Oleh Ibu Penasehat Dharma Wanita Persatuan / Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Rejang Lebong  (Ibu Hj. Susilawati Suherman SE,MM).

Anggota :

: 1. Ibu Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kab. Rejang Lebong

2. IbuWakil Ketua II TimPenggerak PKK Kab. Rejang Lebong.

3. Ibu Ketua Dharma Wanita Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. RL.

4. Ibu-ibu Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan, Dinas Instansi

beserata anggota

Penceramah  : Bapak Samir, S.Ag

Adapun susunan acara pada hari ini :

  1. Pembukaan
  2. Ceramah Agama diampaikan langsung Bapak Samiri, S.Ag dengan Judul Ceramah  Memasuki Tanggal 8 Rajab/ Bulan Rajab

Isi Ceramah : Adapun ceramah agama pada hari ini yang disampaikan oleh Bapak Ustad yaitu makna dari Bulan Rajab yaitu:

  1. Tentang Shalat :

Shalat Merupakan salah satu kemunikasi kita yang terbaik kepada Allah SWT baik shalat wajib maupun sunah. Dimana sebagai hamba Allah SWT kita wajib melaksanakan shalat dengan sempurna dan baik,yang belum sempurna dianjurkan agar dapat belajar dengan guru / melalui kaset. Allah berkata “ Sesunggunya shalat itu mencagah perbuatan yang kejih dan mungkar.

Contoh : Seorang istri yang melawan kepada suaminya, orang tua yang kasar kepada anak-anak mereka,dan banyakcontoh-contoh yang lainnya.

 

  1. Tentang Zikir :

Zikir ini diluar shalat, tetapi ini merupakan komusikasi kita juga kepada Allah SWT tetapi melalui zikir untukmengingat Allah SWT,memohon Ridho Allah.Maka dengan itu pelajarilah Zikir dengan baik karena nilainya sangat baik dimata Allah SWT.

  1. Tentang Doa :

Doa adalah suatu harapan atau permohonan kita kepada Allh SWT untuk memohon ridhony,doa juga merupakan ibadah, jadi walaupun kita sudah melakukan shalat dan zikir  akan lebih baik ditambah dengan doa supaya lebih abdol dan lebih mendekatkan diri kita kepada Allah untuk memohon apa yang kita inginkan,dalam berdoa ini kita bebas menggunakan bahasaapa saja ( dengan bahasa yang kita mengerti ), Allah akan paham dan tahu maksud serta tujuan doa kita/yang sedang kita utarakan kepadanya, Allah akan terima.

  1. Tentang Baca Al-quran :

Kunci Al-quar Umat Islam, semua al-quran yang mengajarkan mana yang baik dan mana yang buruk semua sudah diatur dalam Al-quran. Yang mana sebagai manusia apabila ada yang salah dapat saling tegur menegur, jangan caci mencaci dibelakang.maka pelajarilah Al-quran dengan baik mengerti dengan tajuwid, pendek, panjangnya bacaan, dengan itu kita dapat mengerti  arti dari ayat tersebut. Nilai 1(satu) (satu) huruf Al-quran yang kita baca maka1 juga pahala kita. Allah yang telah mengatur semua hidup kita,seperti di dunia Pemerintahan  kita dapat dimutasi kesana kesini itu semua harus diterima dengan lapang dada karena semua sudah diatur oleh yang kuasa.

Kesimpulan : Shalat, Zikir,Doa dan Baca Al-quran  yang satu ini kita untuk menyempurnakan diri kepada Allah SWT banyak-banyakla membaca ayat-ayat toyibah, shalawat,sair-sair untuk menenteramkan hati dan mendengarkan lagu-lagu qasidahynag mana menyentuh ayat-ayat Allah, semua ini baik kita amalkan.Melalui Bulan Rajab Ini kita tingkatkian ketakwaan kita kepada Allh SWT.

 

  1. Pembacaan Notulen Rapat Tanggal 08 Mei 2014

Rapat Koordinasi dan Dharma wanita Persatuan Kabupaten Rejang Lebong tanggal 07 April 2014.

  1. Pengumuman

-        Dari Sekretariat Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Rejang Lebong

Dari Pokja 1 : Masalah kita mengikuti Hut Kota Curup ke-134 Tahun 2014 dari Sekretariat karena ada stan maka akan diisi oleh Dinas,Instansi, maka nanti akan dibagi jadwal perdinas. Maka Sip 1 pagi dari pukul 08.00 wib s/d 13.00 wib, Sip siang dari pukul 13.00 s/d 19.00 wib. Setiap Dinas Instansi mengirim anggotanya 2 orang, dan dipertanggung jawabkan oleh ketua Dharma Wanita Instansi masing-masing, apabila ada yang tiding ikut maka akan diberikan sanksi dan dari dharma wanita juga akan mengadakan lomba kreasi jilbab.

Dari Bidang Pendikdikan :

- Peserta, angota Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Rejang Lebong

- Setiap perwakilan mengirim 1 orang anggota dengan mengisi biodata sesuai format

  Terlampir.

- Peserta harus hadir 20 menit sebelum acara dimulai

- Peralatan lomba dibawa sendiri seperti : Cermin, Mike Up, Jilbab, Pentul dll

- Jilbab yang digunakan dari bahan sipon

- Kreasi jilbab dan busana serasikan dengan kostum

- Jilbab tidak boleh dibentuk dari rumah

- Wajah dari rumah polos /tdk boleh bermike up

- Waktu 30 Menit

- Pelaksanaan pada tanggal 23 Mei 2014 Pukul 08.00 wib Tempat di Balai Pertemuan

*Pokja 1 : PKK Kab. Rejang Lebong

Melaksanakan kegiatan sambung rasa kadarkum, pelaksanaan pada tanggal 23 Mei 2014 di Dekranasda Kab. Rejang Lebong,Peserta dari Dinas Instansi dan Kecamatan, setiap masing-masing utusan mengirim 2 orang. Pada tanggal 24 Mei 2014 akan dilaksanakan simulasi KDRT diikuti oleh Kecamatan masing-masing 10 peserta, alat peraga dibawa sendiri oleh Kecamatan yang sudah diberi sebelumnya.

*Pokja III, Kegiatannya mengadakan lomba B2SH (Kecamatan), Menu ikan, bola batok (anak TK dan Paud), Instansi, Kecamatanmengirimkan anggotanya. Technikal Meeting pada tanggal 16 Mei 2014 di Kantor Dekranasda jam 08.00 wib. Dengan ini di mohon kepada ibu-ibu agar dapat mengikuti Technikal Meeting agar mengerti Tekhnis pelaksanaannya.

5. Sambutan Penasehat dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Rejang Lebong ( Ibu Hj. Susilawati Suherman, SE,MM), Tema : Rapat konsultasi dan Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Rejang Lebong, menyampaikan :

- Kegiatan di Kantor harus rutin

- Ibu Camat, Lurah ikuti kegiatan sesuai dengan Program dari REKARNAS No. 07 yang mana wajib dilaksanakan .

- Dalam Rangka HUT KOTA CURUP kepada selurunya mohon didukung demi kelancaran dan kemeriaan acara.

- Waktu Pengbukaan HUT Kota curup pada hari Rabu tanggal 21 Mei 2014, kepada seluru sekolah tolong kepada guru-guru agar anak muridnya digerakkan dan sebelum acara dimulai anak-anak jangan d lapangan dulu, waktu mulai baru d gerakkan untuk berdiri di lapangan.

- Pelaksanaan Pawai pada tanggal 21 Mei 2014 Pukul 07 sudah mulai star,karena kalau menurut adat tidak boleh lewat dari jam 12 siang

- Berpakaian Batik Ka Ga Nga.

- Kepada Ibu-ibu Camat mohon di cek lemari yang ada di Dekranasda, apa yang layak kita isi.

- Tanamkan kekompakan baik Camat lama maupun camat yang baru

- Saling mengingatkan apabila ada yang salah, jangan berbicara di belakang dan tidak usah di komen / dimasukkan dalam Facebook,selesaikan secara kekeluargaan.

- Masalah Narkoba, Sek Bebas, orang tua awasi anak dengan cermat.

- Hari Sabtu tanggal 10 Mei 2014 Peresmian Bedah Rumah di Air Meles, jadi ibu –ibu harap hadir.

- Tanggal 14 Mei 2014 Isra Miraj di Kediaman Bupati Rejang Lebong.

- Zikir Akbar Tanggal 20 Mei 2014 di Masjid Agung

* Tambahan dari PKK Kabupaten Rejang lebong mengenai Qasidah :

- lomba Qasidah mulai pada tanggal 21 mei 2014 jam 13.00 wib

- Technikal Meeting ibu-ibu harus membawa Solis untuk pengambilan nada (jam 08.00 wib)

- Segera mendaftarkan anggotanya ke Sekretariat Dharma Wanita / ke Dekranasda, yang kurang jelas silakan bertanya langsung ke Sekretariat

6. Acara Selanjutnya Arisan

7. Doa ( disampaikan oleh Ibu Leny Hafis )

8. Penutup.

Dalam acara ini ibu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata atau selaku ibu Ketua Dharma Wanita Dinas Kebudayaan dan Parikwisata Kabupaten Rejang Lebong, terlihat andil dalam acara ini, Beliau  ikut serta dan berperan aktif dalam acara atau kegiatan Dharma Wanita Kabupaten tersebut. Dan sangat mendukung apapun kegiatan yang dilaksanakan oleh ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan Kabupaten, Contohnya Dalam Rangka Pelaksanaan Hari Jadi Kota Curup ke- 134 tahun 2014 ini, tak sedikit dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mendukung dan berpartisipasi untuk memeriakan acara tersebut dengan mengadakan berbagai macam perlombaan dan kegiatan.dengan tujuan tidak lain agar Seni Budaya kita Khusunya Daerah kita Rejang Lebong tetap berkembang sesuai dengan apa yang kita inginkan, demi mewujudkan dan mengembangkan daerah kita lebih maju lagi, dan nilai budaya akan lebih bertamba dari sebelumnya,.IMG_20140517_074100

 

Curup, 09 Mei 2014

Penulis : Elmi Hasanah