Pejabat di Mutasi, Rotasi dan Promosi di Lingkungan Disbudpar Tahun 2014
avatar

Pada hari Rabu pagi , tanggal 2 April 2014, Bupati Rejang Lebong Bapak H. Suherman SE,MM, memimpin langsung jalannya  proses pelantikan para  pejabat yang terkena mutasi, rotasi dan promosi jabatan  yang berjumlah 116 orang  Pejabat Struktural eselon II, III, dan IV di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Rejang di ruang Pola,yang dihadiri oleh Unsur FKPD, SKPD dan undangan lainnya.

Dari 116 orang  Pejabat yang di lantik tersebut, ada Pejabat Eselon III/a dan III/b serta pejabat Eselon IV/a di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong yang ikut dirotasi dan mutasi antara lain :

Bapak SABIRIN, SE, yang sebelumnya menjadi Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang, di Rotasi ke Kepala Bagian Umum Setda Rejang Lebong, sedangkan jabatan yang ditinggalkan oleh Bapak SABIRIN SALEH, SE yaitu Sekretaris Dinas Kebudayaan Pariwisata Rejang Lebong saat ini masih  kosong, sedangkan BAPAK HADIS LANI, SH yang selama ini menjabat sebagai Kepala Bidang (Kabid) Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong di Gantikan oleh BAPAK  JAILANI S.Sos yang sebelumnya menjabat Eselon III di Dinas Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Rejang Lebong.

Untuk Pejabat Eselon IV di Lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong yang terkena Rotasi yaitu Kepala UPT ASET PENDUKUNG PARIWISATA GEDUNG SERBAGUNA GRAHA SAMALI di Jakarta  yang selama ini di Jabat oleh Bapak Margono, di Gantikan oleh Ibu IPO yang sebelumnya menjabat sekretaris Kelurahan Talang Rimbo Baru.

Dengan telah dirotasinya  jabatan Struktural tersebut, berarti dari 21 jabatan struktural yang ada di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong, sebanyak  19 jabatan struktural sudah terisi. Dua Jabatan  struktural yang masih kosong tersebut yaitu Sekretartis Dinas dan  Kepala Sub Bagian Tata Usaha Unit Pelaksana Teknis (UPT) ASET PENDUKUNG PARIWISATA GEDUNG SERBAGUNA GRAHA SAMALI di Jakarta Selatan dengan eselon IV.b.

Di Lingkungan Dinas    Kebudayaan dan Pariwisata   Kabupaten Rejang Lebong  terdapat 1    ( satu ) jabatan Eselon II.b yaitu Kepala Dinas, 1 ( satu ) jabatan Eselon III.a yaitu Sekretaris, 4 ( empat ) jabatan Eselon III.b Yaitu Kepala Bidang, 13 ( tiga belas ) jabatan Eselon IV.a yaitu Kepala sub. Bagian, Kepala Seksi dan Kepala UPT dan 2 ( dua ) jabatan Eselon IV.b yaitu Kepala Sub. Bagian di UPT, dan pada acara Mutasi, Rotasi dan Promosi tersebut ada juga Staf Dinas Kebudayaan dan Prariwisata yang ikut di Promosi menjadi kasie di Kelurahan Talang Benih yaitu Ibu Yayuk Fajriyanti, ST

Adapun jumlah jabatan dan nama-nama pejabat Struktural di Lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong setelah ada Mutasi/Rotasi dan Promosi pda   tanggal 2 April 2014 tersebut sebagai berikut :

  1. Kepala Dinas ( Eselon II.b ) : Drs. H. Rusli, MM
  2. Sekretaris Dinas ( Eselon III.a ) : ……………………..masih Kosong
  3. Kepala Bidang Program dan ODTW ( Eselon III.b ) : Misherieni, S.Sos. MM
  4. Kepala Bidang BUSP ( Eselon III.b ) : Rismulyana, S.Sos
  5. Kepala Bidang Pemasaran ( Eselon III.b ) : Jailani, S.Sos
  6. Kepala Bidang PSB ( Eselon III.b ) : Tri Rubiana Sanoel
  7. Kepala Sub. Bagian Kepegawaian ( Eselon IV.a ) : Sumardi, S.Sos
  8. Kepala Sub. Bagian Umum ( Eselon IV.a ) : Liswin Indriati, SE
  9. Kepala Sub. Bagian Keuangan ( Eselon IV.a ) : Dra. Hj. Kuntum Dahlia
  10. Kepala Seksi Sunram ( Eselon IV.b ) : M.Joni, S.Sos
  11. Kepala Seksi Obyek dan Atraksi ( Eselon IV.a ) : Suwardi W.
  12. Kepala Seksi Pelayanan dan Perizinan ( Eselon IV.a ) : Taslim , S.Sos
  13. Kepala Seksi Pembinaan dan Penyuluhan ( Eselon IV.a ) : Tamsil
  14. Kepala Seksi Bina Mitra ( Eselon IV.a ) : Heri Kartina
  15. Kepala Seksi Promosi ( Eselon IV.a ) : Uswandi, SE
  16. Kepala Seksi Pertunjukan dan Seni rupa ( Eselon IV.a ) : Syahirman, SP
  17. Kepala Seksi Sejarah dan Budaya ( Eselon IV.a ) : Sarlen Purba
  18. Kepala UPT Obyek Wisata Air, Danau dan Pegunungan serta Aset Pendukung Pariwisata Gedung Diklat Serbaguna -Rejang lebong ( Eselon IV.a ) : Rudi Tarmizi, SE
  19. Kepala UPT Aset Pendukung Pariwisata Gedung Serbaguna Graha Samali -Jakarta Selatan ( Eselon IV.a ) : Ipo, S.Sos
  20. Kepala sub. Bagian Obyek Wisata Air, Danau dan Pegunungan serta Aset Pendukung Pariwisata Gedung Diklat Serbaguna -Rejang lebong ( Eselon IV.b ) : Hendra Rahmulya, ST
  21. Kepala Sub. Bagian UPT Aset Pendukung Pariwisata Gedung Serbaguna Graha Samali – Jakarta Selatan ( Eselon IV.b ) : ………………..( masih kosong/belum terisi )

Bupati Rejang Lebong (H. SUHERMAN, SE,MM ) dalam sambutannya meminta kepada para pejabat yang baru dilantik agar dapat segera melakukan serah terima jabatan dan penyesuaian terhadap jabatan barunya. Jabatan itu amanah oleh karena itu tentu akan dimintai pertanggungjawabannya, demikian pula dengan mutasi, mutasi merupkan hal yang biasa dalam sistem birokrasi, terutama untuk mengisi kekosongan jabatan yang selama ini diisi oleh pejabat pelaksana tugas dan kosong.

Sedangkan Sekretaris Daerah Kabupaten Rejang (H. Drs. SUDIRMAN) yang merupakan Ketua Baperjakat, mengatakan bahwa, mutasi ini bertujuan untuk meningatkan kualitas kerja masing-masing dinas/instansi, sekaligus untuk mengisi jabatan yang kosong serta mendepenitifkan mereka yang masih berstatus Pelaksana Tugas.

 

Pengajian Bulanan di Bulan Maret 2014
avatar

Di hari Jumat tanggal 21 Maret 2014 Bertempat di ruangan Rapat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong, dimulai  pukul 08.00 WIB, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong melaksanakan kegiatan rutin bulanan, yaitu kegiatan Ceramah Agama dan Pertemuan Dharmawanita Persatuan unit Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong untuk yang kedua kalinya di Tahun 2014, Dengan dihadiri oleh hampir seluruh karyawan / karyawati dan  Ketua dan Pengurus serta seluruh anggota Dharmawanita Persatuan unit Disbudpar Rejang Lebong, acara rutin ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong Drs. H. Rusli, MM

Acara rutin bulanan dengan pembawa acara/MC yaitu sdr EVRIZON SUHADI, A,Md dengan tertib acara sebagai berikut :

1.    Pembukaan.

2.    Pembacaan Ayat Suci Alquran

3.    Kata Sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong.

4.    Cerama Agama.

5.    Pembacaan Doa

6.    Penutup dilanjutkan dengan arisan dharma wanita

diawali dengan lantunan pembacaan Ayat-Ayat suci Al-Qur-An, yang dibawakan oleh Sdri. Tenti Febrianty, acara ceramah Agama  dilanjutkan dengan kata sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata Rejang Lebong yang disampaikan langsung oleh Bapak H. Rusli, MM, Kepala Dinas menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada penyelenggara pengajian yang mendapat giliran yaitu segenap karyawan/karyawati Bidang BUSP Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong dalam melaksanakan Pengajian Bulanan yang dikomandio  oleh Ibu Rismulyana, S.Sos yang mana telah dapat menyiapkan acara tersebut dengan baik, serta Kepala Dinas Juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ustadz  DAYUN RIYADI. M.Ag yang telah hadir memenuhi undangan kami untuk menyampaikan Materi/Ceramah di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong.

Materi/Ceramah Agama yang berjudul SHOLAT ANTARA PAHALA DAN DOSA, mengawali ceramahnya Bapak Dayun Riyadi, M.Ag mengatakan bahwa AllahSubhanahu wa Ta’alamenciptakan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya, beribadah tanpa mengadakan tandingan ataupun menyekutukan-Nya. Sedangkan dua syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam ibadah seorang hamba ialah ikhlas hanya mengharap ridho AllahSubhanahu wa Ta’ala kemudian mengikuti sunnah atau tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

Kedua syarat tersebut haruslah selalu mengikuti ibadah seorang muslim, apakah ibadah tersebut bersifat mahdhoh seperti sholat dan puasa ataupun yang bersifatghoiru mahdhoh seperti bekerja, makan, dan lain sebagainya. Seseorang yang beribadah dengan ikhlas tapi tidak mengikuti tuntunan Rasulullah shalallahu ‘Alaihi wa Sallam maka dia bisa terjerumus kepada bid’ah begitu pula sebaliknya seseorang yang beribadah dengan mengikuti tuntunan Rasulullah tapi tidak mengikhlaskan niatnya maka dia bisa terjerumus kepada kesyirikan.Na’udzubillah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: yang artinya

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(Al-Bayyinah: 5)

Ibnu Abbas rahimahullah  mentafsirkan

Di dalamsyarh riyadhusshalihinsy aikh Ibnu Utsaimin membagi niat menjadi tiga bagian:

- Niat untuk beribadah.

- Niat mengerjakan sesuatu hanya untuk Allah.

- Niat mengerjakan sesuatu untuk menjalankan perintah Allah; maka ketiga hal inilah niat yang paling sempurna.

Sebagai contoh seseorang melakukan sholat. Dia meniatkan sholat untuk beribadah kepada Allah. Kemudian sholat hanya mengharap ridho-Nya, tidak untuk riya’ atau sum’ah tidak pula mengharapkan dunia atau harta.Kemudian meniatkan sholat untuk menjalankan perintah Allah dalam firman-Nya yang artinya (Niat yang benar adalah niat yang tidak diucapkan dengan lisan,karena Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkan niat ketika wudhu, sholat, shodaqah dan haji).

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radhiallahu anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”(muttafaqun alaihi)

Hadist di atas menjelaskan bahwa suatu amalan akan diberikan ganjaran sesuai dengan apa yang diniatkan.Bisa jadi dua orang dalam waktu yang sama melakukan amal yang sama akan tetapi mendapatkan pahala yang berbeda karena niat mereka berbeda.Hadist tersebut juga memberikan sebuah permisalan, barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul maka hijrahnya akan mendapatkan apa yang diniatkannya dan siapa yang hijrahnya karena dunia atau wanita maka hanya akan mendapat keduanya.

Dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin kenapa di akhir hadist itu menggunakan lafadz  sedangkan kalimat yang menjelaskan tentang hijrah kepada Allah dan Rasul ditulis kembali secara sempurna. Dikatakan hanya akan memperpanjang kalimat apabila kalimat tersebut ditulis ulang dengan sempurna,dikatakan juga kenapa tidak di tulis ulang adalah sebagai bentuk ejekan dan penghinaan kepada kedua niat tersebut, karena dua niat tersebut adalah niat yang rusak dan tercela.

Shalat Berjamaah Berhadiah Mobil dengan menggalakkan shalat berjamaah di masjid. Saya menyebutnya ini sebagai “dakwah” atau mengajak umat untuk berbuat sesuatu dalam ruang lingkup ibadah. Namun terasa unik ketika “dakwah” tersebut dengan iming-iming sesusatu yang sifatnya keduniawiaan, Mobil. terlebih dahulu harus ditanyakan dalam diri kita masing-masing, “Siapakah yang tak suka harta?” Walaupun kyai, pasti suka harta. semua pasti punya orientasi kepada harta walapun tentu besar kecilnya berbeda-beda. Sangat sedikit yang mendedikasikan untuk akhirat 100%. Dalam konteks inilah kemudian si penggagas shalat berjamaah berhadiah melihat bahwa mengiming-imingi hadiah “dunia” agar umat bersedia (terlepas dari terpaksa atau tidak terpaksa) melakukan ibadah yang sifatnya ukhrawi.

Secara kuantitas saya kira strategi dakwah seperti itu sangat berhasil untuk menambah jamaah. namun secara kualitas ? ini masih perlu dipertanyakan. Namun setidaknya kita bisa berkaca dari sejarah dakwah walisongo berikut ini:

“Dulu dizaman wali songo mereka melihat masyarakat yang gemar pada kesenian, seperti wayang, pasar malam, gamelan, dan kesenian-kesenian lainnya yang berbau budaya lokal. Hal ini kemudian menjadi alat dakwah mereka untuk mengajak masyarakat masuk islam, menyembah, Allah dan meninggalkan kemusyrikkan. Lihatlah kemudian bagaimana sebelum mengajak untuk shalat berjamaah, wali songo menggelar kesenian gamelan di pelataran masjid untuk mengumpulkan masyarakat. Setelah masyarakat berkumpul, mereka diajak untuk campursarinan, gendhingan, dan disajikan pagelaran wayang kulit. Setelah itu mereka kemudian diajak untuk bersyahadat dan akhirnya diajak untuk shalat berjamaah yang baik dan benar.

Dalam konteks yang sedang kita bicarakan, antara si penggagas shalat berjamaah berhadiah dengan wali songo memiliki tujuan yang sama, yaitu ingin meningkatkan jumlah jamaah masjid. Namun dalam strateginya berbeda. Kalau wali songo mengajak “dolanan” dahulu kemudian “sembahyang” tapi kalau si penggagas shalat berjamaah berhadiah mengajak sembahyang biar dapat “dolanan”. padahal sembahyang itu harus lillaahi ta’aalaa.

Satu semangat namun dua strategi yang berbeda inilah yang seharusnya menjadi bahan renungan buat kita bersama khususnya para mubaligh yang berusaha untuk membina umat menjadi lebih baik. Makna lebih baik bukan berarti meningkatkan kualitas spiritual secara lahiriyah namun juga bathiniyah, karena hakikat dari beragama adalah untuk meningkatkan kualitas bathiniyah sehingga bisa dekat dengan ALlah.

Sebagai orang awam, saya sendiri melihat program shalat berjamaah berhadiah sebagai program yang niatnya baik namun kurang pas. hampir mirip dengan Pro kontra Program Titip Doa. Ada baiknya si penggagas memoles strategi dakwah tersebut, misalnya dengan menggunakan cara-cara walisongo dulu yang saya kira belum ketinggalan jaman dan masih bisa digunakan apabila memang kreatif. Okelah program berhadiahnya masih ada namun tidak untuk “menghadiahi” orang yang sembahyang. Namun dengan cara lain, misalnya sebelum melaksanakan shalat berjamaah, di serambi masjid diadakan lomba bersih-bersihan baju, lomba lari untuk pemuda, atau lomba-lomba lainnya yan kiranya dapat menarik masyarakat untuk “datang” ke serambi masjid. Saya kira nggak usah diiming-imingi mobil, hanya dengan hadiah satu juta atau dua juta saya kira tidak usah dikomando masyarakat akan berkumpul. Nah nanti ketika lombanya hampir selesai, sang muadzin diminta untuk mengumandangkan adzan, dan masyrakat diminta untuk shalat berjamaah. Saya kira masyarakat akan ikut berjamaah. Walau mungkin tidak seluruhnya, namun ‘RASA MALU” masyarakat negeri ini masih tinggi. Ketika melihat saudara di depan mata mereka berbuat kebaikan dan mereka tidak ikut berbuat kebaikan maka mereka masih punya “RASA MALU”. rasa inilah yang harus dilihat dan diperhatikan untuk menggalang ‘KEKUATAN UMAT’.

Maka dapat disimpulkan hendaknya seorang muslim untuk selalu meniatkan segala amalan dengan hanya mengharapkan ridha Allah semata. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala selalu memberikan kekuatan kepada semua kaum muslimin di segala penjuru dunia untuk selalu beribadah kepada-Nya.Wallahu ta’ala A’lam

Setelah memberikan materi/ceramah, Bapak Ustadz  DAYUN RIYADI. M.Ag juga membacakan Doa agar acara yang dilaksanakan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mendapat Redo dan diberkahi oleh Allah.

Setelah pembacaan Doa selesai, acara pengajian di tutup dan  dilanjutkan dengan Arisan Dahrma Wanita Persatuan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong yang dipimpin oleh Ibu Ketua Dharmawanita Persatun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong.

 

 

Legenda Ular Kepala Tujuh
avatar

Legenda Ular kepala 7

Legenda Ular kepala 7

Di sebuah daerah di Bengkulu, Indonesia, berdiri sebuah kerajaan bernama Kutei Rukam yang dipimpin oleh Raja Bikau Bermano. Raja Bikau Bermano mempunyai delapan orang putra. Pada suatu waktu, Raja Bikau Bermano melangsungkan upacara perkawinan putranya yang bernama Gajah Meram dengan seorang putri dari Kerajaan Suka Negeri yang bernama Putri Jinggai. Mulanya, pelaksanaan upacara tersebut berjalan lancar. Namun, ketika Gajah Meram bersama calon istrinya sedang melakukan upacara prosesi mandi bersama di tempat pemandian Aket yang berada di tepi Danau Tes, tiba-tiba keduanya menghilang. Tidak seorang pun yang tahu ke mana hilangnya pasangan itu. Sementara itu di istana, Raja Bikau Bermano dan permaisurinya mulai cemas, karena Gajah Meram dan calon istrinya belum juga kembali ke istana. Oleh karena khawatir terjadi sesuatu terhadap putra dan calon menantunya, sang Raja segera mengutus beberapa orang hulubalang untuk menyusul mereka. Alangkah terkejutnya para hulubalang ketika sampai di tepi danau itu tidak mendapati Gajah Meram dan calon istrinya. Setelah mencari di sekitar danau dan tidak juga menemukan mereka berdua, para hulubalang pun kembali ke istana. “Ampun, Baginda! Kami tidak menemukan putra mahkota dan Putri Jinggai,” lapor seorang hulubalang. “Apa katamu?” tanya sang Raja panik. “Benar, Baginda! Kami sudah berusaha mencari di sekitar danau, tapi kami tidak menemukan mereka,” tambah seorang hulubalang lainnya sambil memberi hormat. “Ke mana perginya mereka?” tanya sang Raja tambah panik. “Ampun, Baginda! Kami juga tidak tahu,” jawab para utusan hulubalang serentak. Mendengar jawaban itu, Raja Bikau Bermano terdiam. Ia tampak gelisah dan cemas terhadap keadaan putra dan calon menantunya. Ia pun berdiri, lalu berjalan mondar-mandir sambil mengelus-elus jenggotnya yang sudah memutih. “Bendahara! Kumpulkan seluruh hulubalang dan keluarga istana sekarang juga!” titah sang Raja kepada bendahara. “Baik, Baginda!” jawab bendahara sambil memberi hormat. Beberapa saat kemudian, seluruh hulubalang dan keluarga istana berkumpul di ruang sidang istana. “Wahai, rakyatku! Apakah ada di antara kalian yang mengetahui keberadaan putra dan calon menantuku?” tanya Raja Bikau Bermano. Tidak seorang pun peserta sidang yang menjawab pertanyaan itu. Suasana sidang menjadi hening. Dalam keheningan itu, tiba-tiba seorang tun tuai (orang tua) kerabat Putri Jinggai dari Kerajaan Suka Negeri yang juga hadir angkat bicara. “Hormat hamba, Baginda! Jika diizinkan, hamba ingin mengatakan sesuatu.” “Apakah itu, Tun Tuai! Apakah kamu mengetahui keberadaan putraku dan Putri Jinggai?” tanya sang Raja penasaran. “Ampun, Baginda! Setahu hamba, putra mahkota dan Putri Jinggai diculik oleh Raja Ular yang bertahta di bawah Danau Tes,” jawab tun tuai itu sambil memberi hormat. “Raja Ular itu sangat sakti, tapi licik, kejam dan suka mengganggu manusia yang sedang mandi di Danau Tes,” tambahnya. “Benarkah yang kamu katakan itu, Tun Tuai?” tanya sang Raja. “Benar, Baginda!” jawab tun tuai itu. “Kalau begitu, kita harus segera menyelamatkan putra dan calon menantuku. Kita tidak boleh terus larut dalam kesedihan ini,” ujar sang Raja. “Tapi bagaimana caranya, Baginda?” tanya seorang hulubalang. Sang Raja kembali terdiam. Ia mulai bingung memikirkan cara untuk membebaskan putra dan calon menantunya yang ditawan oleh Raja Ular di dasar Danau Tes. “Ampun, Ayahanda!” sahut Gajah Merik, putra bungsu raja. “Ada apa, Putraku!” jawab sang Raja sambil melayangkan pandangannya ke arah putranya. “Izinkanlah Ananda pergi membebaskan abang dan istrinya!” pinta Gaja Merik kepada ayahandanya. Semua peserta sidang terkejut, terutama sang Raja. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika putranya yang baru berumur 13 tahun itu memiliki keberanian yang cukup besar. “Apakah Ananda sanggup melawan Raja Ular itu?” tanya sang Raja. “Sanggup, Ayahanda!” jawab Gajah Merik. “Apa yang akan kamu lakukan, Putraku? Abangmu saja yang sudah dewasa tidak mampu melawan Raja Ular itu,” ujar sang Raja meragukan kemampuan putra bungsunya. “Ampun, Ayahanda! Ananda ingin bercerita kepada Ayahanda, Ibunda, dan seluruh yang hadir di sini. Sebenarnya, sejak berumur 10 tahun hampir setiap malam Ananda bermimpi didatangi oleh seorang kakek yang mengajari Ananda ilmu kesaktian,” cerita Gajah Merik. Mendengar cerita Gajah Merik, sang Raja tersenyum. Ia kagum terhadap putra bungsunya yang sungguh rendah hati itu. Walaupun memiliki ilmu yang tinggi, ia tidak pernah memamerkannya kepada orang lain, termasuk kepada keluarganya. “Tapi, benarkah yang kamu katakan itu, Putraku?” tanya sang Raja. “Benar, Ayahanda!” jawab Gajah Merik. “Baiklah! Besok kamu boleh pergi membebaskan abangmu dan istrinya. Tapi, dengan syarat, kamu harus pergi bertapa di Tepat Topes untuk memperoleh senjata pusaka,” ujar sang Raja. “Baik, Ayahanda!” jawab Gajah Merik. Keesokan harinya, berangkatlah Gajah Merik ke Tepat Topes yang terletak di antara ibu kota Kerajaan Suka Negeri dan sebuah kampung baru untuk bertapa. Selama tujuh hari tujuh malam, Gajah Merik bertapa dengan penuh konsentrasi, tidak makan dan tidak minum. Usai melaksanakan tapanya, Gajah Merik pun memperoleh pusaka berupa sebilah keris dan sehelai selendang. Keris pusaka itu mampu membuat jalan di dalam air sehingga dapat dilewati tanpa harus menyelam. Sementara selendang itu dapat berubah wujud menjadi pedang. Setelah itu, Gajah Merik kembali ke istana dengan membawa kedua pusaka itu. Namun, ketika sampai di kampung Telang Macang, ia melihat beberapa prajurit istana sedang menjaga perbatasan Kerajaan Kutei Rukam dan Suka Negeri. Oleh karena tidak mau terlihat oleh prajurit, Gajah Merik langsung terjun ke dalam Sungai Air Ketahun menuju Danau Tes sambil memegang keris pusakanya. Ia heran karena seakan-seakan berjalan di daratan dan sedikit pun tidak tersentuh air. Semula Gajah Merik berniat kembali ke istana, namun ketika sampai di Danau Tes, ia berubah pikiran untuk segera mencari si Raja Ular. Gajah Merik pun menyelam hingga ke dasar danau. Tidak berapa lama, ia pun menemukan tempat persembunyian Raja Ular itu. Ia melihat sebuah gapura di depan mulut gua yang paling besar. Tanpa berpikir panjang, ia menuju ke mulut gua itu. Namun, baru akan memasuki mulut gua, tiba-tiba ia dihadang oleh dua ekor ular besar. “Hai, manusia! Kamu siapa? Berani sekali kamu masuk ke sini!” ancam salah satu dari ular itu. “Saya adalah Gajah Merik hendak membebaskan abangku,” jawab Gaja Merik dengan nada menantang. “Kamu tidak boleh masuk!” cegat ular itu. Oleh karena Gajah Merik tidak mau kalah, maka terjadilah perdebatan sengit, dan perkelahian pun tidak dapat dihindari. Pada awalnya, kedua ular itu mampu melakukan perlawanan, namun beberapa saat kemudian mereka dapat dikalahkan oleh Gajah Merik. Setelah itu, Gajah Merik terus menyusuri lorong gua hingga masuk ke dalam. Setiap melewati pintu, ia selalu dihadang oleh dua ekor ular besar. Namun, Gajah Merik selalu menang dalam perkelahian. Ketika akan melewati pintu ketujuh, tiba-tiba Gajah Merik mendengar suara tawa terbahak-bahak. “Ha… ha… ha…, anak manusia, anak manusia!” “Hei, Raja Ular! Keluarlah jika kau berani!” seru Gajah Merik sambil mundur beberapa langkah. Merasa ditantang, sang Raja Ular pun mendesis. Desisannya mengeluarkan kepulan asap. Beberapa saat kemudian, kepulan asap itu menjelma menjadi seekor ular raksasa. “Hebat sekali kau anak kecil! Tidak seorang manusia pun yang mampu memasuki istanaku. Kamu siapa dan apa maksud kedatanganmu?” tanya Raja Ular itu. “Aku Gajah Merik, putra Raja Bikau Bermano dari Kerajaan Kutei Rukam,” jawab Gajah Merik. “Lepaskan abangku dan istrinya, atau aku musnahkan istana ini!” tambah Gajah Merik mengancam. “Ha… ha…. ha…., anak kecil, anak kecil! Aku akan melepaskan abangmu, tapi kamu harus penuhi syaratku,” ujar Raja Ular. “Apa syarat itu?” tanya Gajah Merik. “Pertama, hidupkan kembali para pengawalku yang telah kamu bunuh. Kedua, kamu harus mengalahkan aku,” jawab Raja Ular sambil tertawa berbahak-bahak. “Baiklah, kalau itu maumu, hei Iblis!” seru Gajah Merik menantang. Dengan kesaktian yang diperoleh dari kakek di dalam mimpinya, Gajah Merik segera mengusap satu per satu mata ular-ular yang telah dibunuhnya sambil membaca mantra. Dalam waktu sekejap, ular-ular tersebut hidup kembali. Raja Ular terkejut melihat kesaktian anak kecil itu. “Aku kagum kepadamu, anak kecil! Kau telah berhasil memenuhi syaratku yang pertama,” kata Raja Ular. “Tapi, kamu tidak akan mampu memenuhi syarat kedua, yaitu mengalahkan aku. Ha… ha… ha….!!!” tambah Raja Ular kembali tertawa terbahak-bahak. “Tunjukkanlah kesaktianmu, kalau kamu berani!” tantang Gajah Merik. Tanpa berpikir panjang, Raja Ular itu langsung mengibaskan ekornya ke arah Gajah Merik. Gajah Merik yang sudah siap segera berkelit dengan lincahnya, sehingga terhindar dari kibasan ekor Raja Ular itu. Perkelahian sengit pun terjadi. Keduanya silih berganti menyerang dengan mengeluarkan jurus-jurus sakti masing-masing. Perkelahian antara manusia dan binatang itu berjalan seimbang. Sudah lima hari lima malam mereka berkelahi, namun belum ada salah satu yang terkalahkan. Ketika memasuki hari keenam, Raja Ular mulai kelelahan dan hampir kehabisan tenaga. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Gajah Merik. Ia terus menyerang hingga akhirnya Raja Ular itu terdesak. Pada saat yang tepat, Gajah Merik segera menusukkan selendangnya yang telah menjelma menjadi pedang ke arah perut Raja Ular. “Aduuuhh… sakiiit!” jerit Raja Ular menahan rasa sakit. Melihat Raja Ular sudah tidak berdaya, Gajah Merik mundur beberapa langkah untuk berjaga-jaga siapa tahu raja ular itu tiba-tiba kembali menyerangnya. “Kamu memang hebat, anak kecil! Saya mengaku kalah,” kata Raja Ular. Mendengar pengakuan itu, Gajah Merik pun segera membebaskan abangnya dan Putri Jinggai yang dikurung dalam sebuah ruangan. Sementara itu di istana, Raja Bikau Bermano beserta seluruh keluarga istana dilanda kecemasan. Sudah dua minggu Gajah Merik belum juga kembali dari pertapaannya. Oleh karena itu, sang Raja memerintahkan beberapa hulubalang untuk menyusul Gajah Merik di Tepat Topes. Namun, sebelum para hulubalang itu berangkat, tiba-tiba salah seorang hulubalang yang ditugaskan menjaga tempat pemandian di tepi Danau Tes datang dengan tergesa-gesa. “Ampun, Baginda! Gajah Merik telah kembali bersama Gajah Meram dan Putri Jinggai,” lapor hulubalang. “Ah, bagaimana mungkin? Bukankah Gajah Merik sedang bertapa di Tepat Topes?” tanya baginda heran. “Ampun, Baginda! Kami yang sedang berjaga-jaga di danau itu juga terkejut, tiba-tiba Gajah Merik muncul dari dalam danau bersama Gajah Meram dan Putri Jinggai. Rupanya, seusai bertapa selama tujuh hari tujuh malam, Gajah Merik langsung menuju ke istana Raja Ular dan berhasil membebaskan Gajah Meram dan Putri Jinggai,” jelas hulubalang itu. “Ooo, begitu!” jawab sang Raja sambil tersenyum. Tidak berapa lama kemudian, Gajah Merik, Gajah Meram, dan Putri Jinggai datang dengan dikawal oleh beberapa hulubalang yang bertugas menjaga tempat pemandian itu. Kedatangan mereka disambut gembira oleh sang Raja beserta seluruh keluarga istana. Kabar kembalinya Gajah Meram dan keperkasaan Gajah Merik menyebar ke seluruh pelosok negeri dengan cepat. Untuk menyambut keberhasilan itu, sang Raja mengadakan pesta selama tujuh hari tujuh malam. Setelah itu, sang Raja menyerahkan tahta kerajaan kepada Gajah Meram. Namun, Gajah Meram menolak penyerahan kekuasaan itu. “Ampun, Ayahanda! Yang paling berhak atas tahta kerajaan ini adalah Gajah Merik. Dialah yang paling berjasa atas negeri ini, dan dia juga yang telah menyelamatkan Ananda dan Putri Jinggai,” kata Gajah Meram. “Baiklah, jika kamu tidak keberatan. Bersediakah kamu menjadi raja, Putraku?” sang Raja kemudian bertanya kepada Gajah Merik. “Ampun, Ayahanda! Ananda bersedia menjadi raja, tapi Ananda mempunyai satu permintaan,” jawab Gajah Merik memberi syarat. “Apakah permintaanmu itu, Putraku?” tanya sang Raja penasaran. “Jika Ananda menjadi raja, bolehkah Ananda mengangkat Raja Ular dan pengikutnya menjadi hulubalang kerajaan ini?” pinta Gajah Merik. Permintaan Gajah Merik dikabulkan oleh sang Raja. Akhirnya, Raja Ular yang telah ditaklukkannya diangkat menjadi hulubalang Kerajaan Kutei Rukam. Kisah petualangan Gajah Merik ini kemudian melahirkan cerita tentang Ular Kepala Tujuh. Ular tersebut dipercayai oleh masyarakat Lebong sebagai penunggu Danau Tes. Sarangnya berada di Teluk Lem sampai di bawah Pondok Lucuk. Oleh karena itu, jika melintas di atas danau itu dengan menggunakan perahu, rakyat Lebong tidak berani berkata sembrono. * * * Demikian cerita Ular Kepala Tujuh dari Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, Indonesia. Cerita rakyat di atas termasuk kategori cerita legenda yang mengandung pesan-pesan moral. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu sifat rendah hati dan tahu diri. Pertama, sifat rendah hati. Sifat ini tercermin pada perilaku Gajah Merik. Walaupun memiliki ilmu yang tinggi, ia tidak pernah pamer dan menyombongkan diri. Sifat ini dapat memupuk ikatan tali persaudaraan. Sebagaimana dikatakan dalam untaian syair berikut ini: wahai ananda kekasih bunda, janganlah engkau besar kepala rendahkan hati kepada manusia supaya kekal tali saudara Kedua, sifat tahu diri. Sifat ini tercermin pada perilaku Gajah Meram. Semestinya dialah yang berhak dinobatkan menjadi raja, namun karena menyadari bahwa adiknya memiliki kesaktian yang lebih tinggi dari pada dirinya, maka ia pun menyerahkan tampuk kekuasaan Kerajaan Kutei Rukam kepada adiknya, Gajah Merik. Dari sini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa dengan memahami kekurangan dan kelebihan dirinya, seseorang akan tahu menempatkan diri dalam pergaulan kehidupan sehari-hari. Dikatakan dalam ungkapan Melayu: apa tanda tahu dirinya: hamba tahu akan Tuhannya anak tahukan orang tuanya raja tahukan daulatnya alim tahukan kitabnya hulubalang tahukan kuatnya cerdik tahukan bijaknya guru tahukan ilmunya tua tahukan amanahnya muda tahukan kurangnya lebih tahukan kurangnya (SM/sas/77/05-08)

 Sumber: * Isi cerita diadaptasi dari Prahana, Naim Emel. 1998. Cerita Rakyat Dari Bengkulu 2. Jakarta: Grasindo. * Kredit to melayuonline.com, rejang-lebong.blogspot.com

Pengajian Bulanan pertama di Tahun 2014
avatar

Bertempat di ruangan Rapat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong, Pada tanggal 28   Feburari  2014, dimulai  pukul 08.00 WIB, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong melaksanakan kegiatan rutin bulanan, yaitu kegiatan Ceramah Agama dan Pertemuan Dharmawanita Persatuan unit Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong untuk pertama kalinya di Tahun 2014, Dengan dihadiri oleh hampir seluruh karyawan / karyawati dan  Ketua dan Pengurus serta seluruh anggota Dharmawanita Persatuan unit Disbudpar Rejang Lebong, acara rutin ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong Drs. H. Rusli, MM

Acara rutin bulanan dengan pembawa acara/MC yaitu sdri Tenti  dengan tertib acara sebagai berikut :

1.    Pembukaan.

2.    Pembacaan Ayat Suci Alquran

3.    Kata Sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong.

4.    Cerama Agama.

5.    Pembacaan Doa

6.    Penutup dilanjutkan dengan arisan dharma wanita

diawali dengan lantunan pembacaan Ayat-Ayat suci Al-Qur-An, yang dibawakan oleh Bapak Effendi Mandra  dan dilanjutkan dengan kata sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata Rejang Lebong, Kepala Dinas menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bagian Sekretariat Dinas yang mendapat giliran pertama di Tahun 2014 dalam melaksanakan Pengajian Bulanan yang dikomandio  oleh Bapak Sabirin Saleh, SE selaku Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong beserta segenap stafnya yang mana telah dapat menyiapkan acara tersebut dengan baik, serta Kepala Dinas Juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ustadz Irsan Sidiq, S.Ag. yang telah hadir memenuhi undangan kami untuk menyampaikan Materi/Ceramah di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong.

Materi/Ceramah Agama yang berjudul Meningkatkan Iman dan Taqwa yang disampaikan oleh Ustadz IRSAN SIDIQ, S.Ag. antara lain :

Kita diciptakan didunia ini untuk satu hikmah yang agung dan bukan hanya untuk bersenang-senang dan bermain-main. Tujuan dan himah penciptaan ini telah dijelaskan dalam firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ مَآأُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (QS. Adz Dzariyat: 56-58)

Allah telah menjelaskan dalam ayat-ayat ini bahwa tujuan asasi dari penciptaan manusia adalah ibadah kepadaNya saja tanpa berbuat syirik. Sehingga Allah pun menjelaskan salahnya dugaan dan keyakinan sekelompok manusia yang belum mengetahui hikmah tersebut dengan menyakini mereka diciptakan tanpa satu tujuan tertentu dalam firmanNya :

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاَ تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami” (QS. 23:115)

Ayat yang mulia ini menjelaskan bahwa manusia tidak diciptakan secara main-main saja, namun diciptakan untuk satu hikmah. Allah tidak menjadikan manusia hanya untuk makan, minum dan bersenang-senang dengan perhiasan dunia, serta tidak dimintai pertanggung jawaban atas semua prilakunya didunia ini. Tentu saja jawabannya adalah kita semua diciptakan untuk satu himah dan tujuan yang agung dan dibebani perintah dan larangan, kewajiban dan pengharaman, untuk kemudian dibalas dengan pahala atas kebaikan dan disiksa atas keburukan (yang dia amalkan) serta (mendapatkan) suurga atau neraka.

Demikianlah seorang manusia yang ingin sukses harus dapat bersikap profesional dan proporsional dalam mencapai tujuan tersebut, sebab sesungguhnya tujuan akhir seorang manusia adalah mewujudkan peribadatan kepada Allah dengan iman dan taqwa. Oleh karena itu orang yang paling sukses dan paling mulia disisi Allah adalah yang paling taqwa, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. 49:13)

Namun untuk mencapai kemulian tersebut membutuhkan dua hal:

  1. I’tisham bihablillah. Hal ini dengan komitmen terhadap syariat Allah dan berusaha merealisasikannya dalam semua sisi kehidupan kita. Sehingga dengan ini kita selamat dari kesesatan. Namun hal inipun tidak cukup tanpa perkara yang berikutnya, yaitu;
  2. I’tisham billah. Hal ini diwujudkan dalam tawakkal dan berserah diri serta memohon pertolongan kepada Allah dari seluruh rintangan dan halangan mewujudkan yang pertama tersebut. Sehingga dengannya kita selamat dari rintangan mengamalkannya.

Sebab seorang bila ingin mencapai satu tujuan tertentu, pasti membutuhkan dua hal, pertama, pengetahuan tentang tujuan tersebut dan bagaimana cara mencapainya dan kedua, selamat dari rintangan yang menghalangi terwujudnya tujuan tersebut.

Imam Ibnu Al Qayyim menyatakan: “Poros kebahagian duniawi dan ukhrawi ada pada i’tisham billahi dan i’tisham bihablillah. Tidak ada kesuksesan kecuali bagi orang yang komitmen dengan dua hal ini. Sedangkan i’tisham bihablillah melindungi seseorang dari kesesatan dan i’tisham billahi melindungi seseorang dari kehancuran. Sebab orang yang berjalan mencapai (keridhaan) Allah seperti seorang yang berjalan diatas satu jalanan menuju tujuannya. Ia pasti membutuhkan petunjuk jalan dan selamat dalam perjalanan, sehingga tidak mencapai tujuan tersebut kecuali setelah memiliki dua hal ini. Dalil (petunjuk) menjadi penjamin perlindungan dari kesesatan dan menunjukinya ke jalan (yang benar) dan persiapan, kekuatan dan senjata menjadi alat keselamatan dari para perampok dan halangan perjalanan. i’tisham bihablillah memberikan hidayah petunjuk dan mengikuti dalil sedang i’tisham billahi memberikan kesiapan, kekuatan dan senjata yang menjadi penyebab keselamatannya di perjalanan” (Bada’i Al Tafasir Al Jaami’ Litafsir Imam Ibni Qayyim Al Jauziyah, karya Yasri Al Sayyid Muhammad, terbitan Dar Ibnul Jauzi 1/506-507).

Oleh karena itu hendaknya kita menekuni bidang kita masing-masing sehingga menjadi ahlinya tanpa meninggalkan upaya mengenal, mengetahui dan mengamalkan ajaran islam yang merupakan satu kewajiban pokok setiap muslim. Agar dapat mencapai tujuan penciptaan tersebut dengan menjadikan keahlian dan kemampuan kita sebagai sarana ibadah dan peningkatan iman dan takwa kita semua.

Tentu saja hal ini menuntut kita untuk dapat mengambil faedah dan pengetahuan tantang syariat sebagai wujud syukur kita atas nikmat yang Allah anugerahkan. Semua itu agar mereka mengakui bahwa mereka adalah makhluk yang tunduk dan diatur dan mereka memiliki Rabb yang maha pencipta dan maha mengatur mereka.

Setelah memberikan materi/ceramah, Ustadz  IRSAN SIDIQ, S.Ag juga membacakan Doa agar acara yang dilaksanakan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mendapat Redo dan diberkahi oleh Allah.

Setelah pembacaan Doa selesai, acara pengajian di tutup dan  dilanjutkan dengan Arisan Dahrma Wanita Persatuan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong yang dipimpin oleh Ibu Ketua Dharmawanita Persatun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong.

Sastra Lisan Suku Rejang yang Nyaris Punah
avatar

Guritan

Guritan

Suku Rejang, yang dikenal sebagai satu di antara suku asli penduduk Bengkulu, memiliki budaya yang beragam. Ragam budaya itu meliputi tulisan, adat istiadat, hukum adat, kesenian, dan sastra. Khusus untuk sastra lisan, suku ini juga memiliki berbagai macam jenis sastra, antara lain Nandei, Geritan, Berdai, Pantun, Syair, Sambei, dan Serambeak. Jenis sastra yang disebut terakhir inilah yang lebih populer digunakan sehari-hari — baik oleh orangtua, remaja, dan anak-anak — dalam berinteraksi.

Kekayaan budaya suku Rejang, dalam pandangan seorang pemerhati masalah budaya di Bengkulu, Drs Tommy Suhaimi MSi, direfleksikan dengan banyaknya orang asing serta pejabat pemerintahan di zaman Belanda dan Inggris yang menulis dokumen tentang suku-bangsa ini. Setiap kali akan mengakhiri jabatannya di wilayah yang didiami suku Rejang, pejabat penjajahan di masa lalu itu selalu menyempatkan untuk menulis dokumen tentang suku Rejang dalam bentuk pidato pertanggungjawabannya. Dokumen ini di kemudian hari menjadi bahan kajian bagi pejabat berikutnya. Serambeak sendiri bisa diartikan sebagai pengungkapan cetusan hati nurani dengan menggunakan bahasa yang halus, indah, berirama, dan banyak menggunakan kata-kata kiasan. Menurut Tommy, yang kini menjabat Kepala bagian Humas Pemda Kodia Bengkulu, serambeak dipakai dalam bidang yang cukup luas oleh suku Rejang. Dalam kehidupan sehari-hari — waktu bermusyawarah maupun mengobrol biasa — sering disisipkan serambeak di tengah pembicaraan. Begitu juga ketika menyambut tamu yang dihormati, serta dalam rangkaian kegiatan perkawinan, dalam pergaulan muda-mudi, dan lain-lain.

Salah satu contoh serambeak yang umum adalah:Indo ro dep i’o ba taai, ne, Indoro gung i’o ba keliuk ne

(Bagaimana bunyi rebab begitulah tarinya,bagaimana bunyi gong begitulah lenggangnya).

Maksud serambeak ini adalah bahwa sesuatu tindakan atau kegiatan seseorang hendaklah sesuai dengan situasi dan kondisinya. Serambeak juga biasa digunakan saat seseorang menasehati orang lainnya agar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru serta bergaul dengan orang lain. Demikian pula nasehat agar dalam mendidik dan menjaga anak bujang maupun gadis, para orangtua hendaklah hati-hati penuh kearifan dan bijaksana. Nilai agama haruslah ditanamkan sejak kecil. Bagi suku Rejang, tamu memiliki arti penting yang harus dihormati dan dilayani dengan baik. Oleh sebab itu serambeak khusus untuk tamu juga banyak ragammnya. Di antaranya:

Dio ade iben sapai daet, moi mbuk iben. Iben ade delambea, gambea ade decaik, pinang ade desisit, rokok ade depun. Ibennyo iben pena’ak magea suko panggea. Salang tun dumai belek moi talang. Salang tun talang belek moi sadei. Dapet kene ta’ak dengen tawea. Salang magea mendeak simeak. Arak suko padaa ngalo. Arak magea mendeak simeak. Agang magea suko panggea.

Terjemahannya kira-kira:

Ada sirih terhampai di darat, makanlah sirih. Sirih ada selembar, gambir ada secarik, pinang ada seiris, rokok ada sebatang. Sirih ini sirih penyapa untuk para tamu yang berdatangan. Sirih penyapa bukan karena membuat kesalahan, tidak pula karena membuat yang tidak baik. Sirih penyapa karena kami penuh harap, harap kepada tamu yang datang. Gembira karena memenuhi undangan. Sedangkan orang di ladang pulang ke talang, orang di talang pulang ke dusun. Semuanya diundang, rasa suka dan gembira atas kedatangan tamu semuannya. Bagi muda-mudi, kesantunan seseorang terucap dari serambeak yang disampaikan. Berikut ini contohnya:

Tun meleu diem puluk kelem. Tun titik diem beak lekok. (Orang hitam diam ditempat gelap. Orang kecil berada di lembah yang dalam).

Serambeak ini bermaksud sebagai sikap merendahkan diri bahwa ia orang yang serba kekurangan dan penuh kelemahan. Pemakainya biasa digunakan oleh remaja waktu pacaran sebagai ungkapan bahwa ia penuh kekurangan. Contoh serambeak muda-mudi lainnya:
Asai tekecep tebau nak talang. Asai tekenem bioa nak imbo. Asai mendaki munggeak mendatea. (Rasa tercicip tebu di Talang. Rasa terceminum air digunung. Rasa lega ketika tiba di tempat datar setelah mendaki tebing yang tinggi).

Serambeak ini bermakna cetusan kegembiraan ketika seseorang mendengar atau mendapatkan sesuatu yang telah lama didambakan. Biasa digunakan oleh muda-mudi ketika mendegar sang pujaan memberikan harapan-harapan yang muluk atau sesuatu yang diinginkan. Keunikan suku Rejang yang jumlahnya diperkirakan sekitar 900 ribu jiwa — mereka menghuni Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Musi Rawas (Sumsel), dan Kabupaten Lahat (Sumsel) — mampu menarik perhatian peneliti asing. Burhan Firdaus dalam bukunya Bengkulu dalam Sejarah yang diterbitkan oleh Yayasan Seni Budaya Nasional Indonesia 1988, mengungkapkan adanya seorang peneliti dari Australia Prof MA Jaspan dari Australia National University (ANU) yang menetap bersama keluarga setempat tahun 1961-1963 untuk meneliti suku bangsa Rejang. Jaspan menghasilkan beberapa buku, antara lain From Patriliny to Matriliny, Structural Change Amongst the Redjang of Soutwest Sumatra, Folk Literature of South Sumatra: Redjang Ka-ga-nga Texts, dan The Redjang Village Tribunal. Buku-buku itu sampai kini jadi bahan kajian penting bagi mahasiswa asing yang mengambil studi sejarah budaya Indonesia. Residen kedua Bengkulu, Prof Dr Hazairin SH, yang oleh pemerintah dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional pada 10 Nopember 1999, mempertahankan disertasi doktornya berjudul De Redjang untuk mendapatkan gelar PhD, dalam bidang hukum adat. Menurut Ketua Masyarakat Adat Bengkulu Zamhari Amin, serambeak membuktikan bahwa nenek moyang kita dahulu mempunyai budi bahasa, sopan santun, perasaan hati nurani yang halus, dan tatacara pergaulan yang tinggi nilainya. Oleh karena itu, sudah sewajarnya generasi muda sebagai generasi penerus mengadakan penelitian, pengumpulan, guna menggali dan menghidupkan kembali budaya yang tinggi nilainya agar diketahui dan dipelajari oleh khalayak ramai. Kalangan orangtua yang masih memahami dan menguasai dinamika kebudayaan sukubangsa Rejang, menurut Zamhari, kini sudah semakin berkurang. Mereka pada umumnya tidak meninggalkan bukti tertulis tentang seluk-beluk kebudayaan Rejang. ”Jika kondisi ini terus berlangsung, dalam lima dasawarsa mendatang, tidak hanya serambeak, tapi kebudayaan suku Rejang tidak akan diketahui lagi oleh generasi mudanya. Selain itu, orang Rejang sendiri terdistorsi oleh kebudayaan lain bahkan budaya asing,” ujarnya.

oleh:Mufti Aziz Ahmad (http://musi-rawas.go.id)

Batik “Ka Ga Nga” Ku Tak Lagi Megah dan Terancam Punah
avatar

Salah_Satu_pengusaha_Batik_YAng_bertahan_Di_kabupaten_RL[1]

SENI BATIK merupakan salah satu warisan budaya indonesia yang tak ternilai harganya, termasuk  juga seni batik Ka Ga Nga, ialah merupakan salah satu warisan budaya suku Rejang yang ada di Bumi Pat Petulai Rejang Lebong atau Kabupaten Rejang Lebong Propinsi Bengkulu.

Namun dengan perkembangan zaman dan teknologi tidak disangka dibalik makin maraknya motif  batik Ka Ga Nga yang sering digunakan oleh jajalan PNS dan pelajar di Kabupaten RL saat ini,  ternyata menyisahkan cerita tersendiri bagi masyarakat biasa dan pengrajin batik tulis dan batik cap Pei Ka Ga Nga yang saat ini tak lagi dirasakan megah dan terancam punah.

Mengapa demikian? koperasi pengrajin batik Pei Citra Daerah yang berada di jalan Basuki  Rahmat Kelurahan Dwi Tunggal Kecamatan Curup ini merupakan satu-satunya usaha yang  memproduksi batik tradisional Ka Ga Nga atau batik yang dibuat secara tradisional yaitu batik  tulis dan batik cap Ka Ga Nga.

Yang lebih menyisahkan ialah, jumlah pengrajin batik Pei Ka Ga Nga secara tradisional kini  hanya tinggal 3 orang, satu pengrajin dibidang batik cap dan pewarnaan, dan dua pengrajin  selanjutnya dibidang batik tulis.

“Yang bekerja disini hanya 3 orang, satu saya sebagai pengerja batik cam, dan dua orang lagi sebagai  pengrajin batik tulis,” Kata salah satu pengrajin batik Ka Ga Nga Emis 24 tahun

Kemudian untuk pengrajin batik tulis yang masih bisa bekerja produktif hanyalah satu orang  yaitu Linda 30 tahun warga Sumber bening Kecamatan Selupuh Rejang, sementara satulagi yaitu  Yuli 58  tahun  warga Kampung melayu kecamatan Bermani Ulu tidak bisa bekerja lebih optimal kembali dikarenakan paktor usia.

“Kalau pengrajin batik tulis ini, dia hanya diam dirumah, kalau ada pesanan baru ke sini, itu  kalau jumlah banyak, namuan kalau sedikit mereka sering mengerjakannya dirumah,” lanjut Emis

Kemudian untuk penjualan, Emis mengaku batik tulis dan batik cap Ka Ga Nga ini sangat jarang  perminatnya, hal ini dikarenakan harga batik yang ditawarkan cukup mahal yaitu berkisar Rp 380 ribu hingga 500 ribu per potong  untuk batik tulis yang terbuat dari sutra, dan 80 ribu  hingga 100 ribu per potong untuk batik cap.

“Satu potong itu dua meter, kalau bulan-bulan seperti ini, yang mebeli jarang, paling-paling  kalau ada tamu dari pemda atau tamu dari luar daerah, yang paling ramai itu sewaktu HUT Curup  saja,” kata Emis

Kendala lain terhadap kurangnya pembeli batik tradisional Ka Ga Nga ini ialah dikarenakan  semakin banyaknya kemunculan batik printing bermotif Ka Ga Nga dipasaran sekarang ini. dan  juga untuk harga yang ditawarkan lebih murah dibandingkan dengan harga batik tradisonal Ka Ga Nga

“Kalau printing Ka Ga Nga yang sering digunakan PNS ini harganya berkisar 32 ribu per meter,  sementara harga batik Ka Ga Nga yang sebenarnya diatas itu,” kata Emis sembari mengatakan  batik tulis Ka Ga Nga yang kami buat ini kalah dengan batik Ka Ga Nga Moderen

Tidak hanya itu, dibalik terancamnya produksi batik Ka Ga Nga secara tarisional, disisi lain, corak batik Ka Ga Nga dirasakan tidak semegah dahulu,  hal itu dikarenakan imbas dari keputusan pemerintah daerah yang membuat seragam baju PNS dan segaram sekolah SD, SLTP, dan SMA bermotif Ka Ga NGa, satu sisi batik Ka Ga Nga sangat membuming   di tanah Rejang, namun satu sisi beberapa masyarakat biasa mengaku tidak merasakan kemegahan seperti dahulu ketika mengenakan batik Ka Ga Nga Tersebut, malah mereka sedikit malu menggunakan batik tersebut, karena batik Ka Ga Nga seolah beralih pungsi seperti batik PNS dan pelajar bukan menjadi batik kebesaran daerah.

“Dulu batik Ka Ga Nga itu merupakan salah satu barang mahal, harganya mencapai 1 juta dan 2 juta,  dan juga barang cindra mata paling berharga, orang yang menggunakan batik Ka Ga Nga saat itu juga sangat merasakan kemegahan yang luar biasa, namun sekarang tidak, masyarakat kecil menggunakan batik Ka Ga Nga malu, karena tidak PNS nanti disangka gila PNS,”  Kata salah satu warga Rejang Lebong Irawan 56 tahun (**)

Di Ambil dari posting Pesona Bumi Pat Petulai Rejang Lebong