HARI KARTINI TAHUN 2014 DI BUMI PAT PETULAI KABUPATEN REJANG LEBONG
avatar

Tamu Undangan yang Hadir

Tamu Undangan yang Hadir

Tema Hari Kartini 2014

Tema Hari Kartini 2014

Dalam Rangka memperingati Hari Kartini Tahun  2014 Tepatnya di Bumei Pat Petulai Kabupaten Rejang Lebong,  Ibu Hj. SUSILAWATI SUHERMAN, SE.MM (Ibu BUPATI Rejang Lebong ), selaku Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Rejang Lebong mengadakan atau menggelar acara di Ruang Pola Pemda Kabupaten Rejang Lebong untuk mengingat atau mengenang Pendekar bangsa kita Raden Ajeng kartini, serta Mengenang Erat Pakaian Kebaya Nasional Indonesia. Dalam acara ini dihadiri oleh:

- Bapak Bupati Rejang Lebong

- Ketua DPRD Kabupaten Rejang Lebong

- Kapolres Rejang Lebong

- Sekda Kabupaten Rejang Lebong

- Staf Ahli dan Asisten Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong

- Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Kab. Rejang Lebong

- Ibu Ketua Dharma wanita Kab. Rejang Lebong

- Bapak/Ibu Kepala Dinas di Lingkungan Pemerintah Kebupaten Rejang Lebong

- Para Camat  15 Kecamatan dan ibu-ibu dharma wanita serta PNS di Lingkungan Pemerintah Kabupaten

  Rejang Lebong.

Acara diselenggarakan lebih kurang Pukul 09.00 Wib   dengan bertemakan “DENGAN SEMANGAT KARTINI KITA TINGKATKAN KETAHANAN KELUARGA GUNA MEMPERKUAT PERSATUAN DAN KESATUAN DI REPUBLIK INDINESIA”

Seperti yang kita ketahui bahwa pada hari Kartini ini seluruh Dinas, Kantor, Badan, Kecamatan di seluru Indonesia salah satunya di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong untuk kaum ibu wajib menggunakan pakaian Kebaya yang bernuansa Ibu Kartini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong yang di motori oleh  ibu kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Ibu H. RUSLI, MM beserta Staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ikut memeriahkan dalam acara tersebut,  dengan mengenakan Pakaian Kebaya bernuansa kartini dengan anggunnya, sedangkan kaum Bapak yang dimotori oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong (Bapak H. RUSLI, MM) beserta Staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong juga menggunakan Pakaian Batik. Yang lebih mengharukan lagi ketika pelaksanaan acara di Ruang Pola Pemda Secara HIDMAT, Bertindak selaku Ketua Penyelenggara adalah Ibu Hj. SUSILAWATI SUHERMAN ,SE,MM (Ketua Tim Penggerak PKK Kab. Rejang lebong) beliau sendiri yang langsung menyampaikan Laporan dalam rangka memperingati Hari kartini tahun 2014. Lebih jelas tertib acaranya adalah sebagai berikut :

  1. Menyanyikan lagu Indonesia Raya yang di ikuti oleh seluru hadirin yang hadir
  2. Pembacaan do’a agar acara yang di laksanakan ini dapat berjalan dengan lancar dan mendapatkan    Ridho dari Allah SWT, yang di sampaikan oleh Bapak Hafis, MM.
  3. Kata Samabutan Bapak Bupati Rejang Lebong ( Bapak H. SUHERMAN,SE,MM) sekaligus membuka acara Hari Kartini Tanggal 21 April Tahun 2014.
  4. Paduan Suara dari SMAN No. 01 Curup Utara.

    paduan suara

    paduan suara

  5. Penampilan anak berkreasi Rejang Lebong yang berbakat dibawah pimpinan  langsung  ibu Hj. Susilawati suherman, SE,MM (Farel dan Teman-teman).
  6. Penampilan dari SMANSA COY di bawah Pimpinan Bapak Mahdian,SE yang menampilkan kreasi “HABIS GELAP TERBITLAH TERANG”.
  7. Dari Dinas kesehatan memberikan penghargaan kepada Kaum Lansia Aktif.

    Ibu Kartini masa kini

    Ibu Kartini masa kini

Dengan adanya Hari Kartini, kita Bangsa Indonesia dapat terus mengenang jasa perjuangan RA. Kartini yang mana telah mengangkat Derajat seorang wanita sejajar dengan Kaum Pria tanpa melupakan kodrat dan kewajiban sebagai seorang wanita/ibu, bahkan kita dapat meningkatkan budaya Kita Indonesia salah satunya yaitu Kebaya Kartini yang merupakan kebaya Nasional Bangsa Indonesia. Dengan kita melaksanakan atau mengikuti Hari Kartini sedikt banyaknya kita telah membawa minat kepada kaum ibu untuk menggunakan Pakaian Kebaya sembari mengenang Ibu RA. Kartini. Dan dapat maningkatkan Seni peran dan Suara bagi anak remaja khususnya d Bumei pat Petulai kabupaten Rejang Lebong.

Di Hari Kartini tanggal 21 april tahun 2014 ini Sedikit kita mengenang atau mengulas Sejarah Ibu Kartini. Raden Ajeng Kartini dilahirkan di Jepara pada tanggal 21 April 1879, Beliau adalah Putri dari seorang Bupati Jepara waktu itu, yaitu Raden Mas Adipati Sastrodiningrat. Dan merupakan cucu dari Bupati Demak, Yaitu Tjondronegoro. Pada waktu itu kelehiran Raden Ajeng Kartini , nasib kaum wanita penuh dengan kegelapan, kehampaan, dari segala harapan, ketiadaan dalam segala perjuangan, dan tidak lebih dari perabot kaum laki-laki belaka, dan bertugas tidak lain dari yang ditentukan secara alamiah, yaitu mengurus dan mengatur rumah tangga saja, kaum wanita telah dirampas dan diinjak-injak harkat dan martabatnya sebagai manusia.

Daya berfikir wanita tidak dapat berkembang sebagaimana mestinya, kaum wanita tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya untuk melebihi dari apa yang diterimanya dari alam. Karena kaum wanita tidak diberi kesempatan untuk belajar membaca, menulis dan sebagainya. Dengan kata lain kaum wanita hanya mempunyai kewajiban tetapi tidak mempunyai hak sama sekali.

Radeng Ajeng Kartini yang telah meningkat dewasa pada waktu itu, tidak dapat melihat kenyataan ini meskipun beliau dilahirkan didalam lingkungan ditengah-tengah kebangsawanan atau keninggratan yang pada waktu itu mempunyai taraf hidup social yang sangat berbeda dengan masyarakat banyak yang hidup dilingkungan kehidupan adat yang sangat mengekang kebebasan tetapi beliau tidak segan-segan turun kebawah bergaul dengan masyarakat biasa, untuk mengembangkan ide dan cita-citanya yang hendak meromabak status sosial kaum wanita, dan cara-cara kehidupan dalam masyarakat dengan semboyan : “Kita harus membuat sejarah, kita mesti menentukan masa depan kita yang sesuai dengan keperluan serta kebutuhan kita sebagai kaum wanita dan harus mendapatkan pendidikan yang cukup seperti halnya kaum laki-laki”.

Dengan melanggar segala aturan-aturan  adat pada saat itu, Raden Ajeng Kartini mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya yang setara dengan pendidikan kaum penjajah belada pada waktu itu, beliau sempat mempelajari kegiatan-kegiatan kewanitaan lainnya.

Dengan pengetahuan serta pengalaman yang didapatnya, Raden Ajeng Kartini secara berangsur-angsur dan setahap demi setahap tapi pasti berusaha menambah kehidupan yang layak bagi seorang kaum wanita.

Perkawinan Raden Ajeng Kartini pada tahun 1903 dengan Radeng Adipatih joyoningrat Bupati Rembang mengharuskan beliau megikuti suami, dan di daerah inilah beliau dengan gigih meningkatkan kegiatannya dalam dunia pendidikan. Peranan Suami, dalam usaha Raden Ajeng Kartini Meningkatka perjuangan sangat menentukan pula karena dengan dorongan dan bantuan suaminyalah beliau dapat mendirikan sekolah kepandaian putri dan disanalah beliau mengajarkan tentang kegiatan wanita, seperti belajar jahit menjahit serta kepandaian putri lainnya.

Usaha-usaha Raden Ajeng Kartini dalam maningkatkan kecerdasan untuk Bangsa Indonesia dan kaum wanita, khususnya melalui sarana-sarana pendidikan dengan tidak memandang tingkat dan derajat, apakah itu bangsawan atau rakyat biasa. Semuanya mempunyai hak yang sama dalam segala hal, bukan itu saja karya-karya beliau, persamaan hak antara kaum laki-laki dan kuam wanita tidak boleh ada perbedaan. Beliau juga mmepunyai keyakinan bahwa kecerdasan rakyat untuk berfikir, tidak akan maju jika kaum wanita ketinggalan. Inilah perjuangan Raden Ajeng Kartini yang telah berhasil menampakkan kaum wanita di tempat yang layak, yang mengangkat derajat wanita dari tempat gelap ketempat yang terang benderang. Sesuai dengan karya tulis beliau yang terkenal, yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Raden Ajeng Kartini meninggal dunia dalam usia 25 tahun, beliau pergi meninggalkan Bangsa Indonesia dalam usia yang relatif muda, yang masih penuh dengan cita-cita perjuangan dan daya kreasi yang melimpah. Tetapi perjuang serta cita-cita beliau tetap berkumandang dan berkembang, terbukti dalam masa pembangunan sekarang ini tidak sedikit kaum wanita yang memegang peranan penting, baik dalam pemerintahan dalam bidang swasta sesuai dengan propesi masing-masing.

Demikian pengungkapan kembali sejarah perjuangan Raden Ajeng Kartini, semoga peringatan kali ini membawa manfaat dan membulatkan tekat kita bersama dalam membangun masyarakat, bangsa dan Negara yang sangat kita cintai ini, dan kita dapat memetik buahnya serta butir-butir perjuangan beliau demi kelanjutan perjuangan bangsa Indonesia umumnya dan perjuangan wanita khusnya. Salah satu contoh dari perjuangan ibu RA. Kartni yang telah kita rasakan dan kita lihat saat ini khususnya di dunia pemerintahan, tak jarang dan tak sedikit kaum wanita/ibu yang menduduki jabatan sebagai Kabag, Kepala Dinas bahkan Bupati.

IBU KARTINI…………

Dalam Sejarah engkau Lahir Tanggal 21 April

Putri dari Raden Mas Adipati Sastrodiningrat (Bupati Jepara)

Engkau wafat d usia 25 Tahun

IBU KARTINI………….

Kami Kenang Namamu !

Kami Ingat Jasamu !

Kami Lanjutkan Perjuanganmu !

 

Di Tulis oleh : Elmi Hasanah, 21 April 2014

 

Saatnya Pariwisata Berbasis Teknologi Informasi
avatar

Perkembangan Global

Sebagaimana kita ketahui seiring perkembangan teknologi informasi secara global yang melanda seluruh aspek kehidupan dan membawa banyak sekali perubahan secara revolusioner, contoh sederhana adalah begitu maraknya pemakaian ponsel walaupun untuk sekedar bertelepon dan ber-sms ria, didunia perbankan tentu sudah tidak asing lagi dengan yang namanya ATM dan internet banking. Fenomena chatting di kalangan kaum muda yang begitu besar walaupun masih dalam taraf “ngobrol ngalor ngidul”. Di dunia bisnis pemanfaatan email dan website telah mampu meningkatkan performa dan daya saing bisnis di era globalisasi dimana kebutuhan akan komunikasi yang cepat dan ketersediaan data untuk proses pengambilan keputusan dan proses transaksi yang kompleks menuntut dunia bisnis untuk selalu meningkatkan pemanfaatan TI dalam berbagai aspek bisnis, dari sekadar menampilkan info perusahaan (web presence) sampai proses transaksi yang lebih rumit (semisal e-commerce dan e-bussiness).

Fenomena Electronic Government. Pada tataran pemerintahan kita mengenal istilah egovernment yang sedang menjadi trend saat ini, Bagaimana pemanfaatan TI di pemerintahan yang kita kenal dengan fenomena “egovernment”nya ? Ternyata pemanfaatan TI di pemerintahan tidak seperti yang kita bayangkan, pengertian TI di pemerintahan masih sebatas komputer untuk pengetikan dan mendukung proses administrasi semata. Fungsi TI untuk proses pengolahan data dan transaksi yang komplek serta penyediaan informasi publik masih jauh dari harapan. Apalagi proses pengambilan keputusan berbasis TI (misal: DSS/ EIS) masih belum menjadi fokus perhatian. Hal yang paling sederhana misalnya penyediaan data/ informasi publik untuk kepentingan masyarakat terkadang masih dijumpai keengganan sebagian birokrat untuk membuka akses kepada publik supaya dapat meminta data dan informasi publik (share data) yang memang data/ informasi tersebut untuk konsumsi publik.

Pariwisata berbasis TI (Sistem Informasi Manajemen Pariwisata) Bahwa dunia pariwisata adalah menjadi salah satu bidang garapan pemerintah daerah dalam implementasi egovernment untuk mempublikasikan/ memasarkan) potensi wisata di daerah. Berbasis TI dalam hal ini berarti adanya suatu Sistem Informasi Manajemen yang berbasis pada pengolahan data elektronik.

Sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat maka kebutuhan untuk berlibur meningkat. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan informasi tentang tujuan wisata, objek wisata yang menarik, sarana yang tersedia seperti transportasi untuk mencapai tujuan wisata, produk wisata yang diminati dan lain sebagainya. Untuk memperoleh informasi tersebut wisatawan sering mengalami kesulitan karena tidak mengetahui dimana dan pada siapa harus meminta informasi. Singkatnya kebutuhan informasi di bidang pariwisata meningkat dan perlu disiapkan dengan rapi dan terstruktur agar dapat diakses dengan mudah.

Selain kebutuhan wisatawan akan informasi yang lengkap, akurat dan mudah didapat, maka pihak lain yang juga membutuhkan data dan informasi tersebut adalah pihak pengelola industri pariwisata dan pemerintah sebagai pihak pengambil keputusan dan penentu kebijakan dibidang pariwisata. Namun penekanan kebutuhan data dan informasi bagi masing-masing pihak berbeda. Jika bagi wisatawan adalah untuk memudahkan mereka menentukan rencana perjalanan wisatanya sementara bagi industri pariwisata dan pemerintah adanya sistem informasi yang baik sangat membantu mereka untuk tujuan pengambilan keputusan. Suatu Sistem Informasi Manajemen (SIM) dapat membantu baik pemerintah maupun industri/ pelaku pariwisata.

Sejalan dengan keinginan pemerintah untuk memajukan industri pariwisata maka tentunya ada keinginan besar untuk menata informasi data pariwisata sebaik-baiknya agar masyarakat yang membutuhkan dapat memperoleh dengan cepat, akurat dan dapat disebarluaskan dengan mudah pula. Ada berbagai cara untuk penataan informasi tersebut. Kalau jaman dulu informasi disebarluaskan dari mulut ke mulut, kemudian melalui radio, surat kabar, televisi dan media informasi lainnya maka sekarang dengan kemajuan di bidang Teknologi Informasi ada beberapa sarana baru yang lebih mempercepat penyebarluasan informasi.

Secara umum saat ini SIM merupakan kebutuhan setiap organisasi. Hal ini disebabkan karena data yang disimpan suatu organisasi harus selalu diperbaharui dan ditambah, sehingga keberadaannya dapat membantu memberikan keputusan dengan cepat. Untuk bidang pariwisata maka SIM dapat digunakan untuk mengelola data yang dapat dimanfaatkan oleh wisatawan, industri pariwisata maupun pemerintah. Data pariwisata yang banyak dan selalu bertambah membutuhkan pengelolaan yang tepat. SIM punya kemampuan untuk membantu mengambil keputusan, dan juga menyediakan informasi bagi pengguna data dan informasi pariwisata. Keberadaan sistem informasi manajemen yang terintegrasi dengan baik, disertai dengan dukungan sistem komputer, akan sangat membantu pengelolaan data pariwisata

Disamping kesiapan dari sistem pengelola data maka orang yang membangun struktur sistem informasi ini harus benar-benar mengerti kebutuhan pengguna data tersebut, karena informasi pariwisata memiliki karakteristik data yang sangat beragam seperti objek dan daya tarik, data hotel, data sarana transportasi, dan data-data fasilitas lain, hingga ke data statistik seperti jumlah wisatawan dan pemandu wisatanya, perlu dikelola secara terintegrasi. Data-data ini juga sangat dinamis, sehingga kompleks dalam pemilahannya, serta harus diperhatikan masalah keakuratan atau kebenaran datanya. Kegunaan dari setiap data juga harus diperhatikan berdasarkan segmen pasar penggunanya.

Berikut data-data yang umumnya dibutuhkan dalam Perencanaan Pariwisata :

  1. Data Rencana Pengembangan : a)Kebijakan pembangunan, arah pembangunan & pengembangan wilayah; wilayah perencanaan & wilayah yg lebih luas (mikro-makro). b)Karakteristik kepariwisataan di daerah; ideologi, politik, sosial-budaya, hukum, ekonomi, pertahanan dan keamanan. c)Ketersediaan daya tarik wisata, aksesibilitas, fasilitas dan komunitas, regulasi & kebijakan, sumber daya manusia, manajemen, dan informasi, d)Segmen Pasar: Wisman dan/ atau Wisnus
  2.  Data Wisatawan : a)Jumlah Kunjungan (wisnus, wisman) b)Jumlah Perjalanan (wisnus, , wisman) c).Jumlah Pengeluaran (wisnus, wisman, d)Pendapatan Devisa (wisman), d) Profil Wisatawan: 1)Tinjauan Geografis: daerah asal & tujuan Wisata; 2)Tinjauan Demografis : jenis kelamin, umur, pekerjaan, dsb; 3)Tinjauan Psikografis: minat, tujuan, dan sasaran berwisata; 4)Tinjauan Perilaku: kepuasan & pengalaman berwisata.
  3. Data Industri Pariwisata : a)Database Hotel & Akomodasi, b)Database Agen & Biro Perjalanan Wisata. c)Database Usaha Jasa Makan & Minum, d)Database Jasa Konsultan, e)Database Jasa Transportasi
  4. Data Destinasi Pariwisata : a)Fokus (tematik/ clustering), b)Lokus, c)Daya Tarik (alam, budaya, minat khusus), d)Fasilitas (hotel, restoran, biro perjalanan dsb), e)Aksesibilitas (transportasi), f)Komunitas (penduduk yang berada di sekitar daya tarik wisata) *Kebijakan & Regulasi, g)Manajemen Destinasi, f)Komunikasi & Informasi
  5. Analisis : a)Kebijakan pembangunan yang ada (sektoral & regional), b)Potensi kewilayahan; untuk mengetahui potensi wilayah dalam mendukung pengembangan pariwisata, c)Aspek ketersediaan (supply) dan perhitungan kebutuhan pengembangan,  d)Aspek pasar dan proyeksi wisatawan
  6. Hasil Analisis : a)Pengembangan Pemasaran, b)Pengembangan Destinasi Pariwisata, c)Pengembangan Sumber Daya Manusia, d)Pengembangan Kelembagaan, e)Pengembangan Tata Ruang Pariwisata, f)Pengembangan Lingkungan (alam & budaya), g)Pengembangan Investasi

Perumusan diarahkan pada tujuan & sasaran pembangunan yang akan dicapai. Hasil Pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan data ditampilkan melalui website.
Website Pariwisata

Pemanfaatan internet di dunia pariwisata dalam bentuk Website / Portal sangat beragam mulai dari sekadar pemberian layanan informasi dan promosi sampai layanan yang lebih kompleks misalnya : reservasi online (hotel, paket wisata, transportasi dll), sistem pembayaran online, pengelolaan data base pariwisata daerah dan proses interaksi dan transaksi lainnya.

Beberapa hal dari pemanfaatan internet untuk pariwisata antara lain :

  1. Komunikasi tidak mengenal batas ruang dan waktu , misal : orang Amerika yang ingin mencari informasi obyek wisata dan akomodasi di suatu daerah tertentu di Indonesia.
  2. Akses yang mudah karena dapat dilakukan dari rumah
  3. Menyediakan informasi sedetail mungkin : harga, lokasi, informasi sekitar, cuaca, atraksi, events, secara interaktif dan up to date.
  4. Jangkauan yang sangat luas ke seluruh dunia dan murah.
  5. Melawan ”bad publicity” tentang Indonesia misal : Indonesia dianggap tempat teroros dan kerusuhan sehingga orang takut berkunjung.
  6. Menambah kredibilitas suatu organisasi karena memiliki e-mail dan website.

Kehadiran internet terutama tersedianya website/ portal pariwisata yang handal, lengkap dan interaktif tentu sangat mendukung promosi tujuan wisata yang ada di suatu daerah, sebagai contoh : sebuah website pariwisata milik suatu pemda memuat suatu promosi perjalanan wisata ke daerah yang meliputi : (a) Lokasi obyek wisata (dimana, apa saja yang bisa dilihat), (b) Waktu yang dibutuhkan, (c) Perkiraan biaya, (d) Pendukung yang terkait (hotel, restoran, toko souvenir, sarana hiburan, atraksi wisata), (e) Saran souvenir yang perlu dibeli, (f) Budaya lokal (adat istiadat, bahasa, kesenian dll)

Teknologi yang tersedia harus dipilih dengan tepat, terutama menyangkut jenis layanan wisata yang ditampilkan, untuk sekadar publikasi, maka cukuplah sebuah website yang memuat info pariwisata di sebuah daerah, berupa gambar/ foto-foto dan narasi serta informasi yang diberikan masih bersifat satu arah, hanya berisi penjelasan supaya masyarakatmengetahui (web prsence).

Sedangkan untuk layanan yang lebih kompleks dan rumit diperlukan teknoogi yang lebih “advance” misalnya : diperlukan adanya website yang interaktif dengan animasi flash, gambar dan link yang lengkap, sehingga calon customer bisa meminta suatu penjelasan secara lebih detail. Perlu ditambah pula menu semacam, jadwal trayek atau peta jalan interaktif sehingga memudahkan calon customer untuk bisa sampai di suatu tempat, perlu dipikirkan pula menu transaksi yang harus ada misalnya : reservasi hotel, nilai tukar mata uang, kamus, waktu/ jam, pembayaran online, layanan sms interaktif, interaktif voice response/ call center, dan lain-lain.

Supaya suatu website diminati oleh calon customer maka diperlukan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Informasi harus di up date secara berkala (events, info baru, berita, artikel, gambar, film, animasi, dll)
  2. Suatu website juga harus responsif terhadap request dan pertanyaan (banyak yang tidak menjawab email) serta tanggap terhadap keiningan pengunjung dan komunikatif (memahami alasan mengapa audiens web mendarat di suatu website).
  3. Sesuaikan dengan target pembaca/ pengunjung dengancara penyampaian informasi (calon wisatawan asing membutuhkan informasi dalam bahasa Inggris/ atau bahasa asing lainnya dan dalam bahasa Indonesia).

Kendala
Beberapa kendala yang sering dihadapi oleh suatu Dinas Pariwisata di daerah untuk mengembangkan egovernment di bidang pariwisata adalah sebagai berikut: * Kesulitan utama secara teknis ada pada ketersediaan akses internet, serta peralatan komputer dan jaringan yang kurang memadai. * Secara non teknis kesulitan ada pada ketersediaan data (content) dari Dinas Pariwisata sendiri yang mana sangat membutuhkan kerjasama dan keterbukaan dari setiap bidang dan seksi yang ada, sehingga data dapat terintegrasi dengan baik. * Kemampuang SDM yang relatif masih rata-rata dan belum sampai pada tingkat yang mahir khususnya penguasaan jarirngan komputer dan internet. * Pariwisata berbasis TI belum menjadi ”minded” dari pimpinan daerah yang dimana pada beberapa daerah, Dinas Pariwisata masih ”dianggap” dinas yang ”kering” dan ”dihindari” oleh para pejabat

Egovernment merupakan aplikasi pemacu untuk memasarkan tujuan dan potensi wisata di daerah, zaman sedang berubah dan suka atau tidak suka semua harus berubah termasuk sektor pariwisata daerah.

(Sumber: http://egovindonesia.com)

ISU-ISU KRUSIAL DI DALAM PENGELOLAAN DESA WISATA SEBAGAI ALTERNATIF BERWIRAUSAHA
avatar

Banyak wisatawan saat ini yang cenderung menghindari kawasan wisata yang mapan, kemudian mencari kawasan wisata yang menonjolkan keaslian dan keunikan. Pencarian destinasi wisata baru tersebut dipengaruhi oleh ekspektasi wisatawan terhadap mutu lingkungan. Salah satunya adalah melalui pariwisata pedesaan yang pada akhir-akhir ini mulai ditingkatkan. Di tengah-tengah animo besar berbagai pihak untuk mengembangkan desa wisata, perlu diidentifikasi sejumlah isu-isu krusial pengelolaannya. Isu-isu tersebut bersifat generik dan tentu saja memerlukan validasi yang lebih tajam. Isu-isu krusial pengelolaan desa wisata menuntut kita untuk merumuskan sejumlah tidakan antisipatif. Dengan mempertimbangkan kondisi objektif desa wisata maka optimalisasi pengelolaan sumberdaya alam dan manusia di lokasi desa wisata dapat dilakukan dan dikendalikan oleh masyarakat local tanpa didasari oleh berbagai kepentingan politik apapun.

 Pengamatan secara umum memberikan gambaran bahwa motif berwisata bergeser secara signifikan, setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir. Terutama bagi masyarakat di negara-negara maju yang sangat ketat dengan pengaturan jam kerja dan waktu liburan, kegiatan berwisata dipandang merupakan ruang sekaligus peluang yang membebaskan diri dari hidup atau kerja yang monoton (Henning, 1999). Motif utama berwisata sangat kental dengan hal-hal yang bersifat pribadi, seperti aktualisasi diri, pengayaan pengalaman, kontak sosial yang lebih dalam dan sebagainya. Konkretnya, wisatawan cenderung meninggalkan produk-produk standar berskala massal (high volume production of standard commodities) dan beralih menuju produk-produk unik yang beragam dan bermutu tinggi (high value production of unique commodities) (Weiler dan Hall, 1992). Banyak wisatawan menghindari kawasan-kawasan mapan atau tempat yang tingkat wisatawannya sangat tinggi, kemudian mencari tempat yang menonjolkan keaslian otentisitas (authenticity) (Reisinger dan Steiner, 2006; Olsen, 2002), orisinalitas (originality) dan keunikan (uniqueness) lokal.

Pencarian objek wisata yang unik dan beragam dengan kualitas yang tinggi tadi mengakibatkan daerah-daerah baru, kawasan pedalaman, atau desa-desa tradisional tidak luput dari sasaran kunjungan wisatawan. Hal itu dilakukan untuk menemukan objek dan daya tarik  yang unik dan berkualitas yang tidak lagi diberikan oleh destinasi wisata yang telah mapan atau over user, seperti Pattaya (Thailand), Cancun (Meksico); atau kuta (Bali) sekalipun. Pencarian destinasi wisata baru itu dipengaruhi oleh ekspektasi wisatawan terhadap mutu lingkungan. Mereka menyadari bahwa mutu lingkungan di pedesaan masih lebih orisinil, lebih sehat dan alami daripada di kawasan perkotaan (Lewis, 1999).

Desa Wisata dalam Konteks Pariwisata Pedesaan

Dalam konteks ini pengembangan pariwisata pedesaan dipandang cukup signifikan. Pengalaman di negara lain seperti India, Uganda dan Ceko (Vogels, 2002; Holland, et.al.,2003) menunjukkan kontribusi penting pariwisata pedesaan terhadap perubahan-perubahan kelembagaan, sosial dan individu di destinasi pariwisata. Holland dan kawan-kawan (2003), misalnya mengatakan setidaknya tiga alasan penting pengembangan pariwisata pedesaan, yaitu:

  1.  Pariwisata pedesaan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat miskin.Fakta-bahwa semakin besarnya proporsi penduduk yang bermukim di perkotaan negara berkembang tidak dengan sendirinya menghapus kenyataan lain tentang semakin kecilnya peluang masyarakat pedesaan memanfaatkan input-input pembangunan yang (juga) semakin terbatas. Dikatakan bahwa salah satu peluang besar bagi masyarakat pedesaan adalah memanfaatkan sumber daya setempat yang dikelola dalam bentuk usaha pariwisata. Pengembangan pariwisata pedesaan memiliki kekuatan yang terandalkan karena produk itu sendiri didatangi oleh- bukan diantarkan kepada – wisatawan, sehingga terbuka kesempatan yang lebih besar untuk memperluss transaksi jasa di lokasi.Fakta membuktikan bahwa pariwisata mencakup berbagai jenis dan bentuk usaha, mulai dari skala kecil sampai besar dan informal hingga formal. Keuntungan lainnya adalah bahwa karakteristik pariwisata pedesaan selalu melibatkan usaha-usaha yang dikelola oleh masyarakat setempat, mulai dari penyediaan akomodasi, atraksi dan fasilitas transportasi.
  2. Pariwisata pedesaan merupakan salah satu media yang mampu mengalihkan atau mendistribusi peluang ekonomi dari daerah perkotaan ke pedesaan.

Transfer peluang dan sumberdaya ekonomi ini penting mengingat kawasan pedesaan masih terperangkap oleh pusaran kuat kemiskinan yang ditandai antara lain oleh aktivitas nonpertanian yang lemah, keterbatasan infrastruktur dan akses yang terbatas terhadap jasa-jasa yang penting. Para ahli (Holland, et.al., 2003) berpendapat bahwa pengembangan pariwisata pedesaan mampu mengakselerasi:

  1. Pertumbuhan, diversifikasi dari kestabilian ekonomi
  2. Perluasan kesempatan kerja untuk meningkatkan pendapatan
  3. Pengurangan potensi migrasi ke kota sekaligus keseimbangan distribusi penduduk
  4. Perbaikan dan pemeliharaan layanan publik dan infrastruktur dasar
  5. Revitalisasi industri kerajinan, tradisi dan identitas budaya perluasan peluang untuk pertukaran social
  6. Perlindungan dan perbaikan lingkungan alam
  7. Penguatan pengakuan terhadap potensi dan kapasitas pedesaan oleh para pengambil keputusan dan perencana ekonomi.
  8. Pariwisata pedesaan merupakan satu dari sedikit pilihan yang laik untuk mengakselerasi perkembangan ekonomi pedesaan.

Melalui pariwisata, di kawasan pedesaan akan terjadi perbaikan infrastruktur, aliran modal masuk, kewirausahaan, dan arus barang serta jasa. Hal yang perlu diamati secara kritis pada titik ini adalah jenis dan skala barang dan modal yang dialirkan tersebut. Sumber daya itu harus ditujukan pada peningkatan kapasitas masyarakat pedesaan. Daerah pedesaan biasanya memiliki daya saing yang lemah untuk menarik investasi nonpertanian yang mampu mendukung sektor primer tersebut. Di sini pariwisata lebih sesuai (appropriate) dengan kondisi lingkungan pedesaan, terutama dikaitkan dengan tren pasar yang lebih menyukai atraksi-atraksi alam dan living culture yang otentik. Berhadapan dengan keterbatasan sumberdaya yang sesuai dengan nature pedesaan tadi, maka peluang pengembangan desa wisata semakin terbuka lebar (Holland, et.al, 2003). Peluang ini semakin menjanjikan ketika akses dan infrastruktur dasar sudah tersedia.

Jika daya saing diterima sebagai faktor keberlanjutan desa wisata, maka pengelolaan sumberdayanya perlu ditangani secara optimal. Untuk itu ada beberapa langkah strategis yang perlu diambil. Perencanaan tentulah menjadi kata kunci di sini (Damanik dan Weber, 2006).

Pertama, mengidentifikasi sumberdaya (baca: daya tarik utama) yang menjadi potensi keunggulan desa wisata. Pilihan ini didasarkan pada pertimbangan yang sangat rasional, jika perlu bahkan melalui studi kelayakan agar dapat menjamin kalau pilihan pengembangan tersebut tidak meleset dan mubazir. Salah satu sumberdaya yang potensial dikembangkan adalah budaya lokal. Kehidupan sehari-hari mungkin tidak berarti apa-apa atau ditafsirkan oleh sebagian penduduk setempat sebagai simbol keterbelakangan, ndeso. Benar, bahwa membajak sawah, misalnya, tidak tampak menarik, bahkan kotor berlumpur. Namun demikian ia menjadi daya tarik yang kuat apabila dikemas sesuai dengan taste wisatawan. Teknik pengemasan sangat menentukan daya tarik wisata. Bagi kalangan usia muda perkotaan yang hampir tiap jam diserbu oleh produk-produk modernisme, aktivitas membajak sawah tetaplah sebuah atraksi yang unik.

Kedua, menegaskan tugas, tanggungjawab dan hak-hak pemangku kepentingan. Meskipun ada success story desa wisata yang dikembangkan seeara individual, tetapi dewasa ini pengelolaan secara kolektif cenderung lebih prospektif. Jadi, para pemangku kepentingan harus diajak duduk bersama untuk mendesain proyek desa wisata. Bahkan rekomendasi merekalah yang menjadi patokan, apakah potensi daya tarik itu perlu dikembangkan atau tidak. Dalam hal ini pelibatan masyarakat sebagai salah satu pemangku kepentingan merupakan syarat mutlak. Pengabaian partisipasi inklusif penduduk setempat niscaya akan menciptakan marjinalisasi yang akut dan eksploitatif (Karim, 2008).

Ketiga, memilih prioritas potensi atraksi yang akan dikembangkan. Tidak semua potensi harus dikembangkan sekaligus. Pilihan pada atraksi yang paling menarik dan manageable merupakan persoalan sendiri bagi masyarakat pedesaan. Ada pandangan keliru, bahwa potensi sumberdaya pariwisata harus dieksploitasi sesuai dengan kebutuhan pasar.

Pengamatan secara umum menunjukkan, bahwa masyarakat desa masih mengalami kesulitan mengelola begitu banyak jenis usaha dan begitu rumit pekerjaan hospitality yang baru dikenalnya. Lagi pula, mengelola bisnis pariwisata tidak semudah mengelola usaha tani (Rahayu, 2003). Masyarakat yang terbiasa dengan langgam kehidupan agraris tidak dapat begitu saja berperan sebagai masyarakat penyedia jasa wisata, sebab kedua bidang itu memiliki karakteristik yang jauh berbeda. Sebagai perbandingan, terlambat satu jam menggembala ternak tidak akan berakibat fatal bagi siklus pekerjaan pertanian dan produksi usaha tani. Sebaliknya terlambat satu jam menyiapkan sarapan bagi wisatawan jelas sangat riskan bagi seluruh kegiatan pariwisata setempat.

Isu – Isu Krusial

Di tengah-tengah animo besar berbagai pihak unluk mengembangkan desa wisata, kita dapat mengidentifikasi sejumlah isu-isu krusial pengelolaannya. Isu-isu ini bersifat generik dan tentu saja memerlukan validasi yang lebih tajam.

Pertama, secara tidak sengaja desa wisata yang sudah berkembang mudah terkena “penetrasi modal luar”, sehingga formatnya berubah dari kegiatan dan modal berskala kecil ke “kegiatan kecil dengan modal berskala menengah-besar”. Pada awalnya masyarakat lokal menginisiasi pengembangan fasilitas dasar di desa, sekaligus menyediakan fasilitas atraksi maupun akomodasi. Namun dalam perkembangan selanjutnya, penyediaan fasilitas-fasilitas tersebut diambil-alih aleh pemodal besar, misalnya dengan mendirikan akomodasi eksklusif, yang pada gilirannya mempersempit kesempatan masyarakat lokal untuk mengembangkan usaha. Pola “penetrasi modal luar” juga dapat terjadi dalam bentuk jaringan permodalan, di mana pemilik modal berinvestasi di berbagai jenis usaha pariwisata di desa, sementara masyarakat berperan sebagai mitranya.

Kedua, desa wisata berpotensi terjebak oleh stagnasi. Setelah sekian lama dikunjungi wisatawan, aktivitas pariwisata semakin redup atau “hidup segan, mati entah kapan”. Hal ini muncul akibat terbatasnya inovasi pengembangan atraksi. Sejak dipasarkan sebagai destinasi, desa wisata tetap menawarkan atraksi yang “itu-itu saja”, kurang terorganisir (atraksi ditata bagus ketika wisatawan menjelang datang), kinerjanya jarang dievaluasi. Kasus di Tunisia dilaporkan oleh Ludwig (1990) dengan menyebutkan monotoni atraksi sebagai ancaman serius bagi aktraktivitas desa-desa wisata negeri tersebut. Pengelola desa wisata terlalu cepat puas ketika rombongan wisatawan berkunjung dalam jumlah besar dalam jangka pendek, kemudian tidak tahu ingin berbuat apa ketika masa kunjungan berlalu. Hal ini diperburuk oleh program pemasaran yang tidak tepat membidik sasaran. Tidak jarang juga pengelola desa wisata cenderung menunggu pasar daripada proaktif menyisir segmen pasar potensial.

Ketiga, dalam suatu kawasan destinasi, desa wisata cenderung berkembang secara kuantitatif, tetapi lemah dalam daya saing. Terinspirasi oleh kesuksesan yang dicapai oleh satu desa wisata, maka desa-desa lain seakan berlomba untuk menjadi destinasi wisata baru. Penataan fisik dilakukan dengan cara mobilisasi warga desa. Sepintas hal ini tampak sebagai suatu bukti penyiapan diri menyongsong geliat pariwisata yang menjanjikan keuntungan besar atau sikap respansif desa terhadap induksi perubahan-perubahan sosial; ekonomi dan budaya di desa. Namun dalam banyak kasus sebenarnya upaya itu lebih dipicu kegairahan memperoleh simbol status baru yang lebih bergengsi; yakni desa wisata. Tentu patut dibanggakan kalau semakin banyak desa wisata yang laik jual dan laik-kunjung. Sebaliknya akan sangat kontraproduktif, apabila penamaan desa wisata hanya mengisi kekosongan angka-angka statistik. Faktanya, tidak sedikit dari desa-desa wisata baru ini mengimitasi atraksi dan produk-produk wisata yang ditawarkan oleh desa wisata sebelumnya. Akibatnya, bukan daya saingnya yang dibangun, tetapi aura persaingan antar-desa wisata yang semakin tajam dan condong tidak sehat.

Keempat, desa wisata haruslah dikelola oleh sumberdaya manusia yang memiliki karakter entrepreneur. Pariwisata apa pun bentuknya adalah entitas bisnis yang menuntut kejelian pengelolanya menciptakan dan menangkap peluang keuntungan. Pengelola yang memiliki semangat wirausaha dan kemampuan menjalankan praktek bisnis merupakan salah satu faktor penentu sukses desa wisata. Di pedesaan Australia, Ollenburg (2006) menemukan kisah-kisah keberhasilan desa wisata berbasis pertanian sangat terkait dengan spirit wirausaha yang kuat di kalangan penggiat pariwisata. Kalangan petani melihat pariwisata bukan sebagai pelarian aktivitas ekonomi, tetapi menjadikannya sebagai bagian dari kegiatan pertanian keluarga. Barangkali hal ini berbeda dengan kondisi di desa-desa kita yang menempatkan pariwisata sebagai aktivitas pendamping dan belum sepenuhnya terintegrasi dengan aktivitas pertanian. Pada umumnya sumberdaya manusia yang mumpuni relatif sulit ditemukan di desa karena lebih tertarik dengan daya pikat-atau terbawa arus migrasi ke-perkotaan.

Kelima, desa wisata cenderung mudah terkena dampak lingkungan perkembangan pariwisata itu sendiri. Meskipun kesadaran lingkungan pada masyarakat setempat eukup baik, misalnya mengkonservasi lahan dan hutan di sekitar desa, namun hal itu dilakukan karena nilai tambahnya tidak sepadan dengan keuntungan dari pemanfaatannya. Kesadaran ini dapat berubah cepat, ketika lahan tersebut memberikan keuntungan ekonomi lebih tinggi, misalnya melalui pembangunan amenitas dan fasilitas pariwisata lainnya. Di samping itu, pemanfaatan bahan baku lokal semakin terbatas, sedangkan penggunaan bahan baku asing sering diutamakan di dalam pembangunan infrastruktur pariwisata, baik karena alasan kepraktisan, maupun karena tututan imej modern.

Keenam, distribusi dan redistribusi sumberdaya pariwisata yang tidak seimbang antar-warga masyarakat. Barangkali struktur sosial masyarakat desa lebih sederhana daripada masyarakat kota, namun relasi kekuasaan, budaya dan ekonomi mereka cukup rumit. Okupasi mereka tak lagi seragam, tetapi beragam, meskipun komposisinya tidak proporsional. Misalnya, sebagian besar bergantung pada pertanian, tetapi ada sebagjan kecil lainnya sudah bekerja di sektor off-farm dan nonfarm. Jelas bahwa nature dan pengalaman kerja mereka berbeda dengan rekannya di sektor pertanian. Relasi-relasi okupasional dan ekonomi seperti itu juga dipraktekkan dalam pengelolaan desa wisata. Sebagaimana digambarkan oleh Page dan Getz (1997), pariwisata pedesaan lebih banyak dimotori oleh sekelompok orang yang memiliki sumberdaya ekonomi (lahan, modal, bergerak, status pekerjaan yang baik) dan modal sosial (jaringan sosial, pengaruh, otoritas, pendidikan, status dan kedudukan sosial) di atas rata-rata warga desa. Hal ini berakibat pada ketimpangan distribusi sumberdaya pariwisata antar anggota masyarakat yang tidak jarang berujung pada disharmoni aatau bahkan konflik. Oleh sebab itu, penduduk miskin yang kebetulan memiliki modal sosial dari ekonomi yang terbatas akan sangat sulit menjadi pelaku utama atau pihak yang diberdayakan melalui pariwisata. Redistribusi sumberdaya pariwisata, atau jelasnya arus uang dan jasa yang masuk ke desa melalui kunjungan wisatawan, berpeluang untuk tidak menjangkau segmen penduduk miskin.

Tabel 1. Sumber Pendanaan Usaha Pariwisata di Negara Maju dan Berkembang

No

Sumber Pendanaan

Negara Maju (%)

Negara Berkembang (%)

Total (%)

1

Dana sendiri

57

58

58

2

Keluarga dan kerabat

1

8

6

3

Investor

10

9

9

4

Pinjaman dari bank

21

11

14

5

Pinjaman dari pemerintah

3

2

2

6

Pinjaman pribadi

4

4

4

7

Lainnya

4

8

7

Total

100

100

100

Jlh Usaha ekowisata

25

74

99

Sumber : Sanders, 200:56

Peran bank tergolong masih kecil, kecuali jika unit usaha yang dikelola sudah mapan. Berbeda dengan tipe usaha lain seperti perdagangan, hasil usaha pariwisata tidak dapat dipetik dalam jangka pendek karena harus melalui rangkaian promosi yang khusus. Hal ini dipersulit lagi oleh fluktuasi pasar yang cukup tinggi. Selain membutuhkan waktu panjang, keberhasilan promosi usaha akomodasi di pedesaan tidak semata ditentukan oleh jenis dan mutu akomodasi itu sendiri, seperti bangunan fisik dan layanan bagi tamu, tetapi juga oleh realitas daya tarik destinasi secara keseluruhan. Semua ini sangat menentukan kemapanan usaha pariwisata.

Langkah Antisipasi

Isu-isu krusial pengelolaan desa wisata menuntut kita untuk merumuskan sejumlah tidakan antisipatif. Dengan mempertimbangkan kondisi objektif sebagian besar desa-desa wisata saat ini dan dengan tujuan untuk mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya yang tersedia desa wisata agar dapat dilakukan dan dikendalikan oleh masyarakat lokal, maka paparan in mengusulkan pertimbangan-pertimbangan berikut.

Pertama, idealnya usaha tersebut berskala kecil agar mampu menjadi jembatan bagi masyarakat untuk mengasah ketrampilan bisnis (Nasikun, 1997; WTO, 2003). Salah satu bentuk konkretnya adalah jasa akomodasi, seperti homestay atau jenis usaha lain yang berskala kecil. Seperti umum diketahui, bahwa usaha-usaha kecil nonpertanian sudah cukup lama berkembang di pedesaan dan memberikan kontribusi penting bagi diversifikasi dan peningkatan pendapatan rumahtangga (Sawit, et.al, 1993; Effendi, et.al, 1996; Abdullah, et.al, 1995). Meskipun usaha-usaha demikian umumnya berskala mikro, namun pengelolanya memiliki ketrampilan khusus, keuletan, kerja keras yang produktif di dalam menjalankan usahanya. Hal ini dapat lebih mudah ditransformasikan ke sektor jasa, seperti usaha pariwisata.

Kedua, terkait dengan itu, usaha pariwisata di desa sebaiknya tidak padat modal (capital intensive), tetapi berbasis padat karya (labour intensive). Besaran modal ini lebih sesuai dengan kondisi umum yang dihadapi oleh pengelola usaha pariwisata tentang kesulitan memperoleh modal. Sebaliknya, membiarkan modal besar sebagai kekuatan pengembangan akan mengakibatkan tersingkirnya penduduk lokal dari arena kompetisi.

Ketiga, di dalam pengelolaan usaha pariwisata sebaiknya menggunakan tenaga kerja setempat, agar ancaman marjinalisasi penduduk lokal dalam pengembangan pariwisata pedesaan dapat dihindari. Memang syarat pemanfaatan tenaga kerja lokal ini cukup dilematis ketika berhadapan denean realitas mutu atau kompetensi yang masih rendah. Di sisi lain keterbatasan jumlah tenaga kerja trampil ini mengakibatkan okupasi-okupasi strategis di sektor pariwisata dikuasai oleh kaum pendatang (Vorlaufer, 1979; Damanik, 2001; Karim, 2008). Oleh sebab itu harus dicari solusi cerdas berupa pemberian pelatihan yang berorientasi pada kompetensi teknis bagi tenaga kerja lokal.

Keempat, pengelolaan desa wisata sedapat mungkin menggunakan bahan baku lokal. Penggunaan bahan baku lokal memiliki manfaat ganda, yakni memberikan efek atau nilai ekonomi sumberdaya lokal dan menguatkan citra lokal dalam desa wisata. Banyak contoh positif maupun negatif pengembangan desa wisata yang terkait dengan bahan baku lokal ini dengan segala konsekuensi yang menyertainya. Di sebuah desa wisata di Sumba Barat Daya, terdapat bangunan akomodasi yang 90 persen berbahan baku lokal, mulai dari lantai, dinding, tiang, atap, pintu sampai perlengkapan tidur. Bambu, batang kelapa, pasir, dan ilalang yang tersedia melimpah menjadi lebih bernilai dari sebelumnya dan masyarakat setempat menikmati keuntungan dari pemanfaatan bahan baku tersebut. Berbeda dengan itu di Nias, masyarakat terlanjur gandrung menggunakan bahan baku asing, seperti seng, asbes, beton dan kaca sebagai bahan bangunan akomodasi yang jelas bukan produk lokal, melainkan bahan yang didatangkan dari daratan Sumatera dengan biaya tinggi, Bisa dipastikan bahwa potensi rembesan keluar (leakages) dari hasil pariwisata setempat cukup besar, sementara peningkatan nilai ekonomi komoditas lokal menjadi macet.

Kelima, pengelolaan desa wisata sebaiknya mampu menekan potensi pencemaran lingkungan dan eksploitasi sumberdaya lokal. Salah satu pilar kekuatan desa wisata adalah alam yang relatif asri dan lestari. Penggerusan kelestarian alam atas alasan apa pun pasti akan menjadi bumerang yang mematikan bagi desa wisata. Oleh sebab itu keseimbangan pemanfaatan kawasan menjadi syarat penting. Daerah pedesaan yang menawarkan pertanian sebagai basis atraksi wisata harus dikendalikan untuk tetap menjaga keseimbangan luas area pertanian dengan zona pengembangan infrastruktur pariwisata. Pemanfaatan sumberdaya lokal, misalnya air, yang digunakan baik untuk keperluan pertanian maupun pariwisata perlu dikendalikan agar tidak mematikan salah satu atau kedua aktivitas tersebut. Pedesaan yang mengembangkan pariwisata pantai dan bahari harus mampu menciptakan langkah pelestarian lingkungan, misalnya dengan membangun instalasi limbah cair dan padat, perluasan zona sempadan pantai yang steril dari bangunan buatan, ekspansi tanaman penyangga abrasi dan sebagainya.

Keenam, desa wisata seharusnya mampu membuka peluang kerja dan berusaha bagi banyak kelompok masyarakat. Pariwisata pedesaan harus diarahkan untuk memberagamkan kesempatan kerja dan keberagaman pekerjaan tersebut harus pula ditujukan bagi masyarakat banyak, khususnya kalangan perempuan. Asumsi yang mengatakan pariwisata mampu menciptakan kesempatan kerja harus dibuktikan dengan tingkat presisi yang tinggi, tidak hahya dalam hal kuantitas dan kualitas, tetapi juga dalam hal efektivitas menjangkau kelompok masyarakat yang sering luput dari sasaran perubahan. Di daerah pedesaan yang relatif tradisional, misalnya peran perempuan masih sering terlihat di bawah bayang-bayang laki-laki. Situasi yang sama bisa merambat ke dalam kegiatan di sektor pariwisata. Para ahli sudah lama mengisyaratkan masalah ketimpangan jender yang menyolok di dalam pasar kerja pariwisata. (Long dan Kindon, 1997; Swain, 1995; Scott, 1997; Chant, 1997; Purcell, 1997) yang memosisikan perempuan sebagai tenaga kerja di lapisan bawah dengan upah rendah, terkonsentrasi di sektor informal dan usaha kecil (Long dan Kindon, 1997), meskipun seringkali kualifikasi mereka sama dengan laki-laki (Purcell, 1997; Damanik, 1999), Posisi yang kurang lebih sama juga diduduki oleh perempuan di dalam bisnis pariwisata milik keluarga, yang ditandai oleh labilitas pekerjaan yang tinggi (Scott, 2007), ditambah dengan penghargaan yang rendah atas kinerja mereka. Solusi untuk mengurangi hal ini sebaiknya melekat di dalam rancangan pengembangan desa wisata, antara lain dengan menegaskan prioritas rekrutmen tenaga kerja bagi kalangan perempuan.

Kesimpulan

Pengelolaan desa wisata terkait dengan konsistensi dan komitmen yang kuat dari pemangku kepentingan. Pengelola perlu menyadari bahwa desa wisata memiliki karakter yang berbeda dengan desa-desa konvensional lainnya, sehingga keuletan, kerjasama, kemampuan manajerial, sikap kewirausahaan dan profesionalisme yang kuat selalu menjadi faktor kunci di dalam memajukan desa wisata. Pengelolaan tidak bisa dilakukan secara `hit and run” dalam arti berbenah ketika musim telah tiba, lalu berdiam diri ketika wisatawan sepi. Sebagai suatu kegiatan ekonomi, pengelolaan desa wisata sangatlah rumit dan hasilnya tidak dapat dinikmati dalam waktu singkat. Oleh sebab itu desakan terhadap pengembangan yang didasari oleh eforia terhadap desa wisata, apalagi untuk kepentingan politik (baca: proyek-proyek pemerintah dan lembaga penyandang dana lainnya), niscaya akan berdampak buruk dalam jangka panjang (Lewis, 1999), karena lebih berorientasi pada pencapaian target-­target kuantitatif dan pembentukan kebanggaan semu yang sering tidak memberikan kontribusi positif bagi pengembangan masyarakat desa itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, L, Molo, M., Clauss, W. 1995. Kesempatan Kerja dan Perdagangan di Pedesaan. Yogyakarta, Pusat Penelitian Kependudukan.

Chant, S. 1997. “Gender and tourism employment in Mexico and the Philippines”, dalam: M.T. Sinclair (ed), Gender, Work & Tourism. London, Routledge, hat. 120-179.

 

 

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA DI BIDANG PARIWISATA
avatar

SDM merupakan faktor utama dan strategis bagi tercapainya keberhasilan pembangunan suatu bangsa. SDM yang kuat dan berdaya saing tinggi dalam berbagai aspek akan mendukung peningkatan pembangunan, baik di bidang ekonomi maupun di bidang sosial dan budaya. SDM yang berdaya saing tinggi merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan di era globalisasi yang diwarnai dengan semakin ketatnya persaingan serta tiadanya batas antar negara (borderless nation) dalam interaksi hidup dan kehidupan manusia. Oleh karena itu, untuk memenangkan dan menangkap peluang yang ada, pengembangan SDM harus ditekankan pada penguasaan kompetensi yang fokus pada suatu bidang tertentu yang pada gilirannya akan mampu meningkatkan daya saing di tingkat nasional maupun internasional.

SDM yang berkualitas akan mendorong terciptanya produktivitas yang tinggi yang akan menjadi modal dasar bagi keberhasilan pembangunan perekonomian secara nasional. Selain itu, dalam menjawab berbagai tantangan dan peluang ke depan, dibutuhkan pula SDM yang berjiwa wirausaha, yang dapat memanfaatkan keunggulan sumber daya (comparative advantage) menjadi keunggulan daya saing (competitive advantage) dengan proses transformasi nilai tambah (added value) dan tranformasi teknologi sebagai acuan. Dengan tumbuhnya masyarakat yang berjiwa wirausaha diharapkan akan mampu menjadi modal dasar dalam membangun perekonomian nasional untuk mensejahterakan kehidupan bangsa dan pada akhirnya akan memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam mewujudkan SDM seperti yang dicita-citakan tersebut diperlukan kerja keras untuk menghadapi berbagai kendala dan tantangan yang berat.

Pembangunan sektor pariwisata menghadapi permasalahan mendasar antara lain masih terbatasnya SDM pengelola, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Daya saing SDM pariwisata Indonesia masih relatif rendah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Masih rendahnya daya saing tersebut dapat dilihat dari ketimpangan antara proporsi SDM pada level operasional dibandingkan dengan SDM pada level manajemen, pemikir maupun perencana. Kondisi ini disebabkan pendidikan dan keterampilan yang diberikan di sekolah-sekolah pariwisata dari tingkat SMK sampai dengan Diploma atau Program Setara Diploma dan Strata 1 lebih memprioritaskan pada pendidikan dan pelatihan praktis (practical skills) untuk SDM pariwisata di tingkat pelaksana (practical workers), dan kurang memberi perhatian pada pembekalan keilmuan yang dapat mempersiapkan SDM berkompetensi tinggi.

Secara umum permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan SDM pariwisata adalah sebagai berikut:

  1. Belum teridentifikasinya ketersediaan SDM di bidang pariwisata baik secara kuantitas maupun kualitas.
  2. Belum teridentifikasinya tingkat kebutuhan SDM baik secara kuantitas maupun kualitas dalam rangka pembangunan bidang pariwisata baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.
  3. Belum teridentifikasinya berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan dan peningkatan daya saing SDM guna pembangunan bidang pariwisata dalam menghadapi tantangan yang terjadi baik nasional, regional maupun internasional.
  4. Kurangnya keterpaduan kebijakan pemerintah dalam hal ini departemen terkait dalam pengembangan SDM pariwisata.

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi, maka diperlukan pengumpulan informasi sebagai bahan masukan bagi penyusunan suatu kebijakan dan strategi pembangunan SDM pariwisata sebagai upaya yang terarah, terpadu dan terencana untuk meningkatkan kualitas dan daya saing SDM di bidang pariwisata. Sehingga pada akhirnya pembangunan SDM dapat meningkatkan kualitas SDM dalam mendukung upaya mewujudkan dan membentuk karakter bangsa yang kuat serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

  1. TUJUAN : Tujuan Umum, Kajian ini bertujuan untuk memberikan arah kebijakan dan strategi pengembangan serta peningkatan kuantitas dan kualitas SDM pengelola di bidang pariwisata Indonesia, sedangkan Tujuan Khusus antara lain : Melakukan identifikasi terhadap potensi dan kebutuhan (supply and demand) SDM pariwisata di pasar regional maupun internasional, Melakukan identifikasi kompetensi, pengetahuan, dan keahlian SDM pariwisata yang dibutuhkan dalam perspektif masa kini dan masa depan, Mendapatkan gambaran analisa situasi pembangunan SDM pariwisata khususnya kondisi dan permasalahan yang dihadapi, Melakukan indentifikasi posisi daya saing SDM pariwisata di pasar global, Melakukan identifikasi lembaga pendidikan di bidang pariwisata, Mendapatkan gambaran tentang benchmarking terkait implementasi dari strategi dan kebijakan pengembangan SDM pariwisata di berbagai Negara, Mendapatkan gambaran tentang arah kebijakan nasional pembangunan SDM di bidang pariwisata berdasarkan review peraturan perundangan dan kelembagaan yang ada, Mendapatkan rekomendasi kebijakan, strategi dan pola kerja sama (kemitraan) dalam pembangunan SDM pariwisata.
  2. SASARAN, Sasaran kajian ini adalah: Teridentifikasinya data dan informasi perkembangan SDM pariwisata; dan Terumuskannya rekomendasi arah kebijakan dan strategi pengembangan SDM parwisata.
  3. MANFAAT KAJIAN, Kajian ini diharapkan dapat memberikan arahan kebijakan dan strategi pengembangan SDM parwisata Indonesia untuk dapat bersaing di kanca nasional, regional maupun internasional.
  4. RUANG LINGKUP KAJIAN : Melakukan analisis terhadap kondisi SDM bidang pariwisata, Melakukan kaji ulang dan analisis terhadap ketersediaan dan kebutuhan SDM pariwisata, Melakukan kaji ulang dan analisa peraturan perundang-undangan dan peraturan di pusat maupun daerah terkait dengan pembangunan SDM bidang pariwisata, Melakukan kaji ulang dan analisis kelembagaan pendidikan dan latihan SDM pariwisata yang bersifat nasional maupun daerah, Melakukan benchmarking dari kebijakan pengembangan SDM pariwisata dengan berbagai negara.
  5. METODOLOGI : Metodologi yang digunakan dalam kajian kali ini adalah deskriptif-analitis dengan dukungan review dan analisa kebijakan, review dan analisa ketersediaan dan kebutuhan (suply and demand) SDM di bidang pariwisata, diperkuat dengan pendalaman materi melalui pengumpulan data primer maupun sekunder yang diperoleh di lapangan maupun berdasarkan desk study. Adapun Kajian ini dilaksanakan melalui tahapan pelaksanaan sebagai berikut: Analisa Situasi. Tahap analisa situasi dilakukan untuk melihat perkembangan pembangunan serta identifikasi kecenderungan-kecenderungan yang terjadi di bidang pariwisata, Review Awal. Tahap review awal dilakukan untuk mengidentifikasi perkembangan faktor-faktor (permasalahan dan tantangan) yang mempengaruhi pembangunan pariwisata serta identifikasi arah pembangunan untuk masa yang akan datang, Perumusan. Tahap perumusan dilakukan untuk menyusun background study pariwisata, Studi Pustaka. Dilakukan dengan cara menggali informasi dari berbagai sumber tertulis seperti buku, laporan hasil kajian, peraturan perundang-undangan, studi best practices dari negara-negara lain, dan referensi tertulis lainnya yang relevan dengan tujuan studi.

B. PEMBAHASAN

Analisis situasi pengembangan SDM pariwisata Indonesia ini, diawali dengan memotret kondisi SDM pariwisata Indonesia, termasuk pembahasan mengenai terminologi terkait dengan SDM Pariwisata seperti pengertian SDM pariwisata, peranan SDM dalam pengembangan kepariwisataan Indonesia, klasifikasi SDM pariwisata dan beberapa data pendukung yang dapat menggambarkan perkembangan SDM kepariwisataan Indonesia baik secara kuantitas maupun kualitas. Selain itu, diuraikan pula isu-isu strategis dalam pengembangan SDM kepariwisataan Indonesia, kaji ulang kebijakan, program, dan kegiatan pokok pengembangan SDM kepariwisataan, dan bechmarking pengalaman beberapa Negara yang dapat dijadikan sebagai perbandingan dalam upaya pengembangan SDM kepariwisataan di masa yang akan datang.

  1. Potret SDM Pariwisata : Salah satu potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh Indonesia dalam mengembangkan sektor pariwisata sebagai sektor andalan pemasukan pendapatan negara dan kesejahteraan masyarakat adalah jumlah penduduk yang saat ini telah mencapai lebih dari 220 juta jiwa. Potensi Indonesia untuk menjadi salah satu negara tujuan wisata utama dunia tidak disangsikan lagi. Hal ini dikarenakan potensi pariwisata Indonesia yang besar, seperti kekayaan alam, keanekaragaman budaya dan bahasa daerah, jumlah penduduk yang saat menduduki urutan ketiga terbesar di dunia, merupakan berbagai kekuatan yang dimiliki Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia berpeluang untuk menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor andalan bagi pendapatan Negara dan kesejahteraan masyarakat. Namun, kondisi saat ini, posisi daya saing sektor pariwisata Indonesia semakin menurun. Hal ini ditunjukkan oleh rendahnya indeks daya saing baik daya saing yang mengindikasi bahwa masih ada kendala-kendala yang perlu ditangani, salah satunya terkait pengelolaan SDM. Menurut The Travel &Tourism Competitive Index, Indikator SDM Pariwisata Indonesia menduduki peringkat ke 42 dari 133 negara. Keunggulan Indonesia terletak pada indikator Daya Saing Harga (Price Competitiveness) yang berada pada peringkat ke 3 dan Prioritas terhadap Industri Pariwisata di peringkat ke 10 (WEF, 2009).  Di banyak negara, dalam proses perencanaan dan pengembangan kepariwisataan, pembahasan tentang SDM yang dibutuhkan dalam pelayanan kegiatan kepariwisataan yang benar dan efektif seringkali mendapat perhatian yang rendah. Dalam beberapa kasus, bahkan sama sekali diabaikan. Hal tersebut mengakibatkan timbulnya permasalahan serius dalam industri kepariwisataan, dan memungkinkan terhalangnya partisipasi masyarakat setempat dalam kegiatan ekonomi yang dikembangkan dari pengembangan kepariwisataan. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai peran dan kondisi SDM dalam industri pariwisata, maka pada pembahasan ini akan mengidentifikasi dan merumuskan pengertian SDM pariwisata, jenis dan klasifikasinya, peranannya terhadap perkembangan industri pariwisata, posisi daya saing dan kebutuhan di masa yang akan datang.
  2. Pengertian SDM Pariwisata : Keberadaan SDM berperanan penting dalam pengembangan pariwisata. SDM pariwisata mencakup wisatawan/pelaku wisata (tourist) atau sebagai pekerja (employment). Peran SDM sebagai pekerja dapat berupa SDM di lembaga pemerintah, SDM yang bertindak sebagai pengusaha (wirausaha) yang berperan dalam menentukan kepuasan dan kualitas para pekerja, para pakar dan profesional yang turut berperan dalam mengamati, mengendalikan dan meningkatkan kualitas kepariwisataan serta yang tidak kalah pentingnya masyarakat di sekitar kawasan wisata yang bukan termasuk ke dalam kategori di atas, namun turut menentukan kenyamanan, kepuasan para wisatawan yang berkunjung ke kawasan tersebut. Dengan merujuk pada Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pengertian SDM dapat terkait dengan Pariwisata adalah “berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.” Sedangkan yang dimaksud dengan Kepariwisataan adalah “seluruh kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multi disiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antar wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah, Pemerintah daerah, dan pengusaha”. Sedangkan Industri Pariwisata adalah “kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata.”  Berdasarkan ke tiga pengertian pariwisata di atas maka yang dimaksud dengan SDM Pariwisata adalah Seluruh aspek manusia yang mendukung kegiatan wisata baik bersifat tangible maupun intangible yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan mewujudkan terciptanya kepuasan wisatawan serta berdampak positif terhadap ekonomi, kesejahteraan, dan kelestarian lingkungan dan budaya di suatu kawasan wisata.
  3. Peran SDM dalam Industri Pariwisata : Pariwisata sebagai sebuah industri yang sangat bergantung pada keberadaan manusia. Terwujudnya pariwisata merupakan interaksi dari manusia yang melakukan wisata yang berperan sebagai konsumen yaitu pihak-pihak yang melakukan perjalanan wisata/wisatawan dan manusia sebagai produsen yaitu pihak-pihak yang menawarkan produk dan jasa wisata. Sehingga aspek manusia salah satunya berperan sebagai motor penggerak bagi kelangsungan industri pariwisata di suatu negara. SDM merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam memajukan sektor pariwisata. Pentingnya SDM di sektor pariwisata adalah manusia (people) merupakan sumber daya yang sangat penting di sebagian besar organisasi. Khususnya di organisasi berbasis jasa (service-based organization), SDM berperan sebagai faktor kunci dalam mewujudkan keberhasilan kinerja (Evans, Campbell, & Stonehouse, 2003). Pada beberapa industri, faktor manusia berperan penting dan menjadi faktor kunci sukses terhadap pencapaian kinerja. Seperti pada industri pariwisata, dimana perusahaan memiliki hubungan langsung yang bersifat intangible (tak berwujud) dengan konsumen yang sangat bergantung pada kemampuan individu karyawan dalam membangkitkan minat dan menciptakan kesenangan serta kenyaman kepada para konsumennya (Lynch, 2000). Pengalaman tamu atau konsumen di dalam industri pariwisata merupakan aktivitas yang memiliki intensitas dan intimasi yang sangat tinggi dan tidak mudah untuk direplikasi oleh industri jasa yang lainnya. Pengalaman interaktif tersebut umumnya terjadi dengan para karyawan di garis depan (front-liners) yang umumnya memiliki status yang paling rendah, yang paling sedikit mengenyam program pelatihan dan merupakan para karyawan yang digaji paling rendah pula (Baum, 1996). Kesadaran pemerintah terhadap pentingnya peran SDM dalam industri pariwisata telah terlihat paling tidak sejak pemerintahan orde baru. Pada tahun 1993, Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan PATA/WTO Human Resource for Tourism Conference yang diselenggarakan di Bali. Peranan Indonesia sebagai tuan rumah bagi penyelenggaraan konferensi pariwisata tingkat internasional yang diikuti oleh berbagai Negara di dunia ini, menunjukkan perhatian pemerintah Indonesia terhadap isu penting SDM terhadap kelangsungan industri pariwisata dunia khususnya di Indonesia. Hal ini tercermin dari apa yang diungkapkan oleh Joop Ave yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, yang menyatakan bahwa sebagai sebuah industri jasa (service industry), pariwisata sepenuhnya tergantung kepada manusia yang membuat industri tersebut berlangsung. Kualitas dan keterampilan manusia melayani para wisatawan sebagai konsumen dalam industri ini sangat menentukan keberhasilan suatu  daerah  tujuan  wisata  dibandingkan  dengan  yang  lainnya,  Demikian  juga atraksi wisata di suatu daerah tujuan wisata, intinya merupakan faktor manusia yang akan menentukan apakah para pengunjung (wisatawan) akan memperoleh pengalaman total dan akan berkunjung kembali. Pengembangan SDM di industri pariwisata saat ini menghadapi tantangan global yang memerlukan solusi dengan menembus batasan-batasan Negara, wilayah dan benua. Salah satu solusi yang perlu ditempuh adalah dengan meningkatkan kompetensi SDM yang dimiliki suatu Negara termasuk Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan yang tepat. Dari uraian di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa terdapat beberapa peran penting keberadaan SDM di industri pariwisata, yaitu sebagai motor penggerak kelangsungan industri; pelaku utama yang menciptakan produk inti pariwisata (pengalaman); dan salah satu faktor penentu daya saing industri.
  4. Jenis/Klasifikasi SDM Pariwisata  : Dari definisi pariwisata, kepariwisataan dan industri pariwisata di atas, keterlibatan manusia dalam kepariwisataan, dapat dikelompokkan menjadi: (1) manusia sebagai orang yang melakukan perjalanan wisata (wisatawan) dan (2) manusia baik individu maupun kelompok yang bertindak sebagai pihak yang menghasilkan produk dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Penekanan pengertian SDM dalam kajian ini adalah SDM dari sisi supply yaitu pihak-pihak yang bekerjasama dalam usaha menghasilkan produk/atau jasa yang dibutuhkan oleh wisatawan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan SDM Kepariwisataan adalah “seseorang maupun sekelompok orang yang terlibat dalam kegiatan kepariwisataan yang berperan dalam usaha menghasilkan dan menciptakan produk/jasa untuk pemenuhan kebutuhan wisatawan.” (RPJMN 2010-2014 bidang kebudayaan, parwisata, pemuda dan olahraga). Dari definisi tersebut maka SDM Pariwisata dapat dikelompokkan menjadi: (a) SDM yang berada di lembaga pemerintahaan yang menghasilkan kebijakan dan peraturan dalam pembangunan kepariwisataan; (b) SDM yang berada dalam lembaga pendidikan namun belum terlibat langsung dalam usaha pariwisata meliputi: Manajemen Lembaga Pendidikan, Pendidik dan Anak didik (siswa atau mahasiswa); (c) SDM yang telah terlibat langsung dalam kegiatan usaha pariwisata sebagai pihak yang berperan menghasilkan produk dan/atau jasa bagi wisatawan di dalam suatu kegiatan usaha formal, yang dapat dikelompokkan menjadi : Pengusahaan usaha pariwisata, meliputi para pengusaha sektor formal usaha pariwisata yang mengelola berbagai jenis usaha pariwisata. Pekerja usaha pariwisata yang bernaung dibawah suatu usaha pariwitasa sektor lembaga formal. (d) Masyarakat yang berada di luar sektor lembaga formal namun terkait dengan bisnis pariwisata. Bila mengacu kepada pariwisata sebagai suatu industri, maka SDM manusia kepariwisataan adalah orang-orang yang terlibat menghasilkan kebutuhan wisatawan di usaha pariwisata meliputi antara lain: daya tarik wisata, kawasan pariwisata, jasa transportasi wisata, jasa perjalanan wisata, jasa makan dan minuman, penyediaan akomodasi, penyelenggaraan kegiatan hiburan dan rekreasi, penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi dan pameran (MICE), jasa informasi pariwisata, jasa konsultan pariwisata, jasa pramuwisata, wisata tirta, dan spa. Sementara itu, pengelompokkan kepariwisataan (tourism) menurut versi UNWTO, yaitu SDM yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan: (1) Usaha jasa pariwisata (tourism sector), yang meliputi biro perjalanan wisata, dan airlines, (2) Usaha jasa hospitalitas mencakup usaha penyediaan akomodasi/penginapan (accomodation), usaha penyediaan makanan dan minuman (food and beverage service) dan katering (catering), dan usaha hiburan (entertainment and leisure). Dalam kajian ini, penekanan pembahasan tentang pengembangan SDM dikelompokkan menjadi: (2) SDM kepariwisataan yang berada di industri pariwisata meliputi tenaga kerja pariwisata, dan pengusaha pariwisata, (3) SDM kepariwisataan yang berada di lembaga pendidikan atau lembaga pelatihan kepariwisataan, dan lembaga pemerintahan meliputi anak didik (siswa/mahasiswa), pendidik (guru/dosen), pengelolaan (manajemen) lembaga pendidikan, dan aparat pemerintah (birokrat). Sejalan dengan peran penting SDM pariwisata dalam meningkatkan daya saing, faktor manusia merupakan bagian dari faktor-faktor pembentuk daya saing industri di suatu negara.
  5. SDM merupakan salah satu faktor sangat penting dalam pembangunan kepariwisataan mengingat pariwisata merupakan industri jasa yang pada umumnya melibatkan manusia sebagai faktor penggeraknya. Oleh karenanya pendidikan dan pelatihan di bidang pariwisata memberikan kontribusi yang sangat besar dalam menciptakan SDM pariwisata yang andal dan profesional baik secara kuantitas maupun kualitas dalam mendorong pertumbuhan pariwisata secara signifikan. Untuk memperoleh SDM pariwisata yang berdaya saing global diperlukan upaya yang sistematis dengan menekankan pada kompetensi lulusan dan kematangan emosi. Dalam hal ini, peran lembaga pendidikan dan pelatihan pariwisata baik di tingkat SLTA atau yang disetarakan maupun di tingkat perguruan tingga/akademi sangat penting dalam menghasilkan tenaga trampil terdidik yang berdaya saing global.
  6. Menurut The Travel & Tourism Competitive Index, Indikator SDM Pariwisata Indonesia menduduki peringkat ke 42 dari 133 negara. Keunggulan Indonesia terletak pada indikator Daya Saing Harga (Price Competitiveness) pada peringkat ke 3 dan Prioritas terhadap Industri Pariwisata di peringkat ke 10 (WEF, 2009). Dengan demikian, sesungguhnya kualitas SDM tidaklah seburuk apa yang dikemukakan oleh para pakar di berbagai tulisan.
  7. Pembahasan tentang SDM di berbagai literatur dan laporan di berbagai negara, umumnya mengacu kepada pengertian manajemen SDM dari sisi manajemen, sehingga ruang lingkup pembahasan berkisar pada bagaimana merencanakan, mengelola, mengembangkan dan menilai SDM yang ada di suatu organisasi, baik dari tingkat korporasi sampai pada tingkat unit bisnis. Pengertian SDM yang ditekankan dalam hal ini pun mengacu kepada SDM sebagai karyawan (employee). Sehingga umumnya pembahasan berkisar pada peranan tenaga kerja (employment) di suatu organisasi.  Dalam kajian ini, pengertian SDM yang menjadi fokus perhatian adalah tidak terbatas pada SDM sebagai tenaga kerja, melainkan semua pihak yang terlibat dalam industri pariwisata di Indonesia, seperti SDM yang berda di lembaga pendidikan tinggi, SDM yang telah lulus dari lembaga pendidikan tinggi namun belum memperoleh pekerjaan, SDM yang telah berada di industri (pengusaha), dan SDM yang berada di pemerintah (aparat pemerintah), dan SDM yang berada di luar lembaga formal yang terkait dengan kepariwisataan di suatu kawasan wisata yang turut memberikan andil dan peran terhadap perkembangan kepariwisataan. Secara lebih lanjut untuk lebih memahami langkah-langkah yang diperlukan dalam pengembangan SDM pariwisata, dapat dilakukan melalui analisis berdasarkan aspek penyediaan (supply) dan kebutuhan atau permintaan (demand). Dari sisi produksi atau penyediaan, sistem pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk kualifikasi dan kompetensi SDM pariwisata. Hal ini terkait dengan lembaga pendidikan formal yaitu perguruan tinggi (PT) yang memiliki program studi bidang pariwisata dan SMK bidang pariwisata, dan lembaga pendidikan nonformal seperti balai latihan kerja (BLK) dan lembaga-lembaga pelatihan lainnya. Peran lembaga pendidikan dalam penyediaan SDM pariwisata untuk pasar dalam negeri, diharapkan selain dapat mengisi peluang kerja dalam konteks operasional (perhotelan, restoran dan katering, usaha perjalanan, dan atraksi wisata), juga diharapkan dapat mengisi kebutuhan tenaga konseptor seperti perencana dan peneliti pembangunan pariwisata. Lulusan pariwisata untuk keperluan pasar luar negeri yang pada umumnya merupakan tenaga kerja operasional. Sementara SMK bidang pariwisata diarahkan untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja trampil di sisi operasional, peran lembaga pendidikan tinggi dapat menjadi lembaga pencetak a). akademisi, peneliti, dan perencana yang memerlukan kompetensi dalam pengembangan tentang pariwisata sebagai ilmu (tourism as science), b). teknokrat pemerintah, yang memerlukan kompetensi dalam pengembangan rancang bangun pariwisata, manajemen kebijakan, hukum, administrasi pembangunan pariwisata, c). profesional, yang memerlukan kompetensi dan keahlian dalam aspek menajerial usaha pariwisata (industri), dan d). tenaga teknis/operasional yang memerlukan kompetensi dalam keterampilan tugas-tugas teknis dalam usaha pariwisata.
  1. Sisi Penyediaan (Supply)  Gambaran sisi penyediaan antara lain dapat dilihat dari jumlah PT, SMK, dan siswa yang mengikuti pendidikan bidang pariwisata. Pada periode tahun 2007/2008 terdapat 415 sekolah pariwisata setingkat sekolah kejuruan (SMK) di Indonesia. Daerah yang memiliki SMK pariwisata adalah Jawa Timur sebanyak 82 sekolah, disusul DKI Jakarta sebanyak 53 sekolah. Bali sebagai barometer pariwisata hanya memiliki 23 sekolah. Selanjutnya siswa yang tercatat mengikuti pendidikan di SMK bidang pariwisata sebanyak 174.726 orang, tertinggi berada di Jatim sebanyak 35.399 siswa, sedangkan Bali sebagai barometer pariwisata hanya memiliki 9.285 siswa (Depdiknas, 2007/2008). Sedangkan lembaga pendidikan tinggi pariwisata atau yang menawarkan program studi pariwisata tercatat sebanyak 124 buah dari total 3.133 lembaga pendidikan tinggi, dan dapat diidentifikasi terdapat 213 program studi terkait pariwisata dari total 15.741 program studi. Sementera itu tercatat mahasiswa yang mengambil jurusan perhotelan dan pariwisata sebanyak 16.348 orang (Kusmayadi, 2009). Dari sisi ketersediaan tenaga pengajar, menunjukkan bahwa kualitas tenaga pengajar untuk sekolah tinggi pariwisata masih jauh dari memadai, tercatat hanya sekitar 21,94 persen dosen yang berpendidikan lebih tinggi dari strata S1 (Kusmayadi, 2009).
  2. Sisi Permintaan (Demand) Gambaran dari sisi permintaan/pengguna antara lain dapat dilihat dari kontribusi pariwisata dalam penyerapan tenaga kerja (dampak pariwisata terhadap tenaga kerja). Dampak yang diciptakan dari kegiatan pariwisata terbesar adalah terhadap tenaga kerja dan juga merupakan sektor yang dapat menciptakan lapangan kerja dan usaha, dengan demikian peranannya sangat diperlukan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat maupun nasional. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi dalam menciptakan output barang dan jasa. Dalam model input-output, besarnya tenaga kerja yang terserap di setiap sektor secara linier mengikuti besarnya output yang dihasilkan. Dengan demikian, permintaan di sektor pariwisata juga akan memberi dampak terhadap penciptaan lapangan kerja. Semakin besar permintaan di sektor pariwisata, baik konsumsi wisatawan maupun investasi di bidang pariwisata, akan semakin besar pula penciptaan lapangan kerja di berbagai sektor terkait. Pada tahun 2007, dampak terhadap tenaga kerja di berbagai sektor ekonomi terkait pariwisata karena adanya kegiatan pariwisata mencapai 5.216 ribu orang atau 5,22 persen dari tenaga kerja nasional. Jumlah tenaga kerja terbesar di bidang kepariwisataan diciptakan oleh pengeluaran wisnu yang mencapai 2,72 persen dari jumlah tenaga kerja nasional, sementara pengeluaran wisman berperan 1,46 persen (BPS). Kedua permintaan ini cukup berpengaruh besar karena memang memberi dampak langsung terhadap peningkatan tenaga kerja. Permintaan yang lain kurang memberi dampak berarti bagi penyerapan tenaga kerja. Pengeluaran investasi pariwisata hanya berperan 0,81 persen, pengeluaran pre-post-trip dari wisatawan Indonesia ke luar negeri 0,14 persen dan promosi pariwisata 0,09 persen (BPS). Mengacu kepada sektor akomodasi, untuk hotel berbintang secara nasional dari 33 propinsi, tercatat terdapat sejumlah 1,169 usaha akomodasi, dengan jumlah kamar 112,079, dan jumlah tempat tidur 174,321. Sektor ini mampu menyerap rata-rata pekerja per usaha sebesar 117.684, sedangkan rata-rata pekerja per kamar sebesar 117.684 (BPS). Sedangkan untuk hotel non-bintang, secara nasional dari 33 propinsi, tercatat sejumlah 12.585 usaha akomodasi, dengan jumlah kamar 213,139, dan jumlah tempat tidur 349,619. Sektor ini mampu menyerap rata-rata pekerja per usaha sebesar 8.747, sedangkan rata-rata pekerja per kamar sebesar 0.516 (BPS).

C.  PENUTUP

      SDM yang berkualitas akan mendorong terciptanya produktivitas yang tinggi yang akan menjadi modal dasar bagi keberhasilan pembangunan perekonomian secara nasional. Pembangunan sektor pariwisata menghadapi permasalahan mendasar antara lain masih terbatasnya SDM pengelola, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Daya saing SDM pariwisata Indonesia masih relatif rendah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

Secara umum permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan SDM pariwisata adalah sebagai berikut:

  1. Belum teridentifikasinya ketersediaan SDM di bidang pariwisata baik secara kuantitas maupun kualitas.
  2. Belum teridentifikasinya tingkat kebutuhan SDM baik secara kuantitas maupun kualitas dalam rangka pembangunan bidang pariwisata baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.
  3. Belum teridentifikasinya berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan dan peningkatan daya saing SDM guna pembangunan bidang pariwisata dalam menghadapi tantangan yang terjadi baik nasional, regional maupun internasional.
  4. Kurangnya keterpaduan kebijakan pemerintah dalam hal ini departemen terkait dalam pengembangan SDM pariwisata.

Pembangunan SDM dapat meningkatkan kualitas SDM dalam mendukung upaya mewujudkan dan membentuk karakter bangsa yang kuat serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. SDM pariwisata mencakup wisatawan /pelaku wisata (tourist) atau sebagai pekerja (employment). SDM Pariwisata adalah Seluruh aspek manusia yang mendukung kegiatan wisata baik bersifat tangible maupun intangible yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan mewujudkan terciptanya kepuasan wisatawan serta berdampak positif terhadap ekonomi, kesejahteraan, dan kelestarian lingkungan dan budaya di suatu kawasan wisata. Beberapa peran penting keberadaan SDM di industri pariwisata, yaitu sebagai motor penggerak kelangsungan industri; pelaku utama yang menciptakan produk inti pariwisata (pengalaman); dan salah satu faktor penentu daya saing industri.

Pendidikan dan pelatihan di bidang pariwisata memberikan kontribusi yang sangat besar dalam menciptakan SDM pariwisata yang handal dan profesional baik secara kuantitas maupun kualitas dalam mendorong pertumbuhan pariwisata secara signifikan. Untuk memperoleh SDM pariwisata yang berdaya saing global diperlukan upaya yang sistematis dengan menekankan pada kompetensi lulusan dan kematangan emosi. Dalam hal ini, peran lembaga pendidikan dan pelatihan pariwisata baik di tingkat SLTA atau yang disetarakan maupun di tingkat perguruan tinggi/akademi sangat penting dalam menghasilkan tenaga trampil terdidik yang berdaya saing global

DAFTAR PUSTAKA :  Direktorat Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda Dan Olah Raga Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2009. Strategi Pengembangan SDM Di Bidang Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda Dan Olahraga: kppo.bappenas.go.id/…/..

     RENCANA STRATEGIS Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata Tahun 2010-2014. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Badan Pengembangan Sumber Daya 2010: www.bpsdbudpar.org/files/renstra/ Renstra%20Final%20BPSD.pdf

Mendongkrak Promosi Pariwisata Melalui ‘Ujung Jari’
avatar

Acara masak-memasak di sebuah saluran televisi khusus memasak siang itu memantik kesadaran saya betapa pentingnya arti sebuah promosi yang kreatif untuk memajukan sektor pariwisata sebuah negara. Di acara yang dipandu oleh dua presenter tersebut, satu dari Malaysia dan satu dari Indonesia, terlihat jelas bagaimana agresifnya presenter Malaysia mempromosikan tempoyak sebagai salah satu makanan khas dan kebanggaan masyarakat Perak, salah satu kota di Malaysia.

Tempoyak yang sudah dimasak

Tempoyak yang sudah dimasak

Sejenak saya terdiam lalu terlintas sebuah pikiran negatif, “Jangan-jangan, Malaysia nge-klaim lagi nih”.

Saya berasumsi demikian, karena sebagai orang yang besar di Sumatera, saya sangat familiar dengan tempoyak. Makanan yang terbuat dari durian yang difermentasi ini saya anggap sebagai miliknya orang Sumatera. Pokoknya, Indonesia punya :)

Eitss, tunggu dulu. Pikir saya kemudian. Sebelum berprasangka lebih jauh terhadap saudara serumpun kita itu, saya searching di internet. Sebenarnya, asal tempoyak itu dari mana dan milik siapa?

Dari sejumlah penelusuran di dunia maya saya dapatkan informasi bahwa tempoyak ternyata merupakan makanan khas rumpun bangsa Melayu, yaitu Indonesia (antara lain Lampung, Palembang dan Kalimantan) dan Malaysia. Artinya, tempoyak bukan hanya milik orang Indonesia. Jika kemudian dunia lebih mengenal tempoyak sebagai salah satu makanan khas Malaysia, salah siapa coba? Tak bisa kita pungkiri, Malaysia merupakan salah satu negara yang tak hanya sangat rajin dan sungguh-sungguh merawat tradisi dan budaya masyarakatnya, namun juga sangat gencar dan kreatif dalam mempromosikan sektor dan aset pariwisatanya ke berbagai penjuru dunia melalui berbagai media, termasuk dalam acara masak-memasak tadi yang sangat sarat dengan promosi pariwisata di dalamnya.

Pariwisata sebagai Primadona Ekonomi Baru

Sektor pariwisata kini muncul sebagai salah satu primadona baru ekonomi masyarakat dan negara-negara di dunia. Munculnya tren ini didorong oleh banyak faktor. Salah satu sebab utamanya adalah semakin menipisnya sumber daya alam yang selama ini menjadi sandaran utama sehingga memaksa banyak negara mencari sumber alternatif lain yang tak kalah prospektif. Hadirnya gelombang ekonomi baru dalam peradaban manusia yakni era ekonomi kreatif, turut mengakselerasi eksistensi dan kontribusi sektor pariwisata sebagai primadona ekonomi baru. Dalam perkembangannya, sektor ini terbukti mampu mendatangkan banyak keuntungan ekonomi dan sejumlah keuntungan lain yang sangat bermanfaat untuk memajukan kehidupan masyarakat dan negara sebagaimana ditunjukkan oleh sejumlah data.

Data International Labour Organization atau ILO misalnya. Menurut ILO, sektor pariwisata telah menciptakan 244 juta pekerjaan atau 8,7 persen dari penyerapan tenaga kerja di dunia (sekitar 1 dari 12 pekerjaaan di dunia) pada tahun 2011 lalu, di mana setiap 1 pekerjaan di sektor pariwisata umumnya menciptakan 2 pekerjaan di sektor terkait. Data ILO ini sejalan dengan hasil kajian World Economic Forum (WEF) terhadap sektor pariwisata yang menunjukkan bahwa kontribusi sektor ini terhadap PDB dan penyediaan lapangan kerja rata-rata mencapai 9 persen setiap tahunnya dengan tren kenaikan yang sangat positif dari tahun ke tahun. Untuk kawasan Asia Tenggara, WEF mencatat kontribusi sektor pariwisata mencapai 4,6 persen terhadap PDB negara-negara ASEAN dan 10,9 persen jika dihitung dengan dampak tidak langsungnya. Dampak positif lainnya adalah 9,3 juta orang bekerja di sektor ini dan diperkirakan mencapai 25 juta orang bila dihitung dengan dampak tidak langsung.

Untuk Indonesia sendiri, berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2012, sektor pariwisata sepanjang 2011 berkontribusi sebesar 8,554 miliar dolar AS bagi devisa negara. Nilai kontribusi ini menempatkan pariwisata dalam ranking kelima di bawah migas, batu bara, minyak kelapa sawit dan karet olahan. Dari sisi penyerapan tenaga kerja, tercatat sebanyak 8,53 juta orang bergerak di bidang pariwisata atau mencapai kontribusi 7,72 persen untuk tahun yang sama. Pajak tak langsung dari sektor pariwisata pada 2011 mencapai Rp10,72 triliun atau berkontribusi sebesar 3,85 persen. Adapun upah dari sektor pariwisata pada 2011 mencapai Rp96,57 triliun atau naik dibandingkan tahun 2010 yang mencapai Rp84,80 triliun.

Tak hanya sangat penting dilihat dari kontribusinya terhadap PDB dan penyediaan lapangan kerja, sektor pariwisata juga dinilai berpengaruh positif dalam memajukan ekspor suatu negara  dan terciptanya pembangunan yang berkelanjutan melalui sustainable tourism. Prospek pariwisata ke depan juga sangat menjanjikan, sebagaimana dikemukakan oleh World Tourism Organization (WTO) yang memperkirakan jumlah wisatawan dunia akan mencapai sekitar 1,602 milyar orang pada tahun 2020, di mana sekitar 438 juta orang di antaranya berada di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Dengan perkiraan jumlah wisatawan sebanyak ini, sektor pariwisata diperkirakan akan mampu menciptakan pendapatan dunia sebesar USD 2 triliun pada tahun 2020.

Dengan sejumlah kontribusi penting dan prediksi sangat menjanjikan di atas, tak mengherankan jika kemudian banyak negara menjadikan pariwisata sebagai primadona ekonomi baru, berdampingan bahkan mulai menggantikan sektor lain yang selama ini menjadi sandaran utama seperti minyak dan gas bumi. Persaingan di sektor inipun dipastikan akan semakin sengit karena kesadaran setiap negara tentang pentingnya pariwisata sebagai pilar pembangunan ekonomi semakin meningkat. Banyak negara telah ‘pasang kuda-kuda’, siapa cepat dia dapat.

Promosi, Kunci Memenangkan Persaingan

Seiring dengan semakin ketatnya persaingan di sektor pariwisata, negara-negara di dunia kian gencar melakukan promosi pariwisatanya melalui berbagai cara dan media. Promosi diyakini sebagai cara paling efektif untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan pariwisata sebuah negara kepada dunia. Semakin banyak yang tau dan tertarik, maka akan semakin besar peluang negara yang bersangkutan menjadi destinasi favorit. Dengan begitu, pendapatan negara dari sektor ini bisa bertambah secara signifikan, roda perekonomian masyarakat terus berputar, tercipta lapangan kerja baru, kesejahteraan masyarakat meningkat dan sejumlah multiplier effect lainnya.

Agar hasilnya optimal, promosi tidak lagi hanya dilakukan melalui cara-cara mainstream seperti iklan di media massa cetak dan elektronik baik dalam maupun luar negeri, namun juga dikemas secara kreatif melalui berbagai cara dan media lain secara tidak langsung. Seperti yang dilakukan oleh presenter Malaysia dalam acara masak-memasak yang saya ceritakan di awal tulisan ini. Meski tema besar acara tersebut adalah memasak, namun ada ‘promosi terselubung’ yang dikemas secara apik di dalamnya. Uniknya lagi, kesadaran, rasa memiliki dan tanggung jawab sebagai duta promosi pariwisata seakan telah mendarah daging dalam banyak benak orang Malaysia. Bersama-sama, mereka gencar mempromosikan pariwisatanya yang terkenal dengan jargon “the truly asia”. Sesuatu yang patut kita tiru mengingat Indonesia memiliki banyak sekali potensi pariwisata yang sebagian besar di antaranya tak ubahnya masih seperti harun karun. Banyak potensi pariwisata Indonesia yang belum dikenal oleh dunia bahkan oleh masyarakat Indonesia sendiri.

Kurangnya anggaran menjadi salah satu sebab utama tertinggalnya promosi pariwisata kita dari negara-negara tetangga. Menurut data dari Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI), dari kebutuhan ideal sebanyak Rp 1 triliun per tahun untuk biaya promosi, BPPI hanya mendapat kucuran anggaran sebesar Rp 20 miliar dari APBN. Kurang optimalnya promosi pariwisata Indonesia membuat kita hanya berhasil menempati posisi kelima di Asia Tenggara di bawah Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam dilihat dari berbagai aspek keunggulan pariwisatanya, sebagaimana disebutkan dalam ‘The ASEAN Travel & Tourism Competitiveness Report 2012’ oleh World Economic Forum. Padahal, dilihat dari segi potensi pariwisata yang jauh lebih banyak dan beragam, kita seharusnya lebih unggul dari keempat negara tersebut.

Geliat Promosi Pariwisata Indonesia

Di tengah keterbatasan anggaran dan gempuran promosi pariwisata negara lain yang semakin gencar, promosi pariwisata Indonesia sebenarnya mulai menunjukkan indikasi kebangkitannya. Dalam tataran pemerintahan misalnya, hadirnya kementerian baru yang lebih fokus mengurusi bidang pariwisata dalam Pemerintahan Kabinet Bersatu yakni Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) merupakan salah satu wujud keseriusan dan komitmen pemerintah untuk memajukan sektor pariwisata di Tanah Air. Kementerian ini tidak hanya fokus pada pengembangan sektor pariwisata namun sekaligus juga menyandingkannya dengan ekonomi kreatif sebagai satu kesatuan yang saling mendukung satu sama lain.

Dengan jargon ‘Wonderful Indonesia’, Kemenparekraf melakukan sejumlah terobosan penting. Seperti yang dilakukan pada tahun 2012 lalu melalui tiga strategi utama, yakni sales mission atau direct selling, penyelenggaraan acara berskala nasional maupun internasional dan pergelaran festival serta pekan seni budaya langsung di daerah-daerah potensial. Selain tiga strategi ini, Kemenparekraf juga mengoptimalkan promosi khusus untuk menyasar segmen-segmen tertentu seperti promosi secara online dan mengoptimalkan fungsi pusat informasi wisata yang telah ada misalnya di bandara-bandara internasional di Tanah Air. Strategi promosi pariwisata ini terbukti cukup efektif yang antara lain ditunjukkan oleh kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang melebihi target 8 juta orang sampai akhir 2012.

Selanjutnya, Kemenparekraf juga menyiapkan road map yang lebih luas untuk memperkenalkan 16 kawasan strategi pariwisata nasional (KSPN) dan tujuh kawasan minat khusus di Indonesia yang diharapkan sudah tersosialisasi dengan baik pada tahun 2014. Ke-16 KSPN dan 7 kawasan minat khusus itu antara lain Sumatera dengan Danau Toba dan sekitarnya; Jakarta dengan Kota Tua dan Kepulauan Seribu; Yogyakarta dengan Borobudur dan sekitarnya; Jawa Timur dengan Gunung Bromo dan Tengger; Bali dengan Menjangan, Pemuteran; NTB dengan Rinjani; NTT dengan Kalimutu; Kalimantan dengan Derawan dan Tanjungputting; Sulawesi dengan Bunaken dan Wakatobi; Papua dengan Raja Ampat. Sementara untuk tujuh minat khusus meliputi wisata sejarah, shopping, spa, sport, kesehatan, cruise, dan MICE (Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition).

Meski terbilang tertinggal dari negara lain, geliat promosi pariwisata juga mulai serius dilakukan oleh pihak swasta. Salah satunya dengan munculnya saluran televisi kabel yang khusus mengulas tentang keindahan dan pariwisata Nusantara yakni Indonesia Channel. Saluran televisi ini merupakan hasil kerja sama DNA Production, TelkomVision dan Kemenparekraf. Kehadiran saluran televisi kabel dengan dua bahasa ini (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) diharapkan dapat membantu masyarakat untuk lebih mengenal Indonesia dari sisi pariwisata dan industri kreatif. Para traveller juga diharapkan bisa mendapat beragam informasi seputar destinasi. Selain saluran khusus ini, sejumlah stasiun televisi swasta juga menambah porsi acara mengenai pariwisata Tanah Air. Sama halnya dengan Malaysia, sejumlah acara lain seperti acara memasak atau fashion juga mulai disisipi promosi pariwisata di dalamnya.

Selain media televisi, promosi pariwisata Tanah Air juga kian gencar dilakukan di dunia maya. Semakin banyak website atau situs yang secara khusus mengulas dan mempromosikan pariwisata Indonesia. Salah satu yang meramaikan kancah ini adalah adirafacesofindonesia.com. Di web ini, pengunjung bisa membaca artikel yang diisi oleh para member dan juga tim ekspedisi yang sengaja menyelami kawasan-kawasan wisata dari Sabang hingga Merauke. Web ini juga menampung tulisan dari masyarakat yang ingin berpartisipasi mempromosikan pariwisata daerahnya. Untuk lebih menarik minat masyarakat, adirafacesofindonesia.com juga sering mengadakan kompetisi atau kuis, yang terbukti cukup signifikan menaikkan traffic pengunjung web.

Selain sejumlah media dan cara di atas, ada satu lagi potensi besar yang kita miliki untuk mendongkrak sektor pariwisata Indonesia, yakni perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat di Tanah Air terutama dilihat dari jumlah masyarakat pengguna internet yang jumlahnya cukup fantastis. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan, hingga akhir Desember 2012 lalu, pengguna internet di Indonesia telah mencapai 63 juta orang. Padahal, jumlahnya hanya sekitar 2 juta orang pada tahun 2000.

Tak hanya jumlahnya yang menunjukkan tren kenaikan signifikan dari tahun ke tahun, waktu yang dihabiskan masyarakat untuk berselancar di dunia maya juga diprediksi akan terus bertambah. Saat ini, rata-rata pengguna Internet di Indonesia “membelanjakan waktunya” sekitar 35 jam per minggu atau lima jam per hari.  Selama lima jam itu, beragam aktivitas yang dilakukan pengakses Internet antara lain menjelajahi berbagai situs berita, sosial media, blog, video, dan berbagai informasi di dunia maya. Tren ini diperkirakan akan semakin bertambah dalam tiga atau empat tahun lagi sehingga waktu yang dihabiskan masyarakat untuk mengakses Internet nantinya akan mengalahkan waktu yang mereka habiskan untuk mengakses media televisi dan cetak.

Di satu sisi, tren di atas bisa menjadi sarana promosi yang sangat luar biasa karena sebagai media yang lintas batas daerah bahkan negara, internet bisa digunakan sebagai sarana dan cara promosi pariwisata secara murah dan meriah. Apalagi, tidak hanya jumlah pengguna jejaring sosial (terutama Facebook dan Twitter) saja yang meningkat namun juga jumlah blogger (penulis di dunia maya). Menurut data yang dirilis ASEAN Blogger Chapter Indonesia, jumlah blogger di Indonesia telah mencapai 5 juta blogger pada tahun 2012 lalu. Meningkat tajam dari lima tahun sebelumnya (2007) yang baru mencapai 500.000 blogger. Jumlah yang sangat besar dan tren peningkatan yang positif dari tahun ke tahun, tak ubahnya seperti ‘macan tidur’ yang harus segera kita bangunkan agar Indonesia bisa segera menjadi pemain utama dalam industri pariwisata dunia.

Sebagaimana diketahui, hadirnya internet telah memberi perubahan besar dalam banyak sektor ehidupan manusia termasuk sektor pariwisata. Penggunaan internet bahkan memiliki korelasi yang sangat positif dengan peningkatan jumlah wisatawan di suatu negara. Seperti disebutkan oleh data WTO, ada empat negara penyumbang wisatawan terbesar di dunia yakni Amerika Serikat, Jerman, Jepang dan Inggris, yang menyumbang sekitar 41 persen dari pendapatan pariwisata dunia. Uniknya, ternyata dari segi teknologi, keempat negara ini merupakan negara-negara pengguna teknologi informasi terbesar di dunia khususnya internet, yakni sebesar 79 persen dari populasi internet dunia (tahun 1997) atau sekitar 130 juta pengguna internet. Dari sinilah kemudian didapat korelasi yang erat antara pemakaian teknologi informasi khususnya internet dengan peningkatan jumlah wisatawan di suatu negara.

Pentingnya teknologi khususnya internet sebagai akselerator kegiatan sosial dan bisnis masyarakat termasuk pariwisata di dalamnya juga diungkapkan oleh Richard Florida melalui konsep 3T-nya yakni : Talenta, Toleransi dan Teknologi. Secara sederhana, Talenta mengacu pada SDM-SDM yang mampu menciptakan ide atau gagasan yang kreatif. Agar Talenta bisa berkembang optimal, diperlukan sikap toleran dari masyarakat, yakni sikap terbuka dan penerimaan terhadap hal-hal baru yang mungkin saja terkesan liar dan tidak biasa. Kehadiran Teknologi menjadi akselator untuk mempercepat, meningkatkan kualitas dan mempermudah kegiatan bisnis dan sosial masyarakat. Ketiga komponen inilah yang nantinya akan menjadi pilar utama bagi terbangunnya kawasan industri yang canggih dan mampu memenangkan persaingan di era ekonomi kreatif. Terkait dengan 3T ini, Indonesia sebenarnya telah cukup memiliki ketiganya yakni SDM yang sangat besar jumlahnya, sikap toleran masyarakat terhadap hal-hal baru dan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Tinggal menyinergiskan satu sama lain sehingga menjelma menjadi satu kekuatan besar yang bisa mendorong Indonesia menjadi negara terkemuka di bidang pariwisata.

Keajaiban’ Promosi di Ujung Jari

Kehadiran internet membuat biaya promosi yang semula sangat mahal kini dapat dipangkas sedemikian rupa. Tarif yang semakin murah didukung oleh perangkat teknologi yang harganya kian terjangkau membuat internet kini bisa dijangkau oleh hampir semua lapisan masyarakat hingga ke pelosok negeri. Dengan sentuhan di ujung jarinya, kini masyarakat yang terhubung dengan internet dapat menjadi duta promosi budaya melalui berbagai media seperti Facebook, Twitter, Blogging, Chatting, Forum seperti Kaskus, Email, dan sebagainya. Di ujung jari pengguna internet ini, promosi pariwisata Indonesia dapat menembus batas ruang dan waktu dengan biaya yang sangat murah, mudah diakses di manapun dan kapanpun, mampu menyediakan informasi sedetil mungkin seperti harga, lokasi, informasi sekitar, cuaca, atraksi, events, secara interaktif dan up to date, serta jangkauan yang sangat luas ke seluruh dunia. Sebuah keajaiban yang sangat luar biasa jika kesadaran, rasa memiliki dan tanggung jawab sebagai ‘duta promosi’ pariwisata terpatri dalam hati setiap pengguna internet di negeri ini. Mengingat jumlah pengguna internet di Indonesia sangat besar dengan tren kenaikan yang signifikan dari waktu ke waktu.

Sejumlah tren yang sedang booming di kalangan pengguna internet dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan harapan di atas. Sebagaimana diketahui, seiring dengan semakin diperhitungkannya kehidupan di dunia maya, muncul sejumlah hobi baru masyarakat bahkan sejumlah pekerjaan baru yang sebelumnya tidak ada. Satu dari sekian hobi baru yang muncul dan menjadi booming terutama di kalangan pengguna jejaring sosial dan blogger Tanah Air  adalah sebagai quiz hunter atau para pemburu kuis. Para pemburu kuis ini biasanya sangat antusias mengikuti berbagai kuis yang diadakan di dunia maya. Tak semata tergiur oleh hadiah yang ditawarkan, para pemburu kuis juga memanfaatkan kompetisi sebagai sarana belajar dan asah kemampuan, menyalurkan hobi (menulis atau fotografi), berbagi informasi dan  sebagainya. Banyak manfaat yang didapat jika bisa memanfaatkan TI dengan benar dan optimal. Tak hanya teman, tapi juga penghasilan. Tak hanya untuk sosialisasi, namun juga bisa menjadi sarana untuk membangun relasi bisnis yang tak terbatas.

Di sisi lain, tak hanya masyarakat yang semakin merasa bahwa kehidupan di dunia maya kian hari kian penting. Setali tiga uang, semakin banyak produsen atau perusahaan yang memanfaatkan booming TI sebagai sarana promosi yang murah meriah dengan efektivitas yang cukup tinggi. Salah satunya dengan mempekerjakan buzzer, atau pengelola jejaring sosial agar si perusahaan atau institusi yang bersangkutan selalu eksis di dunia maya karena persaingan di dunia mayapun kian hari juga semakin sengit. Tak hanya mempekerjakan buzzer, banyak perusahaan juga gencar mengadakan kuis atau lomba sebagai media promosi. Cost untuk menyelenggarakan sebuah kompetisi terbilang jauh lebih murah dibandingkan biaya pasang iklan di media cetak atau elektronik. ‘Waktu promosi’ bisa dibuat lebih panjang dibanding masa tayang iklan di media yang relatif lebih pendek dan terbatas. Hubungan antara produsen dan masyarakat juga bisa menjadi lebih interaktif karena memungkinkan masyarakat ikut memberi masukan melalui tulisan atau foto yang mereka ikut sertakan dalam kompetisi. Sebuah hubungan yang saling menguntungkan.

Butuh Akselerasi dan Sinergi

Dibutuhkan sejumlah langkah akselerasi dan sinergi untuk membangun jejaring kesadaran, rasa memiliki dan tanggung jawab seluruh komponen bangsa untuk turut andil mempromosikan pariwisata Indonesia di era digital saat ini. Peran dan sinergi semua pihak mutlak diperlukan.

Dari sisi pemerintah, bisa diwujudkan dengan memberi insentif pajak bagi perusahaan atau institusi yang mengintegrasikan kegiatan promosi komersialnya dengan promosi pariwisata Indonesia. Kesadaran untuk mempromosikan pariwisata Indonesia oleh dunia usaha sebenarnya semakin menguat. Di antaranya terlihat oleh maraknya lomba atau kuis yang mengangkat tema tentang kekayaan budaya dan potensi pariwisata di Indonesia yang oleh si perusahaan kemudian disinergiskan dengan promosi produknya, baik itu makanan, minuman, properti dan bahkan otomotif. Alhasil, banyak aset budaya yang semula tersembunyi, perlahan terkuak dan mulai dikenal masyarakat Indonesia bahkan dunia. Kalangan dunia usaha tentu akan semakin bergairah jika pemerintah memberikan insentif seperti pengurangan pajak bagi perusahaan atau lembaga yang melakukan terobosan ini. Sinergi antara pemerintah dan dunia usaha ini akan semakin melejitkan penyebaran informasi promosi pariwisata Indonesia dengan melibatkan masyarakat terutama masyarakat pengguna internet sebagai aktor utama.

Peran operator seluler juga sangat signifikan dalam mendongkrak sektor pariwisata di Tanah Air. Selain peningkatan layanan, jaringan yang lebih luas dengan harga yang semakin terjangkau masyarakat, perusahaan operator seluler juga dapat ambil bagian dengan memberikan sosialisasi, edukasi dan bahkan fasilitas langsung kepada masyarakat terutama masyarakat yang berada di kawasan wisata potensial dan sentra ekonomi kreatif yang belum memiliki infrastruktur teknologi informasi untuk mempromosikan sektor wisata dan produk ekonomi kreatifnya secara luas ke dunia luar. Sebagaimana diketahui, tren kemunculan desa wisata semakin marak di Tanah Air. Sayangnya, tidak semua desa wisata atau desa yang memiliki potensi wisata memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mempromosikan desanya melalui sarana teknologi informasi khususnya internet. Sebaliknya, banyak pula desa di Tanah Air yang sudah berbasis teknologi informasi atau melek teknologi namun pemanfaatannya belum optimal. Dalam konteks inilah, perusahaan operator seluler dapat ambil bagian dengan menggandeng kalangan akademisi dan dunia pendidikan untuk bersama-sama mencerdaskan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi informasi.

Sektor pariwisata akan semakin menggeliat jika lembaga keuangan dan perbankan juga kian memainkan perannya dengan lebih optimal, terutama dalam hal penyediaan akses permodalan bagi individu maupun kelompok masyarakat yang bergerak di bidang pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Salah satunya melalui program Kredit Usaha Rakyat atau KUR. Akses terhadap modal bagi lulusan perguruan tinggi yang memiliki komitmen tinggi dan usaha nyata dalam mempromosikan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif juga harus semakin terbuka lebar. Salah satunya dengan menjadikan ijasah mereka sebagai agunan untuk mendapatkan modal usaha. Ide yang cetuskan oleh Menteri Pendidikan M.Nuh ini semoga segera terealisasi. Karena sangat disayang jika SDM-SDM kreatif kita tak mampu berkembang optimal hanya karena ketiadaan akses terhadap modal.

Keberhasilan kerjasama dan sinergitas di atas juga sangat ditentukan oleh peran Pemerintah Daerah sebagaimana telah diamanahkan dalam Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Berdasarkan UU ini, maka pemerintah daerah memiliki wewenang dan andil yang besar untuk mengoptimalkan sektor pariwisata daerahnya termasuk dalam hal promosi. Secara sederhana, burden sharing promosi dapat dilakukan melalui cara berikut : pemerintah pusat melakukan country-image promotion, daerah melakukan destination promotion sesuai dengan keunggulan daerah masing-masing, sedangkan industri atau swasta melakukan product promotion masing-masing pelaku industri.

Kesimpulan

Tak bisa dipungkiri, kegiatan promosi memiliki arti sangat penting untuk mendongkrak sektor pariwisata. Namun, promosi saja tidak cukup. Perlu ada tindak lanjut nyata sebelum dan sesudah promosi dilakukan. Mulai dari pengembangan dan perawatan infrastruktur pariwisata, peningkatan aspek keamanan, kemudahan akses transportasi serta kemudahan dan kenyamanan lainnya. Artinya, yang diperlukan untuk mengoptimalkan sektor pariwisata tidak hanya sekadar promosi, namun juga komitmen dan perhatian nyata dari semua pihak terutama pemerintah (baik pusat maupun daerah) untuk lebih serius mengelolanya.

Betapa pentingnya aspek lain selain promosi terlihat jelas dalam sejumlah destinasi di negara tetangga yang ramai dikunjungi wisatawan asing meski pesona alam dan wisatanya bisa jadi masih kalah dari Indonesia. Salah satu sebabnya adalah karena mereka memiliki infrastruktur dan jasa penunjang yang memadai. Angkor Watt versus Borobudur misalnya. Pengunjung Borobudur yang notabene lebih elok dan memikat kalah jauh jumlahnya dengan pengunjung Angkor Watt yang mencapai 1,5 juta wisatawan asing per tahunnya. Begitu pula dengan Pantai Huahin di Thailand yang disesaki oleh ratusan ribu turis mancanegara per tahun, sedangkan pantai Natsepa di Teluk Ambon yang butiran pasirnya begitu bercahaya justru kurang dilirik oleh wisatawan asing bahkan mungkin oleh masyarakat Indonesia sendiri.

Selain pengadaan infrastruktur dan fasilitas penunjang yang memadai, hal penting lain yang juga perlu disandingkan dengan kegiatan promosi adalah mematenkan hak kekayaan intelektual dan aset budaya bangsa. Sebagaimana diketahui, upaya mematenkan kekayaan dan aset budaya bangsa Indonesia masih sama memprihatinkannya dengan kegiatan promosi itu sendiri. Padahal, banyak negara telah memberikan perhatian yang sangat serius pada masalah ini. Tak jarang, sebuah negara bahkan mematenkan aset budaya negara lain karena menganggapnya memiliki prospek ekonomi yang sangat cerah di kemudian hari. Kita adalah salah satu negara yang cukup sering kecolongan dalam hal ini. Akhir kata, kebangkitan sektor pariwisata Indonesia sudah di depan mata. Kita memiliki banyak potensi baik dari segi aset budaya dan kekayaan alam, SDM yang kreatif juga perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Semua potensi ini memungkinkan kita menjadi pemain utama di bidang pariwisata. Saatnya bersinergi, menyatukan komitmen dan langkah, untuk bersama-sama mewujudkan harapan ini. Kita pasti bisa……

PESIRAH EMPAT PETULAI : DALAM KISAH PUTRI GADING CEMPAKA
avatar

Tersebutlah dalam sebuah kisah, pada mulanya yang memerintah di negeri Sungai Serut ini ialah seorang raja yang berasal dari Majapahit, namanya Ratu Agung. Sebagai cikal-bakal dari kerajaan Sungai Serut, konon ceritanya, Ratu Agung adalah jelmaan bangsa dewa dari Gunung Bungkuk yang mendapat tugas untuk mengatur bangsa manusia di bumi. Adapun rakyat yang diperintahkan oleh Ratu Agung ialah rakyat Rejang Sawah. Rakyatnya berperawakan tinggi, tegap, dan besar melebihi ukuran manusia pada umumnya. Disamping itu, dibagian tulang sulbinya agak sedikit menonjol yang panjangnya sekitar satu jari. Oleh sebab itulah, rakyat Ratu Agung ini juga disebut oleh orang sebagai Rejang Berekor. Sebagai jelmaan dewa dari Gunung Bungkuk, Ratu Agung tidak saja mampu memerintah dengan adil, bijak, dan penuh wibawa, tetapi juga telah berhasil membangun negeri Sungai Serut hingga menjadi negeri yang kaya dan makmur. Sebuah istana yang sangat megah juga telah didirikan di mudik kuala Sungai Serut. Di singgasana yang amat megah inilah yang dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan juga tempat kediaman sang Ratu Agung bersama kerabat kerajaan dan ketujuh putra-putrinya, yang terdiri atas enam laki-laki dan seorang perempuan. Anak yang pertama bernama Kelamba Api, yang juga dikenal dengan nama Raden Cili. Yang kedua bernama Manuk Mincur, dan yang ketiga bernama Lemang Batu. Yang keempat bernama Tajuk Rompong, yang kelima bernama Rindang Papan, yang keenam bernama Anak Dalam, dan yang ketujuh atau bungsu bernama Putri Gading Cempaka.

Si Bungsu nan Jelita. Selanjutnya dikisahkan, bahwa negeri Sungai Serut kian lama kian Masyhur. Bahkan nama negeri Sungai Serut pun semakin harum di negeri-negeri atau kerajaan-kerajaan manca lainnya. Terlebih lagi, keharuman nama negeri Sungai Serut ini disebabkan oleh putri bungsu yang bernama Putri Gading Cempaka yang kian hari kian tumbuh dan berkembang menjadi seorang remaja putri nan cantik jelita. Meskipun belum menginjak usia dewasa, tetapi keelokan paras Putri Gading Cempaka ini sudah terlihat dengan jelas pada usia yang masih remaja. Kecantikannya sungguh tiada taranya, bagai bidadari yang turun dari kayangan. Karena kecantikannya yang sungguh tiada bandingnya, maka banyak putra dari kaum bangsawan yang berniat untuk mempersunting sebagai pemdamping hidupnya. Akan tetapi karena saat itu si bungsu masih belum menginjak usia dewasa, maka semua pinangan yang datang menghadap Ratu Agung pun selalu ditolaknya dengan cara yang bijaksana.

Wasiat Sang Raja Bulan telah berjalan silih berganti, tahun pun terus berlari, dan juga usia manusia semakin berkurang jatahnya. Yang semula masih kanak-kanak, kemudian menjadi remaja, meningkat dewasa dan kemudian menjadi tua. Begitulah hukum alam dari Sang Pencipta yang berlaku bagi makhluk ciptaan-Nya, tanpa kecuali bangsa manusia. Demikian pula dengan sang Ratu Agung yang kian menua usianya. Pada suatu hari, Ratu Agung pun jatuh sakit karena dimakan usia yang memang sudah tua. Kian hari, sakit yang dideritanya pun tiada kunjung sembuh, bahkan kian bertambah parah saja. Sebagai raja jelmaan dari dewa yang telah menjadi manusia, nalurinya masih kuat, bahwa ajalnya tak lama lagi akan tiba. Oleh sebab itu, sebelum ajalnya tiba, sang Ratu Agung nan bijaksana itu segera memanggil ketujuh putra-putrinya. Setelah ketujuh putra–putrinya itu berkumpul sujud di sekeliling ayahandanya, syahdan bersabdalah ayahanda dengan suara pelan penuh wibawa :”Duhai anakandaku semua, kini rasanya ayahanda tiadalah kuasa hidup berlama-lama. Sebelum Ayahanda meregang jasad melepas nyawa meninggalkan dunia nan fana, maka Ayahanda hendak menitipkan dua buah wasiat kerajaan ini kepada anakandaku semua.” Mendengar sabda ayahanda sang Baginda Ratu Agung yang hendak sekarat itu, raut muka dari ketujuh putra-putrinya itu langsung lesu, memucat. Terlebih si bungsu Putri Gading Cempaka yang tak kuasa menahan gejolak emosi dalam batinnya. Dan perlahan-lahan berderailah air matanya mengucur membasahi kedua pipinya, meskipun belum tampak suara rintihan isak tangis yang keluar dari mulut mungilnya. Ayahanda Baginda Ratu Agung pun lalu melanjutkan sabdanya. “Demi menjunjung tinggi rasa keadilan, kedamaian, dan ketentraman di dalam negeri ini, maka Ayahanda berwasiat tahta kerajaan Sungai Serut ini kepada anakandaku Anak Dalam. Namun demikian Ayahanda berpesan hendaknya kalian semua tetap bersatu dalam suka maupun duka, dalam bahagia maupun derita. Adapun wasiat yang kedua adalah, apabila terjadi sesuatu hal yang menimpa negeri Sungai Serut ini, dan negeri ini sudah tidak dapat lagi dipertaruhkan, maka hendaklah kalian semua menyingkir ke Gunung Bungkuk. Di Gunung Bungkuk itulah nanti datang seorang raja yang akan menjadi jodoh anakandaku Putri Gading Cempaka.” Wasiat tahta Sungai Serut itupun kemudian diterima oleh Anak Dalam tanpa menimbulkan rasa iri hati pada saudara-saudaranya yang lebih tua. Bahkan semua saudara tuanya telah sepakat mendukung kedua wasiat ayahandanya, meskipun diliputi dengan suasana yang amat mengharukan serta menegangkan.

Kabut Duka Sungai Serut Untung tak dapat diraih, nasib pun tak dapat ditolak. Begitulah kalau ajal manusia hendak sirna kembali ke pangkuan Illahi. Setelah ayahanda Putri Gading Cempaka memberikan wasiat kerajaannya kepada Anak Dalam, maka tak seberapa lama, wafatlah sang Baginda Ratu Agung, pendiri dinasti kerajaan Sungai Serut. Melihat Sang Ayahanda Baginda Ratu Agung membisu membujur kaku, serta menutup mata, maka gemuruhlah isak tangis ketujuh putra-putrinya, yang membuat gempar seisi istana. Maka si bungsu Putri Gading Cempaka pun meratap sejadi-jadinya. Seakan si bungsu nan cantik jelita ini tak rela mengantar kepergian Ayahandanya Baginda Ratu Agung untuk selama-lamanya. Demikian buah ratapan Putri Gading Cempaka :

“Ya ayahku ratu jujungan, Tajuk mahkota lepas di tangan, Malang sangat anak gerangan, Seumur hidup mabuk kenangan, Ayuhai ayahku ayuhai paduka ratu, Tempat bergantung anakanda satu, Sekarang anakanda tujuh piatu, Tentu bercinta setiap waktu, Ya ayahku raja bestari, Anakanda piatu di dalam negeri, Duduk bercinta setiap hari, Pilu dan sedih menyerang diri. Ya Ayahku yang amat kucinta, Tempat bergantung ayah semata, Sekarang patah sudahlah nyata, Karam dunia pemandangan beta. Aduhai ayahku aduhai gusti, Meninggalkan anak sampailah hati, Jadi sesalan tiada terhenti, Kenang-kenangku sebelum mati. Nyata anakmu berhati rindu, Ayah tiada tempat mengadu, Nasi dimakan rasa empedu, Air serasa getah mengkudu. Isak tangis yang tiada terperi itu meriuhkan seisi istana. Kemudian menggema dan menggetarkan seluruh rakyat di negeri Sungai Serut. Kini seluruh anak negeri telah dirundung kabut duka nestapa yang amat dalam, karena Baginda Ratu Agung nan amat dicintai oleh seluruh rakyatnya telah tiada lagi di dunia. Gegap gempitalah segenap pejabat serta kerabat kerajaan, para sanak famili handai taulan, Bilal, Katib, Kadi, serta hamba kerajaan pun berdatangan serta menghatur sembah dihadapan ketujuh putra-putri kerajaan. Sementara tuan Putri Gading Cempaka terlihat masih meratapi jasad Ayahandanya yang telah terbujur kaku. Maka berkatalah salah seorang hamba kerajaan, “Ampun diperbanyak ampun, tuan Putri hari sudah tinggi, Ayah tuan harus dimandikan. Anak Dalam lalu bertitahlah kepada salah seorang mamandanya: “Mandikanlah dengan segera Mamanda, supaya jasad ayahanda dapat segera kita makamkan.“ Maka segeralah jasad ayahanda Ratu Agung itupun dimandikan melalui upacara dengan penuh khitmad sebagaimana adat istiadat bagi raja-raja yang wafat pada zaman itu.

Anak Dalam Naik Tahta Beberapa lama telah berlalu, kabut duka nestapa di negeri Sungai Serut perlahan lahan telah tersibak dengan sendirinya. Sang mentari pun telah memancarkan lagi keceriaannya meninggalkan kenangan lama yang teramat kelam. Maka segeralah Anak Dalam dinobatkan menjadi raja di Negeri Sungai Serut, menggantikan kedudukan Ayahanda Baginda Ratu Agung. Sebagai anak yang sangat patuh dan berbakti kepada orang tuanya, maka sebelum menjadi raja di negeri Sungai Serut ini, Anak Dalam selalu teringat dan mematuhi apa yang telah dipesankan oleh almarhum ayahanda Baginda Ratu Agung. Pesan ayahanda agar tujuh bersaudara tetap bersatu dalam suka maupun duka, bersama dalam derita maupun bahagia itupun selalu dipegang teguh oleh Anak Dalam. Terlebih terhadap si bungsu, adinda Putri Gading Cempaka yang sangat dicintai oleh kakanda Anak Dalam. Wasiat tahta yang telah diwariskan oleh almarhum Baginda Ratu Agung itu kepada Anak Dalam ternyata mampu dilaksanakan dengan sepenuhnya. Oleh sebab itulah raja Anak Dalam memerintah negeri Sungai Serut dengan adil dan bijaksana. Terbukti, bahwa negeri sungai Serut semasa dibawah pimpinan Anak Dalam itupun kemashyurannya tidak kalah pada masa Baginda Ratu Agung. Bahkan semakin terkenal karena si bungsu Putri Gading Cempaka kini telah beranjak dewasa dan banyaklah kaum putra bangsawan dari negeri manca yang ingin sekali meminangnya.

Pangeran Muda Aceh Terpikat Konon berita tentang keelokan Putri Gading Cempaka yang tiada bandingnya itu telah tersebar di seluruh penjuru wilayah kerajaan manca, tanpa kecuali kerajaan Aceh. Tak pelak lagi, putra mahkota kerajaan Aceh pun sangat terpikat oleh kecantikan Putri Gading Cempaka. Timbulah dalam pikiran Pangeran Muda Aceh hendak pergi ke negeri Sungai Serut untuk meminang Putri Gading Cempaka. Ketika pikiran itu telah mengganggu dalam tidurnya, maka Pangeran Muda Aceh itupun segera memutuskan untuk segera menghadap ayahanda Baginda Sultan, memohon kebawah cerpu baginda hendak berangkat ke negeri Sungai Serut. Tatkala Ayahanda Baginda Sultan melihat dari dekat guratan wajah anakanda Pangeran Muda yang penuh maksud dan asa itu, maka bertitahlah sang baginda : “Hai anakku, biji mata ayahanda, apa sebabnya maka anakanda datang dengan bermuram durja ini ? Adakah seorang dayang telah bersalah dalam melayani anakanda. Dayang dan inang pengasuh yang mana kali yang kurang melayani anakanda?” Maka segeralah Pangeran Muda itu berlutut di hadapan Baginda, seraya bersembah diri. “Ya ayahanda baginda, tiadalah kiranya kekurangan suatu apa pada anakanda, dan tiadalah seorang jua pengiring anakanda yang salah melayani anakanda,” jawab Pangeran Muda. “Kalau demikian adanya, giranglah sangat ayahanda mendengarkan perkataan biji mata ayahanda. Akan tetapi terangkanlah, hai anakku, agar ayahanda mengetahui apakah hajat anakanda datang bersembah dihadapanku ini?” Ketika didesak perkataannya oleh baginda, maka berteranglah Pangeran Muda Aceh itu kepada ayahandanya. “Ya Baginda ayahanda, adapun anakanda datang kehadapan ayahanda, tiadalah lain hendak memohon restu dari Ayahanda, agar ayahanda memberikan izin kepada anakanda yang hendak pergi berlayar ke negeri Sungai Serut. Untuk meminang Putri Gading Cempaka yang telah menjadi tambatan hati hamba. Selain daripada itu, anakanda juga ingin mengetahui adat lembaga dari negeri lain, agar kelak anakanda dalam menggantikan ayahanda telah banyak menimba pengetahuan tentang segala suatu adat negeri lain.” Setelah mendengar permintaan yang sungguh-sunguh dari Pangeran Muda itu, dengan sukacita Baginda memberikan izin kepadanya. Baginda segera memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan perbekalan dan segera menurunkan perahu yang terkalang dan beberapa perahu lain yang disertai dengan anak-anak muda secukupnya untuk mengiringnya. Pada keesokan harinya, bersamaan dengan terbitnya sang mentari dari ufuk timur, serta merta diiringi oleh kicauan burung yang terbang bebas menyongsong pagi nan cerah, maka berpamitanlah anak raja Aceh kepada Ayah-bundanya. Pangeran Muda Aceh pun segera berangkat ke negeri Sungai Serut hendak meminang Putri Gading Cempaka, agar kelak dikemudian hari dapat menjadi permaisuri sebagai pendamping Pangeran Muda. Dengan disertai do’a restu dari ayah-bunda, maka Pangeran Raja Muda Aceh bersama segenap hulubalang pengiringnya naik kedalam perahu, dan siaplah berlayar meninggalkan daratan tanah rencong.

Asal Nama Bangkahulu Setelah sekian lama mengarungi badai ombak lautan yang ganasnya tak terperikan baik disiang hari maupun dimalam hari, maka sampailah kiranya perahu rombongan Pangeran Muda Aceh memasuki perbatasan wilayah negeri Sungai Serut. Ketika perahu-perahu itu hendak memasuki wilayah negeri Serut, kebetulan air laut sedang dalam keadaan naik pasang. Oleh sebab itu, banyak kotoran, reba-reba serta empang-empang yang terbawa arus menghulu. Rombongan perahu Pangeran Raja Muda Aceh itupun terkejut melihat bayaknya empang menghulu yang mengganggu perahu-perahu mereka yang akan menepi. Maka berteriaklah orang-orang Aceh itu “Empang ka hulu! Empang ka hulu!” Pangeran Raja Muda Aceh segera memerintahkan anak buahnya untuk membersihkan empang-empang yang menghalangi perahu-perahunya. Tampaknya hati Pangeran Raja Muda Aceh itu sangat terkesan melihat pemandangan di wilayah ini, maka Pangeran Raja Muda Aceh itu lalu menitahkan kepada para hulubalangnya agar wilayah ini diberi nama Empangkahulu. Dan sejak saat itulah orang-orang kemudian menyebut negeri Sungai Serut dengan sebutan negeri Bangkahulu. Tatkala perahu rombongan Pangeran Raja Muda Aceh itu sudah sampai di kualanya, maka dibongkarlah sauhnya, dan layar-layarnyapun digulung dan diturunkan. Sebagaimana adat kebiasaanya, maka rombongan Raja Muda Aceh itupun segera membunyikan meriam-meriamnya sebagai tanda pemberitahuan akan kedatangan tamu dari negeri luar.

Perang Besar Bunyi dentuman meriam itu cukup mengejutkan rakyat negeri Sungai Serut, tidak kecuali Anak Dalam. Maka segeralah Anak Dalam menitahkan anak-buahnya turun ke bawah untuk melihat adakah gerangan yang telah terjadi di negerinya itu. Tak seberapa lama kemudian, datanglah utusan dari anak raja Aceh yang memohon izin hendak menghadap Baginda Anak Dalam. Maka bersembahlah utusan anak raja Aceh itu seraya mengemukakan hajatnya, bahwa maksud kedatangan anak raja Aceh ke negeri Sungai Serut tiada lain adalah hendak meminang Putri Gading Cempaka. Sebagai seorang raja nan adil dan bijaksana, setelah mendengar penuturan dari utusan anak raja Aceh itu, Anak Dalam segera mengadakan mufakat kepada keenam saudara-saudaranya, terlebih kepada si bungsu Putri Gading Cempaka. Sementara itu, para utusan dari negeri Aceh dipersilahkan menunggu di luar istana barang sejenak. Tak seberapa lama, setelah diadakan mufakat diantara ketujuh saudara itu, kemudian disuruhnyalah utusan anak raja Aceh itu masuk menghadap Baginda Anak Dalam. Kemudian diberitahukan bahwa permohonan anak raja Aceh untuk meminang Putri Gading Cempaka tidak dapat di kabulkan. Pangeran Raja Muda Aceh amat marah mendengar hasil laporan dari para utusanya, bahwa hajatnya hendak meminang Putri Gading Cempaka itu ditolak. Maka segeralah Pangeran Raja Muda Aceh itu memerintahkan para hulubalang dan seluruh anak-buahnya untuk menantang perang Baginda Anak Dalam. Perang besar antara pasukan Baginda Anak Dalam dari negeri Sungai Serut dengan pasukan Pangeran Muda Aceh rupanya tidak dapat dielakkan. Genderang perang telah dibunyikan bertalu-talu oleh kedua belah pihak. Dan perang itupun terus berkobar sampai berhari-hari lamanya. Sudah banyak korban yang sudah berjatuhan, tetapi perang terus berkecamuk tak kunjung selesai. Belum diketahui pihak yang menang maupun yang kalah, tetapi bangkai-bangkai manusia terus bergelipangan dimana-mana hingga menimbulkan bau yang tak sedap. Anak Dalam dan saudara-saudaranya pun semakin tak tahan mencium bau busuk dari bangkai-bangkai manusia yang bertumpuk-tumpuk akibat peperangan. Teringat akan wasiat almarhum ayahanda Baginda Ratu Agung, maka Anak Dalam bersama keenam saudara-saudaranya segera memutuskan untuk menarik diri dan kemudian menyingkir ke gunung Bungkuk. Sementara itu, Pangeran Raja Muda Aceh bersama laskarnya yang masih hidup segera menarik diri kembali ke negeri Aceh dengan tangan hampa.

Pasirah Empat Petulai Semenjak Anak Dalam beserta keenam saudaranya meninggalkan Sungai Serut atau Bangkahulu menuju Gunung Bungkuk, negeri ini dalam keadaan kacau. Rakyatnya menjadi tidak menentu lagi karena tidak ada lagi rajanya. Berita tentang keadaan negeri Bangkahulu yang telah ditinggalkan oleh rajanya itu rupanya terdengar di telinga keempat pasirah. Adapun keempat pasirah itu masing-masing adalah : Pasirah Merigi, Pasirah Bermani, Pasirah Salupuh , dan Pasirah Jurukalung. Tidak seberapa lama, setelah mengadakan mufakat maka berangkatlah segera keempat pasirah itu dari Lebong balik bukit menuju negeri Bangkahulu hendak menjadi raja di sana. Beberapa lama kemudian, keempat pasirah itu berhasil menduduki negeri Bangkahulu. Akan tetapi setelah berhasil menguasai negeri Bangkahulu, timbulah perselisihan diantara keempat pasirah itu. Adapun yang menjadi pokok permasalahan mereka itu adalah mengenai pembagian tanah sebagai wilayah kekuasaanya. Oleh karena itu masing-masing berkehendak untuk mendapatkan bagian tanah yang lebih besar, maka pertikaian pun tidak dapat dihindarkan.

Baginda Maharaja Sakti Beruntunglah keempat pasirah itu, karena sebelum terjadinya jatuh korban diantara mereka, tiba-tiba munculah seseorang berperawakan tinggi tegap dengan pakaian kebesaranya diiringi oleh empat belas pengiringnya, mendamaikan perselisihan mereka. Keempat pasirah itupun segera menghentikan pertikaian dan menyambut kelimabelas tamunya dengan penuh suka cita . Kemudian salah seorang pemimpin rombongan tamu itu memperkenalkan diri kepada keempat pasirah itu. ”Nama hamba ini adalah Baginda Maharaja Sakti. Adapun nama daripada negeri hamba adalah Sungai Terap di Alam Minangkabau. Empat orang diantara hamba ini adalah bergelar menteri sedangkan sembilan lainnya adalah anak buah hamba, dan seorang lagi adalah panakawan hamba”. Setelah mendengar penuturan dari Baginda Maharaja Sakti itu, Keempat pesirah itu segera menjamu tamu agungnya. Baginda Maharaja Sakti pun segera melanjutkan ceritanya. ”Adapun pekerjaan hamba berjalan kelana ini karena titah oleh daulat tuanku Sultan Pagar Ruyung, Seri Maharaja Diraja. Hamba mendapat titah untuk melihat-lihat segala isi pulau Perca ini yang telah berada di bawah daulat di Pagar Ruyung.” Setelah mendengar hal ikhwal cerita dari Baginda Maharaja Sakti, maka makin bertambah suka cita keempat pasirah itu. Keempat pasirah itu kemudian bersepakat memohon kepada Baginda Maharaja Sakti supaya menjadi raja dinegeri Bangkahulu. Baginda Maharaja Sakti menjadi girang dan terharu mendegarnya. “Hamba terima permohonan tuan-tuan dengan senang hati. Sungguh permintaan tuan-tuan itu suatu gunung intan bagi hamba. Memang sudah barang semestinya, bahwa tiap-tiap kampung itu tentu ada penghulunya, tiap luhak ada larasnya, tiap-tiap negeri ada rajanya. Sedangkan dinegeri tuan-tuan ini belum lagi berdiri kerajaan. Oleh karenanya, sudah barang sepatutnya bilamana tuan-tuan mencari seorang raja yang asli yang hendak menjadi raja di negeri ini, supaya segala sesuatunya dapat diselesaikan dengan adil dan bijaksana. Namun demikian, permintaan tuan itu mesti dihadapkan kepada daulat di Pagar Ruyung. Jika nanti diperkenankan oleh yang dipertuan Alam Minangkabau di Pagar Ruyung, sudah barang tentu Baginda Seri Maharaja Diraja akan menitahkan anak cucunya, atau kaum kerabatnya dari Pagar Ruyung ataupun dari Sungai Terap untuk menjadi raja disini dengan memakai segala adat kebesaran kerajaan cara Alam Minangkabau, dan memberi tanda keturunan kerajaan dari Sultan Seri Baginda Maharaja Diraja. Jikalau tuan-tuan memang bersungguh-sungguh hendak mendirikan kerajaan disini, maka sebaiknya tuan-tuan pergi menghadap daulat di Pagar Ruyung. Dan oleh karena pekerjaan hamba ini masih belum selesai, hamba mohon undur di hadapan tuan-tuan, sebab hamba hendak melanjutkan perjalanan hamba menuju selatan”. Setelah berpamitan, Baginda Maharaja Sakti bersama rombongannya itu segera berangkat meninggalkan negeri Bangkahulu. Keempat pesirah itupun mengantarkanya dengan hati yang masghul.

Menghadap Istana Pagar Ruyung Sepeninggal Baginda Maharaja Sakti, keempat pasirah itu lalu bermufakat untuk segera berangkat ke negeri Alam Minangkabau menghadap Seri Baginda Maharaja Diraja. Setelah terjadi kata sepakat, maka keempat pasirah segera berangkat ke Pagar Ruyung. Tak seberapa lama kemudian, sampailah mereka di negeri Pagar Ruyung. Keempat pasirah itu lalu menghadap Menteri Empat Balai terlebih dulu, dan setelah itu kemudian baru diterima daulat tuanku di Pagar Ruyung. Dihadapan Seri Baginda Maharaja Diraja, keempat pasirah itu bersembah diri, lalu menceritakan hal ikhwal keadaan di negeri Bangkahulu, serta mengemukaan maksud dan tujuan kedatangan mereka. Mendengar persembahan keempat pesirah itu, Seri Baginda Maharaja Diraja amat bersukacita kemudian bertitah, “Hamba amat berkenan mendengar permintaan tuan-tuan hendak mendirikan kerajaan, tetapi siapakah yang akan menjadi raja di negeri tuan-tuan? Ataukah hamba yang akan menentukan orangnya”?. Keempat pasirah itupun lalu menuturkan : “ Ya tuanku syah alam, mohon diampun, bilamana hamba-hamba ini diperkenankan, hamba hendak memilih tuanku Baginda Maharaja Sakti untuk menjadi raja di negeri hamba. Karena tatkala tuanku Baginda Maharaja Sakti datang dinegeri hamba, dengan penuh adil dan bijaksana beliau telah mendamaikan pertikaian diantara hamba berempat. Maka, kemudian hamba berempat bermufakat hendak menjadikan beliau menjadi raja di negeri hamba. Namun demikian, tuanku Baginda Maharaja Sakti tiada kuasa menerima permohonan hamba berempat, karena harus berizin dahulu dengan tuanku Seri Baginda Maharaja Diraja. Oleh karena itulah, hamba berempat menghadap kemari. Hamba berempat akan menerima dengan senang hati siapa saja yang hendak dititahkan oleh yang dipertuan di Pagar Ruyung ini, niscaya hamba junjung tinggi. Mendengar penuturan yang amat tulus dari keempat pasirah itu, lalu bersabdalah Baginda, “Jikalau demikian halnya ayuhai pasirah, tunggulah barang sebentar, sebab Baginda Maharaja Sakti hingga saat ini belumlah kembali dari rantauannya”. Maka dengan senang hati keempat pasirah itupun menuruti permintaan yang dipertuan di Pagar Ruyung untuk menetap beberapa saat lamanya. Tak seberapa lama kemudian, Seri Baginda Maharaja Diraja lalu memerintahkan hulubalangnya untuk mencari Baginda Maharaja Sakti yang ketika itu masih berada di bukit Siguntang-guntang.

Perjanjian Pagarruyung Hulubalang yang diperintahkan oleh yang dipertuan di Pagar Ruyung itu telah bertemu dengan Baginda Maharaja Sakti di bukit Siguntang-guntang. Atas titah tuanku Pagar Ruyung, maka segeralah Baginda Maharaja Sakti menghadap dan bersembah diri kepada Seri Baginda Maharaja Diraja seraya menuturkan hal ikhwal tentang hasil perjalanannya. Yang dipertuan Sultan Baginda Maharaja Diraja itupun segera melepaskan hal ikhwalnya, serta mengharap agar Baginda Maharaja Sakti bersedia menjadi raja dinegeri Bangkahulu. Mendengar sabda Sultan Pagar Ruyung, lalu bersembahlah Baginda Maharaja Sakti : “Ya tuanku syah alam, senang sungguh patik mendengarkan titah tuanku, tetapi patik tiadalah mempunyai syarat-sayarat yang cukup. Oleh karena itu baiknya tuanku memilih yang lain saja. Bukankah banyak putra, atau cucu dari tuanku di dalam Pagar Ruyung ini atau di Sungai Terap yang patut dirajakan. Adapun perkataan patik ini sungguhlah bukan berkias gurindam, bukan bersanding beranjung, bukan dengki atau berkhianat, melainkan sebenar-benarnya perkataan. Mendengar penuturan dari Baginda Maharaja Sakti yang sangat tulus itu, daulat Tuanku Sri baginda Maharaja Diraja menjadi terharu. Demikian halnya dengan para menteri dan segenap hulubalang, serta keempat pasirah yang ada disekelilingnya. Suasana di balairung alam Minangkabau ketika itu juga menjadi larut dalam keheningan. Malam pun segera menjelang, permufakatan untuk sementara waktu dihentikan. Setelah berjalan tiga hari tiga malam, daulat Tuanku Sultan pun bermimpi. Beliau bermimpi, melihat suatu perarakan yang amat ramai dan menyenangkan. Dalam perarakan itu terlihat Baginda Maharaja Sakti sedang ditandu menuju hulu Bangkahulu, untuk diangkat menjadi raja di sana. Mimpi Baginda Sutan Pagar Ruyung itu sangat jelas arahnya. Maka, pada pagi harinya, Sultan segera menitahkan hulubalang memanggil Baginda Maharaja Sakti, beserta menteri empat balai, dan keempat pasirah untuk datang menghadap beliau. Daulat yang dipertuan Baginda Seri Maharaja Diraja itupun bertitah : “Pada hari ini, disaksikan oleh yang hadir dalam majelis di Balairung ini, kami mengizinkan Baginda Maharaja Sakti mendirikan kerajaan di negeri Bangkahulu.” Mendengar titah Baginda Seri Maharaja Diraja itu, keempat pasirah lalu bersuka cta. Maka Baginda Maharaja Sakti pun segera bersembah diri : “Ampun tuanku, jikalau demikian halnya, patik mohon sudilah kiranya tuanku membuatkan suatu permufakatan yang teguh antara pasirah-pasirah ini dengan rajanya, agar jangan ada perselisihan dikelak kemudian hari.” Atas permufakatan dengan keempat pasirah itu, maka dibuatkanlah sebuah permufakatan di hadapan daulat tuanku di Pagar Ruyung, disaksikan oleh menteri empat balai. Adapun isi perjanjian itu ada sepuluh butir. Inilah bunyi isi  perjanjiannya :

  1. Raja tinggal di pesisir laut, sedangkan pasirah, dan perowatin tinggal di hulu.
  2. Wilayah pesisir laut menjadi tanggung jawab raja, sedangkan wilayah pegunungan menjadi tanggung jawab pasirah perowatin.
  3. Raja atau anak cucung raja, dan kerabatnya bebas berladang atau berkebun, atau mengambil kayu pendek dan panjang di segala hutan dan rimba, dan pasirah maupun perowatin tiadalah boleh melarangnya; jikalau ada orang luar datang menumpang berladang atau berkebun, atau mengambil kayu, rotan, damar, dan segala jenis hutan, hendaklah dengan izin raja.
  4. Tiap-tiap tahun, bilamana anak-buah sudah memotong padi, hendaklah mengantarkan persembahan kepada raja beras sekulak, ayam seekor, kelapa sebuah dalam satu bubungan rumah. Maka itu semua akan menjadi makanan raja. Itulah tanda anak-buah yang membuat raja, bukan raja yang minta diangkat.
  5. Waktu raja mudik ke hulu, memeriksa hal anak-buah yang meminta raja, maka anak-buah harus memberi beras sekulak, kelapa sebuah, ayam segantang tunjuk banyak kakinya. Itulah makanan raja serta segala pengiringnya selama berjalan di hulu.
  6. Raja atau anak cucung raja, jika raja mufakat dengan pasirah – perowatin serta memberi garam atau kain hitam. Tak dapat tiada anak-buah perowatin menolong dengan beras, dan tukarannya sekulak garam, 10 kulak beras, sebubung kain hitam begitu juga. Itulah tukon namanya.
  7. Bea dari segala labuhan dan kuala semuanya raja yang punya, tidak dapat tidak oleh pasirah dan perowatin, tetapi pasirah perowatin sendiri tiada kena bea labuhan atau kuala.
  8. Segala jenis perkara yang kecil, pasirah dan perowatin yang berkuasa menyelesaikannya di tanah hulu; jika perkara itu besar maka hendaklah pasirah dan perowatin membawanya kehadapan raja untuk diselesaikannya bersama-sama.
  9. Orang kerap gawe dibagi dua, satu bagian oleh pasirah yang punya marga dengan perowatin yang punya dusun, dan satu bagian kembali pada raja.

10. Jikalau hilang pasirah, raja mencarikan ganti pasirah; jikalau hilang raja, pasirah mencarikan ganti raja.

Demikianlah isi perjanjian antara Baginda Maharaja sakti dengan keempat pasirah yang disaksikan oleh daulat seri Baginda maharaja Diraja di Pagar Ruyung, serta menteri empat balai. Kemudian kedua belah pihak, baik Baginda Maharaja sakti maupun keempat pasirah itupun sama-sama berikrar. “Kami bersumpah untuk memegang teguh selama-lamanya, tidak lapuk dihujan, tidak lekang dipanas, selama gagak hitam, selama air hilir, kalau lurah sama dituruni, kalau bukit sama didaki, hilang sama dicari, tenggelam sama diselami, bersumpah bersetia, minum air dituntung keris. Barang siapa mungkir dari perjanjian, dimakan kutuk bisa kawi, dikutuk Qur’an tiga puluh juz, di bawah tidak berakar, di atas tidak berpucuk, di tengah digerek kumbang, ke darat tak boleh makan, ke air tak boleh minum, jatuh murka Allah ta’ala dengan seberat-beratnya.” Setelah selesai bersumpah di balairung kampung dalam kerajaan Pagar Ruyung di hadapan tuanku Seri Maharaja Diraja, dan disaksikan pula oleh menteri empat balai, serta para hulubalang kerajaan, maka segeralah didirikan sebuah Alam Halipan yang dilengkapi dengan tunggul, dan panji-panji serta segala angkatan kerajan, pudai tinggi, bantal berapit kiri kanan, kain terbentang sampai ke atas, dilingkung pucuk beranyam, dayang-dayang sebanyak dua kali tujuh (empat belas) yang berdiri emas ditanai, juga terbentang cindai jajakan, serta dupa sebanyak dua kali tujuh (empat belas). Tak seberapa lama, dupa-dupa tersebut dinyalakan, gendang kalang luari dibunyikan, meriam seletus dipasang sebagai tanda penobatan raja. Selanjutnya, yang dipertuan Baginda Sultan Seri Maharaja Diraja di Pagar Ruyung segera memberikan sebelas tanda kebesaran kerajaan kepada Baginda Maharaja Sakti.

Adapun sebelas tanda kebesaran kerajaan itu ialah :

  1. Dua buah meriam secorong besar dan satunya kecil;
  2. Sebuah curik semandang giri retak seratus tiga puluh memancung sakti munuh, yang bentuknya seperti pedang;
  3. Sebuah payung gedang berubur-ubur dengan kain kuning;
  4. Sebuah tombak benderangan berambu janggut janggi;
  5. Sebuah pedang jabatan;
  6. Satu Alam Halipan;
  7. Satu Marawal;
  8. Satu panji;
  9. Sebuah kotak tempat sirih berpakut emas;

10. Sebuah tempat air minum kendi berpalur emas ;

11. Sebuah gong mu’tabir alam.

Tatkala Baginda Maharaja Sakti menerima sebelas tanda kebesaran kerajaan dan berjabat tangan dengan daulat tuanku yang dipertuan di Pagar Ruyung, saat itulah bergetar puncak istana balairung, tempat penobatan sang Baginda hingga menimbulkan bunyi petus tunggal. Oleh karenanya, kelak dikemudian hari, marga bawaan dari baginda Maharaja sakti itu dinamai orang Marga Semitul.

Kembali ke Negeri Bangkahulu Tak seberapa lama setelah usai penobatan, maka berpamitanlah Baginda Maharaja sakti beserta para pengiringnya, serta keempat pasirah menuju negeri Bangkahulu. Empat menteri yang telah mengiring Baginda Maharaja Sakti ketika berkelana itu juga dibawanya turun ke negeri Bangkahulu. Mereka berempat masing-masing bernama: Menteri Agam, Menteri Sumpu Melalo, Menteri Singkarak, dan Menteri Sandingbaka (Sending Bungkah). Beberapa waktu kemudian, sampailah rombongan baginda Maharaja sakti di suatu kuala Sungai Lemau yang hulunya menuju Gunung Bungkuk. Maka mereka pun lalu berhenti berjalan melepas kelelahan. Di situlah kiranya rombongan Baginda sudah berada di wilayah negeri Bangkahulu yang terbentang luas. Setibanya di negeri Bangkahulu, keempat pasirah lalu mengumpulkan adik sanak kerabat serta segenap perowatin dan anak-buahnya di tiap-tiap dusun. Mereka segera menyambut kedatangan rajanya dengan suka cita dan menjamunya. Upacara penobatan Baginda Maharaja Sakti sebagai raja di negeri Bangkahulu segera dipersiapkan. Akan tetapi ketika upacara penobatan Baginda Maharaja Sakti hendak dimulai, tiba-tiba datang hujan badai yang amat kencang, disertai gemuruhnya sang halilintar menyambar-nyambar tiada henti-hentinya. Atas permufakatan bersama, upacara penobatan Baginda Maharaja Sakti untuk sementara ditunda menunggu redanya hujan badai, dan tenangnya hari.

Bidadari dari Gunung Bungkuk Hari telah berjalan tiga malam. Ternyata hujan badai yang disertai sambaran petir itu tak kunjung berhenti. Anehnya, pada malam harinya berturut-turut hingga malam ketiga, Baginda Maharaja Sakti bermimpi melihat seorang bidadari nan cantik jelita. Bidadari itu sedang menari-nari di tengah hujan badai. Baginda sungguh keheranan karena sang bidadari itu tiada terkena hujan barang sedikitpun jua. Kemudian sang bidadari itu terbang menuju ke arah Gunung Bungkuk. Pada keesokan harinya, Baginda Maharaja Sakti segera memanggil keempat pasirah. Lalu diceritakanlah tentang mimpinya yang amat menakjubkan. Baginda bertambah pikiran, dan amat terpikat oleh kecantikan bidadari dalam mimpinya. Baginda lalu meminta pendapat kepada keempat pasirah untuk mencarikan keterangan, apa makna dalam mimpinya itu. Mendengar penuturan sang baginda itu, keempat pasirah segera mengadakan permufakatan untuk mencarikan jalan keluarnya. Mereka berempat lalu sepakat untuk mencari seorang ahli nujum yang dapat meramalkan, gerangan apakah yang ada dalam mimpi rajanya itu. Maka, disuruhlah anak-buahnya untuk segera mencari seorang ahli nujum yang sakti. Tak seberapa kemudian, datanglah utusan itu menghadap keempat pasirah dengan membawa seorang ahli nujum. Kemudian oleh keempat pasirah, ahli nujum itu dihadapkan kepada Baginda Maharaja Sakti. Ahli nujum itupun segera bersembah diri. ”Ampun Baginda, hamba datang ingin menghadap duli Baginda, adakah gerangan yang hendak hamba terima titah Baginda?” Maka bertitahlah Baginda Maharaja Sakti: “Hai ahli nujum, tiadalah kiranya kubentangkan kata nan panjang di hadapan tuan, karena tuan pastilah telah membawa beritanya.” Ahli nujum pun menjawabnya, “Ampun ya Baginda, sungguh tiadalah hamba berani mendahului sabda tuanku, sebab takabur itu sifat yang sangat tidak baik bagi seorang hamba Allah.” Mendengar penuturan si ahli nujum itu, Baginda pun segera maklum, maka berceritalah Baginda Maharaja Sakti hal ikhwal tentang mimpinya itu. Ahli nujum itupun segera memberikan keterangan dihadapan Baginda Maharaja Sakti, perihal bidadari nan elok dan juwita itu. “Ampun hamba, ya Tuanku Baginda, adapun bidadari nan elok juwita yang mengganggu pikiran Baginda itu sesungguhnya adalah tuanku Putri Gading Cempaka, putri bungsu dari mendiang tuanku Baginda Ratu Agung di negeri Sungai serut. Kini tuan Putri Gading Cempaka masih berada di Gunung Bungkuk, tinggal bersama keenam saudara tuanya. Menurut ramalan hamba, Tuanku Baginda akan dapat mendirikan negeri Bangkahulu ini tegak kembali dengan selamat, bilamana tuanku dapat serta membawa tuanku Putri Gading Cempaka. Berdasarkan ramalan hamba, tuanku Putri Gading Cempaka inilah yang dapat menurunkan raja-raja di negeri ini, karena tuan Putri itu sesungguhnya anak daripada Ratu Agung jelmaan Dewa dari Gunung Bungkuk”. Betapa sukacitanya Baginda Maharaja Sakti mendengar uraian dari ahli nujum itu. Maka timbullah hasrat yang amat kuat dalam hati dan pikiran Baginda Maharaja Sakti untuk segera dapat meminang Putri Gading Cempaka. Sebab tatkala itu Baginda Maharaja Sakti memang belum memiliki calon permaisuri yang akan mendampinginya sebagai raja di negeri Bangkahulu.

Menjemput ke Gunung Bungkuk Setelah Baginda Maharaja Sakti mengadakan permufakatan dengan keempat pasirah, serta para menterinya itu, maka diputuskanlah untuk segera mengutus hulubalang menuju Gunung Bungkuk menjemput Putri Gading Cempaka beserta keenam saudara-saudaranya. Keempat pesirah beserta para perowatinnya itupun menjadi penunjuk jalan menuju Gunung Bungkuk. Pada hari yang dianggap baik, berangkatlah utusan dari Baginda Maharaja Sakti menuju Gunung Bungkuk. Tak seberapa lama, keempat pasirah dan segenap perowatin beserta para hulubalang utusan Baginda Maharaja Sakti itupun sampailah di kaki Gunung Bungkuk. Anak Dalam beserta keenam sudaranya yang tinggal di Gunung Bungkuk itu amatlah terkejut melihat dari kejauhan ada serombongan pasukan yang hendak menuju ke tempatnya. Ketujuh saudara itupun menjadi sangat cemas hatinya, dan takut kalau-kalau yang datang itu musuh. Maka segeralah Anak Dalam menyuruh si bungsu Putri Gading Cempaka untuk bersembunyi. Sementara itu Anak Dalam bersama dengan saudara-saudaranya yang lain siap menghadapi para tamunya yang tiada diundang itu. Betapa terkejutnya Anak Dalam beserta saudara-saudaranya itu, tatkala sudah saling berhadapan, ternyata para tamunya itu segera berlutut menghaturkan sembah. “Ampun diperbanyak ampun tuanku, hamba-hamba ini adalah utusan dari tuanku Baginda Maharaja Sakti, raja di negeri Bangkahulu. Adapun kedatangan hamba kemari tiada lain atas titah Baginda untuk menjemput tuanku Putri Gading Cempaka beserta tuan-tuan sekalian, serta hendak mengangkat tuan Putri Gading Cempaka menjadi permaisuri Baginda di negeri Bangkahulu.” Selanjutnya diceritakan bahwa Baginda Maharaja Sakti belum kuasa mendirikan kerajaannya, sebelum dapat bersanding dengan tuan Putri Gading Cempaka untuk mendampingi menjadi permaisurinya. Pasirah yang lain pun ikut melengkapi ceritanya, bahwa tatkala hendak mendirikan Alam Halipan untuk upacara penobatan sang raja, tiba-tiba datang hujan badai yang disertai halilintar yang amat menyeramkan. Bahkan selama tiga malam Baginda telah bermimpi melihat seorang bidadari nan cantik jelita sedang menari-nari ditengah hujan badai. Menurut salah seorang ahli nujum, bidadari nan cantik jelita itu tiada lain adalah tuanku Putri Gading Cempaka. Setelah mendengar penuturan dari salah satu pasirah, maka sangatlah lapang hati Anak Dalam beserta kelima saudara tuanya itu. Anak Dalam pun segera memanggil si bungsu Putri Gading Cempaka keluar dari tempat persembunyiannya. Ketujuh bersaudara itupun kemudian teringat akan pesan dari almarhum ayahnya, bahwa pada suatu waktu, akan datang seorang raja yang akan mengangkat si bungsu untuk menjadikannya permaisuri di kerajaannya. Ketujuh bersaudara iutpun kemudian menyetujui permohonan keempat pasirah utusan Baginda Maharaja Sakti. Maka, segeralah mereka bertujuh itu berkemas diri dengan membawa perbekalan secukupnya. Pad keesokan harinya, berangkatlah ketujuh bersaudara itu diiringi oleh keempat pasirah dan segenap perowatinya beserta hulubalang kembali menuju negeri Bangkahulu.

Berdirinya Kerajaan Sungai Lemau Tak seberapa kemudian sampailah utusan Baginda bersama dengan Putri Gadinga Cempaka dan keenam saudara-saudaranya di negeri Bangkahulu. Baginda Maharaja Sakti segera menyambut para tamunya dengan rasa sukacita. Maka segera dipersiapkan pesta besar-besaran untuk melangsungkan acara perkawinan antara Baginda Maharaja Sakti dengan Putri Gading Cempaka. Pada kesempatan yang sama juga dilangsungkan upacara penobatan sang Baginda Maharaja Sakti menjadi raja di negeri Bangkahulu, sedangkan tuan Putri Gading Cempaka duduk disampingnya menjadi permaisurinya. Tak seberapa lama kemudian, dibangunkannya sebuah istana kerajaan sebagai pusat pemerintahan serta kediaman Baginda dan permaisuri Putri Gading Cempaka. Adapun letak istana kerajaannya di kuala Sungai Lemau. Oleh sebab itu, maka nama kerajaan dari Baginda Maharaja Sakti itu kemudian disebut kerajaan Sungai Lemau. Dibawah pemerintahan Baginda Maharaja Sakti yang didampingi oleh tuanku Putri Gading Cempaka, negeri Sungai Lemau kian lama kian masyhur namanya. Kehidupan rakyatnya semakin bertambah makmur, negerinya amat subur. Padipun mudah menjadi, beras amatlah murah, anak-buahpun semakin berkembang banyak. Adat dengan lembaga berdiri kokoh. Adat yang dipakai , lembaga yang dituang, bak air mengarus hilir, adat mengarus mudik. Mengarut cupak dengan gantang, mengatur ukuran dengan timbangan.

Lahirnya Sang Putra Mahkota Beberapa bulan kemudian, tuan Putri Gading Cempaka itupun sudah mulai menujukkan tanda-tanda kehamilan. Maka tidak lama lagi Baginda dan permaisuri akan segera mendapatkan karunia seorang anak. Setelah bulan berjalan sembilan lebih sepuluh hari, Putri Gading Cempak kemudian melahirkan seorang putra laki-laki. Bukan kepalang girangnya Baginda Maharaja Sakti serta Putri Gading Cempaka setelah mendapatkan putra laki-laki yang mungil dan lucu itu. Maka pada hari yang baik segeralah Baginda Maharaja Sakti mengumpulkan segenap kerabat kerajaan, anak-buah serta para dayang untuk mengadakan upacara selamatan menyambut kelahiran putra mahkota negeri Sungai Lemau itu. Kemudian Baginda Maharaja Sakti memberinya nama : Aria Bago. Demikianlah ceritera Putri Gading Cempaka yang menurunkan raja-raja dinegeri Sungai Lemau.

Di ambil dari (BY: agussetiyantoz)

source:http://www.kemudian.com/node/225932