Tantangan Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia*
avatar

Sejak dipimpin oleh Mari Elka Pangestu pada 19 Oktober 2011, Kementerian Pariwasata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berkiprah mengembangkan ekonomi kreatif Indonesia. Meski terasa masih meraba-raba, pembentukan Kemenparekraf merupakan titik tolak pengembangan ekonomi kreatif yang langsung ditangani lembaga kementerian. Di tataran strategi dan implementasi, terdapat dua koridor utama yang terdiri dari ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya; serta yang berbasis media, desain dan iptek. Selain itu kementerian juga mengembangkan zona kreatif yang berbasis wilayah.

Upaya pengembangan potensi ekonomi kreatif bukanlah kebijakan tanpa dasar. Dalam kajian Kemenparekraf, pada 2008 perkembangannya memberi kontribusi PDB sebesar 7,28% dan mencipta lapangan kerja sebesar 7.686.410. Dalam kurun 2009 s/d 2014, Kemenparekraf memproyeksikan kontribusi sebesar 6 – 10%. Selain kesejahteraan ekonomi, perkembangan ekonomi kreatif juga dianggap mampu memberi dampak sosial berupa peningkatan kualitas hidup dan toleransi sosial. Dua hal yang dibutuhkan oleh negara yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi dan keragaman budaya yang luar biasa.

Dari sisi pelaku sebetulnya ada banyak pencapaian yang membanggakan dari praktisi ekonomi kreatif di Tanah Air. Meski dengan dukungan terbatas ada banyak sekali pelaku yang mengecap reputasi yang diakui secara nasional dan bahkan internasional. Diantara banyak nama yang muncul ke permukaan adalah Christiawan Lie yang terlibat dalam pembuatan film Transformer III, GI Joe, dan Spiderman IV. Selain itu ada Rini Triyani Sugianto yang terlibat dalam pembuatan film animasi The Adventure of Tintin: Secret of The Unicorn, dan The Avengers. Di bidang musik internasionalisasi Indonesia diwakili oleh band cadas Superman Is Dead, Burgerkill, ataupun kelompok Jogja Hip Hop Foundation.

Bila menilik pada sejarah, kiprah Indonesia di kancah internasional sejak lama dirintis oleh para seniman. Pada sekira tahun 1948 s/d 1950, Otto Djaja melancong ke Eropa dan membawa beberapa karya Sudjojono, Affandi serta Hendra Gunawan. Pada tahun 1953 – 1954, Kusnadi mencatat bahwa Affandi pernah diundang berpameran di Sao Paolo dan Venice Biennalle. Di bidang musik, khalayak di Belanda mengenal betul sosok Andy Tielman yang tergabung dalam kelompok The Tielman Brothers. Aksi mereka menghentak publik Eropa hingga band ini dianggap sebagai pionir perkembangan musik rock ‘n’ roll di negara kincir angin pada tahun 1950-an.

Sayang kiprah ini kurang mendapat perhatian dan apresiasi yang semestinya. Ada banyak musisi, seniman, sastrawan, desainer, serta para praktisi ekonomi kreatif yang berjuang di jalan senyap. Pemerintah dan masyarakat seakan abai terhadap karya dan prestasi yang mereka capai. Selain itu, tidak jarang kondisi para pekerja kreatif di Indonesia begitu memprihatinkan saat mereka berada di ambang usia. Kabar baik datang dari generasi muda yang mulai menggali sejarah dan mengapresiasi karya para pelaku yang ada di garda terdepan perkembangan dunia kreativitas Indonesia. Sementara itu, perhatian dari pemerintah seringnya hanya jadi angin lalu saja.

Meski secara formal baru dikembangkan sejak 2009, bagi masyarakat kita ekonomi kreatif bukan barang baru. Sebagai contoh geliatnya di kota Bandung sudah terasa sejak lama. Dengan infrastruktur terbatas, warga kota mengandalkan kreativitas untuk menyambung hidup. Tak heran bila Bandung dikenal sebagai pusat perkembangan musik, seni rupa, desain, dan fesyen di Tanah Air. Ironisnya potensi ini dipandang sebelah mata oleh Pemerintah Kota. Insiden 9 Februari 2008 yang menewaskan 11 anak muda selepas konser musik cadas di Gedung AACC (sekarang Gedung New Mayestik) adalah cermin bahwa energi kreativitas anak muda kota Bandung belum dapat dikelola melalui serangkaian kebijakan dan infrastruktur kota yang baik.

Bandung dinobatkan menjadi percontohan bagi pengembangan kota kreatif pada 2007, namun yang terasa dominan sampai saat ini adalah proses kapitalisasi, gentrifikasi, dan akuisisi usaha oleh pemilik modal besar. Sejak disebut sebagai kota kreatif, identitas kota Bandung yang baru menarik arus investasi dan gairah ekonomi tersendiri. Seiring dengan pembangunan jalan tol Cipularang yang menghubungkan Bandung dengan Jakarta, harga lahan di kota kembang membumbung tinggi. Ongkos produksi semakin mahal. Pelaku ekonomi kreatif kota Bandung yang berbasis UKM cenderung terpinggirkan. Sejauh ini ekonomi kota Bandung memang berkembang pesat, namun persoalan kemiskinan dan masalah lingkungan juga menjadi semakin pelik.

Di era otonomi daerah pemerintah pusat tidak memiliki kewenangan menentukan arah pembangunan daerah. Hal ini menjadi faktor penghambat bagi proses percepatan pengembangan ekonomi kreatif di pelosok. Kebijakan pusat belum secara efektif memberi dampak di daerah dan begitupun sebaliknya. Potensi dan persoalan di daerah tidak dapat langsung direspon pemerintah pusat, sehingga pengembangan ekonomi kreatif serasa berjalan di tempat. Kompleksitas ini ditambah dengan sulitnya melakukan koordinasi diantara kementerian terkait, hingga aparatus negara tergagap-gagap saat melaksanakan kebijakan yang ada.

Dalam kajian tim perumus Komite Pengembangan Ekonomi Kreatif Jawa Barat di 5 wilayah BKPP tahun 2011, terungkap bahwa birokrat di daerah sulit melaksanakan Inpres No. 6/ 2009 yang menjadi dasar kebijakan pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. Tim juga menemukan bahwa potensi ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya merupakan modal dasar yang perlu dikembangkan secara sistematis. Persoalan utama yang dihadapi di daerah adalah masalah modal finasial, infrastruktur, promosi, pemasaran, serta modal pengetahuan yang minim. Hal ini berbanding terbalik dengan potensi yang dimiliki, yang diantaranya adalah keberagaman budaya serta pertumbuhan populasi muda yang luar biasa.

Disparitas pemahaman dan minimnya pengetahuan membuat proses implementasi kebijakan tersendat di tengah jalan meski Inpres No. 6/ 2009 ditujukan kepada segenap lembaga pusat sampai daerah. Provinsi Jawa Barat merespon kondisi ini dengan menerbitkan SK Gubernur No. 500/Kep. 146-Bapp/2012 tentang Komite Pengembangan Ekonomi Kreatif Jawa Barat yang bernaung di bawah Bappeda Jabar. Komite terdiri dari berbagai pemangku kepentingan; mulai dari akademisi, sektor bisnis, pemerintah, serta komunitas. Walau sudah bekerja hampir satu tahun, perkembangan ekonomi kreatif Jawa Barat belum menunjukan kemajuan berarti meski gelagatnya di masyarakat begitu menggebu. Apa yang terjadi di Bandung dan beberapa Kab/Kota Jawa Barat juga terasa di daerah lain walau dengan tekanan yang berbeda.

Dalam menghadapi keterbatasan infrastruktur serta sengkarut birokrasi dan koordinasi kewenangan pemerintah pusat dan daerah, Kemenparekraf merintis program aktivasi Taman Budaya mulai awal 2012. Kebijakan ini secara khusus ditujukan untuk menyediakan ruang ekspresi, apresiasi dan eksperimentasi bagi khalayak, serta merupakan satu dari sekian banyak kebijakan dan program yang telah dikembangkan. Sejak digagas Prof. Dr. Ida Bagus Mantra pada 1978, saat ini Taman Budaya telah dilihat sebagai instrumen strategis untuk mendorong percepatan pengembangan ekonomi kreatif di daerah. Ada sekitar 25 Taman Budaya di 25 Provinsi. Beberapa hampir tak terdengar kiprahnya, meski aktif mengembangkan bermacam kegiatan lengkap dengan kondisi serta persoalan yang beragam.

Diawali dengan melakukan kajian di Aceh, Jawa Barat, Jawa Timur dan Bali, kementerian menggandeng Pemerintah Provinsi untuk mengembangkan program uji coba. Meski proses implementasi kebijakan ini tidak berjalan mulus, ada banyak pihak yang berharap upaya ini jadi terobosan yang berarti bagi masa depan perkembangan ekonomi kreatif yang berbasis kekayaan budaya. Ekonomi kreatif bukan semata soal ekonomi, tapi juga penciptaan nilai yang memanfaatkan akal budi dan pengetahuan. Selain kebijakan yang terpadu, di dalamnya ada peran sains, teknologi, teknik, seni, dan rekayasa. Oleh karena itu pengembangan ekonomi kreatif idealnya adalah sebuah proyek politik dan gerakan kebudayaan yang diharapkan dapat berperan membangun peradaban Bangsa.

Kewirausahaan dan Peradaban Kreatif
avatar

Dunia kini memasuki peradaban gelombang keempat, yang disebut dengan era kreatif. Tiga gelombang sebelumnya, mengutip futurolog Alvin Toffler dalam bukunya Future Shock (1970), adalah era pertanian, era industri, dan era informasi. Adapun penggerak utama pertumbuhan ekonomi sebuah bangsa pada era keempat ini adalah kreativitas dan inovasi. Kedua hal itu menjadi keniscayaan, jika sebuah bangsa ingin bersaing di tengah dinamika ekonomi dunia yang penuh guncangan.

Dalam lima tahun terakhir, misalnya, dunia diguncang oleh rentetan krisis ekonomi. Pada tahun 2007/2008, krisis subprime mortgage terjadi di Amerika Serikat dan mengakibatkan keruntuhan raksasa-raksasa ekonomi seperti Lehman Brothers, Bear Stearns, dan AIG. Kini, krisis ekonomi mengguncang Eropa akibat krisis utang di Yunani, yang mengancam keberlangsungan Zona Euro.

Beruntung dampak krisis global terhadap Indonesia tidak terlalu besar, mengingat pangsa ekspor Indonesia terhadap GDP hanya sekitar 45%. Angka itu jauh berbeda dengan Singapura yang mencapai 377% atau Hong Kong yang mencapai 380% (data riset Standard Chartered Bank). Indonesia juga memiliki ketahanan ekonomi yang kuat dari sisi cadangan devisa, mencapai USD112,2 miliar di akhir Februari 2012.

Kondisi tersebut merupakan momentum yang harus dimanfaatkan, khususnya oleh para wirausahawan yang bergerak di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah. Sebab, ekonomi Indonesia saat ini ditopang oleh konsumsi domestik dan tidak bergantung pada luar negeri.

Menurut catatan Kementerian Koperasi dan UMKM, dalam setahun terakhir terjadi penambahan wirausahawan baru yang luar biasa, sekitar 3,2 juta. Tentu saja kita tidak menginginkan penambahan yang tinggi itu tidak disertai kualitas dan kontinuitas dari usaha yang dilakukan para wirausahawan. Kuncinya adalah inovasi dan kreativitas.

Belakangan ini kita kerap mendengar istilah industri kreatif. Industri ini diartikan sebagai kumpulan aktivitas ekonomi yang terkait dengan penciptaan atau penggunaan pengetahuan dan informasi. Industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan, dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta. Industri kreatif dipandang semakin penting dalam mendukung kesejahteraan dalam perekonomian. Dalam hal ini kreativitas manusia adalah sumber daya ekonomi utama.

Semangat pemerintah untuk mengembangkan ekonomi kreatif, menurut catatan penulis, setidaknya dimulai ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan sambutannya dalam acara pembukaan Pekan Produk Budaya Indonesia pada Juli 2007 silam. Ekonomi kreatif, sebagaimana disampaikan Presiden SBY ketika itu, bersumber dari ide, seni, dan teknologi yang dikelola untuk menciptakan kemakmuran. Penulis juga mencatat beberapa kali seruan Presiden SBY mengenai pentingnya inovasi dan kreativitas bagi dunia industri. Hal tersebut menunjukkan besarnya perhatian pemerintah terhadap ekonomi kreatif. Sampai-sampai ketika melakukan perombakan kabinet pada Oktober 2011 lalu, Presiden SBY mengubah Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia.

Ada sejumlah alasan mengapa perhatian terhadap industri ataupun ekonomi kreatif semakin tinggi. Pertama, besarnya nilai ekonomi kreatif dan pertumbuhannya. Kedua, kemampuan industri ini untuk mentransformasikan sebuah produk industri menjadi karya bernilai tinggi.

Daniel H Pink dalam A Whole New Mind (2005) menjelaskan bahwa ekonomi bergerak dari era informasi ke era konseptual atau desain. Industri tidak dapat lagi bersaing di pasar global semata-mata berdasarkan harga atau kualitas produk, tetapi harus berbasis inovasi, kreasi, dan imajinasi. Maka dalam rangka itu, hal penting yang juga harus ditumbuhkan adalah budaya unggul, agar ada peradaban gelombang keempat ini kita menjadi bangsa yang berdaya saing tinggi.

Kita tidak menginginkan produk-produk karya anak bangsa tidak memiliki nilai jual yang baik, apalagi sampai tidak diterima pasar di dalam negerinya sendiri. Karenanya dari sisi pemerintah penting kiranya untuk mendorong visi pengembangan industri kreatif yang berkelanjutan untuk menunjang ekonomi kreatif Tanah Air. Pemerintah juga mutlak memberikan stimulus-stimulus maupun kebijakan yang mendorong iklim berwirausaha. Program yang diberikan pemerintah bagi sektor UMKM diharapkan tidak hanya bersifat temporer, selain juga harus mampu menumbuhkan kemandirian masyarakat dalam mengelola ekonominya.

Peluang selalu ada. Apalagi seluruh daerah di Indonesia memiliki kekhasannya dan potensinya sendiri. Semua itu harus mampu diubah menjadi industri yang berdaya saing, yang mampu menghadirkan lapangan pekerjaan dan mendorong ekonomi baik pada skala lokal maupun nasional. Jika bisa membuktikan diri sebagai bangsa yang kreatif dan inovatif, niscaya kita akan menjadi pemenang pada gelombang peradaban keempat ini.

Ekonomi Kreatif Berbasis Kebudayaan
avatar

Perkembangan ekonomi kreatif di masing-masing  negara dibangun kompetensinya sesuai dengan kemampuan yang ada pada negara tersebut. Terdapat beberapa arah pengembangan industri kreatif yang lebih menitikberatkan pada industri berbasis:

(1) lapangan usaha kreatif dan budaya (creative cultural industry);

(2) lapangan usaha kreatif (creative industry), atau

(3) Hak Kekayaan Intelektual seperti hak cipta (copyright industry).

Disamping itu, ekonomi kreatif menurut New England Foundation of the Arts (NEFA): ”represented by the ‘cultural core.’ It includes occupations and industries that focus on the production and distribution of cultural goods, services and intellectual property”. Represente by the “cultural core” itu artinya kurang lebih seperti ini : Ini mencakup Pekerjaan dan Industrinya lalu hal tersebut fokus dan mengarah pada produksi dan distribusi produk budaya, produk jasa dan kekayaan intelektual.

Tentunya merupakan pertanyaan penting antara hubungan keduanya, bagaimana budaya dapat berkembang sejalan dengan penerapan ekonomi kreatif. Semakin pentingnya peran ekonomi kreatif dalam perekonomian nasional serta karakteristik Indonesia yang terkenal dengan keragaman sosio-budaya yang tersebar di seluruh pelosok nusantara tentunya dapat menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah kering dalam melakukan pengembangan industri kreatif. Keragaman yang dicirikan pula oleh kearifan lokal masyarakat setempat dalam menjaga kelestarian budaya telah berlangsung antar generasi.

Daniel Pink dalam bukunya,”The Whole New Mind” (2006) menjelaskan bahwa sektor kreatif yang dikembangkan di negara maju sulit ditiru oleh negara lainnya karena lebih menekankan kemampuan spesifik yang melibatkan kreativitas, keahlian dan bakat; seperti aspek art (seni), beauty (keindahan), design (desain), play (permainan), story (cerita atau penuturan), humor (humor), symphony (simponi), caring (kepedulian), empathy (empati) dan meaning (pemaknaan)

Hal ini menunjukkan bahwa kualitas SDM yang diperlukan adalah manusia yang berkarakter dan kreatif. Di dukung pula Richard Florida yang mengklasifikasikan industri kreatif bernuansa akademik (sekolah, kampus-kampus atau universitas), berorientasi teknologi (tech-pole), bernuansa artistik (bohemian), pendatang (imigran/keturunan etnis tertentu), disamping itu Florida menekankan pula 3T (Talent (Bakat), Tolerance (Toleransi) and Technologx (Teknologi)).

Lalu, bagaimana dengan kondisi Indonesia yang memiliki peninggalan warisan budaya yang beragam dari sabang hingga merauke? Warisan budaya yang kita miliki didalamnya pun memiliki banyak nilai kreatifitas yang menekankan pada aspek art, beauty, social, empathy, ceremony, dll. Keragaman budaya tersebut menandakan tingginya kreatifitas yang telah tertanam dalam masyarakat Indonesia yang mencirikan keahlian spesifik dan talenta yang dimiliki. Keragaman budaya tersebut didukung pula oleh keragaman etnis dalam masyarakat Indonesia. Indonesia pun memiliki beragam bahasa yang dipersatukan oleh bahasa Indonesia. Keragaman tersebut dapat hidup berdampingan karena tingginya toleransi yang dimiliki. Secara keseluruhan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki faktor pendukung yang powerfull dalam melakukan pengembangan ekonomi kreatif.

Budaya atau kebudayaan, umumnya diasosiasikan dengan keseniaan seperti seni musik, seni tari, seni lukis, dll, atau sering diasosiakan pula dengan kebiasaan yang berlaku di suatu masyarakat.

Namun, asosiasi tersebut merupakan unsur pembentuk kebudayaan yang justru mempersempit makna kebudayaan itu sendiri. Definisi kebudayaan memiliki makna yang lebih luas.

Kebudayaan yaitu suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Clifford Geertz menekankan kebudayaan sebagai sekumpulan ide dan proses kreatif dari akal budi yang diwariskan kemudian mewarnai kehidupan sebuah kemasyarakatan. Walaupun definisinya berbeda-beda namun terdapat kesamaan yaitu ciptaan manusia sesuai dengan peradabannya. Dimana, Peradaban menciptakan kebudayaan, kemudian kebudayaan menciptakan perangai manusia. Begitupula sebaliknya, manusia menciptakan kebudayaan dan kebudayaan pada akhirnya membentuk peradaban itu sendiri.

Budaya terbentuk dari berbagai unsur yang rumit didalamnya, termasuk sistem agama, politik, adat-istiadat, bahasa, perkakas/teknologi, pakaian, bangunan serta karya seni. Bahasa dan Budaya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap diri manusia sehingga sering dianggap sebagai warisan genetis. Budaya merupakan pola hidup menyeluruh, bersifat kompleks, abstrak serta luas yang  terpolarisasi dalam suatu citra yang khas. Citra yang memaksa itu mengambil bentuk yang berbeda dalam berbagai budaya seperti individualisme di Amerika, keselarasan individu dengan alam di Jepang dan kepatuhan kolektif di Cina. Citra budaya yang bersifat memaksa membekali orang didalamnya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat digunakan oleh orang-orang untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.

Wujud dari suatu kebudayaan menurut Hoenigman yaitu gagasan, aktifitas dan artefak. Wujud ideal kebudayaan adalah kumpulan ide, gagasan, nilai dan sebagainya yang bersifat abstrak, tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan itu terletak di dalam kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat yang terwujud dalam aktifitas dan tindakan berpola dari masyarakat. Sedangkan, wujud fisiknya berupa artefak dari hasil akfitas, perbuatan dan karya yang dapat diraba, dilihat dan didokumentasikan. Dalam kenyataannya, wujud kebudayaan yang satu tidak dapat dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain.

Wujud kebudayaan daerah yang tersebar tersebut yaitu Rumah Adat, tarian, musik, alat musik, gambar, patung, pakaian, suara, satra/tulisan dan makanan. Dimana wujud kebudayaan tersebut mencirikan kreatifitas yang tertanam di dalamnya sdrta didukung oleh lingkungan kreatifitas yang berlangsung antar generasi. Bila perkembangan industri kreatif memiliki basis kebudayaan tentu akan menjadi sumber inpirasi terus-menerus. Ke-14 subsektor industri kreatif (periklanan; arsitektur; pasar dan barang seni; kerajinan; desain; fesyen; film, video ; fotografi; permainan interaktif; musik; seni pertunjukan; penerbitan; percetakan; layanan komputer dan piranti lunak; televisi dan radio; riset; pengembangan) dapat dikembangkan dengan keragaman budaya yang ada serta saling mendukung karena faktor pendukung yang telah tercipta dalam kebudayaan.

Berbagai usaha pemanfaatan warisan budaya tradisional, selain dapat melestarikannya juga menjadi kebanggaan terhadap identitas Bangsa. Disamping itu, diperlukan pula pemanfaatan teknologi informasi yang tepat guna sebagai faktor pendukung yang tak kalah penting. Perkembangan teknologi informasi yang cepat belakangan ini merupakan peluang dalam melakukan sintesis terhadap kebudayaan. Sehingga perkembangan ekonomi kreatif akan menjadi kekuatan yang mengakar karena didukung kebudayaan dan perkembangan teknologi informasi.

Peran Pemerintah Dalam Industri Kreatif dan Ekonomi Kreatif
avatar

Beberapa negara kekuatan baru seperti China dan India memiliki basis ekonomi yang lebih mapan dibanding Indonesia. Seperti kita ketahui bersama bahwa kemajuan industri dan ekonomi di kedua negara itu selama beberapa tahun terakhir terbilang sangat pesat. Investasi perusahaan multinasional tersebar di kedua negara itu, mulai dari perusahan sekelas Microsoft, Dell, Lenovo, maupun perusahaan dan usaha turunannya menjadikan tempat itu sebagai surga investasinya. Dengan demikian investasi yang tertanam itu juga memerlukan dukungan sektor jasa informasi lainnya yang mengikuti, seperti: animasi, desainer, TI, konsultan, dsb. Selain bidang ekonomi yang berkembang cukup pesat, efisien, dan kondusif, sektor jasa dan informasi menjadikan kedua negara tersebut dapat menghindari krisis. Dengan kata lain, industri dan ekonomi kreatif di China dan India merupakan salah satu bukti bahwa bidang ini (industri dan ekonomi kreatif) di kedua negara itu merupakan industri yang antikrisis.

China telah berhasil membuat model pembangunan yang berciri state-led. Dimulai dari Kota Shenzhen yang awalnya merupakan daerah/desa nelayan, dengan adanya kapitalisme dan memasukkan sistem pasar pada daerah “zona ekonomi khusus” itu, Shenzhen saat ini menjelma menjadi model pembangunan China (selain Shanghai yang dianggap sebagai ikon keberhasilan pembangunan China). Sehingga tidak mengherankan jika banyak yang berpendapat bahwa keberhasilan reformasi dan ekonomi di China dikarenakan sistem kapitalisme. Padahal, sistem tersebut merupakan salah satu dari banyak faktor keberhasilan reformasi di China.

Faktor lain yang menentukan keberhasilan pembangunan di China antara lain: pendidikan, sistem kesejahteraan sosial, serta arah kebijakan yang mendukung (konstruktif) bagi segenap rakyatnya seperti dalam hal peningkatan kualitas hidup, penyediaan pelayanan kesehatan, perumahan, listrik, serta air yang bagus dan murah bagi rakyatnya. Ironi jika dibandingkan dengan Indonesia, yang semakin hari semakin sulit bagi rakyat untuk mendapatkan semua itu. Demikian juga dengan India. Dengan pendidikan dan keterampilan spesifik yang diinvestasikan oleh pemerintah India, negara tersebut berhasil mengurangi banyak pengangguran dan menjadikan negara Bollywood tersebut sebagai negara yang berhasil mengimplementasikan industri dan ekonomi kreatif sebagai penopang pembangunan nasional mereka. Pada dewasa ini, banyak ilmuwan dan tenaga kerja bidang TI, jasa, desain, konsultan yang tumbuh dan berkembang di India. Benang merah keberhasilan China dan India pada dasarnya terletak pada bagaimana reformasi yang mereka lakukan pada bidang pendidikan. Lebih spesifik lagi, kemajuan bidang pendidikan tersebut didukung dengan mengarahkan bidang pendidikan pada sektor yang sedang trend dan berkembang, seperti dalam bidang industri dan ekonomi kreatif.

Industri kreatif memiliki beberapa karakteristik, diantaranya:

  1. Kreatifitas sebagai asset.
  2. Kebebasan adalah prakondisi bagi kemungkinan berkembangnya kreatifitas.
  3. Dampak berkembangnya kreatifitas tidak saja dalam bidang ekonomi, tetapi juga social politik budaya.
  4. Perubahan gaya hidup memengaruhi perubahan dunia kini.
  5. Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dapat mendorong berkembangnya ekonomi kreatif.
  6. Bidang industri kreatif: dunia grafis, fotografi, ilustrasi, seni, desainer grafis, dll.
  7. Charles Landry dalam The Creative City (2000) menyebutkan bahwa Inggris adalah pelopor dalam industri kreatif.
  8. Faktor-faktor yang menjadi penggerak ekonomi kreatif (selain factor yang bersifat personal dan kolektif, dibutuhkan lingkungan yang stimulatif, aman, dan bebas dari gangguan dan kecemasan):

a. Faktor konkret: tersedianya institusi pendidikan yang memadai.

b. Faktor lain (aspek-aspek yang lebih tak teraba): sistem nilai, gaya hidup, serta bagaimana seseorang mengidentifikasi diri dengan kotanya.

Salah satu sektor industri kreatif yakni desain grafis. Lebih sempit lagi bidang animasi. Merujuk pada tujuh program/agenda nasional 2009 ini, pemerintah mencanangkan tahun 2009 sebagai Tahun Indonesia Kreatif 2009. Krisis yang menerpa Asia pada 1998 dan ancaman ekonomi global pada tahun ini sebenarnya justru menjadi peluang bagi penggerak sektor ekonomi kreatif. Mengutip pendapat Mira Lesmana, produser beberapa film laris tanah air, bahwa sepanjang sejarah dunia, industri perfilman selalu berkembang pada saat krisis. Kebutuhan orang mencari hiburan tidak akan berkurang. (Kompas, 31 Desember 2008)

Sebagai salah satu contoh kegiatan ekonomi kreatif, perfilman selama tahun 2008 ini berkembang sangat pesat. Bahkan menurut Kompas (31 Desember 2008), pangsa film Indonesia berhasil merebut 58% penonton bioskop tanah air. Artinya sebuah peluang yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Bukan saja bagi pemilik modal, namun juga bagi seluruh komponen yang terlibat di dalamnya, seperti: sekolah perfilman, kru film, industri bioskop, pusat belanja, media, entertainment, penerbitan, juga bidang yang lainnya.

Jenis kegiatan ekonomi/industri kreatif lainnya yakni pemasaran melalui internet (online). Penjualan, promosi, dan transaksi melalui media internet merupakan teknik yang berkembang cukup maju semenjak booming internet melanda dunia. Di China, menurut Kompas (31 Desember 2008), terdapat sekitar 200 juta penduduknya diperkirakan sudah paham mengenai tekni promosi lewat internet. Adapaun di Indonenesia, baru sekitar 25 juta orang paham tentang internet. Padahal bisnis melalui internet ini menjanjikan dan menawarkan alternatif wirausaha lainnya selain secara konvensional dengan berbagai keuntungan. Misalnya: tidak terikat waktu, biaya lebih murah, melibatkan keterlibatan (aksesibilitasnya luas), masiv, cepat, serta melibatkan banyak sumber daya manusia dari teknisi, supplier, divisi kreatif, desainer, information broker, dan lain sebagainya.

Krisis global 2009 menjanjikan ancaman yang serius bagi jalannya pembangunan nasional. Tidak terkecuali dengan yang dihadapi oleh Indonesia. Namun, krisis sebenarnya juga selalu menandai momentum untuk menjadikan potensi ekonomi domerstik (lokal) sebagai tumpuan pertumbuhan. Indonesia bukan saja kaya dengan sumber daya alam (SDA), namun juga dilimpahi dengan keragaman latar belakang sosial budaya. Dari hal inilah dapat kita gali ide kreatif yang tidak terbatas. Ekonomi kreatif didasarkan pada pengolahan atas ide, kreativitas, dan keterampilan individual untuk mengembangkan perekonomian berkelanjutan. Kompas mencatat terdapat 14 subsektor yang dapat diidentifikasi sebagai industri kreatif, diantaranya:

a. Periklanan,

b. Arsitektur,

c. Kerajinan,

d. Desain,

e. Fashion,

f. Film,

g. Musik,

h. Seni pertunjukan,

i. Percetakan,

j. Penerbitan,

k. Radio,

l. Serta Televisi. Kompas (31 Desember 2008),

14 subsektor industri kreatif (yang tumbuh dari usaha berskala kecil yang hampir semuanya dimotori oleh orang muda) yang berkembang di Indonesia tersebut, diperkirakan mampu menyerap 5,4 juta tenaga kerja dengan kontribusi terhadap perekonomian mencapai sekitar Rp 112 triliun pada 2007. Kompas (31 Desember 2008). Jumlah tersebut cenderung meningkat tiap tahun dan selalu diikuti dengan berkembangnya ide-ide baru dan jenis-jenis usaha kreatif baru lainnya. Seperti munculnya distro, animasi lokal, dan masih banyak lagi yang lainnya. Mengingat sumbangan yang cukup signifikan dalam menopang pendapatan nasional dan pembangunan nasional, seyogyanya pemerintah dengan bekerjasama dengan dunia usaha, dan kalangan terdidik lainnya perlu bekerjasama lebih erat untuk membangun iklim kondusif bagi pengembangan ekonomi kreatif. Kerjasama dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan memastikan penguasaan kemampuan kreatif itu semakin luas.

Pemerintah diminta mendukung dan merealisasikan cetak biru pengembangan ekonomi kreatif yang baru saja selesai disusun sampai dengan tahun pencapaian 2025. Pemerintah juga diharapkan tidak saja sibuk dengan penyusunan konsep saja, namun diharap turut membantu penyelesaian persoalan riil yang belum tersentuh dengan berbagai regulasi yang mendukung. Pengembangan industri kreatif juga memerlukan iklim lebih kondusif terkait Hak atas Kekayaan Inteletual (HaKI) dan fasilitas ruang publik. Pengenalan dan apresiasi terhadap warisan budaya, insan kreatif, dan produk-produk kreatif juga perlu diperluas, selain itu juga diperlukan penyediaan dan perbaikan infrastruktur teknologi dan komunikasi sebagai salah satu pendukung berkembangnya industri ekonomi kreatif ini. Dukungan lainnya bisa berupa permodalan, baik dari lembaga perbankan maupun non-perbankan bagi para pelaku industri kreatif ini.

 

Indonesia dalam Menghadapi Era Baru Ekonomi Kreatif
avatar

Sejarah aktivitas ekonomi dunia mulai tergambarkan sejak meletusnya revolusi industri di Inggris antara tahun 1750-1850 masehi. Revolusi Industri yang identik dengan nama James Watt sebagai salah seorang tokoh inti dari revolusi ini kemudian pada kemajuan berikutnya menyebar ke Eropa barat, Amerika Utara, Jepang dan sampai ke seluruh dunia. Sebelum era Industri, aktivitas ekonomi masyarakat dunia masih sangat bergantung pada produk-produk pertanian yang di olah oleh tenaga manusia.

Sekarang, jauh 164 tahun setelah revolusi industri lahir di Inggris, dunia masuk ke dalam era aktivitas ekonomi yang sangat jauh berbeda, bahkan dunia sedang beranjak ke dalam era ekonomi yang benar-benar baru. Namun, tidak banyak yang menyadari ini dan terus-menerus berkutat pada aktivitas ekonomi konvensional.

Disadari ataupun tidak, Indonesia kini masih berada di dalam abad informasi. Lihat saja tren yang sedang menjamur saat ini. Toko online dimana-mana, kota-kota tercerewet di Twitter sedunia, wifi di mana-mana, video-video lucu terpopuler di Youtube hingga hacker Indonesia. Sedikit banyak cara baru aktivitas ekonomi semacam ini telah membantu kaki Indonesia berdiri kembali setelah di tekel oleh krisis moneter pada 1998 silam.

Abad informasi memang benar-benar gila. Ia telah membantu serta bertanggungjawab mengubah wajah dunia di abad ke-21 masehi ini. Salah satu bukti paling anyar kekuatan budaya informasi di abad ini adalah bagaimana internet dan situs jejaring sosial telah mampu menumbangkan pemimpin-pemimpin diktator di Timur Tengah dan mengubah wajah wilayah tersebut selamanya dan terkenang dalam satu peristiwa sejarah berjuluk: Arab Spring. Istilah yang mengatakan bahwa Mereka yang berkuasa di dalam zaman ini adalah orang-orang yang mengontrol aliran informasi.

Era Ekonomi Kreatif

Namun dua era yang tersebutkan diatas sedang bergeser menuju era baru yang lebih dinamis, setidaknya dalam dua dekade terakhir ini.

Kreativitas akan menjadi aktivitas ekonomi mendatang, menggantikan fokus kini pada informasi. Menurut sejarah, agrikultur, perindustrian produksi, dan informasi adalah merupakan hal yang dominan dalam aktivitas ekonomi manusia. Prediksinya menempatkan kreativitas dalam paradigma kategori historis yang membentuk sejarah ekonomi manusia dari sejak permulaan waktu. Maka, seperti halnya revolusi industri menggantikan agrikultur sebagai aktivitas ekonomi dominan, kreativitas pun akan menggantikan abad informasi sebagai fokus dominan ekonomi global (Nomura Research Center).

Era ekonomi kreatif atau akan lebih tepat jika kita katakan konsepnya didefinisikan dan dibukukan berawal pada penerapan kebijakan publik di Australia pada tahun 1994 (Potts and Cunningham, 2008). Kemudian konsep ini berangsur-angsur menyebar hingga ke Inggris di akhir tahun 1990 – an khususnya saat Partai Buruh yang saat itu baru saja merebut tampuk pemerintahan mendirikan Departemen Kebudayaan, Media dan Olahraga (United Kingdom The Department for Culture, Media & Sport)[5]. Inggris kemudian mulai mencanangkan sektor ekonomi khusus bagi industri kreatif dan mulai menyadarinya sebagai salah satu dari pemain penting yang mampu meningkatkan pertumbuhan GDP (Produk Domestik Bruto). Hal ini juga didukung dengan menjamurnya media digital, perangkat lunak komputer serta industri video game. (Garnham, 2005)[6].

Ekonomi kreatif sendiri di definisikan dalam beberapa poin berikut:

  • Ekonomi Kreatif adalah konsep yang berkembang berdasarkan aset kreatif yang berpotensi membantu pertumbuhan ekonomi.
  • Ekonomi kreatif mampu meningkatkan pemasukan bagi masyarakat, menciptakan lapangan pekerjaan dan nilai ekonomi yang berasal dari kegiatan ekspor yang dalam waktu bersamaan juga membantu mempromosikan keragaman sosial-budaya serta mengembangkan sumber daya manusia.
  • Kemudian Ekonomi Kreatif juga mampu menguatkan aspek-aspek ekonomi, kebudayaan dan sosial yang mampu berinteraksi baik dengan teknologi, kegiatan intelektual serta tujuan pariwisata.
  • Ekonomi kreatif merupakan aktivitas ekonomi berbasis ilmu pengetahuan (knowledge-based economy) dengan dimensi pengembangan hubungan lintas sektoral baik di level makro maupun mikro di dalam aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
  • Di jantung ekonomi kreatif terdapat industri kreatif.

Di Indonesia sendiri, ekonomi kreatif pernah menyelamatkan ekonomi Indonesia dari keterpurukan saat krisis moneter 1998. Dan peran itu dimainkan oleh Usaha Kecil Menengah (Hew, Denis dan Loi Wee Nee, 2004)[8].

Salah satu karakteristik pelaku ekonomi kreatif adalah pembentukannya yang dikerjakan oleh tim yang terdiri dari lebih dari 1 orang. Maka tak heran jika orang-orang seperti James Watt, Thomas Alva Edison, Pablo Picasso, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Pythagoras, Al-Khawarizmi, Albert Einstein, hingga B.J. Habibie, tidak berlaku lagi di zaman ini. Zaman ini memperkenalkan nama-nama baru yang terhimpun dalam satu tim yang mampu mengubah dunia. Diantara tim-tim tersebut berturut-turut ada Larry Page dan Sergey brin (Google.com), Steve Jobs dan Steve Wozniak (Apple.inc), Chad Hurley dan Jawed Karim serta Steve Chen (Youtube.com).

Kekuatan seorang jenius memang masih menunjukkan tajinya di zaman modern ini. Namun, kekuatan itu dapat bertambah berkali lipat jika digabungkan didalam satu tim, dan hal tersebut sebaiknya mulai diperhatikan oleh mereka yang ingin menjadi pemenang dalam kekuasaan ekonomi. Hargadon dan Bechky (2006) melakukan riset terhadap 6 orang profesional yang bekerja pada perusahaan jasa untuk mengetahui “proses kreatif”. Mereka meyimpulkan ada empat pola kebiasaan saling terhubung yang tidak dimiliki oleh mereka yang bekerja secara individu, yaitu : (1) saling membantu, (2) saling memberi, (3) saling memberi saran dalam melihat dari sudut pandang yang berbeda-beda dan saling berdiskusi untuk memecahkan masalah dalam tim, serta (4) saling menguatkan[9].

Peluang Indonesia dalam Persaingan Ekonomi Kreatif Dunia

Lalu bagaimana Indonesia memposisikan dirinya sebagai salah satu negara tujuan dan penghasil produk-produk ekonomi kreatif terbaik di dunia bersaing dengan negara-negara maju. Indonesia masih memiliki peluang yang sangat besar ke arah itu.

Mari melihat beberapa fakta yang dikemukakan oleh McKinsey Global Institute[10]:

  • Indonesia hari ini menduduki kekuatan ekonomi peringkat 16 di dunia dan kuat kemungkinan akan duduk manis di peringkat tujuh ekonomi terkuat di dunia pada tahun 2030.
  • Indonesia hari ini memiliki kurang lebih 45 juta konsumen aktif dan akan bertambah menjadi 135 juta pada tahun 2030.
  • Indonesia memiliki populasi anak muda yang tumbuh cepat di daerah urban, faktor ini memberi kekuatan tersendiri untuk meningkatkan pemasukan negara.
  • Mulai dari saat ini sampai tahun 2030 nanti, Indonesia akan menjadi tuan rumah bagi 90 juta calon pelaku konsumen tambahan yang mempunyai potensi daya beli yang cukup besar.
  • Pertumbuhan masyarakat kelas konsumen ini lebih kuat dibandingkan dengan kekuatan ekonomi dunia lainnya yang sedang berkembang selain China dan India. Tentunya ini menjadi sinyal kepada pebisnis dan investor tingkat dunia untuk mempertimbangkan diri berinvestasi di Indonesia.

Fakta di atas tentu memberi peluang yang sangat besar bagi para pelaku ekonomi kreatif di Indonesia untuk menggaet konsumen potensialnya yang berasal dari “masyarakat kaya baru” yang kebutuhannya akan kebutuhan sandang-pangan serta kebutuhan primer, sekunder, dan tersiernya semakin meningkat permintaannya. Namun hal tersebut juga bisa menjadi bumerang tatkala pemerintah Indonesia tidak menggenjot dan mendukung kegiatan ekonomi kreatif di Indonesia sehingga ditakutkan konsumen potensial ini akan dipikat oleh produk-produk kreatif dari luar negeri dan pada akhirnya kita hanya menjadi bangsa konsumen seperti yang kita alami selama ini.

Pemerintah Indonesia sendiri telah memberi andil besar terhadap babak baru dimulainya aktivitas ekonomi kreatif Indonesia yang gencar. Ditandai dengan pembentukan Indonesia Design Power 2006, yang bertujuan untuk menempatkan produk Indonesia menjadi produk yang dapat diterima di pasar internasional namun tetap memiliki karakter nasional.

 Kemudian keseriusan Pemerintah Indonesia dalam mengembangkan ekonomi kreatif dilanjutkan pula dengan keluarnya Inpres No. 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif. Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 92 Tahun 2011 pada 21 Desember 2011,  yang berisi amanah pembentukan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan visi untuk mewujudkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat Indonesia dengan menggerakkan kepariwisataan dan ekonomi kreatif.

Namun selain itu, pemerintah Indonesia sedianya juga memperhatikan teori Creative Capital-nya. Seorang ahli ekonomi kreatif Amerika bernama Richard Florida, dalam teorinya mengatakan bahwa pelaku industri ekonomi kreatif sejatinya merupakan para juara yang menguasai ekonomi negara. Teorinya lebih lanjut menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu daerah terangkum dalam 3T, yaitu Talent, Technology dan Tolerance.

  • T yang pertama, Talent adalah faktor apakah yang melihat persentase penduduk sebuah daerah yang memiliki gelar sarjana atau gelar lain yang lebih dari itu.
  • Sementara dalam penilaian Technology, ada dua indeks yang digunakan yaitu Innovation Index dan High Technology Index. Kedua indeks tersebut masing-masing melihat kekuatan inovasi kelompok masyarakat dalam suatu daerah dan ketersediaan perangkat teknologi industri seperti software, alat-alat elektronik dan lain sebagainya.
  • Sedangkan penilaian Tolerance di ukur dengan keragaman penduduk, termasuk juga bagaimana sikap terbuka penduduk daerah tersebut terhadap imigran dari negara lain yang nantinya akan menjadi pemain baru dalam pertumbuhan ekonomi di dalam wilayah tujuan Mereka.

 

Harapan

Masyarakat Indonesia selama ini disuguhkan dengan citra nusantara yang sumber daya alamnya dikeruk semena-mena oleh perusahaan-perusahaan asing. Hal ini tidak terlepas juga dari lemahnya kepemimpinan penguasa di negeri ini serta lemahnya kesadaran masyarakat akibat dari pendidikan yang juga rendah.

Indonesia telah memasuki babak baru yang disebut dengan era pasca reformasi dalam urutan sejarah bangsa ini. Di era ini kita bebas berbuat apa saja dan berkreasi semau kita tanpa ada yang perlu ditakutkan dan ada yang membungkam. Maka di era inilah kita seharusnya bangkit dan menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa maju dengan kemajuan ekonomi dan pendidikan yang merata. Dengan instrumen-instrumen yang sudah dijelaskan di atas, maka sekali lagi pemerintah dan yang lebih penting kepada masyarakat untuk menyadari bahwa dunia sedang bergerak ke zaman yang benar-benar berbeda dengan apa yang pernah nenek moyang, ayah ibu kita rasakan. Ini adalah era ekonomi industri kreatif, mau jualan beras atau pamer teknologi?

INDUSTRI KREATIF DAN EKONOMI SOSIAL DI INDONESIA: PERMASALAHAN DAN USULAN SOLUSI DALAM MENGHADAPI TANTANGAN GLOBAL
avatar

Dalam lima belas tahun terakhir, Indonesia menjadi sasaran market bagi produk- produk kreatif turunan dari industri kreatif inti mancanegara yang meliputi komik, animasi dan game. Indonesia pun melakukan hal yang sama, yang berusaha menjual produk lokalnya ke mancanegara tetapi tanpa melibatkan industri kreatif ini, yang sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai motor dari branding dan marketing produk-produk turunan lainnya. Abad ke-21 sering disebut era ekonomi kreatif, hal ini terlihat dari keberadaan ilmu pengetahuan dan ide sebagai motor dalam perkembangan ekonominya. Indonesia telah gagal berkompetisi dengan Negara lain di era ekonomi industri ini sehingga banyak sumber daya alam Indonesia yang pada akhirnya dikuasai pihak asing. Ada dua Negara yang berpengaruh signifikan dari sektor industri kreatif, yaitu Inggris dan Jepang, walaupun keduanya memiliki fokus kreatif yang sangat berbeda. Indonesia mengadopsi konsep ekonomi kreatif dari Inggris, yang sangat berbeda dengan industri kreatif yang sudah berkembang. Hal ini dapat menimbulkan permasalahan baru, yaitu tidak semua industri kreatif di Indonesia dapat diwadahi dan dikembangkan. Beberapa kendala yang dihadapi pelaku industri kreatif di Indonesia:

1. Sumber Daya Manusia

2. Jalur Distribusi

3. Preferensi Perusahaan Lokal dan Agency

4. Regulasi

5. Pendanaan Industri Kreatif di Barbagai Negara.

 tiga negara dengan industri ekonomi kreatif yang sudah maju, yaitu Jepang, Korea dan Inggris. 1. Cool Japan Industri kreatif di Jepang bangkit dari konten original seperti manga, animasi, game, dan pop culture dengan dukungan struktur pendanaan dari pemerintah, perusahaan besar, keluarga konglomerat dan investor lokal. Industri kreatif di Jepang telah menembus pasar internasional, terutama di Eropa dan Amerika khususnya di kalangan generasi mudanya, dikenal dengan fenomena Cool Japan. Fenomena lain dapat dilihat dengan diraihnya penghargaan untuk beberapa film animasi Jepang (anime) di kelas internasional, seperti Pokemon dan Hello Kitty. Bagaimana dengan sepak terjang Jepang di Inonesia? Sekarang ini semakin banyak perusahaan Jepang yang mendirikan cabang atau perwakilannya di Indonesia. Event-event berskala nasional bertemakan Jepang pun diadakan di Indonesia setiap tahunnya, dan hal itu berbanding terbalik dengan Indonesia yang tidak bisa melakukan ekspansi market terhadap Jepang. 2. Korean Wave Perkembangan industri kreatif di Korea berawal dari industri perfilman dan telah berkembang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir ini. Korean Wave ini terdiri dari drama, musik (K-Pop), film, komik (Manhua), game dan animasi, yang kemudian diikuti oleh masuknya tren, bahasa, makanan, dan berbagai macam produk korea lainnya. Korean Wave telah menjadi soft power dan strategi awal diterimanya produk-produk Korea lainnya di berbagai belahan dunia. Perkembangan industri kreatif Korea bukanlah suatu hal yang mudah dicapai. Dukungan dari pemerintah yang mengajak perusahaan-perusahaan besar, konglomerat- konglomerat Korea-lah yang ikut membantu pengembangan industri kreatif Korea seperti saat ini. Derasnya arus Korean Wave ini diikuti semakin populernya produk turunan lain negeri itu seperti fashion, aksesoris, produk kecantikan dan makana, bahkan menjadi bagian dari kebutuhan hidup saat ini, terutama di kalangan muda Indonesia. 3. UK Creative Industry Pada akhir tahun 1990-an, United Kingdom (Ingris) mulai mengembangkan industri kreatif sebagai bagian dari strategi brand nasionalnya. Departemen untuk kebudayaan, media dan olahraga merencanakan sebanyak 13 industri sebagai sektor industri kreatif Inggris, dimana industri periklanan, arsitektur, desain, video, TV, radio, dan fotografi termasuk di dalamnya. Industri kreatif di Inggris yang menghasilkan beberapa IP (Intelectual Property) diantaranya: Jaguar Land Power (Mobil hemat energi), Dyson (Penyedot debu hemat energi), Plumen (Bohlam hemat energi), Gumdrop (Karet dari permen karet), dan lain-lain. Indonesia dengan segala potensi budaya, pariwisata dan peluang market-nya menjadi sebuah fenomena yang unik. Di satu sisi banyak sumber daya manusia yang berpotensi yang sudah teruji di dunia internasional, namun di sisi lain seolah-olah industri kreatif di dalam negeri mandul, hidup dan berkembang 9% per tahun akan tetapi tidak menghasilkan karya, sehingga tidak menghasilkan nilai ekonomi dan nilai estetika baru. Sebenarnya Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam membangkitkan perekonomian nasional, jika pemerintah memberikan dukungan kepada industri kreatif dalam negeri seperti, komik, animasi dan game. Bahkan dari semua studi kasus industri kreatif di Jepang, Korea, Cina, Malaysia dan Thailand menjelaskan pentingnya peranan pemerintah dalam menentukan nasib industri kreatif di Negara mereka masing-masing. Lima hal penting dalam mewujudkan industri kreatif agar bisa menjadi motor utama bagi kebangkitan ekonomi di Indonesia, antara lain:

1. Perubahan paradigma dan strategi industri kreatif

2. Inkubasi industri kreatif

3. Regulasi

4. Pembentukan roadmap industri kreatif