Pariwisata dan Permasalahannya
avatar

  1. Konsep Pariwisata

Pengertian pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain bersifat sementara, dilakukan perorangan atau kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam, dan ilmu. Selanjutnya menurut Musanef  mengartikan pariwisata sebagai suatu perjalanan yang dilaksanakan untuk sementara waktu, yang dilakukan dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menikmati perjalanan bertamasya dan berekreasi.

Menurut Yoeti pariwisata harus memenuhi 4 kriteria yaitu:

  1. perjalanan dilakukan dari suatu tempat ke tempat lain, perjalanan dilakukan di luar tempat kediaman di mana orang itu biasanya tinggal;
  2. tujuan perjalanan dilakukan semata-mata untuk bersenang-senang, tanpa mencari nafkah di negara, kota atau DTW yang dikunjungi.
  3. uang yang dibelanjakan wisatawan tersebut dibawa dari negara asalnya, di mana dia bisa tinggal atau berdiam, dan bukan diperoleh karena hasil usaha selama dalam perjalanan wisata yang dilakukan; dan
  4.  perjalanan dilakukan minimal 24 jam atau lebih.

Dalam pengertian kepariwisataan terdapat 4 faktor yang harus ada dalam batasan suatu definisi pariwisata. Faktor-faktor tersebut adalah perjalanan itu dilakukan dari satu tempat ke tempat lain, perjalanan itu harus dikaitkan dengan orang-orang yang melakukan perjalanan wisata semata-mata sebagai pengunjung tempat wisata tersebut.

  1. Strategi Pengembangan Pariwisata

Strategi pada prinsipnya berkaitan dengan persoalan: Kebijakan pelaksanaan, penentuan tujuan yang hendak dicapai, dan penentuan cara-cara atau metode penggunaan sarana-prasarana. Strategi selalu berkaitan dengan 3 hal yaitu tujuan, sarana, dan cara. Oleh karena itu, strategi juga harus didukung oleh kemampuan untuk mengantisipasi kesempatan yang ada. Dalam melaksanakan fungsi dan peranannya dalam pengembangan pariwisata daerah, pemerintah daerah harus melakukan berbagai upaya dalam pengembangan sarana dan prasarana pariwisata.

Strategi perkembangan pariwisata yang menunjang pertumbuhan ekonomi dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Perlu ditetapkan beberapa peraturan yang berpihak pada peningkatan mutu pelayanan pariwisata dan kelestarian lingkungan wisata, bukan berpihak pada kepentingan pihak-pihak tertentu.
  2. Pengelola pariwisata harus melibatkan masyarakat setempat. Hal ini merupakan hal penting karena sebagai hal pengalaman pada beberapa daerah tujuan wisata, apabila tidak melibatkan masyarakat setempat, akibatnya tidak ada sumbangsih ekonomi yang diperoleh masyarakat sekitar.
  3. Kegiatan promosi harus beraneka ragam, selain dengan mencanangkan cara kampanye dan program Visit Indonesia Year seperti yang sudah dilakukan sebelumnya. Kegiatan promosi juga perlu dilakukan dengan membentuk system informasi yang handal dan membangun kerjasama yang baik dengan pusat informasi pada Negara – Negara lain terutama pada Negara yang berpotensi.
  4. Perlu menentukan daerah tujuan wisata yang memiliki keunikan disbanding dengan daerah tujuan wisata lain, terutama yang bersifat tradisional dan alama. Karena era kekinian lah objek wisata yang alami dan tradisional yang menjadi sasaran wisatawan asing. Daerah ini masih banyak ditemukan didaerah luar jawa seperti daerah pedaleman papua atau Kalimantan.
  5. Pemerintah pusat membangun kerjasama dengan kalangan swasta dan pemerintah daerah setempat, dengan system terbuka, jujur dan adil. Kerja sama ini penting karena untuk mempelancar pengelolah secara professional dengan mutu pelayanan yang memadai.
  6. Perlu dilakukan pemerataan arus wisatawan bagi semua daerah tujuan wisata yang ada diseluruh Indonesia.
  7. Mengajak masyarakat sekitar daerah tujuan wisata agar menyadari peran, fungsi dan manfaat pariwisata serta merangsang mereka untuk memanfaatkan peluang – peluang yang tercipta bagi berbagai kegiatan yang dapat menguntungkan secara ekonomi.
  8. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan perlu dipersiapkan secara baik untuk menunjang kelancaran pariwisata. misalnya dengan pengadaan perbaikan jalan, telepon, internet dan pusat pembelanjaan disekitar lokasi daerah wisata.

Dengan memperhatikan beberapa masukan ini kiranya dapat membantu bagi penyelenggara pariwisata yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi. Factor baik internal dan eksternal, pariwisata dapat menghasilkan pendapat yang luar biasa bagi suatu daerah terutama apabila dikelolah dengan baik.

  1. Faktor Pendorong Perkembangan Pariwisata Di Indonesia

Dewasa ini maupun pada masa yang akan datang, kebutuhan untuk berwisata akan meningkat khususnya di Indonesia seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia maupun dunia. Serta perkembangan penduduk Indonesia yang semakin membutuhkan Refresing akibat semakin tingginya kesibukan kerja. Menutut Fandeli (1995), factor yang mendorong manusia untuk berwisata ialah:

  1. Keinginan untuk melepas diri dari tekanan hidup sehari-hari di kota, keinginan untuk mencari suasanya baru untuk mengisi waktu lenggang.
  2. Kemajuan pembangunan dalam bidang komunikasi dan transpormasi.
  3. Keinginan untuk melihat dan memperoleh pengalaman baru mengenai budaya masyarakat dan di tempat lainnya.
  4. Meningkatnya pendapat yang dapat memungkinkan seseorang dapat dengan bebas melakukan perjalanan yang jauh dari tempat tinggalny

Faktor – faktor pendorong perkembangan pariwisata di Indonesia menurut Spilane (1987) adalah:

  1. Berkurangnnya peranan minyak bumi sebagai sumber devisa Negara jika dibandingkan dengan waktu lalu;
  2. Merosotnya nilai ekspor pada sector nonmigas;
  3. Adanya kecendrungan peningkatan pariwisata secara konsisten
  4. Besarnya potensi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia bagi pengembangan pariwisata.

Ini semua memperlihatkan bahwa situasi dan kondisi sosial-ekonomi di Indonesia semakin berkurangnya lahan pertanian dan lapangan kerja lainnya serta semakin rusaknya lingkungan akibat kegiatan industri manufaktur dan kegiatan ekonomi lainnya yang mengeksploitasi sumber daya alam.

Maka pariwisata perlu dikembangkan sebagai salah satu pemasukan bagi divisit Negara dan menjadi sumber industri andalan. Sektor pariwisata selain dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, juga dapat merusak lingkungan bahkan sebaliknya merangsang pelestarian lingkungan hidup. Hal ini dapat dimaklumi karena perkembangan pariwisata tidak dapat dipisahkan dari lingkungan hidup sebagai salah satu sarana atau objek wisata.

Pesona Keindahan Bukit Kaba
avatar

Setelah sebelumnya kita puas menghirup udara sejuk di Danau Harum Bastari kemudian melihat keindahan Wisata Suban Air Panas. kali ini kita akan mengajak pesonaizer untuk menyelusuri jejak petualangang tim menuju Bukit kaba yang menjanjikan akan keindahan kawah dan sanset yang amat menakjukkan.

Bukit kaba denga ketinggian 1952 MDPL yang berada di Desa Sumber Urip Kecamatan Selupuh Rejang tersebut dapat ditempauh melalui arah barat (Bengkulu) sekitar 90 km perjalanan dan juga melalui arah timur yaitu dari Palembang lewat Kabupaten Lahat dan Lubuk Linggau, yaitu sekitar 45 Km dari kota lubuk Linggu menuju simpang bukit kaba.

Bukit Kaba atau  yang akrab disebut Bukit Kabeak oleh penduduk sekitar tentunya menjadi panorama tersendiri bagi para pendaki pecinta alam, ataupun warga biasa yang menginginkan wisata yang sedikit menguji adrenalin dengan pesona alam yang sangat menjanjikan. tentunya bukit kaba merupakan jawaban yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut

Untuk mencapai puncak bukit kaba, setelah tiba di simpang bukit kaba, pendaki sebelumnya bisa menggunakan kendaraan roda empat hingga menuju pos Penjagaan pokdarwis (kelompok sadar wisata) yang berjarak sekitar 8 Km. sebernya setibanya di pos penjagan tersebut pendaki bisa melalui dua jalur yang berbeda, jalur pertama yaitu jalur kendaraan roda dua namun sayang sekarang tidak memungkinkan dilewati kendaraan bisa karena jalan sudah buruk dan berlobang, untuk jalur kedua tentunya banyak mennjadi pilihan pendaki yaitu melewati jalur hutan yang biasa disebut pintu rimba, meski jalan setapak dan terjal namun pendaki akan dimanjakan dengan sambutan kicauwan burung-burung dan suasana sejuknya hutan

Setelah letih Berjalan kaki sekitar 2 jam perjalan melewati hutan, tentunya akan terbalas akan keindahan pesona puncak yang asri akan keindahan alam sejati. yaitu adanya tangga seribu yang merupakan akses menuju Top puncak, dan pemandangan kawah hidup yang masih mengeluarkan asap tersebut.

Tentunya, kebanyakan pendaki yang mengunjungi objek wisata bukit kaba tersebut kebanyakan langsung kemping Grund,karena disamping bukit kaba menyimpan keindahan kawah dan nuansa pegunungna yang indah, namun nuasana malam tuntunya tidak kalah menarik yaitu pendaki dapat memanjakan mata denga  gemerlap bintang dan lmpu kota cukup.  tidak hanya itu, untuk paginyapun pandaki juga akan dimanjakan denga pancaran sinar sanset yang baru menyibak bumi. tentu saja memen tersebut merupakan momen yang tak dapat dilupakan diBukit Kaba.

Setelah letih mendaki gunung dan bersahabat dengan dinginnya malam, ketika turun gunung pendaki tentunya tidak perlu khawatir akan suasa relaksasi yang alamai, karena tidak jauh dari pintu rimba (jalan pertama masuk hutan) terdapat genangan dan pancuran air panas sempiang yang tentunya dapat memenjakan serta merelaksasikan pendaki setelah berjalan kaki.

Inspirasi Tari Kejai yang sakral
avatar

Tari Penyambutan adalah Tari Kreasi Baru yang diatur sedekat mungkin dengan Tari Kejai. Terinspirasi oleh tari Kejai karena Suku Rejang sendiri jaman dahulu tidak mempunyai Tari Penyambutan, di jaman dahulu penyambutan tamu dilakukan dengan upacara adat. Tari Kejai adalah tarian sakral dan agung, sehingga sangat pantas untuk di persembahkan untuk Penyambutan Tamu, seperti Pejabat Tinggi Negara, Menteri, Bupati yang berkunjung ke Tanah Rejang, atau pada even-even lain yang bersifat ceremonial,

Jumlah Penari

Jumlah penari tidak dibatasi,sesuai dengan tempat,bisa putra bisa pula putri, bisa juga berpasangan. Di Rejang Lembak Tari Penyambutan disebut Tari Kurak, namun dalam pembahasan disepakati menggunakan Tari Penyambutan yang telah dibakukan.

Musik yang mengiringi Tari Penyambutan

Di inspirasi oleh tarian sakral dari Tanah Rejang, musik dan alat musik Tari Penyambutan memakai alat musik khas tradisional Suku Rejang, yaitu gong dan kalintang, yang dari jaman dahulu kala di pakai pada musik pengiring tarian sakral dan agung Suku Rejang yaitu Tari Kejai.
Pada umumnya dipakai irama lagu Lalan belek dan Tebo Kabeak.

Gerakan Sembah (Penghormatan) :

  1. Sembah Tari : Tangan diangkat diatas bahu
  2. Sembah Tamu : Tangan diangkat diatas dada
  3. Penyerah Siri setengah jongkok dan setengah berdiri pada saat berada diluar rumah
  4. Khusus busana yang menyerahkan siri ( wanita ) mengenakan pakaian / baju kurung / renda penutup dada

Pariwisata Dalam Wacana Otonomi Daerah
avatar

Pariwisata, sebagai salah satu industri gaya baru (new style industry) secara efektif terbukti mampu menyediakan pertumbuhan ekonomi yang cepat, terbukanya lapangan kerja, peningkatan taraf hidup dan mengaktifkan sektor industri lain di dalam negara penerima wisatawan. Sebagai sebuah industri gaya baru sektor ini mencoba meninggalkan paradigma lama tentang industri yang hanya menekankan pada suatu proses-output dengan maksud untuk mendapatkan profit keuntungan semata. Landasan operasionalisasi sektor industri ini di dasarkan pada ilmu-ilmu baru, tehnologi canggih dan cara berfikir serta dimensi dan persepsi yang bervariasi pula. Begitu kompleksnya aspek-aspek yang terkait dengan pariwisata ini, baik menyangkut aspek organisasi, pemasaran, perencanaan dan tehnik-tehnik pariwisata. Sehingga dalam sektor industri ini meniscayakan suatu latar belakang kemampuan intelektual yang luas dan pendidikan khusus agar para profesional dan praktisi yang bergerak di sektor ini mampu menyesuaikan diri dengan perubahan ilmu, tehnologi dan paradigma baru dalam industri pariwisata.

Terkait dengan diskursus desentralisasi (otonomi daerah), pariwisata semakin menjadi primadona. Daya tariknya yang luar biasa dalam menggerakkan roda perekonomian menjadikan masing-masing daerah berupaya menggali sebesar-besarnya potensi wisata daerahnya masing-masing. Hal ini tidak menjadi hal yang aneh, daerah mana yang tidak iri dengan Bali, sebuah propinsi yang potensi sumber daya alamnya hanya dapat menghasilkan output yang sedikit, namun tingkat kesejahteraan ekonominya sangat tinngi karena dipacu oleh income yang didapatkan dari sector pariwisata.

Fenomena dalam dunia pariwisata memang menunjukkan suatu prospek yang menguntungkan dari sisi bisnis. Kondisi pasar dalam industri ini menunjukkan suatu “sustainable profit values” -sejumlah nilai keuntungan yang berkelanjutan. Oleh karena itu dalam upaya untuk meningkatkan nilai pendapatan dari pariwisata ini, maka layak sebenarnya dilakukan analisis menyeluruh terhadap kondisi pasar pariwisata, baik menyangkut mekanisme penawaran (supply), permintaan (demand) , pelaku-pelaku pasar (actors) dan kondisi lingkungan disekitarnya.

Mengkaji permasalahan penawaran dalam pasar pariwisata, ditandai oleh tiga ciri khas utama. Pertama, merupakan penawaran jasa-jasa, dengan demikian apa yang ditawarkan itu tidak mungkin ditimbun dalam waktu lama dan harus ditawarkan dimana produk itu berada.Oleh karena itu mustahil untuk mengangkutnya, dan inilah yang membuat perbedaan dengan produk-produk lainnya yang ditawarkan, dalam arti bahwa konsumen harus mendatangi apa yang dirtawarkan itu untuk diteliti. Kedua produk yang ditawarkan dalam industri pariwisata ini sifatnya kaku (rigid) dalam arti bahwa dalam usaha pengadaan untuk pariwisata, sulit sekali untuk mengubah sasaran penggunaan untuk di luar pariwisata. Ketiga, berlakunya hukum substitusi. Karena pariwisata belum menjadi kebutuhan pokok manusia, maka penawaran pariwisata harus bersaing ketat dengan penawaran barang-barang dan jasa yang lain.

Penawaran pariwisata baik yang menyangkut unsur-unsur alamiah (natural) ataupun unsur-unsur buatan manusia (artificial) dengan memperhatikan tiga ciri khas yang dimilikinya membutuhkan suatu sistem penanganan yang realistis. Arti realistis disini adalah bagaimana unsur-unsur penawaran dalam pariwisata tersebut mampu merespon kondisi persaingan dan kecenderungan dalam lingkungan pasar pariwisata.

Di sisi yang lain, permintaan pariwisata sebagai mutual dari penawaran menunjukkan fenomena yang seringkali berbeda dengan kondisi yang terjadi pada pasar dalam pengertian umum tersebut. Banyak faktor yang turut mempengaruhi wisatawan untuk mengadakan perjalanan wisata. Terlepas dari unsur-unsur pokok gejala pariwisata yang menyangkut manusia, yang mempunyai waktu luang, kelebihan pendapatan dan kemauan untuk melakukan perjalanan ternyata ada unsur-unsur lain yang beberapa diantaranya bersifat rasional dan beberapa yang lain tidak masuk akal (irasional). Dalam hal ini Gromy (2005) mencoba untuk menganalisis beberapa faktor rasional sebagai suatu dorongan yang disadari bagi wisatawan untuk melakukan perjalanan pariwisata tersebut antara lain: aset-aset wisata, pengorganisasian industri pariwisata, fasilitas, sikap masyarakat tempat tujuan, kondisi demografi, situasi politik dan keadaan geografis. Sedangkan faktor-faktor irasional terdiri atas lingkungan perjalanan dan ikatan keluarga, tingkah laku, prestise, mode, perasaan keagamaan, hubungan masyarakat dan promosi pariwisata.

Dari hal ini dapat diihat bahwa permintaan pariwisata tidak menggambarkan sekelompok homogen orang-orang yang sedang berusaha bepergian setelah terdorong oleh motivasi tertentu. Ada sekelompok keinginan, kebutuhan, rasa kesukaan dan ketidak sukaan yang kadang berbaur dan bertentangan dalam diri seseorang. Perbedaan struktur permintaan dalam pariwisata ini tidak mengikuti pola sistematis yang didasarkan pada kebangsaan, kesukuan, tempat tinggal, jabatan, susunan keluarga /tingkat sosial yang tidak bergantung kepada tingkat umur atau jenis kelamin. Semua unsur yang beragam ini cenderung digunakan sebagai batas /patokan agar tetap memberi arti segmentasi masyarakat yang merupakan permintaan pasar potensial.

Permintaan pariwisata ditandai dengan beberapa ciri khas;antara lain adalah kekenyalan (elasticity) dan kepekaan (sensitivity). Elastisitas disini berarti seberapa jauh tingkat kelenturan permintaan tersebut terhadap perubahan struktur harga /perubahan berbagai macam kondisi ekonomi di pasar. Titik awal munculnya permintaan pariwisata dengan keadaan ekonomi sedemikian rupa sehingga memungkinkan orang memiliki kelebihan pendapatan dan lamanya hari-hari libur yang tetap dibayar. Karena pengeluaran wisatawan merupakan penyisihan sebagian anggaran pribadi dan keluarga yang bersaing dengan barang keperluan lain (mobil, televisi dan sebagainya), maka dapat dipahami mengapa permintaan pariwisata dapat menunjukkan elastisitas langsung dengan jumlah pendapatan di lain pihak.

Permintaan pariwisata juga sangat peka (sensitive) terhadap kondisi sosial, politik dan perubahan mode perjalanan. Daerah tujuan wisata yang mengalami ketidak tenangan (instability) kondisi politik atau keguncangan sosial tidak akan menarik wisatawan meskipun harga fasilitas pariwisata yang ditawarkan sangat murah.

Dari fenomena penawaran dan permintaan pasar yang telah diungkapkan, bisa disimpulkan bahwa pariwisata mengandung berbagai permasalahan yang multi-komplek. Seperti yang dikatakan oleh John King (2006) , bahwa untuk masa yang akan datang negara-negara destinasi akan berhadapan dengan wisatawan yang matang,tidak massal (individual perceptions) , dan mencari sumber-sumber pengayaan hidup secara spiritual, tidak lagi sekedar kesenangan yang bersifat material dan jasmaniah. Pada tingkat manajemen tantangannya adalah perubahan orientasi dari menjual produk yang ada (sell what is produce) kepada penjualan produk sesuai permintaan pasar, dari pemasaran massif kepada pemasaran untuk konsumen individual, dari penggunaan mass-branding menuju keragaman branding, dari persaingan harga menuju persaingan kualitas. Pada sisi tehnologi ada tuntutan baru akan tehnologi informasi yang terpadu, lebih bersahabat, difusi tehnologi yang cepat, sistemik dan bergerak menuju globall net working. Keseluruhan tantangan ini akhirnya berpengaruh pada penciptaan produk–produk wisata yang mempunyai daya tarik menurut perspektif konsumen.

Beberapa tantangan dalam industri pariwisata tersebut, tampaknya memang perlu segera direspon oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan masalah pariwisata. Apalagi bagi pemerintah daerah yang sedang giat-giatnya menggali potensi daerahnya dalam masa-masa otonomi daerah ini. Bentuk respon tersebut antara lain dalam hal kemampuan untuk selalu melakukan upaya inovasi, kesiapan lingkungan pendukung maupun tersinerginya penanganan pariwisata tersebut oleh berbagai pihak yang terkait. Secara tehnis upaya inovasi ini dapat diterjemahkan sebagai upaya menciptakan objek wisata yang mampu memberikan “pengalaman yang berbeda” bagi wisatawan yang mengunjunginya. Disisi yang lain kesiapan lingkungan pendukung, baik tenaga kerja , masyarakat sekitar lokasi maupun sarana dan prasarana juga sangat dibutuhkan. Misal untuk Bengkulu (Rejang Lebong), kesiapan sumber daya manusia terkait dengan basic pendidikan, maka perlu dipikirkan pendirian Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata ataupun Program Studi Pariwisata di perguruan tinggi yang ada

Yang masih juga menjadi permasalahan dalam hal ini adalah masalah penanganan yang tersinergi. Tidak dapat dipungkiri saat ini dalam tataran pengambil kebijakan (decision maker) ditingkat pusat , pariwisata tampaknya belum lagi menjadi focus perhatian dan garapan yang serius. Orientasi dan konsentrasi elit politik sekarang terpusat pada issue-isue politik, perebutan kekuasaan dan tawar-menawar jabatan (baca : kekuasaan). Padahal dalam konteks kedaerahan beberapa daerah sudah harus dipaksa untuk mulai mandiri. Hal ini seperti dikatakan didepan berdampak pada kondisi pariwisata di Indonesia. Citra Indonesia sudah kadung disebut sebagai negara perusuh, fundamentalis, sarang teroris dan sejenisnya. Sedangkan upaya pengembalian citra (reimage) seringkali hanya sekedar jargon politik semata.

Bahkan lebih parah lagi, pertarungan politik dinegara kita yang mulai menggunakan daya tawar masa pendukung (mass bargaining) sehingga memunculkan pertarungan dalam tataran grassroot kadang memperparah keterpurukan citra pariwisata Indonesia. Kembali Bali menjadi contoh, bagaimana sulitnya propinsi itu untuk mengembalikan citra dirinya yang terpuruk pasca tragedi Bom Bali 1 dan Bom Bali 2.(Penulis By. Hariyono Hr)

Horre Lapangan Setia Negara akan di jadikan Sentral wisata Kuliner
avatar

Horre sebentar lagi di Kabupaten Rejang Lebong akan ada lokasi khusus untuk tempat Wisata Kuliner, hal tersebut disampaikan oleh Bapak Bupati Rejang Lebong DR.(HC).H.A Hijazi,SH,M,Si di Koran RB pada tanggal 10 Maret 2016 yang penyampaiannya sebagai berikut   : Tidak hanya akan membangun Rumah Sakit Dua jalur,Danau Mas Harun Bastari (DMHB) dan jalan Bukit Kaba ,Bupati Rejang Lebong RL),DR.(HC).H.A Hijazi,SH,M,Si juga akan merubah fisik dan fungsi Lapangan Setia Negara Curup.Dari Yang sebelumnya hanya tempat jogging di hari minggu dan selebihnya tampat nongkrong remaja, kedepan akan disulap menjadi lokasi wisata kuliner.

Bahkan bangunan eks Kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) di tepi lapangan akan dibangun menjadi gedung serba guna dan hotel bertingkat.Soal besaran dananya masi kami bahas lebih lanjut.Yang jelas pembangunannya sudah akan dimulai berjalan selambat-lambatnya tahun 2017,kata Bupati kepada RB.

Sasarannya ,mengalikan lokasi para pedagang Kaki Lima di lokasi Pasar Bang Mego dan Pasar Tengah. Dalam realisasinya ,Pemda RL akan Membangun Auning Khusus bagi pedagang dengan penataan seindah dan senyaman mungkin.

Mudah-mudahan cukup untuk menampung pedagang Kaki Lima dan kuliner di sekitar Bang Mego dan PasarTtengah,harap Bupati.

Dengan pengalihan Lapangan Setia Negara Curup menjadi pusat wisata kuliner dan Penginapan ,diharap Lapangan bersejarah itu akan menjadi jantung keramaian kota curup.Namun  tujuan utamanya mendukung program Kabupaten indah dan nyaman .Selama ini keberadaan pedagang Kaki Lima di Pasar Bang Mego dan Pasar Tengah kerap di diklaim sedikit merusak pemandangan.Makanya kita pusatkan saja di satu tempat.Selain itu agar toko-toko di Pasar Tengah dan Bang Mego bisa buka sampai malam,tukas Bupati.

Untuk sarana oLaraga,Bupati pastikan di tahun 2017 juga akan membangun Spot center yang rencananya dibangun di kawasan Danau Mas Harun Bastari.Soalnya dengan kondisi kepadatan pemukiman dan kendaraan di Lapangan Setia Negara saat ini ,sudah tidak menunjang kegiatan olahraga.

Kita laksanakan bertahap. Namun itulah sala satu konsep nyata perubahan Kota Curup yang akan kami gulirkan tutup Bupati.(sca)

Semoga program ini bisa tercapai dan masyarakat dapat menikmati koliner-koliner, bahkan koliner-koliner khas Rejang sambil berwisata Amin.