Mendongkrak Promosi Pariwisata Melalui ‘Ujung Jari’
avatar

Acara masak-memasak di sebuah saluran televisi khusus memasak siang itu memantik kesadaran saya betapa pentingnya arti sebuah promosi yang kreatif untuk memajukan sektor pariwisata sebuah negara. Di acara yang dipandu oleh dua presenter tersebut, satu dari Malaysia dan satu dari Indonesia, terlihat jelas bagaimana agresifnya presenter Malaysia mempromosikan tempoyak sebagai salah satu makanan khas dan kebanggaan masyarakat Perak, salah satu kota di Malaysia.

Tempoyak yang sudah dimasak

Tempoyak yang sudah dimasak

Sejenak saya terdiam lalu terlintas sebuah pikiran negatif, “Jangan-jangan, Malaysia nge-klaim lagi nih”.

Saya berasumsi demikian, karena sebagai orang yang besar di Sumatera, saya sangat familiar dengan tempoyak. Makanan yang terbuat dari durian yang difermentasi ini saya anggap sebagai miliknya orang Sumatera. Pokoknya, Indonesia punya :)

Eitss, tunggu dulu. Pikir saya kemudian. Sebelum berprasangka lebih jauh terhadap saudara serumpun kita itu, saya searching di internet. Sebenarnya, asal tempoyak itu dari mana dan milik siapa?

Dari sejumlah penelusuran di dunia maya saya dapatkan informasi bahwa tempoyak ternyata merupakan makanan khas rumpun bangsa Melayu, yaitu Indonesia (antara lain Lampung, Palembang dan Kalimantan) dan Malaysia. Artinya, tempoyak bukan hanya milik orang Indonesia. Jika kemudian dunia lebih mengenal tempoyak sebagai salah satu makanan khas Malaysia, salah siapa coba? Tak bisa kita pungkiri, Malaysia merupakan salah satu negara yang tak hanya sangat rajin dan sungguh-sungguh merawat tradisi dan budaya masyarakatnya, namun juga sangat gencar dan kreatif dalam mempromosikan sektor dan aset pariwisatanya ke berbagai penjuru dunia melalui berbagai media, termasuk dalam acara masak-memasak tadi yang sangat sarat dengan promosi pariwisata di dalamnya.

Pariwisata sebagai Primadona Ekonomi Baru

Sektor pariwisata kini muncul sebagai salah satu primadona baru ekonomi masyarakat dan negara-negara di dunia. Munculnya tren ini didorong oleh banyak faktor. Salah satu sebab utamanya adalah semakin menipisnya sumber daya alam yang selama ini menjadi sandaran utama sehingga memaksa banyak negara mencari sumber alternatif lain yang tak kalah prospektif. Hadirnya gelombang ekonomi baru dalam peradaban manusia yakni era ekonomi kreatif, turut mengakselerasi eksistensi dan kontribusi sektor pariwisata sebagai primadona ekonomi baru. Dalam perkembangannya, sektor ini terbukti mampu mendatangkan banyak keuntungan ekonomi dan sejumlah keuntungan lain yang sangat bermanfaat untuk memajukan kehidupan masyarakat dan negara sebagaimana ditunjukkan oleh sejumlah data.

Data International Labour Organization atau ILO misalnya. Menurut ILO, sektor pariwisata telah menciptakan 244 juta pekerjaan atau 8,7 persen dari penyerapan tenaga kerja di dunia (sekitar 1 dari 12 pekerjaaan di dunia) pada tahun 2011 lalu, di mana setiap 1 pekerjaan di sektor pariwisata umumnya menciptakan 2 pekerjaan di sektor terkait. Data ILO ini sejalan dengan hasil kajian World Economic Forum (WEF) terhadap sektor pariwisata yang menunjukkan bahwa kontribusi sektor ini terhadap PDB dan penyediaan lapangan kerja rata-rata mencapai 9 persen setiap tahunnya dengan tren kenaikan yang sangat positif dari tahun ke tahun. Untuk kawasan Asia Tenggara, WEF mencatat kontribusi sektor pariwisata mencapai 4,6 persen terhadap PDB negara-negara ASEAN dan 10,9 persen jika dihitung dengan dampak tidak langsungnya. Dampak positif lainnya adalah 9,3 juta orang bekerja di sektor ini dan diperkirakan mencapai 25 juta orang bila dihitung dengan dampak tidak langsung.

Untuk Indonesia sendiri, berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2012, sektor pariwisata sepanjang 2011 berkontribusi sebesar 8,554 miliar dolar AS bagi devisa negara. Nilai kontribusi ini menempatkan pariwisata dalam ranking kelima di bawah migas, batu bara, minyak kelapa sawit dan karet olahan. Dari sisi penyerapan tenaga kerja, tercatat sebanyak 8,53 juta orang bergerak di bidang pariwisata atau mencapai kontribusi 7,72 persen untuk tahun yang sama. Pajak tak langsung dari sektor pariwisata pada 2011 mencapai Rp10,72 triliun atau berkontribusi sebesar 3,85 persen. Adapun upah dari sektor pariwisata pada 2011 mencapai Rp96,57 triliun atau naik dibandingkan tahun 2010 yang mencapai Rp84,80 triliun.

Tak hanya sangat penting dilihat dari kontribusinya terhadap PDB dan penyediaan lapangan kerja, sektor pariwisata juga dinilai berpengaruh positif dalam memajukan ekspor suatu negara  dan terciptanya pembangunan yang berkelanjutan melalui sustainable tourism. Prospek pariwisata ke depan juga sangat menjanjikan, sebagaimana dikemukakan oleh World Tourism Organization (WTO) yang memperkirakan jumlah wisatawan dunia akan mencapai sekitar 1,602 milyar orang pada tahun 2020, di mana sekitar 438 juta orang di antaranya berada di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Dengan perkiraan jumlah wisatawan sebanyak ini, sektor pariwisata diperkirakan akan mampu menciptakan pendapatan dunia sebesar USD 2 triliun pada tahun 2020.

Dengan sejumlah kontribusi penting dan prediksi sangat menjanjikan di atas, tak mengherankan jika kemudian banyak negara menjadikan pariwisata sebagai primadona ekonomi baru, berdampingan bahkan mulai menggantikan sektor lain yang selama ini menjadi sandaran utama seperti minyak dan gas bumi. Persaingan di sektor inipun dipastikan akan semakin sengit karena kesadaran setiap negara tentang pentingnya pariwisata sebagai pilar pembangunan ekonomi semakin meningkat. Banyak negara telah ‘pasang kuda-kuda’, siapa cepat dia dapat.

Promosi, Kunci Memenangkan Persaingan

Seiring dengan semakin ketatnya persaingan di sektor pariwisata, negara-negara di dunia kian gencar melakukan promosi pariwisatanya melalui berbagai cara dan media. Promosi diyakini sebagai cara paling efektif untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan pariwisata sebuah negara kepada dunia. Semakin banyak yang tau dan tertarik, maka akan semakin besar peluang negara yang bersangkutan menjadi destinasi favorit. Dengan begitu, pendapatan negara dari sektor ini bisa bertambah secara signifikan, roda perekonomian masyarakat terus berputar, tercipta lapangan kerja baru, kesejahteraan masyarakat meningkat dan sejumlah multiplier effect lainnya.

Agar hasilnya optimal, promosi tidak lagi hanya dilakukan melalui cara-cara mainstream seperti iklan di media massa cetak dan elektronik baik dalam maupun luar negeri, namun juga dikemas secara kreatif melalui berbagai cara dan media lain secara tidak langsung. Seperti yang dilakukan oleh presenter Malaysia dalam acara masak-memasak yang saya ceritakan di awal tulisan ini. Meski tema besar acara tersebut adalah memasak, namun ada ‘promosi terselubung’ yang dikemas secara apik di dalamnya. Uniknya lagi, kesadaran, rasa memiliki dan tanggung jawab sebagai duta promosi pariwisata seakan telah mendarah daging dalam banyak benak orang Malaysia. Bersama-sama, mereka gencar mempromosikan pariwisatanya yang terkenal dengan jargon “the truly asia”. Sesuatu yang patut kita tiru mengingat Indonesia memiliki banyak sekali potensi pariwisata yang sebagian besar di antaranya tak ubahnya masih seperti harun karun. Banyak potensi pariwisata Indonesia yang belum dikenal oleh dunia bahkan oleh masyarakat Indonesia sendiri.

Kurangnya anggaran menjadi salah satu sebab utama tertinggalnya promosi pariwisata kita dari negara-negara tetangga. Menurut data dari Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI), dari kebutuhan ideal sebanyak Rp 1 triliun per tahun untuk biaya promosi, BPPI hanya mendapat kucuran anggaran sebesar Rp 20 miliar dari APBN. Kurang optimalnya promosi pariwisata Indonesia membuat kita hanya berhasil menempati posisi kelima di Asia Tenggara di bawah Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam dilihat dari berbagai aspek keunggulan pariwisatanya, sebagaimana disebutkan dalam ‘The ASEAN Travel & Tourism Competitiveness Report 2012’ oleh World Economic Forum. Padahal, dilihat dari segi potensi pariwisata yang jauh lebih banyak dan beragam, kita seharusnya lebih unggul dari keempat negara tersebut.

Geliat Promosi Pariwisata Indonesia

Di tengah keterbatasan anggaran dan gempuran promosi pariwisata negara lain yang semakin gencar, promosi pariwisata Indonesia sebenarnya mulai menunjukkan indikasi kebangkitannya. Dalam tataran pemerintahan misalnya, hadirnya kementerian baru yang lebih fokus mengurusi bidang pariwisata dalam Pemerintahan Kabinet Bersatu yakni Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) merupakan salah satu wujud keseriusan dan komitmen pemerintah untuk memajukan sektor pariwisata di Tanah Air. Kementerian ini tidak hanya fokus pada pengembangan sektor pariwisata namun sekaligus juga menyandingkannya dengan ekonomi kreatif sebagai satu kesatuan yang saling mendukung satu sama lain.

Dengan jargon ‘Wonderful Indonesia’, Kemenparekraf melakukan sejumlah terobosan penting. Seperti yang dilakukan pada tahun 2012 lalu melalui tiga strategi utama, yakni sales mission atau direct selling, penyelenggaraan acara berskala nasional maupun internasional dan pergelaran festival serta pekan seni budaya langsung di daerah-daerah potensial. Selain tiga strategi ini, Kemenparekraf juga mengoptimalkan promosi khusus untuk menyasar segmen-segmen tertentu seperti promosi secara online dan mengoptimalkan fungsi pusat informasi wisata yang telah ada misalnya di bandara-bandara internasional di Tanah Air. Strategi promosi pariwisata ini terbukti cukup efektif yang antara lain ditunjukkan oleh kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang melebihi target 8 juta orang sampai akhir 2012.

Selanjutnya, Kemenparekraf juga menyiapkan road map yang lebih luas untuk memperkenalkan 16 kawasan strategi pariwisata nasional (KSPN) dan tujuh kawasan minat khusus di Indonesia yang diharapkan sudah tersosialisasi dengan baik pada tahun 2014. Ke-16 KSPN dan 7 kawasan minat khusus itu antara lain Sumatera dengan Danau Toba dan sekitarnya; Jakarta dengan Kota Tua dan Kepulauan Seribu; Yogyakarta dengan Borobudur dan sekitarnya; Jawa Timur dengan Gunung Bromo dan Tengger; Bali dengan Menjangan, Pemuteran; NTB dengan Rinjani; NTT dengan Kalimutu; Kalimantan dengan Derawan dan Tanjungputting; Sulawesi dengan Bunaken dan Wakatobi; Papua dengan Raja Ampat. Sementara untuk tujuh minat khusus meliputi wisata sejarah, shopping, spa, sport, kesehatan, cruise, dan MICE (Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition).

Meski terbilang tertinggal dari negara lain, geliat promosi pariwisata juga mulai serius dilakukan oleh pihak swasta. Salah satunya dengan munculnya saluran televisi kabel yang khusus mengulas tentang keindahan dan pariwisata Nusantara yakni Indonesia Channel. Saluran televisi ini merupakan hasil kerja sama DNA Production, TelkomVision dan Kemenparekraf. Kehadiran saluran televisi kabel dengan dua bahasa ini (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) diharapkan dapat membantu masyarakat untuk lebih mengenal Indonesia dari sisi pariwisata dan industri kreatif. Para traveller juga diharapkan bisa mendapat beragam informasi seputar destinasi. Selain saluran khusus ini, sejumlah stasiun televisi swasta juga menambah porsi acara mengenai pariwisata Tanah Air. Sama halnya dengan Malaysia, sejumlah acara lain seperti acara memasak atau fashion juga mulai disisipi promosi pariwisata di dalamnya.

Selain media televisi, promosi pariwisata Tanah Air juga kian gencar dilakukan di dunia maya. Semakin banyak website atau situs yang secara khusus mengulas dan mempromosikan pariwisata Indonesia. Salah satu yang meramaikan kancah ini adalah adirafacesofindonesia.com. Di web ini, pengunjung bisa membaca artikel yang diisi oleh para member dan juga tim ekspedisi yang sengaja menyelami kawasan-kawasan wisata dari Sabang hingga Merauke. Web ini juga menampung tulisan dari masyarakat yang ingin berpartisipasi mempromosikan pariwisata daerahnya. Untuk lebih menarik minat masyarakat, adirafacesofindonesia.com juga sering mengadakan kompetisi atau kuis, yang terbukti cukup signifikan menaikkan traffic pengunjung web.

Selain sejumlah media dan cara di atas, ada satu lagi potensi besar yang kita miliki untuk mendongkrak sektor pariwisata Indonesia, yakni perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat di Tanah Air terutama dilihat dari jumlah masyarakat pengguna internet yang jumlahnya cukup fantastis. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan, hingga akhir Desember 2012 lalu, pengguna internet di Indonesia telah mencapai 63 juta orang. Padahal, jumlahnya hanya sekitar 2 juta orang pada tahun 2000.

Tak hanya jumlahnya yang menunjukkan tren kenaikan signifikan dari tahun ke tahun, waktu yang dihabiskan masyarakat untuk berselancar di dunia maya juga diprediksi akan terus bertambah. Saat ini, rata-rata pengguna Internet di Indonesia “membelanjakan waktunya” sekitar 35 jam per minggu atau lima jam per hari.  Selama lima jam itu, beragam aktivitas yang dilakukan pengakses Internet antara lain menjelajahi berbagai situs berita, sosial media, blog, video, dan berbagai informasi di dunia maya. Tren ini diperkirakan akan semakin bertambah dalam tiga atau empat tahun lagi sehingga waktu yang dihabiskan masyarakat untuk mengakses Internet nantinya akan mengalahkan waktu yang mereka habiskan untuk mengakses media televisi dan cetak.

Di satu sisi, tren di atas bisa menjadi sarana promosi yang sangat luar biasa karena sebagai media yang lintas batas daerah bahkan negara, internet bisa digunakan sebagai sarana dan cara promosi pariwisata secara murah dan meriah. Apalagi, tidak hanya jumlah pengguna jejaring sosial (terutama Facebook dan Twitter) saja yang meningkat namun juga jumlah blogger (penulis di dunia maya). Menurut data yang dirilis ASEAN Blogger Chapter Indonesia, jumlah blogger di Indonesia telah mencapai 5 juta blogger pada tahun 2012 lalu. Meningkat tajam dari lima tahun sebelumnya (2007) yang baru mencapai 500.000 blogger. Jumlah yang sangat besar dan tren peningkatan yang positif dari tahun ke tahun, tak ubahnya seperti ‘macan tidur’ yang harus segera kita bangunkan agar Indonesia bisa segera menjadi pemain utama dalam industri pariwisata dunia.

Sebagaimana diketahui, hadirnya internet telah memberi perubahan besar dalam banyak sektor ehidupan manusia termasuk sektor pariwisata. Penggunaan internet bahkan memiliki korelasi yang sangat positif dengan peningkatan jumlah wisatawan di suatu negara. Seperti disebutkan oleh data WTO, ada empat negara penyumbang wisatawan terbesar di dunia yakni Amerika Serikat, Jerman, Jepang dan Inggris, yang menyumbang sekitar 41 persen dari pendapatan pariwisata dunia. Uniknya, ternyata dari segi teknologi, keempat negara ini merupakan negara-negara pengguna teknologi informasi terbesar di dunia khususnya internet, yakni sebesar 79 persen dari populasi internet dunia (tahun 1997) atau sekitar 130 juta pengguna internet. Dari sinilah kemudian didapat korelasi yang erat antara pemakaian teknologi informasi khususnya internet dengan peningkatan jumlah wisatawan di suatu negara.

Pentingnya teknologi khususnya internet sebagai akselerator kegiatan sosial dan bisnis masyarakat termasuk pariwisata di dalamnya juga diungkapkan oleh Richard Florida melalui konsep 3T-nya yakni : Talenta, Toleransi dan Teknologi. Secara sederhana, Talenta mengacu pada SDM-SDM yang mampu menciptakan ide atau gagasan yang kreatif. Agar Talenta bisa berkembang optimal, diperlukan sikap toleran dari masyarakat, yakni sikap terbuka dan penerimaan terhadap hal-hal baru yang mungkin saja terkesan liar dan tidak biasa. Kehadiran Teknologi menjadi akselator untuk mempercepat, meningkatkan kualitas dan mempermudah kegiatan bisnis dan sosial masyarakat. Ketiga komponen inilah yang nantinya akan menjadi pilar utama bagi terbangunnya kawasan industri yang canggih dan mampu memenangkan persaingan di era ekonomi kreatif. Terkait dengan 3T ini, Indonesia sebenarnya telah cukup memiliki ketiganya yakni SDM yang sangat besar jumlahnya, sikap toleran masyarakat terhadap hal-hal baru dan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Tinggal menyinergiskan satu sama lain sehingga menjelma menjadi satu kekuatan besar yang bisa mendorong Indonesia menjadi negara terkemuka di bidang pariwisata.

Keajaiban’ Promosi di Ujung Jari

Kehadiran internet membuat biaya promosi yang semula sangat mahal kini dapat dipangkas sedemikian rupa. Tarif yang semakin murah didukung oleh perangkat teknologi yang harganya kian terjangkau membuat internet kini bisa dijangkau oleh hampir semua lapisan masyarakat hingga ke pelosok negeri. Dengan sentuhan di ujung jarinya, kini masyarakat yang terhubung dengan internet dapat menjadi duta promosi budaya melalui berbagai media seperti Facebook, Twitter, Blogging, Chatting, Forum seperti Kaskus, Email, dan sebagainya. Di ujung jari pengguna internet ini, promosi pariwisata Indonesia dapat menembus batas ruang dan waktu dengan biaya yang sangat murah, mudah diakses di manapun dan kapanpun, mampu menyediakan informasi sedetil mungkin seperti harga, lokasi, informasi sekitar, cuaca, atraksi, events, secara interaktif dan up to date, serta jangkauan yang sangat luas ke seluruh dunia. Sebuah keajaiban yang sangat luar biasa jika kesadaran, rasa memiliki dan tanggung jawab sebagai ‘duta promosi’ pariwisata terpatri dalam hati setiap pengguna internet di negeri ini. Mengingat jumlah pengguna internet di Indonesia sangat besar dengan tren kenaikan yang signifikan dari waktu ke waktu.

Sejumlah tren yang sedang booming di kalangan pengguna internet dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan harapan di atas. Sebagaimana diketahui, seiring dengan semakin diperhitungkannya kehidupan di dunia maya, muncul sejumlah hobi baru masyarakat bahkan sejumlah pekerjaan baru yang sebelumnya tidak ada. Satu dari sekian hobi baru yang muncul dan menjadi booming terutama di kalangan pengguna jejaring sosial dan blogger Tanah Air  adalah sebagai quiz hunter atau para pemburu kuis. Para pemburu kuis ini biasanya sangat antusias mengikuti berbagai kuis yang diadakan di dunia maya. Tak semata tergiur oleh hadiah yang ditawarkan, para pemburu kuis juga memanfaatkan kompetisi sebagai sarana belajar dan asah kemampuan, menyalurkan hobi (menulis atau fotografi), berbagi informasi dan  sebagainya. Banyak manfaat yang didapat jika bisa memanfaatkan TI dengan benar dan optimal. Tak hanya teman, tapi juga penghasilan. Tak hanya untuk sosialisasi, namun juga bisa menjadi sarana untuk membangun relasi bisnis yang tak terbatas.

Di sisi lain, tak hanya masyarakat yang semakin merasa bahwa kehidupan di dunia maya kian hari kian penting. Setali tiga uang, semakin banyak produsen atau perusahaan yang memanfaatkan booming TI sebagai sarana promosi yang murah meriah dengan efektivitas yang cukup tinggi. Salah satunya dengan mempekerjakan buzzer, atau pengelola jejaring sosial agar si perusahaan atau institusi yang bersangkutan selalu eksis di dunia maya karena persaingan di dunia mayapun kian hari juga semakin sengit. Tak hanya mempekerjakan buzzer, banyak perusahaan juga gencar mengadakan kuis atau lomba sebagai media promosi. Cost untuk menyelenggarakan sebuah kompetisi terbilang jauh lebih murah dibandingkan biaya pasang iklan di media cetak atau elektronik. ‘Waktu promosi’ bisa dibuat lebih panjang dibanding masa tayang iklan di media yang relatif lebih pendek dan terbatas. Hubungan antara produsen dan masyarakat juga bisa menjadi lebih interaktif karena memungkinkan masyarakat ikut memberi masukan melalui tulisan atau foto yang mereka ikut sertakan dalam kompetisi. Sebuah hubungan yang saling menguntungkan.

Butuh Akselerasi dan Sinergi

Dibutuhkan sejumlah langkah akselerasi dan sinergi untuk membangun jejaring kesadaran, rasa memiliki dan tanggung jawab seluruh komponen bangsa untuk turut andil mempromosikan pariwisata Indonesia di era digital saat ini. Peran dan sinergi semua pihak mutlak diperlukan.

Dari sisi pemerintah, bisa diwujudkan dengan memberi insentif pajak bagi perusahaan atau institusi yang mengintegrasikan kegiatan promosi komersialnya dengan promosi pariwisata Indonesia. Kesadaran untuk mempromosikan pariwisata Indonesia oleh dunia usaha sebenarnya semakin menguat. Di antaranya terlihat oleh maraknya lomba atau kuis yang mengangkat tema tentang kekayaan budaya dan potensi pariwisata di Indonesia yang oleh si perusahaan kemudian disinergiskan dengan promosi produknya, baik itu makanan, minuman, properti dan bahkan otomotif. Alhasil, banyak aset budaya yang semula tersembunyi, perlahan terkuak dan mulai dikenal masyarakat Indonesia bahkan dunia. Kalangan dunia usaha tentu akan semakin bergairah jika pemerintah memberikan insentif seperti pengurangan pajak bagi perusahaan atau lembaga yang melakukan terobosan ini. Sinergi antara pemerintah dan dunia usaha ini akan semakin melejitkan penyebaran informasi promosi pariwisata Indonesia dengan melibatkan masyarakat terutama masyarakat pengguna internet sebagai aktor utama.

Peran operator seluler juga sangat signifikan dalam mendongkrak sektor pariwisata di Tanah Air. Selain peningkatan layanan, jaringan yang lebih luas dengan harga yang semakin terjangkau masyarakat, perusahaan operator seluler juga dapat ambil bagian dengan memberikan sosialisasi, edukasi dan bahkan fasilitas langsung kepada masyarakat terutama masyarakat yang berada di kawasan wisata potensial dan sentra ekonomi kreatif yang belum memiliki infrastruktur teknologi informasi untuk mempromosikan sektor wisata dan produk ekonomi kreatifnya secara luas ke dunia luar. Sebagaimana diketahui, tren kemunculan desa wisata semakin marak di Tanah Air. Sayangnya, tidak semua desa wisata atau desa yang memiliki potensi wisata memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mempromosikan desanya melalui sarana teknologi informasi khususnya internet. Sebaliknya, banyak pula desa di Tanah Air yang sudah berbasis teknologi informasi atau melek teknologi namun pemanfaatannya belum optimal. Dalam konteks inilah, perusahaan operator seluler dapat ambil bagian dengan menggandeng kalangan akademisi dan dunia pendidikan untuk bersama-sama mencerdaskan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi informasi.

Sektor pariwisata akan semakin menggeliat jika lembaga keuangan dan perbankan juga kian memainkan perannya dengan lebih optimal, terutama dalam hal penyediaan akses permodalan bagi individu maupun kelompok masyarakat yang bergerak di bidang pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Salah satunya melalui program Kredit Usaha Rakyat atau KUR. Akses terhadap modal bagi lulusan perguruan tinggi yang memiliki komitmen tinggi dan usaha nyata dalam mempromosikan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif juga harus semakin terbuka lebar. Salah satunya dengan menjadikan ijasah mereka sebagai agunan untuk mendapatkan modal usaha. Ide yang cetuskan oleh Menteri Pendidikan M.Nuh ini semoga segera terealisasi. Karena sangat disayang jika SDM-SDM kreatif kita tak mampu berkembang optimal hanya karena ketiadaan akses terhadap modal.

Keberhasilan kerjasama dan sinergitas di atas juga sangat ditentukan oleh peran Pemerintah Daerah sebagaimana telah diamanahkan dalam Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Berdasarkan UU ini, maka pemerintah daerah memiliki wewenang dan andil yang besar untuk mengoptimalkan sektor pariwisata daerahnya termasuk dalam hal promosi. Secara sederhana, burden sharing promosi dapat dilakukan melalui cara berikut : pemerintah pusat melakukan country-image promotion, daerah melakukan destination promotion sesuai dengan keunggulan daerah masing-masing, sedangkan industri atau swasta melakukan product promotion masing-masing pelaku industri.

Kesimpulan

Tak bisa dipungkiri, kegiatan promosi memiliki arti sangat penting untuk mendongkrak sektor pariwisata. Namun, promosi saja tidak cukup. Perlu ada tindak lanjut nyata sebelum dan sesudah promosi dilakukan. Mulai dari pengembangan dan perawatan infrastruktur pariwisata, peningkatan aspek keamanan, kemudahan akses transportasi serta kemudahan dan kenyamanan lainnya. Artinya, yang diperlukan untuk mengoptimalkan sektor pariwisata tidak hanya sekadar promosi, namun juga komitmen dan perhatian nyata dari semua pihak terutama pemerintah (baik pusat maupun daerah) untuk lebih serius mengelolanya.

Betapa pentingnya aspek lain selain promosi terlihat jelas dalam sejumlah destinasi di negara tetangga yang ramai dikunjungi wisatawan asing meski pesona alam dan wisatanya bisa jadi masih kalah dari Indonesia. Salah satu sebabnya adalah karena mereka memiliki infrastruktur dan jasa penunjang yang memadai. Angkor Watt versus Borobudur misalnya. Pengunjung Borobudur yang notabene lebih elok dan memikat kalah jauh jumlahnya dengan pengunjung Angkor Watt yang mencapai 1,5 juta wisatawan asing per tahunnya. Begitu pula dengan Pantai Huahin di Thailand yang disesaki oleh ratusan ribu turis mancanegara per tahun, sedangkan pantai Natsepa di Teluk Ambon yang butiran pasirnya begitu bercahaya justru kurang dilirik oleh wisatawan asing bahkan mungkin oleh masyarakat Indonesia sendiri.

Selain pengadaan infrastruktur dan fasilitas penunjang yang memadai, hal penting lain yang juga perlu disandingkan dengan kegiatan promosi adalah mematenkan hak kekayaan intelektual dan aset budaya bangsa. Sebagaimana diketahui, upaya mematenkan kekayaan dan aset budaya bangsa Indonesia masih sama memprihatinkannya dengan kegiatan promosi itu sendiri. Padahal, banyak negara telah memberikan perhatian yang sangat serius pada masalah ini. Tak jarang, sebuah negara bahkan mematenkan aset budaya negara lain karena menganggapnya memiliki prospek ekonomi yang sangat cerah di kemudian hari. Kita adalah salah satu negara yang cukup sering kecolongan dalam hal ini. Akhir kata, kebangkitan sektor pariwisata Indonesia sudah di depan mata. Kita memiliki banyak potensi baik dari segi aset budaya dan kekayaan alam, SDM yang kreatif juga perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Semua potensi ini memungkinkan kita menjadi pemain utama di bidang pariwisata. Saatnya bersinergi, menyatukan komitmen dan langkah, untuk bersama-sama mewujudkan harapan ini. Kita pasti bisa……

PESIRAH EMPAT PETULAI : DALAM KISAH PUTRI GADING CEMPAKA
avatar

Tersebutlah dalam sebuah kisah, pada mulanya yang memerintah di negeri Sungai Serut ini ialah seorang raja yang berasal dari Majapahit, namanya Ratu Agung. Sebagai cikal-bakal dari kerajaan Sungai Serut, konon ceritanya, Ratu Agung adalah jelmaan bangsa dewa dari Gunung Bungkuk yang mendapat tugas untuk mengatur bangsa manusia di bumi. Adapun rakyat yang diperintahkan oleh Ratu Agung ialah rakyat Rejang Sawah. Rakyatnya berperawakan tinggi, tegap, dan besar melebihi ukuran manusia pada umumnya. Disamping itu, dibagian tulang sulbinya agak sedikit menonjol yang panjangnya sekitar satu jari. Oleh sebab itulah, rakyat Ratu Agung ini juga disebut oleh orang sebagai Rejang Berekor. Sebagai jelmaan dewa dari Gunung Bungkuk, Ratu Agung tidak saja mampu memerintah dengan adil, bijak, dan penuh wibawa, tetapi juga telah berhasil membangun negeri Sungai Serut hingga menjadi negeri yang kaya dan makmur. Sebuah istana yang sangat megah juga telah didirikan di mudik kuala Sungai Serut. Di singgasana yang amat megah inilah yang dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan juga tempat kediaman sang Ratu Agung bersama kerabat kerajaan dan ketujuh putra-putrinya, yang terdiri atas enam laki-laki dan seorang perempuan. Anak yang pertama bernama Kelamba Api, yang juga dikenal dengan nama Raden Cili. Yang kedua bernama Manuk Mincur, dan yang ketiga bernama Lemang Batu. Yang keempat bernama Tajuk Rompong, yang kelima bernama Rindang Papan, yang keenam bernama Anak Dalam, dan yang ketujuh atau bungsu bernama Putri Gading Cempaka.

Si Bungsu nan Jelita. Selanjutnya dikisahkan, bahwa negeri Sungai Serut kian lama kian Masyhur. Bahkan nama negeri Sungai Serut pun semakin harum di negeri-negeri atau kerajaan-kerajaan manca lainnya. Terlebih lagi, keharuman nama negeri Sungai Serut ini disebabkan oleh putri bungsu yang bernama Putri Gading Cempaka yang kian hari kian tumbuh dan berkembang menjadi seorang remaja putri nan cantik jelita. Meskipun belum menginjak usia dewasa, tetapi keelokan paras Putri Gading Cempaka ini sudah terlihat dengan jelas pada usia yang masih remaja. Kecantikannya sungguh tiada taranya, bagai bidadari yang turun dari kayangan. Karena kecantikannya yang sungguh tiada bandingnya, maka banyak putra dari kaum bangsawan yang berniat untuk mempersunting sebagai pemdamping hidupnya. Akan tetapi karena saat itu si bungsu masih belum menginjak usia dewasa, maka semua pinangan yang datang menghadap Ratu Agung pun selalu ditolaknya dengan cara yang bijaksana.

Wasiat Sang Raja Bulan telah berjalan silih berganti, tahun pun terus berlari, dan juga usia manusia semakin berkurang jatahnya. Yang semula masih kanak-kanak, kemudian menjadi remaja, meningkat dewasa dan kemudian menjadi tua. Begitulah hukum alam dari Sang Pencipta yang berlaku bagi makhluk ciptaan-Nya, tanpa kecuali bangsa manusia. Demikian pula dengan sang Ratu Agung yang kian menua usianya. Pada suatu hari, Ratu Agung pun jatuh sakit karena dimakan usia yang memang sudah tua. Kian hari, sakit yang dideritanya pun tiada kunjung sembuh, bahkan kian bertambah parah saja. Sebagai raja jelmaan dari dewa yang telah menjadi manusia, nalurinya masih kuat, bahwa ajalnya tak lama lagi akan tiba. Oleh sebab itu, sebelum ajalnya tiba, sang Ratu Agung nan bijaksana itu segera memanggil ketujuh putra-putrinya. Setelah ketujuh putra–putrinya itu berkumpul sujud di sekeliling ayahandanya, syahdan bersabdalah ayahanda dengan suara pelan penuh wibawa :”Duhai anakandaku semua, kini rasanya ayahanda tiadalah kuasa hidup berlama-lama. Sebelum Ayahanda meregang jasad melepas nyawa meninggalkan dunia nan fana, maka Ayahanda hendak menitipkan dua buah wasiat kerajaan ini kepada anakandaku semua.” Mendengar sabda ayahanda sang Baginda Ratu Agung yang hendak sekarat itu, raut muka dari ketujuh putra-putrinya itu langsung lesu, memucat. Terlebih si bungsu Putri Gading Cempaka yang tak kuasa menahan gejolak emosi dalam batinnya. Dan perlahan-lahan berderailah air matanya mengucur membasahi kedua pipinya, meskipun belum tampak suara rintihan isak tangis yang keluar dari mulut mungilnya. Ayahanda Baginda Ratu Agung pun lalu melanjutkan sabdanya. “Demi menjunjung tinggi rasa keadilan, kedamaian, dan ketentraman di dalam negeri ini, maka Ayahanda berwasiat tahta kerajaan Sungai Serut ini kepada anakandaku Anak Dalam. Namun demikian Ayahanda berpesan hendaknya kalian semua tetap bersatu dalam suka maupun duka, dalam bahagia maupun derita. Adapun wasiat yang kedua adalah, apabila terjadi sesuatu hal yang menimpa negeri Sungai Serut ini, dan negeri ini sudah tidak dapat lagi dipertaruhkan, maka hendaklah kalian semua menyingkir ke Gunung Bungkuk. Di Gunung Bungkuk itulah nanti datang seorang raja yang akan menjadi jodoh anakandaku Putri Gading Cempaka.” Wasiat tahta Sungai Serut itupun kemudian diterima oleh Anak Dalam tanpa menimbulkan rasa iri hati pada saudara-saudaranya yang lebih tua. Bahkan semua saudara tuanya telah sepakat mendukung kedua wasiat ayahandanya, meskipun diliputi dengan suasana yang amat mengharukan serta menegangkan.

Kabut Duka Sungai Serut Untung tak dapat diraih, nasib pun tak dapat ditolak. Begitulah kalau ajal manusia hendak sirna kembali ke pangkuan Illahi. Setelah ayahanda Putri Gading Cempaka memberikan wasiat kerajaannya kepada Anak Dalam, maka tak seberapa lama, wafatlah sang Baginda Ratu Agung, pendiri dinasti kerajaan Sungai Serut. Melihat Sang Ayahanda Baginda Ratu Agung membisu membujur kaku, serta menutup mata, maka gemuruhlah isak tangis ketujuh putra-putrinya, yang membuat gempar seisi istana. Maka si bungsu Putri Gading Cempaka pun meratap sejadi-jadinya. Seakan si bungsu nan cantik jelita ini tak rela mengantar kepergian Ayahandanya Baginda Ratu Agung untuk selama-lamanya. Demikian buah ratapan Putri Gading Cempaka :

“Ya ayahku ratu jujungan, Tajuk mahkota lepas di tangan, Malang sangat anak gerangan, Seumur hidup mabuk kenangan, Ayuhai ayahku ayuhai paduka ratu, Tempat bergantung anakanda satu, Sekarang anakanda tujuh piatu, Tentu bercinta setiap waktu, Ya ayahku raja bestari, Anakanda piatu di dalam negeri, Duduk bercinta setiap hari, Pilu dan sedih menyerang diri. Ya Ayahku yang amat kucinta, Tempat bergantung ayah semata, Sekarang patah sudahlah nyata, Karam dunia pemandangan beta. Aduhai ayahku aduhai gusti, Meninggalkan anak sampailah hati, Jadi sesalan tiada terhenti, Kenang-kenangku sebelum mati. Nyata anakmu berhati rindu, Ayah tiada tempat mengadu, Nasi dimakan rasa empedu, Air serasa getah mengkudu. Isak tangis yang tiada terperi itu meriuhkan seisi istana. Kemudian menggema dan menggetarkan seluruh rakyat di negeri Sungai Serut. Kini seluruh anak negeri telah dirundung kabut duka nestapa yang amat dalam, karena Baginda Ratu Agung nan amat dicintai oleh seluruh rakyatnya telah tiada lagi di dunia. Gegap gempitalah segenap pejabat serta kerabat kerajaan, para sanak famili handai taulan, Bilal, Katib, Kadi, serta hamba kerajaan pun berdatangan serta menghatur sembah dihadapan ketujuh putra-putri kerajaan. Sementara tuan Putri Gading Cempaka terlihat masih meratapi jasad Ayahandanya yang telah terbujur kaku. Maka berkatalah salah seorang hamba kerajaan, “Ampun diperbanyak ampun, tuan Putri hari sudah tinggi, Ayah tuan harus dimandikan. Anak Dalam lalu bertitahlah kepada salah seorang mamandanya: “Mandikanlah dengan segera Mamanda, supaya jasad ayahanda dapat segera kita makamkan.“ Maka segeralah jasad ayahanda Ratu Agung itupun dimandikan melalui upacara dengan penuh khitmad sebagaimana adat istiadat bagi raja-raja yang wafat pada zaman itu.

Anak Dalam Naik Tahta Beberapa lama telah berlalu, kabut duka nestapa di negeri Sungai Serut perlahan lahan telah tersibak dengan sendirinya. Sang mentari pun telah memancarkan lagi keceriaannya meninggalkan kenangan lama yang teramat kelam. Maka segeralah Anak Dalam dinobatkan menjadi raja di Negeri Sungai Serut, menggantikan kedudukan Ayahanda Baginda Ratu Agung. Sebagai anak yang sangat patuh dan berbakti kepada orang tuanya, maka sebelum menjadi raja di negeri Sungai Serut ini, Anak Dalam selalu teringat dan mematuhi apa yang telah dipesankan oleh almarhum ayahanda Baginda Ratu Agung. Pesan ayahanda agar tujuh bersaudara tetap bersatu dalam suka maupun duka, bersama dalam derita maupun bahagia itupun selalu dipegang teguh oleh Anak Dalam. Terlebih terhadap si bungsu, adinda Putri Gading Cempaka yang sangat dicintai oleh kakanda Anak Dalam. Wasiat tahta yang telah diwariskan oleh almarhum Baginda Ratu Agung itu kepada Anak Dalam ternyata mampu dilaksanakan dengan sepenuhnya. Oleh sebab itulah raja Anak Dalam memerintah negeri Sungai Serut dengan adil dan bijaksana. Terbukti, bahwa negeri sungai Serut semasa dibawah pimpinan Anak Dalam itupun kemashyurannya tidak kalah pada masa Baginda Ratu Agung. Bahkan semakin terkenal karena si bungsu Putri Gading Cempaka kini telah beranjak dewasa dan banyaklah kaum putra bangsawan dari negeri manca yang ingin sekali meminangnya.

Pangeran Muda Aceh Terpikat Konon berita tentang keelokan Putri Gading Cempaka yang tiada bandingnya itu telah tersebar di seluruh penjuru wilayah kerajaan manca, tanpa kecuali kerajaan Aceh. Tak pelak lagi, putra mahkota kerajaan Aceh pun sangat terpikat oleh kecantikan Putri Gading Cempaka. Timbulah dalam pikiran Pangeran Muda Aceh hendak pergi ke negeri Sungai Serut untuk meminang Putri Gading Cempaka. Ketika pikiran itu telah mengganggu dalam tidurnya, maka Pangeran Muda Aceh itupun segera memutuskan untuk segera menghadap ayahanda Baginda Sultan, memohon kebawah cerpu baginda hendak berangkat ke negeri Sungai Serut. Tatkala Ayahanda Baginda Sultan melihat dari dekat guratan wajah anakanda Pangeran Muda yang penuh maksud dan asa itu, maka bertitahlah sang baginda : “Hai anakku, biji mata ayahanda, apa sebabnya maka anakanda datang dengan bermuram durja ini ? Adakah seorang dayang telah bersalah dalam melayani anakanda. Dayang dan inang pengasuh yang mana kali yang kurang melayani anakanda?” Maka segeralah Pangeran Muda itu berlutut di hadapan Baginda, seraya bersembah diri. “Ya ayahanda baginda, tiadalah kiranya kekurangan suatu apa pada anakanda, dan tiadalah seorang jua pengiring anakanda yang salah melayani anakanda,” jawab Pangeran Muda. “Kalau demikian adanya, giranglah sangat ayahanda mendengarkan perkataan biji mata ayahanda. Akan tetapi terangkanlah, hai anakku, agar ayahanda mengetahui apakah hajat anakanda datang bersembah dihadapanku ini?” Ketika didesak perkataannya oleh baginda, maka berteranglah Pangeran Muda Aceh itu kepada ayahandanya. “Ya Baginda ayahanda, adapun anakanda datang kehadapan ayahanda, tiadalah lain hendak memohon restu dari Ayahanda, agar ayahanda memberikan izin kepada anakanda yang hendak pergi berlayar ke negeri Sungai Serut. Untuk meminang Putri Gading Cempaka yang telah menjadi tambatan hati hamba. Selain daripada itu, anakanda juga ingin mengetahui adat lembaga dari negeri lain, agar kelak anakanda dalam menggantikan ayahanda telah banyak menimba pengetahuan tentang segala suatu adat negeri lain.” Setelah mendengar permintaan yang sungguh-sunguh dari Pangeran Muda itu, dengan sukacita Baginda memberikan izin kepadanya. Baginda segera memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan perbekalan dan segera menurunkan perahu yang terkalang dan beberapa perahu lain yang disertai dengan anak-anak muda secukupnya untuk mengiringnya. Pada keesokan harinya, bersamaan dengan terbitnya sang mentari dari ufuk timur, serta merta diiringi oleh kicauan burung yang terbang bebas menyongsong pagi nan cerah, maka berpamitanlah anak raja Aceh kepada Ayah-bundanya. Pangeran Muda Aceh pun segera berangkat ke negeri Sungai Serut hendak meminang Putri Gading Cempaka, agar kelak dikemudian hari dapat menjadi permaisuri sebagai pendamping Pangeran Muda. Dengan disertai do’a restu dari ayah-bunda, maka Pangeran Raja Muda Aceh bersama segenap hulubalang pengiringnya naik kedalam perahu, dan siaplah berlayar meninggalkan daratan tanah rencong.

Asal Nama Bangkahulu Setelah sekian lama mengarungi badai ombak lautan yang ganasnya tak terperikan baik disiang hari maupun dimalam hari, maka sampailah kiranya perahu rombongan Pangeran Muda Aceh memasuki perbatasan wilayah negeri Sungai Serut. Ketika perahu-perahu itu hendak memasuki wilayah negeri Serut, kebetulan air laut sedang dalam keadaan naik pasang. Oleh sebab itu, banyak kotoran, reba-reba serta empang-empang yang terbawa arus menghulu. Rombongan perahu Pangeran Raja Muda Aceh itupun terkejut melihat bayaknya empang menghulu yang mengganggu perahu-perahu mereka yang akan menepi. Maka berteriaklah orang-orang Aceh itu “Empang ka hulu! Empang ka hulu!” Pangeran Raja Muda Aceh segera memerintahkan anak buahnya untuk membersihkan empang-empang yang menghalangi perahu-perahunya. Tampaknya hati Pangeran Raja Muda Aceh itu sangat terkesan melihat pemandangan di wilayah ini, maka Pangeran Raja Muda Aceh itu lalu menitahkan kepada para hulubalangnya agar wilayah ini diberi nama Empangkahulu. Dan sejak saat itulah orang-orang kemudian menyebut negeri Sungai Serut dengan sebutan negeri Bangkahulu. Tatkala perahu rombongan Pangeran Raja Muda Aceh itu sudah sampai di kualanya, maka dibongkarlah sauhnya, dan layar-layarnyapun digulung dan diturunkan. Sebagaimana adat kebiasaanya, maka rombongan Raja Muda Aceh itupun segera membunyikan meriam-meriamnya sebagai tanda pemberitahuan akan kedatangan tamu dari negeri luar.

Perang Besar Bunyi dentuman meriam itu cukup mengejutkan rakyat negeri Sungai Serut, tidak kecuali Anak Dalam. Maka segeralah Anak Dalam menitahkan anak-buahnya turun ke bawah untuk melihat adakah gerangan yang telah terjadi di negerinya itu. Tak seberapa lama kemudian, datanglah utusan dari anak raja Aceh yang memohon izin hendak menghadap Baginda Anak Dalam. Maka bersembahlah utusan anak raja Aceh itu seraya mengemukakan hajatnya, bahwa maksud kedatangan anak raja Aceh ke negeri Sungai Serut tiada lain adalah hendak meminang Putri Gading Cempaka. Sebagai seorang raja nan adil dan bijaksana, setelah mendengar penuturan dari utusan anak raja Aceh itu, Anak Dalam segera mengadakan mufakat kepada keenam saudara-saudaranya, terlebih kepada si bungsu Putri Gading Cempaka. Sementara itu, para utusan dari negeri Aceh dipersilahkan menunggu di luar istana barang sejenak. Tak seberapa lama, setelah diadakan mufakat diantara ketujuh saudara itu, kemudian disuruhnyalah utusan anak raja Aceh itu masuk menghadap Baginda Anak Dalam. Kemudian diberitahukan bahwa permohonan anak raja Aceh untuk meminang Putri Gading Cempaka tidak dapat di kabulkan. Pangeran Raja Muda Aceh amat marah mendengar hasil laporan dari para utusanya, bahwa hajatnya hendak meminang Putri Gading Cempaka itu ditolak. Maka segeralah Pangeran Raja Muda Aceh itu memerintahkan para hulubalang dan seluruh anak-buahnya untuk menantang perang Baginda Anak Dalam. Perang besar antara pasukan Baginda Anak Dalam dari negeri Sungai Serut dengan pasukan Pangeran Muda Aceh rupanya tidak dapat dielakkan. Genderang perang telah dibunyikan bertalu-talu oleh kedua belah pihak. Dan perang itupun terus berkobar sampai berhari-hari lamanya. Sudah banyak korban yang sudah berjatuhan, tetapi perang terus berkecamuk tak kunjung selesai. Belum diketahui pihak yang menang maupun yang kalah, tetapi bangkai-bangkai manusia terus bergelipangan dimana-mana hingga menimbulkan bau yang tak sedap. Anak Dalam dan saudara-saudaranya pun semakin tak tahan mencium bau busuk dari bangkai-bangkai manusia yang bertumpuk-tumpuk akibat peperangan. Teringat akan wasiat almarhum ayahanda Baginda Ratu Agung, maka Anak Dalam bersama keenam saudara-saudaranya segera memutuskan untuk menarik diri dan kemudian menyingkir ke gunung Bungkuk. Sementara itu, Pangeran Raja Muda Aceh bersama laskarnya yang masih hidup segera menarik diri kembali ke negeri Aceh dengan tangan hampa.

Pasirah Empat Petulai Semenjak Anak Dalam beserta keenam saudaranya meninggalkan Sungai Serut atau Bangkahulu menuju Gunung Bungkuk, negeri ini dalam keadaan kacau. Rakyatnya menjadi tidak menentu lagi karena tidak ada lagi rajanya. Berita tentang keadaan negeri Bangkahulu yang telah ditinggalkan oleh rajanya itu rupanya terdengar di telinga keempat pasirah. Adapun keempat pasirah itu masing-masing adalah : Pasirah Merigi, Pasirah Bermani, Pasirah Salupuh , dan Pasirah Jurukalung. Tidak seberapa lama, setelah mengadakan mufakat maka berangkatlah segera keempat pasirah itu dari Lebong balik bukit menuju negeri Bangkahulu hendak menjadi raja di sana. Beberapa lama kemudian, keempat pasirah itu berhasil menduduki negeri Bangkahulu. Akan tetapi setelah berhasil menguasai negeri Bangkahulu, timbulah perselisihan diantara keempat pasirah itu. Adapun yang menjadi pokok permasalahan mereka itu adalah mengenai pembagian tanah sebagai wilayah kekuasaanya. Oleh karena itu masing-masing berkehendak untuk mendapatkan bagian tanah yang lebih besar, maka pertikaian pun tidak dapat dihindarkan.

Baginda Maharaja Sakti Beruntunglah keempat pasirah itu, karena sebelum terjadinya jatuh korban diantara mereka, tiba-tiba munculah seseorang berperawakan tinggi tegap dengan pakaian kebesaranya diiringi oleh empat belas pengiringnya, mendamaikan perselisihan mereka. Keempat pasirah itupun segera menghentikan pertikaian dan menyambut kelimabelas tamunya dengan penuh suka cita . Kemudian salah seorang pemimpin rombongan tamu itu memperkenalkan diri kepada keempat pasirah itu. ”Nama hamba ini adalah Baginda Maharaja Sakti. Adapun nama daripada negeri hamba adalah Sungai Terap di Alam Minangkabau. Empat orang diantara hamba ini adalah bergelar menteri sedangkan sembilan lainnya adalah anak buah hamba, dan seorang lagi adalah panakawan hamba”. Setelah mendengar penuturan dari Baginda Maharaja Sakti itu, Keempat pesirah itu segera menjamu tamu agungnya. Baginda Maharaja Sakti pun segera melanjutkan ceritanya. ”Adapun pekerjaan hamba berjalan kelana ini karena titah oleh daulat tuanku Sultan Pagar Ruyung, Seri Maharaja Diraja. Hamba mendapat titah untuk melihat-lihat segala isi pulau Perca ini yang telah berada di bawah daulat di Pagar Ruyung.” Setelah mendengar hal ikhwal cerita dari Baginda Maharaja Sakti, maka makin bertambah suka cita keempat pasirah itu. Keempat pasirah itu kemudian bersepakat memohon kepada Baginda Maharaja Sakti supaya menjadi raja dinegeri Bangkahulu. Baginda Maharaja Sakti menjadi girang dan terharu mendegarnya. “Hamba terima permohonan tuan-tuan dengan senang hati. Sungguh permintaan tuan-tuan itu suatu gunung intan bagi hamba. Memang sudah barang semestinya, bahwa tiap-tiap kampung itu tentu ada penghulunya, tiap luhak ada larasnya, tiap-tiap negeri ada rajanya. Sedangkan dinegeri tuan-tuan ini belum lagi berdiri kerajaan. Oleh karenanya, sudah barang sepatutnya bilamana tuan-tuan mencari seorang raja yang asli yang hendak menjadi raja di negeri ini, supaya segala sesuatunya dapat diselesaikan dengan adil dan bijaksana. Namun demikian, permintaan tuan itu mesti dihadapkan kepada daulat di Pagar Ruyung. Jika nanti diperkenankan oleh yang dipertuan Alam Minangkabau di Pagar Ruyung, sudah barang tentu Baginda Seri Maharaja Diraja akan menitahkan anak cucunya, atau kaum kerabatnya dari Pagar Ruyung ataupun dari Sungai Terap untuk menjadi raja disini dengan memakai segala adat kebesaran kerajaan cara Alam Minangkabau, dan memberi tanda keturunan kerajaan dari Sultan Seri Baginda Maharaja Diraja. Jikalau tuan-tuan memang bersungguh-sungguh hendak mendirikan kerajaan disini, maka sebaiknya tuan-tuan pergi menghadap daulat di Pagar Ruyung. Dan oleh karena pekerjaan hamba ini masih belum selesai, hamba mohon undur di hadapan tuan-tuan, sebab hamba hendak melanjutkan perjalanan hamba menuju selatan”. Setelah berpamitan, Baginda Maharaja Sakti bersama rombongannya itu segera berangkat meninggalkan negeri Bangkahulu. Keempat pesirah itupun mengantarkanya dengan hati yang masghul.

Menghadap Istana Pagar Ruyung Sepeninggal Baginda Maharaja Sakti, keempat pasirah itu lalu bermufakat untuk segera berangkat ke negeri Alam Minangkabau menghadap Seri Baginda Maharaja Diraja. Setelah terjadi kata sepakat, maka keempat pasirah segera berangkat ke Pagar Ruyung. Tak seberapa lama kemudian, sampailah mereka di negeri Pagar Ruyung. Keempat pasirah itu lalu menghadap Menteri Empat Balai terlebih dulu, dan setelah itu kemudian baru diterima daulat tuanku di Pagar Ruyung. Dihadapan Seri Baginda Maharaja Diraja, keempat pasirah itu bersembah diri, lalu menceritakan hal ikhwal keadaan di negeri Bangkahulu, serta mengemukaan maksud dan tujuan kedatangan mereka. Mendengar persembahan keempat pesirah itu, Seri Baginda Maharaja Diraja amat bersukacita kemudian bertitah, “Hamba amat berkenan mendengar permintaan tuan-tuan hendak mendirikan kerajaan, tetapi siapakah yang akan menjadi raja di negeri tuan-tuan? Ataukah hamba yang akan menentukan orangnya”?. Keempat pasirah itupun lalu menuturkan : “ Ya tuanku syah alam, mohon diampun, bilamana hamba-hamba ini diperkenankan, hamba hendak memilih tuanku Baginda Maharaja Sakti untuk menjadi raja di negeri hamba. Karena tatkala tuanku Baginda Maharaja Sakti datang dinegeri hamba, dengan penuh adil dan bijaksana beliau telah mendamaikan pertikaian diantara hamba berempat. Maka, kemudian hamba berempat bermufakat hendak menjadikan beliau menjadi raja di negeri hamba. Namun demikian, tuanku Baginda Maharaja Sakti tiada kuasa menerima permohonan hamba berempat, karena harus berizin dahulu dengan tuanku Seri Baginda Maharaja Diraja. Oleh karena itulah, hamba berempat menghadap kemari. Hamba berempat akan menerima dengan senang hati siapa saja yang hendak dititahkan oleh yang dipertuan di Pagar Ruyung ini, niscaya hamba junjung tinggi. Mendengar penuturan yang amat tulus dari keempat pasirah itu, lalu bersabdalah Baginda, “Jikalau demikian halnya ayuhai pasirah, tunggulah barang sebentar, sebab Baginda Maharaja Sakti hingga saat ini belumlah kembali dari rantauannya”. Maka dengan senang hati keempat pasirah itupun menuruti permintaan yang dipertuan di Pagar Ruyung untuk menetap beberapa saat lamanya. Tak seberapa lama kemudian, Seri Baginda Maharaja Diraja lalu memerintahkan hulubalangnya untuk mencari Baginda Maharaja Sakti yang ketika itu masih berada di bukit Siguntang-guntang.

Perjanjian Pagarruyung Hulubalang yang diperintahkan oleh yang dipertuan di Pagar Ruyung itu telah bertemu dengan Baginda Maharaja Sakti di bukit Siguntang-guntang. Atas titah tuanku Pagar Ruyung, maka segeralah Baginda Maharaja Sakti menghadap dan bersembah diri kepada Seri Baginda Maharaja Diraja seraya menuturkan hal ikhwal tentang hasil perjalanannya. Yang dipertuan Sultan Baginda Maharaja Diraja itupun segera melepaskan hal ikhwalnya, serta mengharap agar Baginda Maharaja Sakti bersedia menjadi raja dinegeri Bangkahulu. Mendengar sabda Sultan Pagar Ruyung, lalu bersembahlah Baginda Maharaja Sakti : “Ya tuanku syah alam, senang sungguh patik mendengarkan titah tuanku, tetapi patik tiadalah mempunyai syarat-sayarat yang cukup. Oleh karena itu baiknya tuanku memilih yang lain saja. Bukankah banyak putra, atau cucu dari tuanku di dalam Pagar Ruyung ini atau di Sungai Terap yang patut dirajakan. Adapun perkataan patik ini sungguhlah bukan berkias gurindam, bukan bersanding beranjung, bukan dengki atau berkhianat, melainkan sebenar-benarnya perkataan. Mendengar penuturan dari Baginda Maharaja Sakti yang sangat tulus itu, daulat Tuanku Sri baginda Maharaja Diraja menjadi terharu. Demikian halnya dengan para menteri dan segenap hulubalang, serta keempat pasirah yang ada disekelilingnya. Suasana di balairung alam Minangkabau ketika itu juga menjadi larut dalam keheningan. Malam pun segera menjelang, permufakatan untuk sementara waktu dihentikan. Setelah berjalan tiga hari tiga malam, daulat Tuanku Sultan pun bermimpi. Beliau bermimpi, melihat suatu perarakan yang amat ramai dan menyenangkan. Dalam perarakan itu terlihat Baginda Maharaja Sakti sedang ditandu menuju hulu Bangkahulu, untuk diangkat menjadi raja di sana. Mimpi Baginda Sutan Pagar Ruyung itu sangat jelas arahnya. Maka, pada pagi harinya, Sultan segera menitahkan hulubalang memanggil Baginda Maharaja Sakti, beserta menteri empat balai, dan keempat pasirah untuk datang menghadap beliau. Daulat yang dipertuan Baginda Seri Maharaja Diraja itupun bertitah : “Pada hari ini, disaksikan oleh yang hadir dalam majelis di Balairung ini, kami mengizinkan Baginda Maharaja Sakti mendirikan kerajaan di negeri Bangkahulu.” Mendengar titah Baginda Seri Maharaja Diraja itu, keempat pasirah lalu bersuka cta. Maka Baginda Maharaja Sakti pun segera bersembah diri : “Ampun tuanku, jikalau demikian halnya, patik mohon sudilah kiranya tuanku membuatkan suatu permufakatan yang teguh antara pasirah-pasirah ini dengan rajanya, agar jangan ada perselisihan dikelak kemudian hari.” Atas permufakatan dengan keempat pasirah itu, maka dibuatkanlah sebuah permufakatan di hadapan daulat tuanku di Pagar Ruyung, disaksikan oleh menteri empat balai. Adapun isi perjanjian itu ada sepuluh butir. Inilah bunyi isi  perjanjiannya :

  1. Raja tinggal di pesisir laut, sedangkan pasirah, dan perowatin tinggal di hulu.
  2. Wilayah pesisir laut menjadi tanggung jawab raja, sedangkan wilayah pegunungan menjadi tanggung jawab pasirah perowatin.
  3. Raja atau anak cucung raja, dan kerabatnya bebas berladang atau berkebun, atau mengambil kayu pendek dan panjang di segala hutan dan rimba, dan pasirah maupun perowatin tiadalah boleh melarangnya; jikalau ada orang luar datang menumpang berladang atau berkebun, atau mengambil kayu, rotan, damar, dan segala jenis hutan, hendaklah dengan izin raja.
  4. Tiap-tiap tahun, bilamana anak-buah sudah memotong padi, hendaklah mengantarkan persembahan kepada raja beras sekulak, ayam seekor, kelapa sebuah dalam satu bubungan rumah. Maka itu semua akan menjadi makanan raja. Itulah tanda anak-buah yang membuat raja, bukan raja yang minta diangkat.
  5. Waktu raja mudik ke hulu, memeriksa hal anak-buah yang meminta raja, maka anak-buah harus memberi beras sekulak, kelapa sebuah, ayam segantang tunjuk banyak kakinya. Itulah makanan raja serta segala pengiringnya selama berjalan di hulu.
  6. Raja atau anak cucung raja, jika raja mufakat dengan pasirah – perowatin serta memberi garam atau kain hitam. Tak dapat tiada anak-buah perowatin menolong dengan beras, dan tukarannya sekulak garam, 10 kulak beras, sebubung kain hitam begitu juga. Itulah tukon namanya.
  7. Bea dari segala labuhan dan kuala semuanya raja yang punya, tidak dapat tidak oleh pasirah dan perowatin, tetapi pasirah perowatin sendiri tiada kena bea labuhan atau kuala.
  8. Segala jenis perkara yang kecil, pasirah dan perowatin yang berkuasa menyelesaikannya di tanah hulu; jika perkara itu besar maka hendaklah pasirah dan perowatin membawanya kehadapan raja untuk diselesaikannya bersama-sama.
  9. Orang kerap gawe dibagi dua, satu bagian oleh pasirah yang punya marga dengan perowatin yang punya dusun, dan satu bagian kembali pada raja.

10. Jikalau hilang pasirah, raja mencarikan ganti pasirah; jikalau hilang raja, pasirah mencarikan ganti raja.

Demikianlah isi perjanjian antara Baginda Maharaja sakti dengan keempat pasirah yang disaksikan oleh daulat seri Baginda maharaja Diraja di Pagar Ruyung, serta menteri empat balai. Kemudian kedua belah pihak, baik Baginda Maharaja sakti maupun keempat pasirah itupun sama-sama berikrar. “Kami bersumpah untuk memegang teguh selama-lamanya, tidak lapuk dihujan, tidak lekang dipanas, selama gagak hitam, selama air hilir, kalau lurah sama dituruni, kalau bukit sama didaki, hilang sama dicari, tenggelam sama diselami, bersumpah bersetia, minum air dituntung keris. Barang siapa mungkir dari perjanjian, dimakan kutuk bisa kawi, dikutuk Qur’an tiga puluh juz, di bawah tidak berakar, di atas tidak berpucuk, di tengah digerek kumbang, ke darat tak boleh makan, ke air tak boleh minum, jatuh murka Allah ta’ala dengan seberat-beratnya.” Setelah selesai bersumpah di balairung kampung dalam kerajaan Pagar Ruyung di hadapan tuanku Seri Maharaja Diraja, dan disaksikan pula oleh menteri empat balai, serta para hulubalang kerajaan, maka segeralah didirikan sebuah Alam Halipan yang dilengkapi dengan tunggul, dan panji-panji serta segala angkatan kerajan, pudai tinggi, bantal berapit kiri kanan, kain terbentang sampai ke atas, dilingkung pucuk beranyam, dayang-dayang sebanyak dua kali tujuh (empat belas) yang berdiri emas ditanai, juga terbentang cindai jajakan, serta dupa sebanyak dua kali tujuh (empat belas). Tak seberapa lama, dupa-dupa tersebut dinyalakan, gendang kalang luari dibunyikan, meriam seletus dipasang sebagai tanda penobatan raja. Selanjutnya, yang dipertuan Baginda Sultan Seri Maharaja Diraja di Pagar Ruyung segera memberikan sebelas tanda kebesaran kerajaan kepada Baginda Maharaja Sakti.

Adapun sebelas tanda kebesaran kerajaan itu ialah :

  1. Dua buah meriam secorong besar dan satunya kecil;
  2. Sebuah curik semandang giri retak seratus tiga puluh memancung sakti munuh, yang bentuknya seperti pedang;
  3. Sebuah payung gedang berubur-ubur dengan kain kuning;
  4. Sebuah tombak benderangan berambu janggut janggi;
  5. Sebuah pedang jabatan;
  6. Satu Alam Halipan;
  7. Satu Marawal;
  8. Satu panji;
  9. Sebuah kotak tempat sirih berpakut emas;

10. Sebuah tempat air minum kendi berpalur emas ;

11. Sebuah gong mu’tabir alam.

Tatkala Baginda Maharaja Sakti menerima sebelas tanda kebesaran kerajaan dan berjabat tangan dengan daulat tuanku yang dipertuan di Pagar Ruyung, saat itulah bergetar puncak istana balairung, tempat penobatan sang Baginda hingga menimbulkan bunyi petus tunggal. Oleh karenanya, kelak dikemudian hari, marga bawaan dari baginda Maharaja sakti itu dinamai orang Marga Semitul.

Kembali ke Negeri Bangkahulu Tak seberapa lama setelah usai penobatan, maka berpamitanlah Baginda Maharaja sakti beserta para pengiringnya, serta keempat pasirah menuju negeri Bangkahulu. Empat menteri yang telah mengiring Baginda Maharaja Sakti ketika berkelana itu juga dibawanya turun ke negeri Bangkahulu. Mereka berempat masing-masing bernama: Menteri Agam, Menteri Sumpu Melalo, Menteri Singkarak, dan Menteri Sandingbaka (Sending Bungkah). Beberapa waktu kemudian, sampailah rombongan baginda Maharaja sakti di suatu kuala Sungai Lemau yang hulunya menuju Gunung Bungkuk. Maka mereka pun lalu berhenti berjalan melepas kelelahan. Di situlah kiranya rombongan Baginda sudah berada di wilayah negeri Bangkahulu yang terbentang luas. Setibanya di negeri Bangkahulu, keempat pasirah lalu mengumpulkan adik sanak kerabat serta segenap perowatin dan anak-buahnya di tiap-tiap dusun. Mereka segera menyambut kedatangan rajanya dengan suka cita dan menjamunya. Upacara penobatan Baginda Maharaja Sakti sebagai raja di negeri Bangkahulu segera dipersiapkan. Akan tetapi ketika upacara penobatan Baginda Maharaja Sakti hendak dimulai, tiba-tiba datang hujan badai yang amat kencang, disertai gemuruhnya sang halilintar menyambar-nyambar tiada henti-hentinya. Atas permufakatan bersama, upacara penobatan Baginda Maharaja Sakti untuk sementara ditunda menunggu redanya hujan badai, dan tenangnya hari.

Bidadari dari Gunung Bungkuk Hari telah berjalan tiga malam. Ternyata hujan badai yang disertai sambaran petir itu tak kunjung berhenti. Anehnya, pada malam harinya berturut-turut hingga malam ketiga, Baginda Maharaja Sakti bermimpi melihat seorang bidadari nan cantik jelita. Bidadari itu sedang menari-nari di tengah hujan badai. Baginda sungguh keheranan karena sang bidadari itu tiada terkena hujan barang sedikitpun jua. Kemudian sang bidadari itu terbang menuju ke arah Gunung Bungkuk. Pada keesokan harinya, Baginda Maharaja Sakti segera memanggil keempat pasirah. Lalu diceritakanlah tentang mimpinya yang amat menakjubkan. Baginda bertambah pikiran, dan amat terpikat oleh kecantikan bidadari dalam mimpinya. Baginda lalu meminta pendapat kepada keempat pasirah untuk mencarikan keterangan, apa makna dalam mimpinya itu. Mendengar penuturan sang baginda itu, keempat pasirah segera mengadakan permufakatan untuk mencarikan jalan keluarnya. Mereka berempat lalu sepakat untuk mencari seorang ahli nujum yang dapat meramalkan, gerangan apakah yang ada dalam mimpi rajanya itu. Maka, disuruhlah anak-buahnya untuk segera mencari seorang ahli nujum yang sakti. Tak seberapa kemudian, datanglah utusan itu menghadap keempat pasirah dengan membawa seorang ahli nujum. Kemudian oleh keempat pasirah, ahli nujum itu dihadapkan kepada Baginda Maharaja Sakti. Ahli nujum itupun segera bersembah diri. ”Ampun Baginda, hamba datang ingin menghadap duli Baginda, adakah gerangan yang hendak hamba terima titah Baginda?” Maka bertitahlah Baginda Maharaja Sakti: “Hai ahli nujum, tiadalah kiranya kubentangkan kata nan panjang di hadapan tuan, karena tuan pastilah telah membawa beritanya.” Ahli nujum pun menjawabnya, “Ampun ya Baginda, sungguh tiadalah hamba berani mendahului sabda tuanku, sebab takabur itu sifat yang sangat tidak baik bagi seorang hamba Allah.” Mendengar penuturan si ahli nujum itu, Baginda pun segera maklum, maka berceritalah Baginda Maharaja Sakti hal ikhwal tentang mimpinya itu. Ahli nujum itupun segera memberikan keterangan dihadapan Baginda Maharaja Sakti, perihal bidadari nan elok dan juwita itu. “Ampun hamba, ya Tuanku Baginda, adapun bidadari nan elok juwita yang mengganggu pikiran Baginda itu sesungguhnya adalah tuanku Putri Gading Cempaka, putri bungsu dari mendiang tuanku Baginda Ratu Agung di negeri Sungai serut. Kini tuan Putri Gading Cempaka masih berada di Gunung Bungkuk, tinggal bersama keenam saudara tuanya. Menurut ramalan hamba, Tuanku Baginda akan dapat mendirikan negeri Bangkahulu ini tegak kembali dengan selamat, bilamana tuanku dapat serta membawa tuanku Putri Gading Cempaka. Berdasarkan ramalan hamba, tuanku Putri Gading Cempaka inilah yang dapat menurunkan raja-raja di negeri ini, karena tuan Putri itu sesungguhnya anak daripada Ratu Agung jelmaan Dewa dari Gunung Bungkuk”. Betapa sukacitanya Baginda Maharaja Sakti mendengar uraian dari ahli nujum itu. Maka timbullah hasrat yang amat kuat dalam hati dan pikiran Baginda Maharaja Sakti untuk segera dapat meminang Putri Gading Cempaka. Sebab tatkala itu Baginda Maharaja Sakti memang belum memiliki calon permaisuri yang akan mendampinginya sebagai raja di negeri Bangkahulu.

Menjemput ke Gunung Bungkuk Setelah Baginda Maharaja Sakti mengadakan permufakatan dengan keempat pasirah, serta para menterinya itu, maka diputuskanlah untuk segera mengutus hulubalang menuju Gunung Bungkuk menjemput Putri Gading Cempaka beserta keenam saudara-saudaranya. Keempat pesirah beserta para perowatinnya itupun menjadi penunjuk jalan menuju Gunung Bungkuk. Pada hari yang dianggap baik, berangkatlah utusan dari Baginda Maharaja Sakti menuju Gunung Bungkuk. Tak seberapa lama, keempat pasirah dan segenap perowatin beserta para hulubalang utusan Baginda Maharaja Sakti itupun sampailah di kaki Gunung Bungkuk. Anak Dalam beserta keenam sudaranya yang tinggal di Gunung Bungkuk itu amatlah terkejut melihat dari kejauhan ada serombongan pasukan yang hendak menuju ke tempatnya. Ketujuh saudara itupun menjadi sangat cemas hatinya, dan takut kalau-kalau yang datang itu musuh. Maka segeralah Anak Dalam menyuruh si bungsu Putri Gading Cempaka untuk bersembunyi. Sementara itu Anak Dalam bersama dengan saudara-saudaranya yang lain siap menghadapi para tamunya yang tiada diundang itu. Betapa terkejutnya Anak Dalam beserta saudara-saudaranya itu, tatkala sudah saling berhadapan, ternyata para tamunya itu segera berlutut menghaturkan sembah. “Ampun diperbanyak ampun tuanku, hamba-hamba ini adalah utusan dari tuanku Baginda Maharaja Sakti, raja di negeri Bangkahulu. Adapun kedatangan hamba kemari tiada lain atas titah Baginda untuk menjemput tuanku Putri Gading Cempaka beserta tuan-tuan sekalian, serta hendak mengangkat tuan Putri Gading Cempaka menjadi permaisuri Baginda di negeri Bangkahulu.” Selanjutnya diceritakan bahwa Baginda Maharaja Sakti belum kuasa mendirikan kerajaannya, sebelum dapat bersanding dengan tuan Putri Gading Cempaka untuk mendampingi menjadi permaisurinya. Pasirah yang lain pun ikut melengkapi ceritanya, bahwa tatkala hendak mendirikan Alam Halipan untuk upacara penobatan sang raja, tiba-tiba datang hujan badai yang disertai halilintar yang amat menyeramkan. Bahkan selama tiga malam Baginda telah bermimpi melihat seorang bidadari nan cantik jelita sedang menari-nari ditengah hujan badai. Menurut salah seorang ahli nujum, bidadari nan cantik jelita itu tiada lain adalah tuanku Putri Gading Cempaka. Setelah mendengar penuturan dari salah satu pasirah, maka sangatlah lapang hati Anak Dalam beserta kelima saudara tuanya itu. Anak Dalam pun segera memanggil si bungsu Putri Gading Cempaka keluar dari tempat persembunyiannya. Ketujuh bersaudara itupun kemudian teringat akan pesan dari almarhum ayahnya, bahwa pada suatu waktu, akan datang seorang raja yang akan mengangkat si bungsu untuk menjadikannya permaisuri di kerajaannya. Ketujuh bersaudara iutpun kemudian menyetujui permohonan keempat pasirah utusan Baginda Maharaja Sakti. Maka, segeralah mereka bertujuh itu berkemas diri dengan membawa perbekalan secukupnya. Pad keesokan harinya, berangkatlah ketujuh bersaudara itu diiringi oleh keempat pasirah dan segenap perowatinya beserta hulubalang kembali menuju negeri Bangkahulu.

Berdirinya Kerajaan Sungai Lemau Tak seberapa kemudian sampailah utusan Baginda bersama dengan Putri Gadinga Cempaka dan keenam saudara-saudaranya di negeri Bangkahulu. Baginda Maharaja Sakti segera menyambut para tamunya dengan rasa sukacita. Maka segera dipersiapkan pesta besar-besaran untuk melangsungkan acara perkawinan antara Baginda Maharaja Sakti dengan Putri Gading Cempaka. Pada kesempatan yang sama juga dilangsungkan upacara penobatan sang Baginda Maharaja Sakti menjadi raja di negeri Bangkahulu, sedangkan tuan Putri Gading Cempaka duduk disampingnya menjadi permaisurinya. Tak seberapa lama kemudian, dibangunkannya sebuah istana kerajaan sebagai pusat pemerintahan serta kediaman Baginda dan permaisuri Putri Gading Cempaka. Adapun letak istana kerajaannya di kuala Sungai Lemau. Oleh sebab itu, maka nama kerajaan dari Baginda Maharaja Sakti itu kemudian disebut kerajaan Sungai Lemau. Dibawah pemerintahan Baginda Maharaja Sakti yang didampingi oleh tuanku Putri Gading Cempaka, negeri Sungai Lemau kian lama kian masyhur namanya. Kehidupan rakyatnya semakin bertambah makmur, negerinya amat subur. Padipun mudah menjadi, beras amatlah murah, anak-buahpun semakin berkembang banyak. Adat dengan lembaga berdiri kokoh. Adat yang dipakai , lembaga yang dituang, bak air mengarus hilir, adat mengarus mudik. Mengarut cupak dengan gantang, mengatur ukuran dengan timbangan.

Lahirnya Sang Putra Mahkota Beberapa bulan kemudian, tuan Putri Gading Cempaka itupun sudah mulai menujukkan tanda-tanda kehamilan. Maka tidak lama lagi Baginda dan permaisuri akan segera mendapatkan karunia seorang anak. Setelah bulan berjalan sembilan lebih sepuluh hari, Putri Gading Cempak kemudian melahirkan seorang putra laki-laki. Bukan kepalang girangnya Baginda Maharaja Sakti serta Putri Gading Cempaka setelah mendapatkan putra laki-laki yang mungil dan lucu itu. Maka pada hari yang baik segeralah Baginda Maharaja Sakti mengumpulkan segenap kerabat kerajaan, anak-buah serta para dayang untuk mengadakan upacara selamatan menyambut kelahiran putra mahkota negeri Sungai Lemau itu. Kemudian Baginda Maharaja Sakti memberinya nama : Aria Bago. Demikianlah ceritera Putri Gading Cempaka yang menurunkan raja-raja dinegeri Sungai Lemau.

Di ambil dari (BY: agussetiyantoz)

source:http://www.kemudian.com/node/225932

 

 

 

Sejarah dan Asal Usul Suku Lembak
avatar

Masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai macam Suku bangsa dimana setiap Suku memiliki kebudayaan yang berbeda pula, begitu juga halnya dengan masyarakat Bengkulu. Selanjutnya masyarakat Bengkulu ini kalau ditilik dari segi bahasanya dapat dibedakan atas beberapa etnis yaitu Serawai, Rejang, Melayu, Enggano, Muko-Muko, Pekal, Kaur dan Masyarakat Lembak. Masyarakat Lembak atau juga yang dikenal dengan Suku Lembak yang merupakan bagian dari masyarakat Bengkulu, tersebar di Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara yang berbatasan dengan Kota Bengkulu, sebagian berada di Kabupaten Redjang Lebong terutama di Kecamatan Padang Ulak Tanding, Sindang Kelingi dan Kota Padang, dan juga berada di daerah Kabupaten Kepahiyang seperti di Desa Suro Lembak. Secara umum antara masyarakat Lembak tidak jauh berbeda dengan masyarakat melayu umumnya namun dalam beberapa hal terdapat perbedaan. Jika ditinjau dari segi bahasanya antara masyarakat Lembak dengan masyarakat Bengkulu kota (pesisir) terdapat perbedaan dari segi pengucapan katanya dimana masyarakat Bengkulu kata-katanya banyak diakhiri dengan hurup ‘o’ sedangkan masyarakat Lembak banyak menggunakan hurup ‘e’, disamping itu dalam beberapa hal ada juga yang berbeda cukup jauh. Masyarakat Lembak seperti juga masyarakat Bengkulu umumnya adalah pemeluk Agama Islam sehingga budayanya banyak bernuansakan Islam disamping itu masih ada pengaruh dari kebudayaan lainnya. Dari sisi adat istiadat antara masyarakat Bengkulu dan masyarakat Lembak ada terdapat kesamaan dan juga perbedaan, dimana ada hal-hal yang terdapat dalam masyarakat Bengkulu tidak terdapat dalam masyarakat Lembak begitu juga sebaliknya termasuk didalamnya adat dalam rangkaian upacara perkawinan dan daur hidup lainnya. Dalam hubungan ini penulis ingin mengungkapkan adat dalam rangkaian upacara-upacara mulai dari lahir, remaja, perkawinan, hingga kematian yang ada dalam masyarakat Lembak atau dikenal dengan istilah daur hidup (Kegiatan adat istiadat sejak proses kelahiran hingga meninggal). Namun demikian dalam kehidupan suatu masyarakat tidak terlepas dari interaksi sehingga masyarakat sebagai suatu sistem sosial senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan, hal ini disebabkan kerena adanya berbagai pengaruh baik internal, eksternal maupun lingkungan yang dikenal dengan pengaruh modernisasi. Begitu juga halnya adat istiadat bukanlah sesuatu yang statis tetapi berkembang mengingikuti perkembangan peradaban manusia, sehingga sedikit banyaknya juga mengalami pergeseran.

Bagaimana sebenarnya ‘adat istiadat yang terdapat dalam masyarakat Lembak serta beberapa variasinya antara suatu wilayah dengan wilayah lain, yang terjadi sejalan dengan perkembangan zaman dengan adanya pengaruh modernisasi sehinggga apa yang ada dalam masyarakat sekarang ini adalah merupakan sebuah proses perkembangan kebudayaan.

Konsep Suku Bangsa

Kebudayaan yang hidup dalam suatu masyarakat pendukung dapat berwujud sebagai komunitas Desa, kota, sebagai kelompok kekerabatan, atau kelompok adat yang lain, bisa menampilkan suatu corak yang khas yang terutama terlihat oleh orang luar yang bukan warga masyarakat bersangkutan. Kuntjaraningrat (1983) mengungkapkan bahwa corak khas suatu kebudayaan menghasilkan suatu unsur yang kecil berupa suatu unsur kebudayaan fisik dengan bentuk yang khusus; atau karena diantara pranata-pranatanya ada suatu pola sosial yang khusus; atau dapat juga karena warganya menganut tema budaya yang khusus. Corak khas suatu kebudayaan yang ada pada sekumpulan masyarakat itu kita katakan suku bangsa. Untuk lebih jelas dapat dilihat seperti daerah Propinsi Bengkulu terdapat berbagai suku bangsa yang memiliki corak budaya yang khas seperti; Suku Lembak, Rejang, Serawai, Enggano, Pekal, Muko-Muko, Melayu dan lain-lain. Di masing-masing suku bangsa tersebut masyarakat pendukugnya terikat oleh kesadaranan dan identitas akan kesatuan kebudayaan. Masing-masing suku bangsa tersebut biasanya menempati daerah kebudayaan (Culture Area) yang memiliki kebudayaan yang masing-masing mempunyai beberapa unsur yang mencolok. Ciri-ciri yang dapat dijadikan alasan untuk mengklasifikasikan tidak hanya berwujud kebudayaan fisik, seperti misalnya alat-alat berburu, bertani, senjata, bentuk ornamen perhiasan, bentuk tempat kediaman, melainkan juga kebudayaan yang lebih abstrak dari sistem sosial atau sistem budaya, seperti; unsur-unsur organisasi kebudayaan, upacara keagamaan, upacara perkawinan, cara berfikir dan sebagainya. Suku lembak adalah suku asli di Bengkulu. Ada empat alasan yang dapat dipertanggung jawabkan sebagai alasan bahwa Suku Lembak adalah suku asli di Bengkulu, yaitu:

  1. Suku Lembak mempunyai sejarah kerajaan yaitu Kerajaan Sungai Hitam dengan rajanya Singaran Pati yang bergelar Aswanda,
  2. mempunyai wilayah yang jelas,
  3. mempunyai bahasa yang khas, dan
  4. memiliki kebudayaan baik fisik maun non fisik berupa kesenian dll.

Tulisan ini adalah terjemahan dari naskah berbahasa Melayu yang telah di tulis dan di dibukukan oleh R.H.M Ilyas dalam huruf Arab, kemudian diterjemahkan oleh anak beliau, RM. Yacub ke dalam huruf latin. Dari tulisan ini menggambarkan bahwa Suku Lembak sudah berada di Bengkulu sekitar tahun 1400-an atau sekitar 6 abad yang lalu. Menilik dari sejarah dalam banyak karangan yang berbahasa Inggris maupun Arab Melayu, kami berkeyakinan Suku Lembak termasuk suku yang berada gelombang pertama mendiami dataran Bumi Bengkulu ini. Memang ada beberapa versi yang ditulis baik oleh RM Ilyas maupun oleh Prof Dr. Abdullah Siddik. Terlepas dari itu semua kami ingin mengemukan fakta sejarah bahwa hingga saat ini secara Geografis Kota Bengkulu hampir 70% adalah wilayah marga proatin XII yang tidak bisa disangkal adalah termasuk wilayah masyarakat adat dan ulayat SUKU LEMBAK. (Dapat juga dibaca pada tulisan tentang Tugu Thomas Parr). Selengkapnya kami sajikan terjemahan langsung dari tulisan RHM Ilyas dalam bentuk pasal-pasal, dan anda silakan melakukan kajian dan menyimpulkan sendiri. Sejarah Masyarakat Adat Lembak Bengkulu (Diambil dari beberapa pasal Buku yang karangan oleh R.H.M Ilyas dalam huruf Arab, kemudia diterjemahkan oleh anak beliau, RM. Yacub ke dalam huruf latin)

Pasal 14

Bermula Tuanku Baginda Sebayam itu, ada memelihara Hulubalang 40 orang pilihan. Pada setiap hari bertukar tukar jaga dalam istana Baginda itu. Pada suatu malam Baginda keluar. Maka sembah Hulubalang yang sedang berjalan itu: “Ya Tuanku Syah Alam, ini ada seorang laki-laki baru datang pada malam ini. Dia datang dari Palembang mau menyerahkan diri kebawah duli tuanku, tetapi hamba belum tahu namanya”. Maka orangitu sujud kepada kaki Baginda dan menuturkan segala hal iihwal kedatangannya: adapun patik ini datang dari Palembang dan nama patik SINGARAN PATI asal orang dari Lembak Beliti Tabah pingin Palembang. pada suatu ketika patik kena fitnah. Kata orang patik berbuat jahat dengan anak perempuan anak mamak patik. Patik mau dibunuh oleh mamak patik. Rasanya patik tidak dapat meloloskan diri, maka patik menikamnya terlebih dahulu, lalu ia mati. maka orang Pedusunan sepakat mengatakan patik sudah melakukan dua kesalahan.lalu patik dihantar kepada sultan Palembang. Mendapat hukuman menjadi budak raja seumur hidup. Maka patik diperintahkan menjadi Sultan Penunggu Indah Larangan. Maka patik bergelar ISWANDA

Pasal 15

Pada suatu hari anak Sultan yang bernama PUTERI SINARAN BULAN yaituremaja puteri yang cantikparasnya, turun mandi di indah larangan itu. Tiba-tiba takdir Allah S.w.t disambar oleh buaya hidung kajang besarnya. Maka gegerlah segala isi Negeri.

setelah orang –orang besar bermufakat berdasarkan titah Sultan, tidak bisa di tolak saya disuruh membunuh buaya itu. Karena itu kesalahan saya kurang hati-hati menjaga Indah larangan itu. Maka saya meminta untuk mengumpulkan segala senjata yang ada di Palembang. Setelah semuanya terkumpul, maka saya serakkan dengan beras sudah dikunyiti dipanggil ayam makan beras itu. Ada sebuah keris kecil yang sudah berkaratsejengkal panjang matanya dimakan ayam, lalu ayam itu mati. Dengan seketika itu pula keris tersebut yang saya bawa menyelam kedalam sungai Palembang. Setelah bertemu dengan Buaya itu, lalu saya tikam. Lukanya cuma sedikit , tapi Buaya itu langsung mati. Dan bangkainya lamgsung merapung diatas air. Dari keris yang saya bawa menyelam itu, saya sembunyikan dibawah Indah Larangan antara air dengan darat. Kemudian saya menghadap junjungan Sultan untuk mengatakan kalau Buayanya sudah mati, tetepi keris penikamnya hilang. Kaya Sultan , apa boleh buat asal mati Buaya itu tak apalah. Buaya itu dibelah perutnya oeh orang-orang , terdapat didalam perutnya mayat sang Puteri sepwerti orang tidur saja. Tidak ada yang cacat sedikitpun dari tubuhnya. Hanya sekedar jiwanya saja yang hilang dari raganya. Pada malamnya saya lari membawa keris itu menuju kehulu Palembang. Dengan maksud ingin kembali kedusun saya. Kemudian saya sadar kalau masih berada dalam kawasan Palembang pasti akan dapat oleh Sultan. Sebab itulah maka saya llri kebawah duli Yuanku disini minta hidup kepada tuanku.

karena hamba lari dari rumah Raja, sekarang hamba kerumah Raja disini. Hamba serahkan jiwa hamba kepada Tuanku. Dari keris si Kuku Gagak penikam Buaya itu, ini hamba persembahkan untuk Tuanku. Setelah baginda mendengar segala cerita Iswanda maka bertanya: “apa kedudukanmu di Dusun mu? Jawab Iswanda: “kalau suku patik ialah pesirah didalam Marga Dusun Taba Pingin”. Maka tinggallah Iswanda dibawah perintah hulubalang Tuanku baginda Sebayam. Lama kelamaan banyaklah pengabdian Iswanda kepada baginda. Mana pekerjaan yang sukar- sukar tidak dapat dikerjakan oleh orang lain maka Iswandalah yang mengerjakannya. Adalah sifat Iswanda menurut adat seorang hamba dengan Tuannya bila dipanggil datang, disuruh pergi, ditegah diam. Baginda terlalu sayang padanya. Lama kelamaan maka Iswanda diangkat oleh Baginda menjadi anak. Anak satu menjadi dua anak 2 menjadi 3 sebaik seburuk dengan anak cucu Tuanku Baginda Sebayam.

bersumpah setia dengan seberat- beratnya. Sesekali tidak boleh lancung aniaya kedua pihak. Siapa yang mungkir janji dimakan sumpah, dikutuk bisa kawi, dikutuk Qur’an 30 juz jatuhlah murka allah dengan seberat-beratnya, Kalau hilang sama dicari, terbenam sama diselam, selama air hanyut, selama gagak hitam, tidak lapuk di hujan, tidak lekang dipanas selama-lamanya.

Pasal 16

Setelah Iswanda diangkat menjadi anak oleh Tuanku Baginda Sebayam, maka ia diberisebidang tanah. Yaitu antara Sungai Bengkulu dengan Sungai Hitam kehulunya hingga Air Rena Kepahyang, Kehilir Pesisir Laut. Inilah batas tanah yang diberi Tuanku baginda Sebayam kepada Iswanda yang diangkat menjadi anaknya.

Pasal 17

Maka kedengaran khabarnya kepada adik sanak Iswanda mengatakan Iswanda sudah diangkat anak oleh raja Bengkulu. Banyklah mereka itu datang dari Lembak Beliti menurut Iswanda. Apabila sudah banyak familinya, mak Iswanda suruh cincang lati di Pungguk Beriang namanya di Pinggir Air Sungai Hitam. Tempat itulah mula-mula Iswanda membuat Dusun. Duduklah ia memerintah tanah bumi yang sudah dikasih oleh Tuanku baginda Sebayam. sebab inilah ia bernama Raja Sungai Hitam. Karena diam di pinggir Air Sungai Hitam. Apabila Iswanda sudah tetap berdusun dan memerintah, makin bertambah-tambah juga datang kaum kerabatnya. Maka bertambahlah Dusunnya.demikianlah adanya dibuat pada tahun 938 Hijrah.

Pasal 18

Setelah wafat Baginda Sebayam, beliau diganti dengan anaknya yang bernama Baginda Senanap yang bergelar Paduka Baginda Muda. Pada masa ini data lagi seorang dari Tabah Pingin yang bernama Abdus Syukur, seorang ulama. Dia menemui Baginda Senanap, kemudia beliau disuruh menemui Iswanda, karena Abdus Syukur juga masih kerabat Iswanda. Abdus Syukur inilah yang menjadi asal nenek moyang orang Pagardin yang mula-mula menyiarkan Agama Islam di Sungai Hitam sampai ke Lembah Delapan. Abdus Syukur sering disebut dengan Tuan Tue (dimakamkan di Dusun Paku Aji)

Pasal 19

Kemudian datang juga orang dari Lembak Beliti, yaitu Jukuang, Jakat, Darti dan Lubuk Bisu. Mereka menemui Raja Sungai Lemau, buat minta lahan sebagai tempat tinggal. Akhirnya mereka disuruh tinggal di dipinggi Air Bengkulu sebelelah kiri mudik, yang juga termasuk lahan yang diberikan kepada Iswanda. Mereka inilah yang menjadi Nenek moyang orang Marga Mentiring.

Pasal 20

Setelah wafat Paduka Baginda Muda, maka beliau digantikan oleh anaknya yang bernama Tuanku Baginda Kembang Ayun (dimakamkan di Kembang Ayun), kemudian digantikan anaknya Tuanku Baginda Burung Binang. Saat tuan Baginda Burung Binang memerintah datang dua orang Suami Istri, Suaminnya Orang Rejang, sedang Istrinya orang Lembak. Ke datangannya juga meminta lahan, akhirnya diberikan lahan di kuala Air Palik Persembahannya adalah seekor kerbau bertali rambut, diikat di batang cekur di halaman tempat tuanku Burung Binang (Kubur Tuanku Burung Binang diseberang Ds Kederas Lama). Dia diangkat menjadi Pembarab, tetapi bukan pembarab dibawah pasirah, melainkan Pembarab dibawah raja yang sama kedudukannya dengan pasirah, serta dikurnia pula sedikit angkatan/pasukan. Jika kerja baik atau kerja buruk, boleh dia memakaialam halilipan, karena balasan persembahannya itu. Dialah asal nenek moyang orang Lubuk Tanjung.

Pasal 21

Pada saat itu datang juga orang dari Muara Lakitan, Lembak Darat laki-laki dan perempuan dari kaum kerabat Iswanda, pada saat itu Iswanda sudah meninggal. Mereka meminta lahan kepada Raja Sungai Lemau, kemudia diber oleh Tuanku Baginda tanah dipinggir air Bengkulu disebelah kanan mudik dan disebelah hulu hingga air Lapur. Mereka inilah menjadi nenek moyang orang Porwatin dua belas tepi air.

SUKU LEMBAK SAAT INI

Suku Lembak adalah Suku Asli Kota Bengkulu (Suku lain adalah Melayu Bengkulu). Masyarakat Lembak tersebar di Empat Kecamatan yang ada di Kota Bengkulu, sebagian besar tinggal di: Kecamatan Gading Cempaka yaitu :

  • Kelurahan Jembatan Kecil,
  • Panorama,
  • Dusun Besar dan Jalan Gedang;

di Kecamatan Selebar meliputi:

  • Desa Pagar Dewa,
  • Sukarami,
  • Pekan Sabtu,
  • Betungan, dan
  • Desa Kandang,

Di Kecamatan Teluk Segara meliputi:

  • Kelurahan Sukamerindu,
  • Desa Tanjung Agung,
  • Tanjung Jaya,
  • Semarang, dan
  • Surabaya,

di Kecamatan Muara Bangkahulu meliputi:

  • Desa Bentiring dan
  • Pematang Gubernur dan sekitarnya.

Sebagian Besar juga tinggal diwilayah pemakaran dari kelurahan dan desa tersebut. Disekitar Kota Bengkulu, Suku Lembak tinggal hampir disemua Desa yang ada di Kecamatan Talang Empat, Karang Tinggi, Taba Penanjung dan Pondok Kelapa. Di Rejang Lebong masyarakat Lembak banyak mendiami Padang Ulak Tanding, Kota Padang dan Sindang Kelingi. Di Kepahiyang masyarakat Lembak diperkirakan mencapai 15% dari penduduk Kabupaten tersebut.

Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook

 

Pejabat di Mutasi, Rotasi dan Promosi di Lingkungan Disbudpar Tahun 2014
avatar

Pada hari Rabu pagi , tanggal 2 April 2014, Bupati Rejang Lebong Bapak H. Suherman SE,MM, memimpin langsung jalannya  proses pelantikan para  pejabat yang terkena mutasi, rotasi dan promosi jabatan  yang berjumlah 116 orang  Pejabat Struktural eselon II, III, dan IV di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Rejang di ruang Pola,yang dihadiri oleh Unsur FKPD, SKPD dan undangan lainnya.

Dari 116 orang  Pejabat yang di lantik tersebut, ada Pejabat Eselon III/a dan III/b serta pejabat Eselon IV/a di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong yang ikut dirotasi dan mutasi antara lain :

Bapak SABIRIN, SE, yang sebelumnya menjadi Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang, di Rotasi ke Kepala Bagian Umum Setda Rejang Lebong, sedangkan jabatan yang ditinggalkan oleh Bapak SABIRIN SALEH, SE yaitu Sekretaris Dinas Kebudayaan Pariwisata Rejang Lebong saat ini masih  kosong, sedangkan BAPAK HADIS LANI, SH yang selama ini menjabat sebagai Kepala Bidang (Kabid) Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong di Gantikan oleh BAPAK  JAILANI S.Sos yang sebelumnya menjabat Eselon III di Dinas Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Rejang Lebong.

Untuk Pejabat Eselon IV di Lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong yang terkena Rotasi yaitu Kepala UPT ASET PENDUKUNG PARIWISATA GEDUNG SERBAGUNA GRAHA SAMALI di Jakarta  yang selama ini di Jabat oleh Bapak Margono, di Gantikan oleh Ibu IPO yang sebelumnya menjabat sekretaris Kelurahan Talang Rimbo Baru.

Dengan telah dirotasinya  jabatan Struktural tersebut, berarti dari 21 jabatan struktural yang ada di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong, sebanyak  19 jabatan struktural sudah terisi. Dua Jabatan  struktural yang masih kosong tersebut yaitu Sekretartis Dinas dan  Kepala Sub Bagian Tata Usaha Unit Pelaksana Teknis (UPT) ASET PENDUKUNG PARIWISATA GEDUNG SERBAGUNA GRAHA SAMALI di Jakarta Selatan dengan eselon IV.b.

Di Lingkungan Dinas    Kebudayaan dan Pariwisata   Kabupaten Rejang Lebong  terdapat 1    ( satu ) jabatan Eselon II.b yaitu Kepala Dinas, 1 ( satu ) jabatan Eselon III.a yaitu Sekretaris, 4 ( empat ) jabatan Eselon III.b Yaitu Kepala Bidang, 13 ( tiga belas ) jabatan Eselon IV.a yaitu Kepala sub. Bagian, Kepala Seksi dan Kepala UPT dan 2 ( dua ) jabatan Eselon IV.b yaitu Kepala Sub. Bagian di UPT, dan pada acara Mutasi, Rotasi dan Promosi tersebut ada juga Staf Dinas Kebudayaan dan Prariwisata yang ikut di Promosi menjadi kasie di Kelurahan Talang Benih yaitu Ibu Yayuk Fajriyanti, ST

Adapun jumlah jabatan dan nama-nama pejabat Struktural di Lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong setelah ada Mutasi/Rotasi dan Promosi pda   tanggal 2 April 2014 tersebut sebagai berikut :

  1. Kepala Dinas ( Eselon II.b ) : Drs. H. Rusli, MM
  2. Sekretaris Dinas ( Eselon III.a ) : ……………………..masih Kosong
  3. Kepala Bidang Program dan ODTW ( Eselon III.b ) : Misherieni, S.Sos. MM
  4. Kepala Bidang BUSP ( Eselon III.b ) : Rismulyana, S.Sos
  5. Kepala Bidang Pemasaran ( Eselon III.b ) : Jailani, S.Sos
  6. Kepala Bidang PSB ( Eselon III.b ) : Tri Rubiana Sanoel
  7. Kepala Sub. Bagian Kepegawaian ( Eselon IV.a ) : Sumardi, S.Sos
  8. Kepala Sub. Bagian Umum ( Eselon IV.a ) : Liswin Indriati, SE
  9. Kepala Sub. Bagian Keuangan ( Eselon IV.a ) : Dra. Hj. Kuntum Dahlia
  10. Kepala Seksi Sunram ( Eselon IV.b ) : M.Joni, S.Sos
  11. Kepala Seksi Obyek dan Atraksi ( Eselon IV.a ) : Suwardi W.
  12. Kepala Seksi Pelayanan dan Perizinan ( Eselon IV.a ) : Taslim , S.Sos
  13. Kepala Seksi Pembinaan dan Penyuluhan ( Eselon IV.a ) : Tamsil
  14. Kepala Seksi Bina Mitra ( Eselon IV.a ) : Heri Kartina
  15. Kepala Seksi Promosi ( Eselon IV.a ) : Uswandi, SE
  16. Kepala Seksi Pertunjukan dan Seni rupa ( Eselon IV.a ) : Syahirman, SP
  17. Kepala Seksi Sejarah dan Budaya ( Eselon IV.a ) : Sarlen Purba
  18. Kepala UPT Obyek Wisata Air, Danau dan Pegunungan serta Aset Pendukung Pariwisata Gedung Diklat Serbaguna -Rejang lebong ( Eselon IV.a ) : Rudi Tarmizi, SE
  19. Kepala UPT Aset Pendukung Pariwisata Gedung Serbaguna Graha Samali -Jakarta Selatan ( Eselon IV.a ) : Ipo, S.Sos
  20. Kepala sub. Bagian Obyek Wisata Air, Danau dan Pegunungan serta Aset Pendukung Pariwisata Gedung Diklat Serbaguna -Rejang lebong ( Eselon IV.b ) : Hendra Rahmulya, ST
  21. Kepala Sub. Bagian UPT Aset Pendukung Pariwisata Gedung Serbaguna Graha Samali – Jakarta Selatan ( Eselon IV.b ) : ………………..( masih kosong/belum terisi )

Bupati Rejang Lebong (H. SUHERMAN, SE,MM ) dalam sambutannya meminta kepada para pejabat yang baru dilantik agar dapat segera melakukan serah terima jabatan dan penyesuaian terhadap jabatan barunya. Jabatan itu amanah oleh karena itu tentu akan dimintai pertanggungjawabannya, demikian pula dengan mutasi, mutasi merupkan hal yang biasa dalam sistem birokrasi, terutama untuk mengisi kekosongan jabatan yang selama ini diisi oleh pejabat pelaksana tugas dan kosong.

Sedangkan Sekretaris Daerah Kabupaten Rejang (H. Drs. SUDIRMAN) yang merupakan Ketua Baperjakat, mengatakan bahwa, mutasi ini bertujuan untuk meningatkan kualitas kerja masing-masing dinas/instansi, sekaligus untuk mengisi jabatan yang kosong serta mendepenitifkan mereka yang masih berstatus Pelaksana Tugas.

 

Pengajian Bulanan di Bulan Maret 2014
avatar

Di hari Jumat tanggal 21 Maret 2014 Bertempat di ruangan Rapat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong, dimulai  pukul 08.00 WIB, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong melaksanakan kegiatan rutin bulanan, yaitu kegiatan Ceramah Agama dan Pertemuan Dharmawanita Persatuan unit Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong untuk yang kedua kalinya di Tahun 2014, Dengan dihadiri oleh hampir seluruh karyawan / karyawati dan  Ketua dan Pengurus serta seluruh anggota Dharmawanita Persatuan unit Disbudpar Rejang Lebong, acara rutin ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong Drs. H. Rusli, MM

Acara rutin bulanan dengan pembawa acara/MC yaitu sdr EVRIZON SUHADI, A,Md dengan tertib acara sebagai berikut :

1.    Pembukaan.

2.    Pembacaan Ayat Suci Alquran

3.    Kata Sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong.

4.    Cerama Agama.

5.    Pembacaan Doa

6.    Penutup dilanjutkan dengan arisan dharma wanita

diawali dengan lantunan pembacaan Ayat-Ayat suci Al-Qur-An, yang dibawakan oleh Sdri. Tenti Febrianty, acara ceramah Agama  dilanjutkan dengan kata sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata Rejang Lebong yang disampaikan langsung oleh Bapak H. Rusli, MM, Kepala Dinas menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada penyelenggara pengajian yang mendapat giliran yaitu segenap karyawan/karyawati Bidang BUSP Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong dalam melaksanakan Pengajian Bulanan yang dikomandio  oleh Ibu Rismulyana, S.Sos yang mana telah dapat menyiapkan acara tersebut dengan baik, serta Kepala Dinas Juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ustadz  DAYUN RIYADI. M.Ag yang telah hadir memenuhi undangan kami untuk menyampaikan Materi/Ceramah di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong.

Materi/Ceramah Agama yang berjudul SHOLAT ANTARA PAHALA DAN DOSA, mengawali ceramahnya Bapak Dayun Riyadi, M.Ag mengatakan bahwa AllahSubhanahu wa Ta’alamenciptakan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya, beribadah tanpa mengadakan tandingan ataupun menyekutukan-Nya. Sedangkan dua syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam ibadah seorang hamba ialah ikhlas hanya mengharap ridho AllahSubhanahu wa Ta’ala kemudian mengikuti sunnah atau tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

Kedua syarat tersebut haruslah selalu mengikuti ibadah seorang muslim, apakah ibadah tersebut bersifat mahdhoh seperti sholat dan puasa ataupun yang bersifatghoiru mahdhoh seperti bekerja, makan, dan lain sebagainya. Seseorang yang beribadah dengan ikhlas tapi tidak mengikuti tuntunan Rasulullah shalallahu ‘Alaihi wa Sallam maka dia bisa terjerumus kepada bid’ah begitu pula sebaliknya seseorang yang beribadah dengan mengikuti tuntunan Rasulullah tapi tidak mengikhlaskan niatnya maka dia bisa terjerumus kepada kesyirikan.Na’udzubillah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: yang artinya

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(Al-Bayyinah: 5)

Ibnu Abbas rahimahullah  mentafsirkan

Di dalamsyarh riyadhusshalihinsy aikh Ibnu Utsaimin membagi niat menjadi tiga bagian:

- Niat untuk beribadah.

- Niat mengerjakan sesuatu hanya untuk Allah.

- Niat mengerjakan sesuatu untuk menjalankan perintah Allah; maka ketiga hal inilah niat yang paling sempurna.

Sebagai contoh seseorang melakukan sholat. Dia meniatkan sholat untuk beribadah kepada Allah. Kemudian sholat hanya mengharap ridho-Nya, tidak untuk riya’ atau sum’ah tidak pula mengharapkan dunia atau harta.Kemudian meniatkan sholat untuk menjalankan perintah Allah dalam firman-Nya yang artinya (Niat yang benar adalah niat yang tidak diucapkan dengan lisan,karena Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkan niat ketika wudhu, sholat, shodaqah dan haji).

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radhiallahu anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”(muttafaqun alaihi)

Hadist di atas menjelaskan bahwa suatu amalan akan diberikan ganjaran sesuai dengan apa yang diniatkan.Bisa jadi dua orang dalam waktu yang sama melakukan amal yang sama akan tetapi mendapatkan pahala yang berbeda karena niat mereka berbeda.Hadist tersebut juga memberikan sebuah permisalan, barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul maka hijrahnya akan mendapatkan apa yang diniatkannya dan siapa yang hijrahnya karena dunia atau wanita maka hanya akan mendapat keduanya.

Dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin kenapa di akhir hadist itu menggunakan lafadz  sedangkan kalimat yang menjelaskan tentang hijrah kepada Allah dan Rasul ditulis kembali secara sempurna. Dikatakan hanya akan memperpanjang kalimat apabila kalimat tersebut ditulis ulang dengan sempurna,dikatakan juga kenapa tidak di tulis ulang adalah sebagai bentuk ejekan dan penghinaan kepada kedua niat tersebut, karena dua niat tersebut adalah niat yang rusak dan tercela.

Shalat Berjamaah Berhadiah Mobil dengan menggalakkan shalat berjamaah di masjid. Saya menyebutnya ini sebagai “dakwah” atau mengajak umat untuk berbuat sesuatu dalam ruang lingkup ibadah. Namun terasa unik ketika “dakwah” tersebut dengan iming-iming sesusatu yang sifatnya keduniawiaan, Mobil. terlebih dahulu harus ditanyakan dalam diri kita masing-masing, “Siapakah yang tak suka harta?” Walaupun kyai, pasti suka harta. semua pasti punya orientasi kepada harta walapun tentu besar kecilnya berbeda-beda. Sangat sedikit yang mendedikasikan untuk akhirat 100%. Dalam konteks inilah kemudian si penggagas shalat berjamaah berhadiah melihat bahwa mengiming-imingi hadiah “dunia” agar umat bersedia (terlepas dari terpaksa atau tidak terpaksa) melakukan ibadah yang sifatnya ukhrawi.

Secara kuantitas saya kira strategi dakwah seperti itu sangat berhasil untuk menambah jamaah. namun secara kualitas ? ini masih perlu dipertanyakan. Namun setidaknya kita bisa berkaca dari sejarah dakwah walisongo berikut ini:

“Dulu dizaman wali songo mereka melihat masyarakat yang gemar pada kesenian, seperti wayang, pasar malam, gamelan, dan kesenian-kesenian lainnya yang berbau budaya lokal. Hal ini kemudian menjadi alat dakwah mereka untuk mengajak masyarakat masuk islam, menyembah, Allah dan meninggalkan kemusyrikkan. Lihatlah kemudian bagaimana sebelum mengajak untuk shalat berjamaah, wali songo menggelar kesenian gamelan di pelataran masjid untuk mengumpulkan masyarakat. Setelah masyarakat berkumpul, mereka diajak untuk campursarinan, gendhingan, dan disajikan pagelaran wayang kulit. Setelah itu mereka kemudian diajak untuk bersyahadat dan akhirnya diajak untuk shalat berjamaah yang baik dan benar.

Dalam konteks yang sedang kita bicarakan, antara si penggagas shalat berjamaah berhadiah dengan wali songo memiliki tujuan yang sama, yaitu ingin meningkatkan jumlah jamaah masjid. Namun dalam strateginya berbeda. Kalau wali songo mengajak “dolanan” dahulu kemudian “sembahyang” tapi kalau si penggagas shalat berjamaah berhadiah mengajak sembahyang biar dapat “dolanan”. padahal sembahyang itu harus lillaahi ta’aalaa.

Satu semangat namun dua strategi yang berbeda inilah yang seharusnya menjadi bahan renungan buat kita bersama khususnya para mubaligh yang berusaha untuk membina umat menjadi lebih baik. Makna lebih baik bukan berarti meningkatkan kualitas spiritual secara lahiriyah namun juga bathiniyah, karena hakikat dari beragama adalah untuk meningkatkan kualitas bathiniyah sehingga bisa dekat dengan ALlah.

Sebagai orang awam, saya sendiri melihat program shalat berjamaah berhadiah sebagai program yang niatnya baik namun kurang pas. hampir mirip dengan Pro kontra Program Titip Doa. Ada baiknya si penggagas memoles strategi dakwah tersebut, misalnya dengan menggunakan cara-cara walisongo dulu yang saya kira belum ketinggalan jaman dan masih bisa digunakan apabila memang kreatif. Okelah program berhadiahnya masih ada namun tidak untuk “menghadiahi” orang yang sembahyang. Namun dengan cara lain, misalnya sebelum melaksanakan shalat berjamaah, di serambi masjid diadakan lomba bersih-bersihan baju, lomba lari untuk pemuda, atau lomba-lomba lainnya yan kiranya dapat menarik masyarakat untuk “datang” ke serambi masjid. Saya kira nggak usah diiming-imingi mobil, hanya dengan hadiah satu juta atau dua juta saya kira tidak usah dikomando masyarakat akan berkumpul. Nah nanti ketika lombanya hampir selesai, sang muadzin diminta untuk mengumandangkan adzan, dan masyrakat diminta untuk shalat berjamaah. Saya kira masyarakat akan ikut berjamaah. Walau mungkin tidak seluruhnya, namun ‘RASA MALU” masyarakat negeri ini masih tinggi. Ketika melihat saudara di depan mata mereka berbuat kebaikan dan mereka tidak ikut berbuat kebaikan maka mereka masih punya “RASA MALU”. rasa inilah yang harus dilihat dan diperhatikan untuk menggalang ‘KEKUATAN UMAT’.

Maka dapat disimpulkan hendaknya seorang muslim untuk selalu meniatkan segala amalan dengan hanya mengharapkan ridha Allah semata. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala selalu memberikan kekuatan kepada semua kaum muslimin di segala penjuru dunia untuk selalu beribadah kepada-Nya.Wallahu ta’ala A’lam

Setelah memberikan materi/ceramah, Bapak Ustadz  DAYUN RIYADI. M.Ag juga membacakan Doa agar acara yang dilaksanakan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mendapat Redo dan diberkahi oleh Allah.

Setelah pembacaan Doa selesai, acara pengajian di tutup dan  dilanjutkan dengan Arisan Dahrma Wanita Persatuan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong yang dipimpin oleh Ibu Ketua Dharmawanita Persatun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong.

 

 

Legenda Ular Kepala Tujuh
avatar

Legenda Ular kepala 7

Legenda Ular kepala 7

Di sebuah daerah di Bengkulu, Indonesia, berdiri sebuah kerajaan bernama Kutei Rukam yang dipimpin oleh Raja Bikau Bermano. Raja Bikau Bermano mempunyai delapan orang putra. Pada suatu waktu, Raja Bikau Bermano melangsungkan upacara perkawinan putranya yang bernama Gajah Meram dengan seorang putri dari Kerajaan Suka Negeri yang bernama Putri Jinggai. Mulanya, pelaksanaan upacara tersebut berjalan lancar. Namun, ketika Gajah Meram bersama calon istrinya sedang melakukan upacara prosesi mandi bersama di tempat pemandian Aket yang berada di tepi Danau Tes, tiba-tiba keduanya menghilang. Tidak seorang pun yang tahu ke mana hilangnya pasangan itu. Sementara itu di istana, Raja Bikau Bermano dan permaisurinya mulai cemas, karena Gajah Meram dan calon istrinya belum juga kembali ke istana. Oleh karena khawatir terjadi sesuatu terhadap putra dan calon menantunya, sang Raja segera mengutus beberapa orang hulubalang untuk menyusul mereka. Alangkah terkejutnya para hulubalang ketika sampai di tepi danau itu tidak mendapati Gajah Meram dan calon istrinya. Setelah mencari di sekitar danau dan tidak juga menemukan mereka berdua, para hulubalang pun kembali ke istana. “Ampun, Baginda! Kami tidak menemukan putra mahkota dan Putri Jinggai,” lapor seorang hulubalang. “Apa katamu?” tanya sang Raja panik. “Benar, Baginda! Kami sudah berusaha mencari di sekitar danau, tapi kami tidak menemukan mereka,” tambah seorang hulubalang lainnya sambil memberi hormat. “Ke mana perginya mereka?” tanya sang Raja tambah panik. “Ampun, Baginda! Kami juga tidak tahu,” jawab para utusan hulubalang serentak. Mendengar jawaban itu, Raja Bikau Bermano terdiam. Ia tampak gelisah dan cemas terhadap keadaan putra dan calon menantunya. Ia pun berdiri, lalu berjalan mondar-mandir sambil mengelus-elus jenggotnya yang sudah memutih. “Bendahara! Kumpulkan seluruh hulubalang dan keluarga istana sekarang juga!” titah sang Raja kepada bendahara. “Baik, Baginda!” jawab bendahara sambil memberi hormat. Beberapa saat kemudian, seluruh hulubalang dan keluarga istana berkumpul di ruang sidang istana. “Wahai, rakyatku! Apakah ada di antara kalian yang mengetahui keberadaan putra dan calon menantuku?” tanya Raja Bikau Bermano. Tidak seorang pun peserta sidang yang menjawab pertanyaan itu. Suasana sidang menjadi hening. Dalam keheningan itu, tiba-tiba seorang tun tuai (orang tua) kerabat Putri Jinggai dari Kerajaan Suka Negeri yang juga hadir angkat bicara. “Hormat hamba, Baginda! Jika diizinkan, hamba ingin mengatakan sesuatu.” “Apakah itu, Tun Tuai! Apakah kamu mengetahui keberadaan putraku dan Putri Jinggai?” tanya sang Raja penasaran. “Ampun, Baginda! Setahu hamba, putra mahkota dan Putri Jinggai diculik oleh Raja Ular yang bertahta di bawah Danau Tes,” jawab tun tuai itu sambil memberi hormat. “Raja Ular itu sangat sakti, tapi licik, kejam dan suka mengganggu manusia yang sedang mandi di Danau Tes,” tambahnya. “Benarkah yang kamu katakan itu, Tun Tuai?” tanya sang Raja. “Benar, Baginda!” jawab tun tuai itu. “Kalau begitu, kita harus segera menyelamatkan putra dan calon menantuku. Kita tidak boleh terus larut dalam kesedihan ini,” ujar sang Raja. “Tapi bagaimana caranya, Baginda?” tanya seorang hulubalang. Sang Raja kembali terdiam. Ia mulai bingung memikirkan cara untuk membebaskan putra dan calon menantunya yang ditawan oleh Raja Ular di dasar Danau Tes. “Ampun, Ayahanda!” sahut Gajah Merik, putra bungsu raja. “Ada apa, Putraku!” jawab sang Raja sambil melayangkan pandangannya ke arah putranya. “Izinkanlah Ananda pergi membebaskan abang dan istrinya!” pinta Gaja Merik kepada ayahandanya. Semua peserta sidang terkejut, terutama sang Raja. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika putranya yang baru berumur 13 tahun itu memiliki keberanian yang cukup besar. “Apakah Ananda sanggup melawan Raja Ular itu?” tanya sang Raja. “Sanggup, Ayahanda!” jawab Gajah Merik. “Apa yang akan kamu lakukan, Putraku? Abangmu saja yang sudah dewasa tidak mampu melawan Raja Ular itu,” ujar sang Raja meragukan kemampuan putra bungsunya. “Ampun, Ayahanda! Ananda ingin bercerita kepada Ayahanda, Ibunda, dan seluruh yang hadir di sini. Sebenarnya, sejak berumur 10 tahun hampir setiap malam Ananda bermimpi didatangi oleh seorang kakek yang mengajari Ananda ilmu kesaktian,” cerita Gajah Merik. Mendengar cerita Gajah Merik, sang Raja tersenyum. Ia kagum terhadap putra bungsunya yang sungguh rendah hati itu. Walaupun memiliki ilmu yang tinggi, ia tidak pernah memamerkannya kepada orang lain, termasuk kepada keluarganya. “Tapi, benarkah yang kamu katakan itu, Putraku?” tanya sang Raja. “Benar, Ayahanda!” jawab Gajah Merik. “Baiklah! Besok kamu boleh pergi membebaskan abangmu dan istrinya. Tapi, dengan syarat, kamu harus pergi bertapa di Tepat Topes untuk memperoleh senjata pusaka,” ujar sang Raja. “Baik, Ayahanda!” jawab Gajah Merik. Keesokan harinya, berangkatlah Gajah Merik ke Tepat Topes yang terletak di antara ibu kota Kerajaan Suka Negeri dan sebuah kampung baru untuk bertapa. Selama tujuh hari tujuh malam, Gajah Merik bertapa dengan penuh konsentrasi, tidak makan dan tidak minum. Usai melaksanakan tapanya, Gajah Merik pun memperoleh pusaka berupa sebilah keris dan sehelai selendang. Keris pusaka itu mampu membuat jalan di dalam air sehingga dapat dilewati tanpa harus menyelam. Sementara selendang itu dapat berubah wujud menjadi pedang. Setelah itu, Gajah Merik kembali ke istana dengan membawa kedua pusaka itu. Namun, ketika sampai di kampung Telang Macang, ia melihat beberapa prajurit istana sedang menjaga perbatasan Kerajaan Kutei Rukam dan Suka Negeri. Oleh karena tidak mau terlihat oleh prajurit, Gajah Merik langsung terjun ke dalam Sungai Air Ketahun menuju Danau Tes sambil memegang keris pusakanya. Ia heran karena seakan-seakan berjalan di daratan dan sedikit pun tidak tersentuh air. Semula Gajah Merik berniat kembali ke istana, namun ketika sampai di Danau Tes, ia berubah pikiran untuk segera mencari si Raja Ular. Gajah Merik pun menyelam hingga ke dasar danau. Tidak berapa lama, ia pun menemukan tempat persembunyian Raja Ular itu. Ia melihat sebuah gapura di depan mulut gua yang paling besar. Tanpa berpikir panjang, ia menuju ke mulut gua itu. Namun, baru akan memasuki mulut gua, tiba-tiba ia dihadang oleh dua ekor ular besar. “Hai, manusia! Kamu siapa? Berani sekali kamu masuk ke sini!” ancam salah satu dari ular itu. “Saya adalah Gajah Merik hendak membebaskan abangku,” jawab Gaja Merik dengan nada menantang. “Kamu tidak boleh masuk!” cegat ular itu. Oleh karena Gajah Merik tidak mau kalah, maka terjadilah perdebatan sengit, dan perkelahian pun tidak dapat dihindari. Pada awalnya, kedua ular itu mampu melakukan perlawanan, namun beberapa saat kemudian mereka dapat dikalahkan oleh Gajah Merik. Setelah itu, Gajah Merik terus menyusuri lorong gua hingga masuk ke dalam. Setiap melewati pintu, ia selalu dihadang oleh dua ekor ular besar. Namun, Gajah Merik selalu menang dalam perkelahian. Ketika akan melewati pintu ketujuh, tiba-tiba Gajah Merik mendengar suara tawa terbahak-bahak. “Ha… ha… ha…, anak manusia, anak manusia!” “Hei, Raja Ular! Keluarlah jika kau berani!” seru Gajah Merik sambil mundur beberapa langkah. Merasa ditantang, sang Raja Ular pun mendesis. Desisannya mengeluarkan kepulan asap. Beberapa saat kemudian, kepulan asap itu menjelma menjadi seekor ular raksasa. “Hebat sekali kau anak kecil! Tidak seorang manusia pun yang mampu memasuki istanaku. Kamu siapa dan apa maksud kedatanganmu?” tanya Raja Ular itu. “Aku Gajah Merik, putra Raja Bikau Bermano dari Kerajaan Kutei Rukam,” jawab Gajah Merik. “Lepaskan abangku dan istrinya, atau aku musnahkan istana ini!” tambah Gajah Merik mengancam. “Ha… ha…. ha…., anak kecil, anak kecil! Aku akan melepaskan abangmu, tapi kamu harus penuhi syaratku,” ujar Raja Ular. “Apa syarat itu?” tanya Gajah Merik. “Pertama, hidupkan kembali para pengawalku yang telah kamu bunuh. Kedua, kamu harus mengalahkan aku,” jawab Raja Ular sambil tertawa berbahak-bahak. “Baiklah, kalau itu maumu, hei Iblis!” seru Gajah Merik menantang. Dengan kesaktian yang diperoleh dari kakek di dalam mimpinya, Gajah Merik segera mengusap satu per satu mata ular-ular yang telah dibunuhnya sambil membaca mantra. Dalam waktu sekejap, ular-ular tersebut hidup kembali. Raja Ular terkejut melihat kesaktian anak kecil itu. “Aku kagum kepadamu, anak kecil! Kau telah berhasil memenuhi syaratku yang pertama,” kata Raja Ular. “Tapi, kamu tidak akan mampu memenuhi syarat kedua, yaitu mengalahkan aku. Ha… ha… ha….!!!” tambah Raja Ular kembali tertawa terbahak-bahak. “Tunjukkanlah kesaktianmu, kalau kamu berani!” tantang Gajah Merik. Tanpa berpikir panjang, Raja Ular itu langsung mengibaskan ekornya ke arah Gajah Merik. Gajah Merik yang sudah siap segera berkelit dengan lincahnya, sehingga terhindar dari kibasan ekor Raja Ular itu. Perkelahian sengit pun terjadi. Keduanya silih berganti menyerang dengan mengeluarkan jurus-jurus sakti masing-masing. Perkelahian antara manusia dan binatang itu berjalan seimbang. Sudah lima hari lima malam mereka berkelahi, namun belum ada salah satu yang terkalahkan. Ketika memasuki hari keenam, Raja Ular mulai kelelahan dan hampir kehabisan tenaga. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Gajah Merik. Ia terus menyerang hingga akhirnya Raja Ular itu terdesak. Pada saat yang tepat, Gajah Merik segera menusukkan selendangnya yang telah menjelma menjadi pedang ke arah perut Raja Ular. “Aduuuhh… sakiiit!” jerit Raja Ular menahan rasa sakit. Melihat Raja Ular sudah tidak berdaya, Gajah Merik mundur beberapa langkah untuk berjaga-jaga siapa tahu raja ular itu tiba-tiba kembali menyerangnya. “Kamu memang hebat, anak kecil! Saya mengaku kalah,” kata Raja Ular. Mendengar pengakuan itu, Gajah Merik pun segera membebaskan abangnya dan Putri Jinggai yang dikurung dalam sebuah ruangan. Sementara itu di istana, Raja Bikau Bermano beserta seluruh keluarga istana dilanda kecemasan. Sudah dua minggu Gajah Merik belum juga kembali dari pertapaannya. Oleh karena itu, sang Raja memerintahkan beberapa hulubalang untuk menyusul Gajah Merik di Tepat Topes. Namun, sebelum para hulubalang itu berangkat, tiba-tiba salah seorang hulubalang yang ditugaskan menjaga tempat pemandian di tepi Danau Tes datang dengan tergesa-gesa. “Ampun, Baginda! Gajah Merik telah kembali bersama Gajah Meram dan Putri Jinggai,” lapor hulubalang. “Ah, bagaimana mungkin? Bukankah Gajah Merik sedang bertapa di Tepat Topes?” tanya baginda heran. “Ampun, Baginda! Kami yang sedang berjaga-jaga di danau itu juga terkejut, tiba-tiba Gajah Merik muncul dari dalam danau bersama Gajah Meram dan Putri Jinggai. Rupanya, seusai bertapa selama tujuh hari tujuh malam, Gajah Merik langsung menuju ke istana Raja Ular dan berhasil membebaskan Gajah Meram dan Putri Jinggai,” jelas hulubalang itu. “Ooo, begitu!” jawab sang Raja sambil tersenyum. Tidak berapa lama kemudian, Gajah Merik, Gajah Meram, dan Putri Jinggai datang dengan dikawal oleh beberapa hulubalang yang bertugas menjaga tempat pemandian itu. Kedatangan mereka disambut gembira oleh sang Raja beserta seluruh keluarga istana. Kabar kembalinya Gajah Meram dan keperkasaan Gajah Merik menyebar ke seluruh pelosok negeri dengan cepat. Untuk menyambut keberhasilan itu, sang Raja mengadakan pesta selama tujuh hari tujuh malam. Setelah itu, sang Raja menyerahkan tahta kerajaan kepada Gajah Meram. Namun, Gajah Meram menolak penyerahan kekuasaan itu. “Ampun, Ayahanda! Yang paling berhak atas tahta kerajaan ini adalah Gajah Merik. Dialah yang paling berjasa atas negeri ini, dan dia juga yang telah menyelamatkan Ananda dan Putri Jinggai,” kata Gajah Meram. “Baiklah, jika kamu tidak keberatan. Bersediakah kamu menjadi raja, Putraku?” sang Raja kemudian bertanya kepada Gajah Merik. “Ampun, Ayahanda! Ananda bersedia menjadi raja, tapi Ananda mempunyai satu permintaan,” jawab Gajah Merik memberi syarat. “Apakah permintaanmu itu, Putraku?” tanya sang Raja penasaran. “Jika Ananda menjadi raja, bolehkah Ananda mengangkat Raja Ular dan pengikutnya menjadi hulubalang kerajaan ini?” pinta Gajah Merik. Permintaan Gajah Merik dikabulkan oleh sang Raja. Akhirnya, Raja Ular yang telah ditaklukkannya diangkat menjadi hulubalang Kerajaan Kutei Rukam. Kisah petualangan Gajah Merik ini kemudian melahirkan cerita tentang Ular Kepala Tujuh. Ular tersebut dipercayai oleh masyarakat Lebong sebagai penunggu Danau Tes. Sarangnya berada di Teluk Lem sampai di bawah Pondok Lucuk. Oleh karena itu, jika melintas di atas danau itu dengan menggunakan perahu, rakyat Lebong tidak berani berkata sembrono. * * * Demikian cerita Ular Kepala Tujuh dari Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, Indonesia. Cerita rakyat di atas termasuk kategori cerita legenda yang mengandung pesan-pesan moral. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu sifat rendah hati dan tahu diri. Pertama, sifat rendah hati. Sifat ini tercermin pada perilaku Gajah Merik. Walaupun memiliki ilmu yang tinggi, ia tidak pernah pamer dan menyombongkan diri. Sifat ini dapat memupuk ikatan tali persaudaraan. Sebagaimana dikatakan dalam untaian syair berikut ini: wahai ananda kekasih bunda, janganlah engkau besar kepala rendahkan hati kepada manusia supaya kekal tali saudara Kedua, sifat tahu diri. Sifat ini tercermin pada perilaku Gajah Meram. Semestinya dialah yang berhak dinobatkan menjadi raja, namun karena menyadari bahwa adiknya memiliki kesaktian yang lebih tinggi dari pada dirinya, maka ia pun menyerahkan tampuk kekuasaan Kerajaan Kutei Rukam kepada adiknya, Gajah Merik. Dari sini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa dengan memahami kekurangan dan kelebihan dirinya, seseorang akan tahu menempatkan diri dalam pergaulan kehidupan sehari-hari. Dikatakan dalam ungkapan Melayu: apa tanda tahu dirinya: hamba tahu akan Tuhannya anak tahukan orang tuanya raja tahukan daulatnya alim tahukan kitabnya hulubalang tahukan kuatnya cerdik tahukan bijaknya guru tahukan ilmunya tua tahukan amanahnya muda tahukan kurangnya lebih tahukan kurangnya (SM/sas/77/05-08)

 Sumber: * Isi cerita diadaptasi dari Prahana, Naim Emel. 1998. Cerita Rakyat Dari Bengkulu 2. Jakarta: Grasindo. * Kredit to melayuonline.com, rejang-lebong.blogspot.com