PARTISIPASI KABUPATEN REJANG LEBONG DALAM FESTIVAL SRIWIJAYA XXIII 2015 DI PALEMBANG
avatar

Dalam rangka memenuhi undangan dari Pemerintah Kota Palembang dalam kegiatan Festival Sriwijaya XXII yang diadakan di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong mengirimkan tim kesenian untuk berpartisipasi dalam acara ini yang dilaksanakan dari Tanggal 11 s/d 14 Juni 2015.

Dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bertindak sebagai tim pendamping dan memfasilitasi para peserta tim kesenian Kabupaten Rejang Lebong yang terdiri dari penari, penyanyi dan pemusik yang tergabung dalam Sanggar Bumei Pat Petulai binaan Pemerintah Daerah Kabupaten Rejang Lebong.

Dalam acara tersebut Kabupaten Rejang Lebong diberikan kesempatan sebagai pembuka acara dengan menampilkan tarian kreasi baru daerah Rejang yang berjudul Tarian Sentak dimana tarian tersebut mendapat respon dan antusiasme yang positif dari masyarakat Kota Palembang.

Tidak hanya itu saja, dilanjutkan dengan penampilan lagu oleh Dendy Atmawijaya yang merupakan salah satu pelajar berprestasi dalam bidang seni tari dan tarik suara di Kabupaten Rejang Lebong .

20150613_195054Sebagai penutup persembahan dari Kabupaten Rejang Lebong maka ditampilkan  tarian yang sangat spektakuler dari Sanggar Bumei Pat Petulai yang berjudul Tari Serindang Bulan. Setelah itu dilanjutkan dengan pagelaran seni dari Kabupaten dan Propinsi se-Sumbagsel.

Tari serindang bulan

Tari serindang bulan

 

Kegiatan ini sangat positif dan merupakan salah satu sarana promosi kebudayaan agar kebudayaan Rejang Lebong   dapat lebih dikenal luas oleh masyarakat, terutama masyarakat Sumatera Selatan yang notabene masih serumpun dengan Kabupaten Rejang Lebong, yaitu Rumpun Melayu.

Antusiasme masyarakat kota Palembang

Antusiasme masyarakat kota Palembang

Melihat respon masyarakat Kota Palembang yang sangat baik terhadap Kabupaten Rejang Lebong menjadi pemicu untuk lebih mengembangkan lagi kreativitas di bidang Kebudayaan dan  diharapkan Kabupaten Rejang Lebong dapat kembali berpartisipasi di event berikutnya.

Berdasarkan suksesnya kemeriahan acara tersebut patut dicontoh untuk menjadi acuan agar Kabupaten Rejang Lebong juga bisa melaksanakan event yang sama di kesempatan berikutnya.

OBJEK WISATA AIR TERJUN YANG ADA DI REJANG LEBONG
avatar

Kabupaten Rejang Lebong kaya akan tempat – tempat wisata. Kalau selama ini sudah banyak dikenal obyek wisata danau DMHB di Desa Karang Jaya, Suban Air Panas di Kelurahan Talang Ulu, Bukit Kaba di Desa Sumber Urip.

Sebenarnya masih cukup banyak obyek – obyek wisata yang tersebar di dalam wilayah Kabupaten Rejang Lebong, antara lain adalah potensi Air terjun yang bisa dijadikan sebagai obyek wisata pilihan, terutama bagi yang suka berpetualang.

Dari beberapa potensi air terjun yang berhasil dikunjungi, memang masih banyak yang belum dikelola maksimal, akses jalan masih banyak yang berupa jalan setapak, belum tersedianya sarana dan prasarana pendukung yang menunjang lokasi tersebut sebagai tempat wisata.

Tulisan berikuit ini, mudah-mudahan dapat menambah wawasan pengetahuan kita terhadap potensi – potensi obyek wisata yang ada di Kabupaten Rejang Lebong, yaitu khusus pada potensi Air Terjun, yaitu sebagai berikut :

1.    Air Terjun Desa Beringin Tiga

air terjun bringin Potensi Obyek wisata Alam Air Terjun Desa Beringin Tiga berjarak hanya lebih kurang 1 kilo meter dari Ibu Kota Kecamatan. Luas areal Obyek wisata ini lebih kurang 1 hektar. Lokasi ini masih alami, belum dikembangkan, sarana transportasi menuju ke lokasi masih berupa jalan setapak.

2.     Air Terjun Suban Air Panas di Kelurahan Talang Ulu Kecamatan Curup Timur

Air Terjun Suban

Air Terjun Suban

Obyek wisata ini sangat menarik untuk dikunjungi. Letaknya berada di hulu kawasan Pemandian Suban air Panas. Letaknya lebih kurang 6 km dari pusat kota curup. Pesona alam terlihat begitu indah dengan dikelilingi oleh Agrowisata, seperti kopi, aren, perkebunan bambu, salak pondoh dan lain-lain yang dikembangkan oleh masyarakat sekitar. Daya tarik pendukung obyek wisata ini adalah antara lain, di sekitar lokasinya terdapat sumber air panas yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit, disamping itu juga terdapat beberapa cagar budaya seperti Makam Tri sakti peninggalan Putri Selangkah dan Batu Menangis, yang sering digunakan sebagai tempat ritual bagi yang mempercayainya.

3.    Air Terjun Curug Embun Desa Belitar Seberang  Kecamatan Sindang Kelingi acebs

Obyek wisata air terjun ini letaknya di belakang desa Belitar Seberang, akses menuju ke lokasi ini sebagian sudah dibuat  berupa jalan semen, setiap hari  libur obyek wisata ini sering dikunjungi oleh para remaja sekitar untuk berekreasi. Ketinggian air terjun berkisar lebih kurang 50 m, Panorama alam sangat indah, luas areal lebih kurang 2 hektar, Di Lokasi ini belum ada sarana dan prasarana pendukung dan masih alami sekali.

4.    Air Terjun/Air Panas/Sarang Walet Desa sindang Jati Kecamatan Sindang Kelingiair terjun belitar seberang

Di lokasi ini terdapat Potensi Wisata Alam Air Panas, Air Terjun dan Sarang Walet, obyek ini terkesan  sangat unik karena ketiga obyek ini berada di satu tempat, sehingga menambah pesona alam sekitar yang dapat dekembangkan. Obyek ini berada di desa Sindang Jati, 6 km dari Ibu kota Kecamatan, dengan lokasi lebih kurang 1 hektar. di obyek ini belum ada pengembangan sarana dan prasarana yang diperlukan. Fungsi pemanfaatannya,  telah dilakukan oleh penduduk sekitar berbentuk sarana kolam dan pancuran air bersih.

5.     Air Terjun Desa Cahaya Negeri Kecamatan Sindang Kelingi534949_355666637816989_100001209676065_1072531_1723539190_n

Obyek Wisata Alam Desa Cahaya Negeri berada lebih kurang 7 km dari ibu kota kecamatan dengan luas lebih kurang 0,25 hektar. Akses menuju ke Obyek wisata ini masih berupa jalan setapak dengan ketinggian air terjun lebih kurang 20 meter.

6.    Air Terjun Tangga Seribu Desa Kepala Curup

air terjun tangga seribu

air terjun tangga seribu

Obyek wisata Alam Air Terjun Kepala Curup sudah lama dikenal dengan ketinggian lebih kurang 100 m, luas areal lebih kurang 3 hektar, sarana transportasi cukup lancar karena berada di pinggir jalan raya Curup-Lubuk Linggau. Daya tarik obyek ini tidak perlu diragukan, hanya perlu peningkatan fungsi sarana dan prasarana pendukung, penataan sarana. Pengunjung yang datang ke obyek ini rata-rata 200 orang per minggu.

7.    Air Terjun Sekudun Desa Kepala Curupair terjun sekudun kacurup 2

Obyek wisata alam air terjun Sekudun, letaknya di ilir Desa Kepala Curup, panorama alamnya cukup menarik, tinggi air terjun lebih kurang 30 m, akses menuju ke lokasi air terjun masih jalan nsetapak, tapi untuk menjangkaunya mudah karena dekat dengan jalan raya Curup-Lubuk Linggau.

8.    Air Terjun/Gua Beraput Desa Apur Kecamatan Sindang Beliti Uluair terjun apur

Obyek wisata alam Guam Beraput yang dilengkapi oleh Air Terjun, ketinggian air terjun lebih kurang 30 meter, di obyek ini terdapat dua buah gua yang menambah daya tarik dan keindahan Potensi Obyek. Obyek ini berada di desa Apur. Sarana dan Prasarana belum dikembangkan dan secara alami sudah berfungsi sebagai obyek wisata.

9.     Air Terjun Sungai Napal Desa Lubuk Alai.air terjun bertingkat

Ketinggian obyek wisata ini lebih kurang 35 meter, mempunyai daya tarik kesejukan air embun dan panorama alam yang masih asli dengan luas lebih kurang 0,5 hektar. Sarana dan prasarana belum dibangun, jalan menuju ke obyek masih berupa jalan setapak.

10.   Air Terjun Curup Embun di Desa Tanjung Gelang  Kecamatan Kota Padangair twerjun sungai napal lubuk alai

Potensi obyek wisata air terjun Curup embun, mempunyai ketinggian lebih kurang 100 m, mempunyai daya tarik berupa kabut embun, masih asli dan begitu indah, panorama alamnya begitu mempesona. Luas areal lebih kurang 1 hektar, Obyek wisata ini berada di desa Tanjung Gelang ( eks trans, Derati ). jarak obyek ini dari ibu kota kecamatan lebih kurang 16 kilo meter. Sarana transportasi masih berupa jalan setapak dan belum ada pengembangan sarana dan prasarana.

11.   Air Terjun Angin Desa Lubuk Mumpo Kecamatan Kota Padangair terjun curup embu belitar seberang 2

Air Terjun Angin berada di desa Lubuk Mumpo. obyek wisata ini berada lebih kurang 17 km dari ibu kota kecamatan. Ketinggian air terjun ini lebih kurang100 m. Panorama alam masih asli dan masih menggunakan sarana transportasi jalan setapak. Secara temporer sudeah berfungsi sebagai obyek wisata. Sampai saat ini belum ada pengembangan sarana dan prasarana pendukung.

12.   Air Terjun dan gua Desa Suka Merindu Kecamatan Kota Padangsedudo-waterfall-014-thumb

Obyek wisata alam air terjun dan gua ini berada di desa Suka Merindu Kecamatan Kota Padang, ketinggian air terjun berkisar lebih kurang 150 m. obyek ini cukup unik , panorama alam cukup indah, sampai saat ini jalan menuju ke obyek ini masih berupa jalan setapak dan  belum ada sentuhan pembangunan.

13.   Air Terjun Bertingkat Desa Bangun Jaya Kecamatan Bermani Ulu Rayaair terjun curup embu belitar seberang 2

Obyek wisata alam air terjun bertingkat ini mempunyai daya tarik tersendiri, air terjun ini doilengkapi keunikan susunan batu berliang dengan panjang bervariasi, sampai dengan seolah-olah disusun. Obyek ini berada dalam kawasan hutan TNKS.

Demikian  tulisan tentang beberapa profil Air Terjun yang ada di Rejang Lebong, semoga menjadi bahan referensi, terima kasih.

POTENSI WISATA MAKANAN (FOOD TOURISM )
avatar

Makan minum merupakan produk yang memiliki nilai penting dalam industri pariwisata. Bisnis makanan saat inin telah  memberi kontribusi sekitar 19,33 % dari total penghasilsan industri pariwisata khususnya yang berasal dari wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia. Pengeluaran makanan dan minuman   merupakan  pengeluaran kedua terbesar setelah akomodasi, yang kontribusinya mencapai 38,48 % dari total pengeluaran wisatawan mancanegara.

Kontribusi produk makanan dan minuman makin signifikan mendukung pariwisata dengan berkembangnya wisata makanan (food tourism) yang menekankan pada kegiatan/petualangan mengkonsumsi berbagai jenis menu makana/minuman khas daerah. Beberapa tayangan televisi tayangan pariwisata dan  wisata boga seperti wisata kuliner, Jalan Jajan (Trans TV), Koper dan Ransel (Trans TV), Jejak Petualang (RCTI), oleh-oleh, food &beverage (SBO) dsb, makin mendorong masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata dan secara khusus mencoba berbagai menu lokal. Tayangan wisata kuliner yang marak di televise juga  mendorong masyarakat mengenal masakan daerah.

Indonesia berpotensi besar dalam wisata  makanan (food tourism) karena memiliki kekayaan etnis dan budaya, yang masing-masing memiliki kuliner khas tersendiri. Berkembangnya wisata makanan juga merupakan peluang bagi masyarakat Indonesia untuk mengembangkan makanan dan minuman khas Indonesia agar bisa dikenal masyarakat dunia lebih luas lagi sekaligus meningkatkan daya tarik wisatawan mancanegara. Daya tarik makanan dan minuman yang cukup besar untuk mendorong turis asing datang ke Indonesia, tidak hanya pendapatan negara dan daerah meningkat, tapi juga akan meningkatkan pemberdayaan ekonomi dan sosial masyarakat lokal. Oleh karena itu  kemampuan mengolah, menyajikan, menampilkan, mempromosikan  makanan dengan baik sangat menentukan penghasilan dari sektor pariwisata secara keseluruhan.

Tahun 2007  pemerintah  memproyeksikan jumlah wisatawan nusantara mencapai sekitar 117,1 juta orang dengan rata-rata pengeluaran sebesar Rp 669.442 dan total perjalanan mencapai 219,75 juta. Pasar wisata makanan makin terbuka dengan berkembangnya para gourmands (pencinta makanan dengan cita rasa khas) yang rela bepergian ke berbagai daerah/wilayah untuk mencoba beragam makanan lokal, bukan sekadar berbelanja atau mengunjungi tempat wisata yang eksotis.

Pengembangan wisata makanan (food tourism)  juga terbuka pasarnya di dalam negeri. Peningkatan kesejahteraan masyarakat telah mendorong timbulnya perilaku makan di luar sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat khususnya di perkotaan.  Banyak keluarga yang mengisi liburan ke berbagai daerah untuk mencicipi menu lokal yang baru yang menarik. Perilaku tersebut mendorong berkembangnya obyek wisata kuliner di berbagai daerah.

Hampir semua  daerah di Indonesia memiliki makanan khas, yang bisa ditampilkan sebagai daya  tarik bagi wisatawan. Diakuinya nasi goreng dan rendang sebagai makanan yang terenak di dunia merupakan salah satu bukti kekayaan kuliner lokal. Indonesia masih menyimpan ribuan jenis makanan dan minuman khas yang berpotensi untuk dikembangkan secara global sebagai daya tarik wisata. Namun di Indonesia potensi food tourism nampaknya belum digarap dengan serius sebagai aset wisata, jika dibanding negara lain. Di negara lain seperti Malaysia, Singapore, Thailand, Jepang, Korea, Australia, sudah sajak awal menawarkan kuliner sebagai produk wisata andalan. Bahkan negara tetangga seperti Singapore  rutin memiliki event festival makanan lokal sebagai kegiatan rutin pariwisata. Dalam event tersebut turis diajak berpetualang menikmati berbagai makanan/minuman lokal dengan harga khusus. Event ini dipromosikan secara terus menerus sehingga efektif menarik wisatawan. Malaysia juga gencar melakukan promosi makanan lokal seperti laksa dan nasi lemak, sebagai daya tarik wisatawan.

Untuk mengangkat kuliner lokal sebagai atraksi wisata diperlukan strategi yang komprehensif. Pertama, mengidentifikasi jenis-jenis makanan lokal yang memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai ikon dan daya tarik wisatawan. Kedua, memetakan situasi dan kondisi yang melingkupi perkembangan menu lokal di daerah seperti popularitas jenis makanan di wilayah setempat, penyediaan makanan di restoran/depot/warung, teknologi memasak setempat, dan cara menu ditampilkan/dipresentasikan,  Ketiga, tipologi pasar food tourism. Keempat, merancang bentuk kegiatan food tourism  (meliputi atraksi, event) yang diintegrasikan dengan   daya tarik wisata setempat.

Menurut Hall dan Sharples  (2003:1) makanan adalah elemen penting dalam pengalaman wisata. Di San Fransisco belanja wisata untuk  makanan dan minum mencapai  28 % dari seluruh total belanja wisata, dan di New Mexico mencapai 25,5 %.  Prosentase tersebut menunjukkan pentingnya peran belanja makanan dan minuman dalam kegiatan wisata.  Di Bali belanja wisata untuk  makan dan minum  mencapai 12% (Fandeli, 2002).  Di Indonesia secara umum urutan pengeluaran terbesar adalah akomodasi yaitu 21,77% dari total pengeluarannya, diikuti pengeluaran untuk makanan dan minuman sebesar 10,96%, belanja 10,36% dan penerbangan domestic sebesar 10,14% (Saptatyningsih, 2003:2).

Pada awalnya  makanan hanya menjadi salah satu pelengkap kegiatan wisata. namun kemudian berkembang menjadai salah satu bentuk wisata khusus yang disebut dengan istilah wisata makanan atau  food tourism. Ada beberapa latar belakang yang dapat dikemukakan untuk  menjelaskan meningkatnya pertumbuhan  studi wisata makanan   di daerah tertentu   (Hall, 2002; Hall dan Mitchell, 2001; Hjalager dan Richards, 2002).  Sejak awal tahun 1970-an daerah pedesaan telah menjadi bagian penting bagi perkembangan di masyarakat industri dan menjadi bagian dari  restrukturisasi ekonomi. Perkembangan masyarakat selanjutnya telah menyebabkan  hilangnya fungsi  layanan pasar tradisional dan, dan penghapusan tarif dan mekanisme bagi dukungan regional. Oleh karena itu  daerah pedesaan  berusaha melakukan  diversifikasi basis ekonomi mereka, yaitu dengan mengembangkan pertanian dengan produk baru dan pariwisata. Strategi  melalui pariwisata makanan (food tourism)  adalah salah satu  instrumen signifikan bagi pembangunan daerah (pertanian) khususnya karena pengaruh potensial antara produk dari dua sektor yaitu produk pertanian dan pariwisata (Hall, 2002; Taylor dan Little 1999; Telfer 2001a; 2001b). Makanan juga  diakui sebagai ekspresif identitas dan budaya. oleh  karena itu merupakan komponen penting dari budaya dan   pariwisata heritage ( Bessi`ere, 1998; Cusack, 2000; Ritchie dan Zins,1978).

Dalam mendefinisikan wisata makanan (food tourism) perlu  membedakan antara wisatawan yang mengkonsumsi makanan sebagai bagian dari pengalaman perjalanan dan turis-turis yang kegiatan, perilaku dan, bahkan, pemilihan tujuan dipengaruhi oleh makanan sebagai daya tarik utama ( Hall, Johnson et al, 2000a.). Wisata makanan (food tourism)  secara umum dapat didefinisikan sebagai kunjungan ke produsen makanan, festival makanan, restoran dan lokasi  spesifik untuk  mencicipi makanan dan / atau menikmati/mempelajari produksinya. Dengan demikian makanan, produksi makanan  dan atribut  khusus makanan daerah menjadi  dasar dan faktor pendorong utama dalam perjalanan wisata (Hall dan Mitchell, 2001a: 308).
Kebutuhan akan makanan menjadi faktor utama dalam mempengaruhi perilaku perjalanan dan pengambilan keputusan itu sebagai bentuk perjalanan minat khusus.  Wisata makanan  dapat berupa  wisatawan biasa atau wisata kuliner, gourmet gastronomi,  sebagai    bentuk rekreasi  dari food tourism  yang lebih serius (Hall dan Mitchell, 2001;  Wagner, 2001).

Hall (2002) berpendapat bahwa anggur, makanan dan industri pariwisata yang  mengandalkan ciri khas  regional dapat digunakan untuk mengembangkan pasar dan melakukan promosi . Dengan  sebutan, atau daerah ‘khusus’ tersebut,   dapat  menjadi sumber penting dari diferensiasi dan nilai tambah  daerah pedesaan. (Hall dan Sharples, 2003:10).

Ada beberapa bentuk/varian food tourism (Hall dan Sharples, 2003:11):

  1. Rural/urban tourism yaitu kegiatan berkunjung di restoran/tempat makan saat berwisata, festival makanan lokal karena berbeda, sebagai wujud adanya kebutuhan makan minum selama berwisata. Ketertarikan terhadap makanan lokal  tergolong rendah, karena tujuan utamanya bukan untuk menikmati makanan lokal melainkan berwisata.
  2. Culinary tourism   yaitu  mengunjungi pasar  tradisional, restoran lokal, festival makanan saat datang ke destinasi wisata. Ketertarikan terhadap makanan lokal tergolong sedang karena menikmati menu lokal merupakan bagian dari aktivitas gaya hidup mereka.
  3. Gastronomi tourism/cuisine tourism/gourmet tourism yaitu bepergian ke destinasi khusus untuk menikmati makanan lokal, festival makanan, atau mempelajari makanan lokal secara serius. Menikmati/mempelajari makanan lokal sebagai tujuan/daya tarik utama kegiatan perjalanan, dan memiliki ketertarikan tinggi terhadap makanan lokal.

Mengembangkan Wisata Religi di Rejang Lebong
avatar

Bila kita mendengar kata  ” Wisata ” diucapkan, tentunya sudah terbesit dalam benak kita bahwa ungkapan kata itu erat kaitannya dengan aktifitas baik seseorang maupun sekelompok orang yang melaksanakan perjalanan ke suatu tempat yang cukup menyenangkan, seperti ke pantai, ke gunung, ke danau dan ke tempat-tempat yang indah-indah lainnya.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa melalui aktifitas ber-wisata, wawasan akan bertambah, ketika  pikiran sedang suntuk, akan dapat terobati dengan menunaikan aktifitas ini. Tidak jarang juga ketika seseorang sedang berwisata, sembari berjalannya waktu, akan muncul ide-ide cemerlang.

Dengan berwisata akan turut memberikan saham bagi berputarnya roda perekonomian. Sebagai contoh ;  sewaktu para pelancong akan menuju ke tempat-tempat wisata jika daerah tujuan itu berada cukup jauh dan akan ditempuh dengan menggukanan Moda Transportasi dan jika tidak menggunakan kendaraan sendiri tentunya akan menggunakan jasa transportasi yang dimiliki oleh pihak lain, sesampainya di lokasi wisata biasanya kocek pun mulai dirogoh  buat membeli berbagai kebutuhan dan pernak-pernik yang dijual/digelar oleh para pedagang serta dari para penyedia jasa.

Jika suguhan di lokasi-lokasi wisata tersaji dengan cukup menarik, tentunya akan menjadi berita dari mulut ke mulut, dan secara tidak sengaja akan tersebar ke mana-mana yang berdampak kepada meningkatnya jumlah kunjungan. Manakala volume destinasi wisata grafiknya  meningkat, banyak  yang akan ketiban untung. Semua pihak yang terkait akan terbantukan, seperti ; menambah lapangan kerja, menambah pendapatan bagi para pekerja, dan bagi para penjual jasa. Sebagai  imbas lainnya daerah dimana obyek wisata itu berada akan bertambah Pendapatan Asli Daerahnya.

Kalaulah sektor wisata ini memang banyak sudut positipnya, tentunya perlu kita coba melirik ke salah – satu  Varian wisata lainnya, yaitu ” Wisata Religi “. Ide ini mungkin perlu menjadi bahan pemikiran bersama.

Upaya mewacanakan konsep “Wisata Religi ” ini muncul ketika saya mengamati sebuah bangunan ibadah yang berdiri  megah di Jalan S. Sukowati Curup, yang bernama ” Masjid Agung Baitul Makmur Curup ” yang merupakan kebanggaan masyarakat Kabupaten Rejang Lebong, terutama yang beragama Islam. Kalau pada setiap Jum’at, Masjid ini ramai dengan para jamaah yang akan sholat Jum’at, begitu juga ketika ada acara-acara Keagamaan dan hari-hari besar Islam lainnya, tempat ibadah ini menjadi primadona sebagai ajang pagelaran. Namun untuk hari-hari lainnya, aktifitas di Masjid ini terlihat masih belum banyak.

Diketahui bahwa, Masjid Agung Curup, berdiri di pusat kota Curup, di tengah-tengah pemukiman padat penduduk dan di sekitar Masjid terdapat banyak perkantoran Pemerintah dan Lembaga Perbankan. Dengan posisinya yang cukup strategis itu, mungkin tidak menyalahi jika dijadikan sebagai salah-satu tempat pilihan wisata. Mungkin cukup potensial sekali jika ingin dikelola secara profesional, terutama untuk meningkat jumlah pengunjung selain di hari jum’at dan hari-hari besar dan kegiatan keagamaan.

Mungkin akan ada yang bertanya-tanya, apa bisa ? dan apa boleh ?. Pertanyaan inilah yang menjadi salah – satu pangkal tolak dalam menelorkan ide-ide yang mungkin ada gunanya bagi beberapa pihak dan mungkin akan menjadi bahan kajian bersama.

Ada sebuah konsep sederhana yang disampaikan melalui media ini, yaitu :

  1. Pada hari-hari  kerja dan hari-hari masuk sekolah, Situasi di seputaran Masjid Agung Curup ramai dengan para pegawai kantoran dan anak sekolahan.
  2. Kalaulah sewaktu jam kerja/jam belajar, yaitu pada saat menjelang shalat Zuhur ada ketentuan yang mengatur jam istirahat bekerja/sholat sekitar 1 ( satu  ) Jam saja, dan  jika 50 % saja dari jumlah pegawai maupun anak sekolah itu ( terutama yang muslim ) pada saat berkumandangnya adzan Sholat Zuhur ada himbauan baik tertulis maupun lisan  untuk menuju ke Masjid Agung Curup menunaikan Sholat Zuhur berjamaah, tentunya Masjid akan ramai dengan para jemaah.
  3. Sebagai aktifitas tambahan, setelah usai shalat Zurur , diisi dengan ceramah singkat yang diselenggarakan secara rutin yang disampaikan oleh para petugas yang ditunjuk, bisa dari Instansi yang membidangi ataupun dari para mahasiswa STAIN Curup atau dapat juga dari para Ustadz atau mereka-mereka yang punya kemampuan berceramah.
  4. Untuk memberikan daya tarik, di komplek Masjid disediakan perpustakaan yang menyediakan buku-buku bacaan agama sebagai sarana menambah wawasan pengetahuan tentang keagamaan.
  5. Kalau  pengunjung Masjid terlihat cukup banyak, biasanya akan membuka minat bagi para pedagang dan penyedia jasa untuk mencoba peruntungan di sekitar lokasi tersebut. Ada yang ingin berjualan makanan, ada yang ingin berjualan buku-buku bernuansa islami, dan ada yang berkeinginan untuk menjajakan perlengkapan Ibadah.
  6. Untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan di lingkungan masjid, harus ada peraturan tata tertib yang menjadi acuan pengelolaannya.

Potensi pariwisata Rejang lebong cukup menjanjikan
avatar

Daerah  Kabupaten Rejanglebong, Provinsi Bengkulu, yang berhawa sejuk, dingin dan didukung dengan keindahan alamnya sangat berpotensi untuk dijadikan pariwisata unggulan, baik untuk pariwisata unggulan Kabupaten Rejang Lebong maupun Pariwisata unggulan Propinsi Bengkulu jika dikelola  dengan baik akan sanggat menjanjikan.

“Potensi pariwisata yang dimiliki Rejang lebong ini tidak ada di daerah lainnya, seperti Pemandian Suban Air Panas di Kecamatan Curup Timur. Potensi wisata ini jika dikelola dengan baik tentunya akan menjadi tujuan wisata yang menarik bagi pengunjung dari luar daerah, Keunggulan objek wisata di daerah tersebut,  selain tidak ada di daerah lainnya di Sumatera, selain itu objek wisata ini juga masih asli dengan didukung suasana alam penggunungan yang bebas polusi.

Kawasan wisata yang masih dapat dikembangkan lebih baik lagi,  antara lain Danau Has Harun Bestari, Pemandian Suban Air Panas serta objek wisata alam Gunung Api Bukit Kaba. Dimana untuk Bukit Kaba ini, sudah dikenal masyarakat luas terutama kalangan pencinta alam yang sedang mendaki gunung.

“Dikawasan wisata alam Bukit Kaba ini, pengunjung yang datang selain bisa menikmati segarnya udara pegunungan dan keindahan alamnya serta hamparan kebun sayuran warga. Jika ini dikembangkan oleh Pemkab Rejanglebong tentunya bisa dibangun kebun sayuran dan buah-buahan yang dikelola masyarakat, dimana pengunjung dapat membeli berbagai jenis sayuran dan buah dengan cara memetik sendiri dikebun yang disiapkan itu,” ujarnya.

Pengunjung padati kawasan wisata Rejang lebong
avatar

Kawasan wisata di Kabupaten Rejanglebong, Bengkulu, saat liburan Natal dan Tahun Baru 2015 dipadati ratusan pengunjung dari dalam kota maupun luar kota. Berdasarkan pantauan Kami di kawasan wisata yang dipadati pengunjung di antaranya Danau Mas Harun Bestari di Kecamatan Selupu Rejang dan Objek Wisata Pemandian Suban Air Panas di Kecamatan Curup Timur.

Para pengunjung ini selain berasal dari kecamatan di daerah itu juga berasal dari Kota Bengkulu, maupun sejumlah daerah di Provinsi Sumsel.

“Ini merupakan kunjungan kami yang pertama kalinya ke Rejanglebong, karena selama ini untuk mengisi liburan kami biasanya pergi ke Kota Bengkulu sekalian bersilahturahmi dengan sanak keluarga yang ada di sana, tapi kali ini kami hanya ke Curup karena ke Bengkulu sudah kami lakukan pada hari raya Idul Fitri lalu,” kata Suprianto (38) warga asal Kota Lubuklinggau, Sumsel.

Kunjungan ke sejumlah objek wisata yang ada di daerah itu, kata dia, mereka lakukan sekeluarga dengan menggunakan kendaraan roda empat pribadi, selain untuk menikmati keindahan alam juga untuk mandi di sumber air panas alami di Suban Air Panas.

Selain dapat menikmati keindahan alam kata bapak dua anak ini, mereka juga langsung berbelanja sayuran maupun buah stroberry dari kebun masyarakat yang mereka jumpai di sepanjang jalan lintas Curup-Lubuklinggau.

Sementara itu menurut Juanda (35) pengunjung lain asal Kota Bengkulu, untuk masuk kekawasan wisata ini mereka cukup mengeluarkan biaya Rp10.000 per orang untuk tiket masuk, kemudian biaya parkir Rp5.000 dan retribusi kebersihan Rp2.000.

Lumayan murah, namun hendaknya pelayanan dan sarana pendukung di kawasan wisata ini dapat ditingkatkan sehingga akan membuat pengunjung nyaman. Sarana ini seperti bungalow tempat istirahat, maupun tempat mandi dan buang hajat,” ujarnya.

Sedangkan dikawasan wisata DMHB pengunjung juga terlihat memadati kawasan ini,. Para pengunjung ini kebanyakan berasal dari luar daerah serta sebagian lagi dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Rejang lebong.